ARINDRA

ARINDRA
Chapter 55



Semalam Arindra sudah memikirkan secara matang, apa saja rencana yang harus dia lakukan untuk bertemu dengan dokter Dea. Nomor dokter Dea sudah tak aktif, satu-satunya jalan adalah mengajak bertemu langsung dengan dr Dea, baik di rumah sakit ataupun di apartemen dokter itu.


Setelah dirasa semua siap, Arindra membawa kopernya keluar. Alex dan Jenny sudah menanti di depan pintu mobil.


"Kakak yakin tak mau kutemani?"


Tanya Alex yang terlihat khawatir padanya, Arindra tersenyum dan memeluk Jenny.


"Kutitipkan pemuda polos ini padamu Jen, jangan sampai kepolosannya membawa dia ke kandang harimau"


Bisik Arindra membuat Jenny tertawa.


"Siap Kak"


Alex yang melihat keduanya tertawa curiga.


"Kalian membicarakan dan menertawakanku?"


Ucapnya tak terima melihat keduanya tersenyum dan melihat kearahnya.


"Tidak, aku hanya mengatakan kau adik yang baik dan pacar yang setia"


Perkataannya Diangguki oleh Jenny.


"Benar, kau memang kekasihku yang paling setia"


Janny merangkul pundak Alex,


"Hati-hati disana Kak, jangan lupa selalu hubungi kami"


Ucap Jenny dan Alex bersamaan. Dijawab Arindra dengan mengangguk dan melambaikan tangan pada keduanya. Kemudian masuk ke mobil yang diantarkan oleh supir menuju bandara. Dalam perjalanan Arindra membuka ponsel dan melihat chat Alex. Memang tak banyak kontak tersimpan di sana, hanya ada empat kontak. Alex, Jenny, Paman James (Paman Alex), dan Jack (Kakak Jenny) dan beberapa kontak teman-teman Alex di buku sakunya.


"Kau harus menghubungiku, jika terjadi sesuatu padamu. Aku sudah menyiapkan apa yang kau minta, hati-hati jangan gegabah. Tuan Wijaya bukan orang sembarangan"


Begitulah bunyi chat dari Alex, disusul Jenny yang mengirimi emot sedih dan ucapan hati-hati. Tak terasa perjalanan telah sampai di negara yang dituju. Tak lama, seorang sopir sudah menunggu di bandara.


"Nona Arindra Adam Smith?"


Tanya laki-laki paruh baya menyapanya, terlihat heran melihat penampilan Arindra yang seperti kebanyakan wanita Indonesia.


"Iya, Pak Slamet?"


"Iya nona, silahkan masuk"


Arindra masuk ke dalam mobil menuju sebuah apartemen yang cukup mewah di daerah Jakarta. Sesampainya di Apartemen, Arindra tak lantas istirahat. Ia melihat Pak Slamet, masih ada di sana meletakkan kopernya.


Arindra pun berjalan kembali keluar, dan meminta Pak Slamet untuk membawanya ke sebuah restoran cepat saji. Arindra memakai kacamata hitam, dan masker. Lalu ia mengirim paket makanan itu ke rumah sakit dan ke apartemen dokter Dea. Selanjutnya ia menelpon seseorang yang nomornya sudah dikirimkan Alex padanya.


##########


Di rumah sakit, paket itu telah sampai di ruangan dokter Dea. Di terima oleh Suster Hani, lalu ia membuka paket tersebut. Ia mencoba menemukan sesuatu dalam kotak makanan itu, dan Suster Hani berhasil mendapatkan gulungan kecil, kertas di dalam makanan terbungkus rapi dalam sedotan minuman kecil.


"Tuan, saya melaporkan sesuatu tentang dokter Dea"


"Katakan"


"Ada sebuah pesan yang dikirimkan via paket makanan, isinya minta sebuah pertemuan di taman xxx Tuan, pukul dua siang"


"Siapa yang mengirim?"


"Seorang kurir Tuan"


"Amankan kurir tersebut segera, introgasi siapa yang menyuruhnya"


"Baik Tuan"


Suster Hani segera memerintahkan seseorang lewat telpon untuk menangkap kurir tersebut. Tak lama berselang, suster Hani mendapat pesan masuk, jika di apartemen dokter Dea ada kiriman paket makanan yang sama, namun minta bertemu di tempat yang berbeda dan jam yang berbeda.


"Cari segera siapa yang mengirimkan makanan, bawa segera ke gudang"


Perintahnya pada orang yang ditelponnya. Suster Hani setelah mendapat informasi anak buahnya sudah mendapatkan ke duanya, segera menuju gudang penyekapan.


"Bagaimana hasilnya?"


Tanya Suster Hani pada anak buahnya yang berada di gudang sekitar lima orang. Tak lama kemudian, datang lima orang membawa dua orang yang terikat dan kepalanya ditutup.


Ucap mereka yang baru datang tersebut. Dua laki-laki baru dibawa ke hadapan Suster Hani, sedangkan dua kurir yang sudah babak belur itu tak berani menatap.


"Siapa yang menyuruh kalian, jawab atau kalian akan mengalami nasib yang sama seperti mereka"


Seorang laki-laki besar menghajar dua laki-laki baru yang terikat itu.


"Saya tidak tau Tuan, sungguh. Saya hanya di suruh mencari orang untuk mengantar paket itu ke alamat yang sudah ada"


"Siapa yang menyuruhmu"


Bentak laki-laki besar itu.


"Saya tidak tahu tuan, saya hanya menerima paket itu di rumah dan pesan saja. Serta uang di dalamnya, selebihnya saya tak tau apa-apa"


"Bukkk"


Kembali laki-laki itu menghajar ke duanya, karena jawabannya sama.


"Bagaimana Nyonya?"


Suster Hani tak berkata apa-apa, hanya isyarat mata saja dari tubuhnya. Kemudian dia pergi, tak lama suara tembakan empat kali beruntun terdengar.


#######


"Nona orang suruhan semua tewas"


Itulah bunyi pesan yang terkirim di ponsel Arindra.


Deg


"Astaqfirullahaladzhim, mudah sekali mereka menghilangkan nyawa. Cepat sekali mereka bergerak, apa yang terjadi dengan dokter Dea, apakah Tuan Wijaya mengetahui jika aku masih hidup?"


Arindra terduduk lemas, bagaimanapun ia merasa bersalah. Ada empat orang yang tak bersalah, jadi korban hari ini. Haruskan dia berhenti, lalu jika berhenti akankah kejahatan Tuan Wijaya terhenti.


Sebuah chat masuk kembali di hanphonenya.


"Jangan lemah Kak, ini bagian awal yang harus kakak lalui. Jangan mundur, seperti yang pernah kakak bilang, jika orang-orang baik diam dalam melawan kejahatan, maka kejahatanlah yang akan menang. Maka saat ini lawanlah kak, aku tahu kakak punya kemampuan untuk itu"


Chat dari Alex sedikit menguatkannya, ia membuka file-file yang diberikan Alex tentang Tuan Wijaya dan keluarganya. Ia mengambil sebuah foto anak laki-laki tertua keluarga Wijaya, Hadinata Hansel Wijaya iya mengucapkan nama itu.


"Hansel, aku tak ingin membalas apa yang sudah kau lakukan padaku. Tapi bisakah kita bertemu dan bicara baik-baik, aku hanya ingin bertemu dan hidup bersama putraku. Apakah dia bersamamu, ataukah dia juga sudah tiada, apakah kau juga sama jahatnya dengan ayahmu?"


Arindra menyenderkan kepalanya di sofa, kepalanya terasa sakit. Kilasan peristiwa saat ia diperkosa, dipukul dan kepalanya dibenturkan ke tembok membuatnya sakit, ia segera meraih obat pereda rasa sakit dan meminumnya.


"Ya Allah, apakah aku sanggup menghadapi semua ini"


Arindra memegang kepalanya, membawa tubuhnya untuk direbahkan ke kasur.


#######


"Tuan"


Suster Hani sedang bertemu dengan Tuan Wijaya di sebuah gedung rumah sakit miliknya.


"Hemm"


"Kami belum berhasil menemukan pelakunya Tuan, mereka ternyata cukup rapi. Dan mengenai pertemuan itu, bagaimana selanjutnya Tuan"


"Tempatkan orang untuk mengawasi lokasi temu, minta orang untuk mengecek CCTV. Jika tidak bertemu, kita tunggu aksi mereka selanjutnya. Tetap waspada, dan pastikan siaga, aku tidak mau masalah ini sampai ke telinga putra putriku, apalagi sampai tercium media"


"Baik Tuan, saya permisi"


Suster Hani pergi meninggalkan Tuan Wijaya yang terlihat tenang. Ia terlihat menghubungi seseorang, dan tak lama kemudian ia pergi meninggalkan rumah sakit.


#############


Alhamdulillah chapter 55 done


Hayulah dikomen, dilike, divote, di share, di follow lesta lestari and di poin.


terima kasih❤❤❤❤❤