
Syara menghapus air matanya, ia mencuci wajah dan berganti dengan piyama panjang dan keluar dengan memakai jilbab. Ia melihat Hans telah tertidur, Syara mengusap wajah suaminya itu.
"Mengapa, mengapa saat aku ingin menyerahkan sepenuhnya diriku. Kau berkata mencintai wanita lain, kenapa kak. Sebenarnya siapa yang ada di hatimu, selama ini yang kau cintai, aku atau pasien itu. Dia wanita koma kak, bahkan ia tak pernah berbicara padamu, tapi mengapa aku begitu cemburu padanya dan sulit menerima kenyataan jika aku adalah istri ke duamu"
Syara memeluk erat suaminya itu, ia menangis tertahan di dada pria itu. Ia benar-benar tak rela sejak kedatangan meraka ke Jepang, raga Hans di sisinya, namun hati dan fikirannya pada Arindra.
Di penghujung malam, Syara terbangun mendengar suara Hans.
"Arindra...Arindra.."
Keringat membasahi wajah laki-laki tampan di sampingnya itu.
"Arindra sayang, Arindra jangan pergi. Ku mohon, Arindra..."
Teriak Hans membuatnya terbangun, ia mengusap keringat di wajahnya. Ia bermimpi, ia bermimpi Arindra berlari dan Hans mengejarnya, namun ia tak bisa mengejar Arindra. Ia melihat wajah Syara, yang menatapnya dengan tatapan mata pilu.
"Ra.."
Hans menyadari kesalahan yang diluar kendalinya.
"Aku hari ini pulang Kak, aku rindu Abi dan Umi"
Ucap Syara dingin, memang tak ada air mata di wajahnya. Sudah cukup air mata yang selama ini menetes. Syara menguatkan hatinya, ia harus menerima fakta jika di hati Hans ada wanita lain selain dirinya.
"Maaf"
Hanya itu kata yang terucap oleh Hans, ia membiarkan Syara berkemas di pagi buta.
"Aku akan menyiapkan pesawatnya"
Deg
Syara sekejap menghentikan aktifitasnya memasukkan pakaian dalam koper.
"Kenapa ia tak menahanku, kenapa ia tak berusaha seperti selama ini ia lakukan. Apakah ia sudah menyerah padaku?, inikah akhirnya. Benarkah perpisahan yang akan terjadi, aku mencintaimu Hans, sangat mencintaimu"
Namun itu hanya ungkapan dalam hati Syara, ia hanya berhenti sejenak dan memasukkan kembali pakaian ke dalam koper.
"Maafkan aku Ra, jika aku menyerah. Maafkan aku, ternyata aku hanya menyakitimu. Kau wanita baik, kau pantas mendapatkan yang terbaik. Aku ikhlas melepasmu Ra untuk kebahagiaanmu, hatiku masih sangat mencintaimu"
Hans menatap setiap gerakan yang dilakukan istrinya itu. Ia kemudian menelpon seseorang menyiapkan pesawat untuk Syara. Tak ada lagi pembicaraan antara ke duanya, bahkan ketika Hans mengantarkan Syara sampai pesawat.
"Hati-hati"
Hanya itu yang diucapkan Hans pada Syara, saat Syara mulai berjalan ke arah tangga pesawat. Syara berharap, Hans datang memeluknya, namun Hans tetap berdiri tegak di tempatnya. Dengan menarik nafas berat, Syara yang sudah menaiki beberapa tangga pesawat turun kembali, berlari memeluk Hans.
Pelukan erat itu disambut Hans, ia pun merindukan sikap hangat Syara yang menghilang dua hari ini karena ulahnya.
"Maaf"
Ucap Hans mengecup puncak kepala Syara, dan turun ke keningnya. Syara berjinjit, ia begitu kesusahan untuk menggapai wajah tampan Hans. Seolah mengerti, Hans menundukkan wajahnya.
Syara segera menangkup wajah Hans dengan ke dua tangannya. Ia mencium mata, hidung mancung Hans, turun ke dua pipi kanan dan kirinya. Ya hanya itu yang biasa mereka lakukan selain pelukan dan tidur bersama. Mereka tidak pernah bertindak sejauh itu meski suami istri. Masing-masing selama ini menahan diri, Hans terikat dengan janji, Syara terikat dengan keraguan.
"Cup"
Entah keberanian dari mana ataukah dorongan rasa cemburu dari semalam, membuatnya berani mencium bibir Hans meski hanya sebuah kecupan.
Yah Syara mana tau ciuman, kan polos kayak Author hahaaa😜🤭🤭
Hans yang mendapatkan serangan tiba-tiba terkejut, ia menatap mata manik istrinya itu. Syara yang ditatap mengigit bibirnya menahan rasa malu. Wajah merahnya tak lagi bisa disembunyikan. Hans yang melihat itu tersenyum. Menarik dagu wanita itu dan membawanya pada tempat yang seharusnya.
Para kru pesawat yang melihat itu langsung berpaling. Mereka tak menyangka, boss dinginnya itu melakukan hal seperti itu di tempat umum. Cukup lama ke duanya tenggelam dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri. Hingga Syara melepaskannya, Hans tersenyum dan mengusap bibir Syara dengan jempolnya.
"Tunggu aku pulang, i love you"
Syara tersenyum, ada kelegaan di wajahnya. Kini hatinya mantap, setelah mereka pulang ke tanah air. Syara akan menyerahkan diri seutuhnya pada Hans. Tak peduli, Arindra bangun atau tidak. Ia ingin Hans, hanya Hans.
"Syara pulang dulu ya Kak, Aku akan mempersiapkan kejutan untukmu"
Bisiknya sambil tersenyum.
"Salam buat Abi dan Umi, dan jangan lupa jaga Mbak Arindra"
Senyum yang tadi mengembang, sesaat menghilang. Hans sadar akan perubahan wajah itu, tapi Syara harus sadar. Ada Arindra dalam kehidupan mereka, yang tak bisa lepas. Hans tau, jika Arindralah yang membuat Syara ragu untuk menerima cinta darinya.
Syara mengangguk dan tersenyum kembali meski dipaksakan.
"Walaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, Fii amanilah sayang"
Hans melambaikan tangan ke arah Syara, dibalas lambaian tangan. Hans menatap kepergian Syara hingga pesawat itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
#####
Di sebuah pemakaman desa, mayat seorang wanita yang tak dikenal telah masuk liang lahat. Di sana ada Jhon, dan beberapa anak buah Jhon berada di mobil, Suster Hani dan dr Dea. Para penggali mulai menutup lubang itu dengan tanah kembali.
Kemudian menancapkan batu nisan yang telah tertulis nama Syabila Arindra. Tak ada karangan bunga, tak ada tabur bunga, tak ada iring-iringan orang-orang. Setelah selesai Jhon dan rombongannya pergi, diikuti oleh para penggali yang telah menyelesaikan tugasnya.
Jhon pun melaporkan jika pekerjaannya telah selesai pada Tuannya. Dr Dea ikut bersama Jhon kembali ke rumah sakit, sedangkan Suster Hani yang datang hanya untuk memastikan itu mayat itu adalah mayat Arindra dan mengawasi pekerjaan dr. Dea ikut juga ke rumah sakit.
Tugas Suster Hani kini kembali ke rumah sakit, sebagai kepala perawat. Sekaligus pengawasi dr. Dea yang sudah dicurigai oleh Tuan Hans.
#########
Siang itu Syara telah sampai di rumah. Hanphone yang ia matikan selama perjalanan ia hidupkan. Ia membuka chat, dari asisten perawat yang dulu bersamanya di rumah sakit.
"Dok, pasien yang dokter rawat khusus tadi pagi meninggal dunia"
Syok, itulah perasaan Syara. Ia kemudian teringat Hans, bagaimana dengan Hans. Bisakah ia menerima kenyataan jika Arindra telah meninggal dunia. Ia kemudian menghubungi Hana.
Hana yang terkejutpun mendengar berita itu, baru dua hari ia meninggalkan negerinya. Arindra sudah tiada, ia kemudian menelpon Daddy dan Mommynya menanyakan kebenaran informasi yang didapatkannya.
"Mom, di mana mom sekarang?"
"Mom, ada di rumah sakit sayang. Kenapa?"
"Apakah benar Mbak Arindra meninggal, benarkah Mom, lalu bagaimana anaknya?"
Nyonya Wijaya melihat suaminya, menanyakan mengapa Hana sampai tahu berita tentang Arindra. Tuan Wijaya mengangkat bahu.
"Darimana kamu tau sayang?"
"Jadi benar berita itu Mom?"
"Iya Sayang"
Hana menangis di ujung sana, ia benar-benar merasa bersalah. Meskipun bukan dirinya yang melakukan kejahatan, tapi tetaplah peran Hans sebagai kakaknya membuatnya berharap Arindra hidup, sehingga ia dan kakaknya bisa meminta maaf. Tapi kini harapannya pupus, pasien yang dijaganya siang malam itu telah tiada.
"Jhon, kenapa Hana sudah tau Arindra meninggal"
Jhon yang berada di rumah sakit pulang dari pemakamam juga terkejut. Tapi ia mendengar laporan jika Syara telah sampai di rumah tadi pagi.
"Mungkin Nona Syara yang memberi tahu Tuan, soalnya Nona sedang menuju ke rumah sakit ini"
"Maksudmu Syara dan Hans telah kembali dari bulan madu?"
Tanya Nyonya Wijaya tak percaya, ia sedang membayangkan wajah Hans yang akan marah pada mereka.
"Tidak Nyonya, Nona Syara sendiri, Tuan Muda masih di Jepang"
Tak lama orang yang dibicarakan datang, Syara melihat bayi mungil di box bayi dan melihat Suster Hani pun di sana.
"Assalamualaikum Mom, Dad"
Syara mencium tangan ke duanya, dan melihat box bayi itu.
"Apakah ini anak Mbak Arindra Mom?"
Tanya Syara yang wajahnya tak lepas dari bayi mungil yang tampan itu. Bayi mungil itu sedang tertidur dengan pulasnya.
Anggaplah foto bayinya begini ya. Meski baru lahir 1 hari hehe🤭😆.
"Dia putramu dengan Hans, bukan putra wanita itu. Ingat itu sayang"
Ucap Nyonya Wijaya pada Syara sambil memegang pundak menantunya itu.
############
**Alhamdulillah Chapter 43 selesai.
Hupppp❤❤❤❤❤**