ARINDRA

ARINDRA
Chapter 111



Setiap pagi sebelum Hans sampai di kantor, Hans menyempatkan diri bertemu Arindra, dan berbicara pada putranya. Seolah sudah menjadi kebiasaan, Arindra saat ini sedang menunggu kedatangan Hans. Tapi melihat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, ia memutuskan untuk membawa Fattah ke kafe. Tawaran menjadi sekertaris Hans ia tolak, karena tak ingin sibuk dan waktu bersama Fattah berkurang.


Namun saat ia sedang mempersiapkan kebutuhan Fattah, pintu di ketuk lalu ia keluar dan melihat kurir memberikan bunga padanya. Ia menerimanya, dan mencium bunga melati kesukaannya.



Ini pertama kalinya Hans tak datang dan sebagai gantinya ia memberikan bunga, Arindra tersenyum. Sebuah kartu ucapan cukup besar terselip di sana, lalu ia membaca kartu itu.


"Assalamualaikum humairaku, mohon maafkan aku jika tak mengunjungimu pagi ini. Aku harus pergi dini hari untuk mengejar poyek kerjasama dengan calon klien. Doakan aku ya.


Oh ya, aku bukan sosok romantis, tapi aku berusaha keras mengungkapkan perasaanku lewat rangkaian kata yang sejak semalam mencoba aku tuliskan. Mohon untuk tidak menertawakanku, sungguh aku menahan malu saat ini 🀭.


Sejujurnya aku gugup jika memandangmu, luka kesakitan dan trauma yang kau rasa, ku tahu sulit untuk kau lupa dan juga membuatku selalu teringat masa lalu.


Tapi ijinkan luka dan kesakitan itu perlahan-lahan kuhapus, kuganti dengan memori-memori indah tentang kita. Meski saat ini, memori itu masih sedikit namun perlahan tapi pasti Insyaa Allah aku akan membuatnya menjadi nyata.


Kau dan aku, sudah menyatu dalam diri Fattah. Semoga takkan terpisah sesuai janjiku pada ayahmu, kita akan menua bersama. Meraih samudra cinta Allah, meniti hati dalam ketaqwaan, mengurai rasa dalam sebuah keyakinan dan bermuara pada keabadian cinta hingga ke jannahNya.


Humairaku, kau melatiku seperti bunga kesukaanmu. Saat wanita lain menyukai mawar, kau memilih melati yang putih seperti putihnya hatimu yang ikhlas memberiku kesempatan dan memaafkan aku.


Kesederhanaan sikapmu, membuatku semakin yakin, jika aku membutuhkanmu dalam banyaknya gemerlap kesombongan yang masih ada dalam diriku.


Humairaku, istri surgaku.


Hanya kau yang membuatku gila cinta dan terpuruk dalam waktu yang tak berselang lama. Kebijaksanaan yang kau miliki, membuatku merasa tenang saat bersamamu.


Bagai air yang mengalir, kau membawaku membuka rongga-rongga gersang yang telah lama menetap dalam hatiku.


Kau menghanyutkanku dalam kedalaman air yang tak bertepi, melarutkanku dalam cahaya cinta yang selama ini tak kutemui. Semakin dalam, dan semakin dalam kau makin mempesona, ketenanganmu membuatku nyaman.


Kau mampu mengalah saat tahu kau akan menang, dan membiarkan egomu tak menguasai dirimu.


Seperti hurup alif yang tegak berdiri, begitulah keteguhan hatimu yang membuatku makin cinta. Seperti hurul alif lam mim di ayat pertama surat Al baqoroh, maknanya hanya Allah yang Maha Tahu, begitu jua cintaku biarlah Allah yang tau sedalam apa makna cintaku padamu.


My wife humaira, Insyaa Allah sore atau malam hari aku akan menjengukmu, melepas dahaga rindu untukmu dan putra kita. Tak bertemu dengamu, hatiku seperti ada di padang gersang dan hanya kau yang mampu menyejukkannya. Ana uhibbuka fillah, humaira. Tunggu aku mengisi hari-harimu, sabarlah menanti hingga hatimu menjadi pasti untukku.


Wasalamulaikum wr. wb,


Dari Orang yang sedang berjuang mendapatkan hatimu, Hadinata Hansel ❀ Syabila ArindraπŸ˜„.


Arindra tersenyum, tak terasa ada air di sudut matanya.


"Kau bilang tak romantis, tapi kata-katamu bikin hatiku syahdu".


Arindra mencium bunga melati itu, dan menyimpan kartu itu dalam sebuah kotak khusus.


"Lihatlah, ayahmu pandai sekali bermain kata. Apakah kau senang jika Ayah dan Ibu bersatu hemm?". Arindra menciumi pipi Fattah membuat bayi itu tertawa.


"Kau menggemaskan sekali sayang, seperti kata-kata ayahmu di tulisan itu hehee".


Arindra menciumi perut Fattah, bayi itu pun tertawa melihat wajah gemas ibunya. Arindra kemudian bersiap ke kafe karena Shania sedang menikmati bulan madunya.


##########


Sore hari, Arindra telah ada di rumah. Ia sudah mempersiapkan makan malam, ia teringat jika Hans akan datang do sore atau malam hari. Setelah selesai dengan masak memasak, ia segera memandikan Fattah dan tak lupa ia juga mandi dan menyemprotkan parfum kasturi si tubuhnya.


"Wangi banget ini, Mbak mau pergi?".


Tanya Sika karyawan kafe yang ikut tinggal bersamanya semenjak Shania pindah ke apartemen.


"Enggak di rumah aja".


Ucap Arindra sambil menggendong Fattah.


"Kirain Sika Mbak mau pergi sama Kak Hans, udah cantik dan wangi banget soalnya hehe"


"Emang biasanya begini kan setiap hari".


Sika tertawa "Iya sih Mbak, hari ini beda aja kelihatannya, kayak spesial gitu".


"Mbak aku buka pintu dulu ya".


"Iya Tante Sika, terima kasih".


Sika pergi ke depan untuk melihat siapa yang bertamu sore ini. Sedangkan Arindra merapikan pakaian dan jilbannya, dan menciumi bagian kanan dan kiri jibabnya, memastikan wanginya tak luntur.


"Ayah datang sayang, kamu senang hemm".


Seperti dugaannya, Hans datang dan mengucapkan salam. Arindra menjawab salamnya, terlihat lelah di wajah lelaki itu.


"Duduklah, aku buatkan minum untukmu".


"Sini Fattah aku gendong".


"Biar Sika aja, kamu lelah kan"


"G pa-pa, kan sehari ini belum ketemu sama dia. Insyaa Allah lelahnya hilang kalo sudah ketemu kalian berdua hehe"


"Gombal"


Arindra pun menyerahkan Fattah pada Hans, setelah Hans membuka Jas dan dasinya.


"Bismillah, anak ayah wangi banget sih, udah ganteng juga. Wah Ayah kalah ganteng ini sama kamu sayang. Muachhh"


Arindra tersenyum melihat interaksi Hans dengan Fattah. Fattah juga bermanja pada ayahnya itu, seolah menyalurkan kerinduannya pada Sang Ayah.


Arindra lalu bergegas ke dapur membuatkan air madu di campur jahe untuk Hans lalu membawa cemilan dan bergegas kembali menemui dua laki-laki yang sedang menunggunya.


"Minumlah dulu, ini air madu dan jahe agar membuatmu makin fit".


Arindra meletakkan gelas dan makanan itu di meja.


"Iya, makasih ya Ibu, atas makanan dan minumannya. Semoga Allah melipat gandakan pahala Ibu ya. Ayo sayang bilang aamiin".


Hans menengadahkan tangan Fattah, dan mengusapkannya pada wajahnya.


"Sini biar Fattah aku gendong, setelah minum bersih-bersihlah, bentar lagi magrib".


"Iya Humairaku".


Hans menyetupur minumannya setelah membaca bismillah. Panggilan humaira membuat Arindra teringat dengan surat yang diberikan Hans tadi pagi, membuatnya sedikit merona.


"Kok wajahnya merah, humairaku kurang enak badan?". Tanya Hans khwatir, ia ingin mengecek kening Arindra tapi ia tahan, mengingat Arindra yang belum mengijinkannya.


"Insyaa Allah enggak sakit kok, Alhamdulillah sehat-sehat aja".


Arindra membunyikan wajahnya di perut Fattah membuat Hans semakin khawatir.


"Sini biar aku gendong Fattah wajahmu makin merah humairaku, aku takut kau kenapa-napa".


Hans mencoba meraih Fattah namun di tahan oleh Arindra yang masih menyembunyikan wajah di perut Fattah.


"Udah aku g pa-pa, nih udah adzan magrib siap-siap aja sholat". Ucap Arindra yang kemudian pergi meninggalkan Hans mencari sika. Hans hanya garuk-garuk kepala, tak mengerti arti meronanya wajah Arindra.


#############


Alhamdulillah chapter 111 done


ayo dong guys


Di like, poin, vote, komen, sharenya ya


Follow juga Lesta Lestari.....


vote and komennya dikit nih guys πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ€—