ARINDRA

ARINDRA
Chapter 80



"Arindra bisakah kau menolongku, menceritakan apa yang kau tahu pada Shania adikmu, aku masih banyak pekerjaan jadi lain kali saja ya"


Hans ingin melangkah pergi, diikuti Aldo namun dihadang Shania dengan tatapan marah dan kesalnya pada dua pria di hadapannya itu.


"Kalian mau lari dari tanggungjawab hah"


Ujar Shania dengan marahnya, Arindra berdiri bersitatap dengan wajah Hans, dengan senyum mengembang ia berkata pada Hans.


"Hanya segini keberanian seorang Hansel Wijaya?, tak kusangka pelaku sadis itu ternyata seorang pengecut"


Arindra memprovokasi Hans untuk mengakui kesalahannya sendiri pada Shania. Aldo menarik nafas dalam dan memalingkan wajah dari tatapan seram Shania. Hans balik menatap Arindra, memperhatikan wajah Arindra dari jarak yang begitu dekat.


"Mengapa dia begitu menggoda saat ini, aahh Hans ingat sadar-sadar, kau belum menaklukan hatinya. Sabar Hans, sabar"


Hans mengelus dada dengan tangannya, tanpa melepaskan tatapan matanya melihat wajah Arindra, tatapan menikmati senyuman di bibir Arindra, meski yang terlihat senyuman mengejek, tapi Hans tak peduli. Shania kesal melihat Hans ternyata memperlihatkan wajah tersenyum pada Kakaknya.


Ingin sekali ia menonjok wajah itu, tapi ia tak berani karena bagaimanapun Hans adalah bossnya 😁✌. Jadi ia lampiaskan dengan menginjak kaki Aldo.


"Aduhh sayang, mengapa kau injak kakiku. Sakit tau"


"Kau membuatku kesal, kau kutanya tapi kenapa tak dijawab hah"


Shania kembali menjewer Aldo, sedangkan dua insan itu tak bergeming, masih dengan tatapan yang membuat seorang Jack cemburu dan mengepalkan tangan.


"Cup..."


Hans mencium pipi Arindra dan berlari sambil tersenyum puas, melihat wajah keterkejutan orang-orang melihat tindakannya, Aldopun ikut berlari mengejar bossnya itu.


"Maafkan aku sayang"


Ucap Aldo di tengah larinya, dengan senyum dan mengangkat dua jarinya. Sedangkan Hans sudah menghilang di balik pintu. Shania makin kesal melihat kelakuan mereka, sedang Arindra hanya tersenyum dengan gelengan kepala mengingat perlakuan Hans padanya.


"Kau senang memberikan pipimu pada Hans, apakah kau sudah membuka hatimu untuknya karena ia membawakan makanan untukmu. Apakah begini tingkah seorang Arindra yang sesungguhnya, kau berlagak jual mahal pada orang lain, dengan tak mau disentuh sedikitpun, tapi begitu mudahnya kau membiarkan dirimu disentuh oleh seorang Hans yang tak bukan laki-laki yang sudah mengambil paksa kehormatanmu dan mencoba membunuhmu hah"


Jack mengepalkan tangannya, wajahnya mengeras tanpa amarah menguasai hatinya. Shania shock mendengar fakta yang diucapkan oleh Jack tentang kakaknya. Ia melihat Kakaknya yang tidak lagi tersenyum menatap Jack, sedangkan Shania kembali menangis, iba.


"Seorang Arindra akan selalu jual mahal pada laki-laki yang tak memiliki hak apapun terhadap dirinya. Ingat, dia yang menciumku, bukan aku yang menciumnya"


Ucap Arindra yang kesal dengan perkataan Jack.


"Jadi kau tak kan marah, jika aku menciummu begitu, dengan curi-curi atau memaksaku seperti Hans yang melakukan padamu hah"


"Kau seperti suami yang sedang memarahi istrinya, padahal diantara kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Selain ikatan pasien dan dokternya, selain team yang memiliki tujuan yang sama"


"Aku memang bukan siapa-siapa di hatimu, termasuk Hans. Tapi apakah aku harus kupaksa dirimu sama seperti Hans yang menodaimu dengan paksa, lalu kau bisa menyerahkan dirimu dengan mudah padaku. Itukah yang kau mau aku lakukan padamu hah?"


Arindra makin kesal melihat kemarahan seorang Jack. Ia tak menyangka Jack tak mampu menahan amarahnya karena cemburu, dan mengatakan kata-kata yang menyakitkan hatinya.


"Jika kakak berfikir akan melakukan itu padaku, maka kakak hanya akan menemukan mayatku"


Ucap Arindra pergi meninggalkan mereka ke kamar dan dikejar oleh Shania. Sedangkan yang lain hanya melihat Jack dengan tatapan tak percaya, seorang Jack yang selama ini mereka tahu sangat menjaga Arindra, bahkan begitu memujanya, namun bisa mengatakan hal-hal yang menyakitkan hati Arindra karena rasa cemburu yang menguasai hatinya.


Mereka kemudian meninggal Jack sendirian, rencana pergi hari ini tak berjalan sesuai harapan mereka. Sedangkan di kamar, Arindra berlari ke kamar mandi, menumpahkan rasa sesak di dadanya dengan menangis.


"Kak, Kak Tiara, Kakak buka pintunya"


Shania menggedor-gedor pintu kamar mandi, berulang-ulang. Ia cemas akan keadaan kakaknya itu.


"Kak, aku mohon buka pintunya. Jangan begini, aku tau kakak kesal, marah tapi tolong jangan siksa diri kakak sendiri. Aku sudah lama begitu merindukan dirimu Kak, aku tak ingin sendirian lagi. Aku mohon buka pintunya Kak..hiks...hiks..."


Shania terus memanggil Arindra, dan mengetuk-ngetuk pintunya.


"Kak aku mohon, Aku mencintaimu Kak. Kakak belum ke makam Ayah dan Ibu, mereka juga sangat merindukanmu Kak. Jika kakak begini Ayah dan Ibu pasti sedih di sana Kak, buka pintunya Kak, Nia mohon"


Arindra membasuh wajahnya, lalu keluar setelah merasa tenang, Ia tersenyum melihat adiknya yang duduk di depan kamar mandi, menungguinya.


"Kak"


Shania bangun dan langsung memeluk Arindra.


Shania kembali sesegukan di dalam pelukan Arindra. Arindra menghapus air matanya yang mulai menetes kembali di sudut pipinya, lalu melihat wajah sang adik. Ia mengecup kening adiknya itu.


"Kakak sekarang baik-baik saja, itu yang terpenting. Kita duduk di sana ya"


Ucap Arindra lembut dan menunjuk sofa yang ada di kamarnya itu, Shania mengangguk mengikuti langkah Kakaknya tanpa melepas genggaman tangannya pada tangan Arindra.


"Sekarang kakak minta kamu cerita, yang kamu tentang Kakak, tentang Ayah dan Ibu. Dan bisakah menunjukkan foto keluarga kita"


Shania mengangguk, dan menghapus air matanya. Namun saat ia hendak memulai cerita suara ketukan pintu kamar terdengar.


"Kakak buka pintu dulu ya"


"Biar Nia aja Kak, Kakak duduk aja di sini"


Arindra mengangguk dan tersenyum, lalu Shania berdiri membuka pintu terlihat sosok Jack dengan wajah bersalahnya datang sambil membawakan tas milik Shania.


"Tasmu, dan ijinkan aku bicara dulu dengan kakakmu sebentar saja"


Shania mengambil tas itu dengan kesal, lalu menoleh pada Arindra. Arindra mengangguk tanda menyetujui permintaan Jack. Jack masuk, ia melihat Arindra tersenyum padanya membuat ia semakin merasa bersalah.


"Maafkan atas perkataanku tadi, aku tak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya terbawa perasaan, karena begitu cemburu melihatmu bersama Hans"


"Aku mengerti Kak, dan memahaminya. Sekarang bisakah aku menikmati waktu berdua bersama adikku saat ini"


Jack mengerti dibalik senyuman Arindra ia masih menyimpan kekesalan padanya.


"Baiklah, aku keluar. Jika butuh apa-apa aku ada di bawah"


"Aku butuh obatku, sudah lama aku tak membawanya. Bisakah kau memberikannya padaku, untukku berjaga-jaga jika rasa sakit itu datang maka aku tak perlu mencari kakak lagi hanya untuk sekedar minum obat"


"Apakah kau saat ini kau merasa sakit?"


Tanya Jack khawatir lalu mendekati Arindra untuk memastikan.


"Tidak, aku hanya tidak ingin terlalu bergantung padamu mulai saat ini"


Deg...Jack terdiam, ia menyadari sikapnya dan ucapannya salah, tapi ia tak menyangka jika Arindra mulai menjaga jarak dengannya.


"Baiklah, tapi hanya boleh meminumnya saat benar-benar kau merasakan sakit yang luar bisa. Jika masih bisa kau tahan rasa sakitnya, maka kau tak boleh minum obat itu. Obat itu memiliki efek samping, dan kau tahu itu"


"Aku paling mengerti kondisiku tubuhku Kak, terima kasih atas perhatiannya"


Arindra tersenyum, dan Jack pamit keluar. Sedang Shania dengan wajah penuh tanya dan khawatir mendekati Arindra.


"Kakak sakit?" Tanyanya memegang kening kakaknya itu. Arindra mengambil tangan itu dan tersenyum.


"Kakak tidak sakit, akibat benturan membuat kepala, membuat kakak merasa sakit tapi hanya sesekali saja"


"Benarkah, Kakak tidak berbohong?"


"Tidak Shania"


Shania memeluk kakaknya itu,


"Aku tidak mau kehilangan Kakak untuk ke dua kalinya" Ucapnya dipelukan Arindra.


"Insyaa Allah tidak Nia"


Arindra membelai rambut Shania, dan melepaskan pelukan mereka.


"Sekarang ceritakan pada Kakak, apa yang kakak minta tadi ya"


Shania mengangguk dan mengambil hanphone di tasnya, menunjukkan foto-foto dirinya bersama kakaknya, Ibu dan Ayah mereka, sebelum ia menceritakan apa yang menimpa keluarganya semenjak kepergian Arindra yang selam ini dianggap telah tiada.


#############


Alhamdulillah chapter 80 done