ARINDRA

ARINDRA
Chapter 48



Sedangkan ditempat lain Arindra selama tiga hari ini sudah menunjukkan kemajuan yang cukup pesat. Matanya sudah perlahan-lahan terbuka, meski belum terbuka sepenuhnya. Beberapa kali juga ia mengeluarkan suara, meski hanya erangan kecil. Alex juga sudah mengundurkan diri dari rumah sakit yang selama hampir sembilan bulan ini, ia disana.


Dokter Dea, belum mengunjungi mereka belum berani, karena bagaimanapun saat ini dia sedang diawasi ketat oleh Tuan Wijaya.


Jhon juga tak lagi mendekati dokter Dea, bagaimanapun ia harus melindungi dirinya dan dokter Dea dari amukan Tuan Wijaya jika ia tau dia juga terlibat dalam kebohongan. Sementara hubungannya LDR dulu, ciee pake LDR padahal deket 😁😁.


Siang itu Alex masih bersama Jenny, mengecek hasil CT Scan yang dilakukan pada Arindra.


"Bagaimana hasilnya?"


Ucap Alex duduk di sofa ruangan itu.


"Ada bekas benturan di kepalanya cukup keras sepertinya menyebabkan ia gegar otak menyebabkan amnesia atau kehilangan penglihatan. Kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya, senjatamu bisa jadi tak berguna Alex"


"Kita lihat saja nanti, setidaknya dia sudah menunjukkan jika dia akan pulih"


"Ya kita lihat saja, jika ia tak berguna apa yang akan kau lakukan?"


"Entahlah, aku rasa akan merawat dan mengembalikannya pada keluarganya"


"Kau menyia-nyiakan waktumu sembilan bulan terakhir ini, tapi jika itu keputusanmu. Maukah makan siang denganku, sudah lama kita tak melakukannya bukan?"


"Iya, baiklah. Ayo.."


"Tunggu sebentar, aku bereskan ini dulu"


Jenny membereskan beberapa dokumen pasiennya. Di lain tempat di ruangan Arindra, yang dijaga seorang suster, sedang duduk di sofa.


Arindra mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia membuka mata sedikit buram, lalu mencobanya kembali, setelah sedikit jelas ia melihat sekelilingnya. Ia berada di atas ranjang rumah sakit, entah berapa lama ia tertidur, namun saat ini ia hanya merasakan sakit kepala yang luar biasa menyerangnya.


"Auhhhh"


Arindra memegang kepalanya, Suster yang mendengar suara mengaduh bangun. Ia melihat Arindra kesakitan. Kemudian ia segera memencet tombol yang terhubung langsung ke ruangan dokter Jenny.


"Ada apa"


Tanya Alex mendengar suara tombol itu.


"Sepertinya Arindra sadar"


"Baiklah, ayo cepat"


Dokter Jenny dan Alex berlari menuju ruangan Arindra. Mereka segera memeriksa Arindra yang kesakitan di kepalanya.


"Auhhhh"


Arindra merintih, masih dengan kesakitannya.


"Apakah kepalamu begitu sakit?"


Tanya Jenny, Alex memegang tangan Arindra.


Arindra mengangguk.


"Baiklah, bisakah kau minum dulu"


Lagi Arindra hanya mengangguk, Alex membantu untuk mendudukkan Arindra. Ia memberi minum, setelah itu ia melihat Arindra sedikit tenang. Arindra melihat wajah-wajah beberapa orang yang ada di ruangan itu, namun tak satupun ia mengenalnya.


Ia melihat sekelilingnya sekali lagi untuk memastikan, namun sekelebat sosok pria berpakaian putih muncul di balik pintu menatap ke arahnya.


Seketika ia teringat apa yang terjadi pada dirinya, dan ia menjerit memukul-mukul kepalanya.


"Brengsek laki-laki brengsek, tak cukup kau memperkosaku, kau pun ingin membunuhku. Pergi...pergi..."


Jeritan itu terus menerus terlontar, air matanya tak kuasa dibendung. Membuat beberapa orang di ruangan itu panik, karena Arindra memukul-mukul kepalanya, berusaha melepas selang infus dan berusaha bangkit berlari. Namun pada akhirnya ia hanya mampu terjatuh di sisi ranjang, dengan kaki yang tak bisa digerakkan.


Alex segera mengangkat tubuh ringkih Arindra, membawanya ke atas ranjang. Jenni segera menyuntikkan obat penenang, Suster bergerak memasang kembali infus yang terlepas. Arindra mulai tenang dan tertidur, karena pengaruh obat, membuat yang lain pun ikut tenang.


"Syukurlah ia tak mengalami kebutaan. Tugasmu makin berat, untuk beberapa bulan ke depan ia kesulitan berjalan. Aku lupa memberitahumu, jika ada keretakan di kakinya. Beruntung itu sudah pulih, sehingga tinggal melatihnya berjalan"


Jenny menepuk pundak Alex yang duduk memandangi wajah Arindra.


"Begitu malang nasib wanita ini, kasihan sekali. Andai aku keluarganya, aku takkan membiarkan orang yang melakukan ini hidup dengan bebas"


"Hahaa kau lucu sekali Alex"


"Kenapa kau malah tertawa?"


"Lalu apa yang kau lakukan sembilan bulan ini hah, kau menjadi penyusup. Bahkan, kau membawa wanita ini ke sini untuk membalaskan dendammu bukan?"


"Yah kau benar"


"Apa yang rencana selanjutnya jika dia amnesia?"


"Aku masih belum tau"


"Jika dia mengalami amnesia anterograde, kau beruntung tapi jika sebaliknya jika retrograde kau tidak beruntung, atau jika dia tidak amnesia sungguh itu adalah keajaiban Tuhan yang luar biasa"


"Entah jahat atau tidak, aku harap aku dihadapkan pada pilihan pertama, sehingga aku akan mudah membuat identitas baru untuknya"


"Identitas baru?"


"Iya, dia harus menjadi sosok yang baru sesuai dengan keinginanku. Suka tidak suka, dia akan menjadi bagian dari keluarga Adam"


"Maksudmu?"


"Di akan lahir menjadi sosok Arindra Adam Smith, bukan lagi Syabila Arindra"


"Wow, kenapa kau tidak menganti sekalian nama Arindra?"


"Tidak, itu akan memudahkan mereka melupakan kejahatannya, biarakan nama Arindra tetap hadir, mengingatkan mereka akan kejahatan yang mereka lakukan"


"Kau kembali membawanya dalam bahaya, baiklah tapi kau sudah bertekad, aku hanya bisa membantumu. Aku rasa kau akan menuai hasil dari kerja kerasmu selama ini menjadi penyusup"


"Yah, aku yakin usahaku tak sia-sia"


"Aku pergi dulu, kau tidak jadi makan denganku?"


"Aku sudah tidak lapar"


"Baiklah, aku akan meminta suster membawa makanan untukmu, dan tentunya untuk wanita ini juga"


"Terima kasih Jen"


"Ya, aku pergi dulu"


Jenny pergi meninggalkan Alex seorang diri di ruangan itu. Alex dengan setia duduk di sisi ranjang, ia ingin segera memastikan apakah Arindra, menderita amnesia sesuai keinginannya atau tidak.


Selang beberapa jam kemudian, Arindra mulai bangun. Ia melihat sosok di hadapannya, laki-laki asing, duduk tersenyum padanya.


Tanyanya melihat Arindra yang mengeryit melihatnya.


"Aku adikmu, kau sudah terlalu lama tidur sehingga tubuhku begitu pegal"


Ucap Alex yang terlihat santai, sambil menggerakkan tubuhnya.


"Kau adikku?"


Tanya Arindra yang merasa asing dengan sosok orang yang mengaku adiknya itu.


"Kau tidak mengingatku, adikmu sendiri?"


"Tidak"


Arindra menggeleng, ia merasa yakin dirinya tak mengenal sosok Alex.


"Baiklah, kau tau namamu?"


"Nama..."


Arindra mencoba berfikir, mengingat-ingat.


"Yah, namamu apakah kau juga melupakannya?"


"Auhhhh"


Arindra memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Kau tak ingat?"


Tanya Alex lagi, Arindra menggeleng.


"Apakah kau ingat peristiwa tadi siang?"


Arindra mencoba mengingat kembali peristiwa siang tadi.


"Aku ingat"


"Mengapa kau menjerit, dan menunjuk-nunjuk ke arah pintu?"


"Aku melihat ada sosok laki-laki yang memperkosaku, dan kemudian menabrakku dengan mobilnya"


"Adakah yang kau ingat selain itu?"


Arindra kembali berfikir, ia memegang kepalanya yang kembali berdenyut mengakibatkan sakit. Melihat Arindra yang kesakitan, Alex menarik ke dua tangan Arindra dan menggenggamnya.


"Sudah, sudah jangan dipaksakan. Maaf...maafkan adikmu ini Kak"


Alex mencoba menenangkan Arindra yang kesakitan, ia kemudian memencet tombol. Tak berapa lama Jenny datang dengan seorang suster.


"Dia sudah bangun?"


Tanya Jenny melihat Arindra yang masih menahan sakit. Ia memerintahkan suster untuk menyuntikkan obat pereda rasa sakit. Arindra mulai tenang kembali, dan duduk bersandar.


"Apa yang terjadi padamu, apa Alex bertanya macam-macam setelah kau bangun?"


Tanya Jenny pada Arindra.


"Iya"


"Apa yang ditanyakan padamu?"


Ucap Jenny penasaran, sedangkan Alex terdiam masih memperhatikan Arindra.


"Dia menanyakan namaku, mengaku adikku, dan mengingatkanku pada laki-laki itu"


"Apakah kau mengingat semuanya?"


Arindra menggeleng


"Aku hanya ingat, saat aku diperkosa dan ditabrak oleh laki-laki brengsek itu"


"Tidakkah kau ingat lagi?"


Lagi Arindra hanya menggeleng. Membuat Jenny melirik Alex dan tersenyum penuh arti. Ia menepuk pundak laki-laki itu, dan berbisik.


"Selamat, kau kini punya senjata ampuh"


Ucapnya sambil tersenyum, sedangkan Arindra hanya memperhatikan keduanya tak mengerti dan tak mendengar apa yang keduanya bicarakan.


"Kami bahagia, akhirnya kau terbangun dari tidur panjangmu. Sembilan bulan kami menanti dengan sabar agar kau bangun. Syukurlah hari ini kami lihat keajaiban itu"


Ucap Jenny tersenyum pada Arindra dan mengelus pergelangan tangannya.


"Sekarang fokuslah untuk kesembuhanmu, kami akan membantu semampu kami, apapun yang kau butuhkan bicarakan saja pada kami, Alex adikmu dan aku kekasihnya"


Ucap Jenny lagi, Arindra ingin bertanya lebih banyak namun terhalang oleh kedatangan suster yang membawa makanan untuknya.


"Makanlah dulu, kau butuh tenaga untuk mengetahui siapa dirimu, aku permisi dulu.."


Jenny melangkahkan kaki keluar, Alex mengantarnya hingga pintu kemudian kembali lagi menyuapi Arindra.


#########


Alhamdulillah Chapter 48 done


Yang minta Arindra sadar, sudah sadar nih..😁😁


yuklah tak lupa author mah mengingatkan saja


di like


di komen


di vote


di poin


di share


si follow Lesta Lestari


biar semangat Upnya makasih semuanya


😁❤❤❤❤❤