
Seminggu telah berlalu, Hans dan Syara sudah pulang ke rumah. Aldo dan Shania juga sudah melangsungkan proses lamaran. Keesokan harinya Hans dan Syara datang ke rumah Arindra.
Arindra yang sedang main di teras bersama Fattah tersenyum melihat kehadiran ke duanya.
"Assalamualaikum wr.wb Mbak, apa kabar?".
Syara menghampiri Arindra dan memeluknya, kemudian dia mengendong Fattah dan menciuminya. Syara sangat rindu pada Fattah yang sudah sepekan lebih hanya mampu dilihat fotonya. Ia memaksa dirinya untuk melawan rasa rindu pada Fattah, berharap ke depannya tak terlalu sakit jika melepas Fattah pada Arindra.
"Walaikumsalam wr. wb, alhamdulillah baik, kalian apa kabar?". Arindra menatap interaksi Syara yang terlihat jelas di matanya berkaca-kaca saat menciumi Fattah.
"Kami baik alhamdulillah". Jawab Hans yang menatap Arindra tanpa kedip, tatapan Hans pada Arindra tak luput dari perhatian Syara.
"Ya udah ayo masuk". Arindra mengajak mereka masuk ke dalam.
"Duduklah, aku buatkan minum dulu".
"Makasih Mbak". Syara dan Hans duduk di ruang belakang. Syara sibuk bermain dengan Fattah, tanpa sepatah katapun bicara dengan Hans.
"Biarkan aku gendong Fattah Ra".
"Nanti aja Kak, biarkan aku puas dulu. Aku sangat merindukan dia, nanti Kakak akan puas bermain dengannya setelah aku pergi".
Ucap Syara tanpa memandang Hans.
Arindra meletakkan air minum di meja dan makanan seperti biasanya.
"Bagaimana bulan madu kalian, sukses?".
"Doakan saja yang terbaik". Hans mengeluarkan oleh-oleh dan memberikannya pada Arindra.
"Terima kasih, seharusnya tak perlu repot begini". Ucapnya dan tersenyum pada Hans.
Entah mengapa Arindra merasa aura canggung pada ke duanya.
"Kamu g pa-pa Ra?". Arindra menatap Syara yang fokus pada Fattah.
"Aku g pa-pa Mbak, aku lagi kangen sama Fattah. Seharian ini aku mau bermain sama dia, karena besok aku putuskan untuk tinggal pesantren".
"Maksudmu mau pulang tempat Abi besok, kok g bilang". Tanya Hans pada Syara yang selama bulan madu mereka Syara lebih banyak murung.
"Ini aku bilang sama Kakak, sekalian bilang sama Mbak Arindra buat jagain Fattah".
"Kamu ngalah Ra?". Tanya Arindra yang melihat gelagat Syara.
"Yah, aku sudah merenungi selama seminggu ini Mbak. Aku rasa itu keputusan yang terbaik kita semua".
Arindra terdiam, Ia melirik Hans yang terkejut mendengar perkataan Syara.
"Pernikahan bukan buat candaan Ra, sudah kubilang aku g akan menceraikanmu".
Hans menatap Syara tajam, tak suka akan keputusan istrinya itu.
"Kalian belum membicarakannya, bicarah jika belum, bicaralah dengan kepala dingin".
Ucap Arindra yang hendak mengambil Fattah dari gendongan Syara.
"Aku ingin bermain dengan Fattah Mbak, tolong setelah ini aku takkan menganggu kalian lagi".
"Syara..."
"Ada Fattah kak, kumohon pelankan nada bicaranya". Syara menatap Hans yang geram menatapnya.
Shania yang baru dari Kafe mengambil barang terdiam di balik pintu, mendengarkan pembicaraan mereka. Aldo yang lama menunggu Shania masuk, tapi Shania langsung mengkodenya untuk diam.
"Maaf kak, keputusanku sudah bulat untuk pulang ke rumah Abi. Ilmuku selama ini kurasa lebih berguna di sana. Seminggu kemarin aku sudah mencoba istrikharoh, meskipun belum kudapatkan jawaban pasti.
Di Pesantren setidaknya aku mendapatkan ketenangan, dan aku bisa melanjutkan sholatku dengan tenang. Maaf, jika aku memaksa untuk tetap pergi ke rumah Abi.
Kita bertemu lagi setelah aku sudah mendapatkan keputusan. Selama aku pergi, berjuanglah Kak untuk mendapatkan hati Mbak Arindra.
Aku mengijinkannya, untuk kalian bersatu kembali. Akulah madunya di sini, bukan Mbak Arindra meski orang-orang di luaran sana hanya tau aku sebagai istrimu".
Hans meremas rambutnya, ia melihat Arindra tapi yang dilihat diam saja. Lama mereka dalam keheningan, hanya suara celoteh Syara pada Fattah saja yang terdengar.
Arindra termenung mengingat kemarahannya kemarin dan dendam yang dia ucapkan.
"Huhh, tanpa melakukan dendam pun situasi tak membaik. Kenapa hatiku tak senang melihat pertengkaran mereka. Bukankah seharusnya aku bahagia. Astaqfirullahaladzhim, ampuni hambaMu ya Robb, hilangkanlah bisikan setan yang bersemanyam di hatiku".
Arindra beristiqfar sebanyak-banyaknya, teringat akan dendam yang pernah bersemayam di hatinya. Ia menepuk pundak Syara dan tersenyum padanya.
"Sepertinya perkataanmu benar, pesantren adalah tempat terbaik untuk mengingat Allah. Aku mendukungmu, dan aku jika diperkenankan ikut bersamamu. Bolehkah?".
"Iya, boleh Mbak" Ucap Syara tersenyum.
"Lalu bagaimana denganku jika kalian berdua pergi?". Tanya Hans yang menatap keduanya.
"Kau juga perlu merenungi dan intropeksi diri. Untuk sementara sampai batas waktu yang tidak ditentukan, kau dan aku tidak perlu bertemu dulu. Fattah akan ikut bersama kami, jadi kau tak usah gusar".
"Seperti kata Mbak Arindra, aku juga meminta kakak tidak menemuiku dulu. Kita butuh waktu untuk bisa saling ikhlas dan menerima semuanya.
Terutama tentang cinta kakak padaku, sungguh aku mulai ragu jika kakak benar-benar mencintaiku. Dengan kita berpisah, aku harap kita bisa saling belajar kembali tentang makna sebuah rumah tangga yang sebenarnya".
"Jadi aku sama sekali tidak boleh bertemu kalian berdua?". Hans dengan tatapan memohonnya berharap jawabannya sesuai yang diharapkannya.
"Tidak"
Arindra dan Syara menjawab kompak.
"Bolehkah aku telpon, VC ataupun chat?".
Hans tak menyerah, berharap kali ini jawabannya iya.
"Tidak". Lagi dijawab kompak oleh keduanya.
"Telpon Fattah, masa g boleh juga".
Hans menatap keduanya dengan tatapan memelas.
"Tidak". Arinda dan Syara semakin kompak menjawab pertanyaan Hans.
"Okelah kalau begitu, jika dua istri menolak bertemu bolehlah berarti nambah istri"
Ucap Hans mencoba menggoda kedua istrinya itu.
Bukan jawaban tidak atau ia yang dia dapatkan, tapi pelototan Syara dan lemparan bantal sofa dari Arindra mengenainya.
Fattah yang melihat itu tertawa tergelak.
"Kau pandai menertawakan ayahmu ya".
Ucap Hans menatap baby Fattah dengan wajah gemasnya. Arindra dan Syara tertawa juga akhirnya.
"Plok-plok"
Suara tepuk tangan membuat mereka menoleh ke arah asal suara.
"Gitu dong akur hehee, jadi pengen punya dua istri".
Namun ucapan Aldo langsung mendapat cubitan dari Shania.
"Aduh duh sayang sakit, aku cuma becanda tadi". Aldo mengacungkan dua jarinya sambil menunjukkan wajah memohon.
"Aku tinggalin ke pesantren juga nanti, dan g bolehin ketemu mau?". Tanya Shania dengan wajah sangarnya.
Arindra, Syara, Hans dan baby Fattah tertawa melihat aldo dan Shania.
"Jangan dong sayang, kita kan bentar lagi nikah, kalo batal rugi dong abang".
"Nikah aja sana sama guling, kan tiap malem juga ditemenin guling". Ucap Shania yang kemudian pergi ke kamarnya.
"Kapok loe, makanya jangan dibawa becanda kalo lagi serius". Ucap Hans yang mengejek Aldo.
"Memangnya loe, punya dua istri tapi g boleh ada yang ditemuin, ngenes".
"Rese loe".
Aldo hanya tertawa dan menyusul Shania, membantu Shania membawa barang-barang untuk diletakkan di kafenya. Hans menatap ke dua istrinya itu, namun hanya tatapan horor keduanya yang didapatkannya.
"Apes banget punya dua istri tapi g ada yang mau nemenin tidur".
Hans mengelus dadanya dan tertunduk. Syara dan Arindra hanya saling bertatapan dan saling melempar senyum.
##############
Alhamdulillah Chapter 107 done
***Like, vote, poin, komen, share and follow lesta lestari....
Sukses selalu guys....❤❤❤❤❤❤❤❤***