
"Aaaaaa"
Arindra berbalik, melemparkan vas bunga yang ada di depannya kearah sosok yang berpakaian hitam-hitam. Ia berlari ke arah kamar Paman, Jack dan Alex.
Laki-laki berpakaian hitam itu mengejar dan
"Bukkk"
Satu pukulan mengenai wajah sosok berpakaian hitam, ia kemudian menyerang Jack dengan pisau lipat.
"Crasss"
"Kakak"
Jerit Arindra yang melihat darah di pergelangan tangan Jack. Alex dan Paman membantu Jack, melawan sosok itu. Sosok itu melihat ada beberapa orang di sana segera lari, melewati jendela balkon. Di kejar oleh Alex, namun kemudian sosok itu hilang lewat tali penyintas. Alex berbalik, melihat luka di tangan Jack.
"Bagaimana lukanya kak, apakah dalam?"
Tanya Alex, sedangkan Paman menghubungi petugas keamanan apartemen dan melaporkan kejadiannya. Arindra yang syok, memegang kepalanya yang serasa berputar-putar. Ia meringis kesakitan, dan
"Brukkk"
Arindra jatuh di lantai tepat di samping Jack dan Alex.
"Kak"
Alex dan paman segera menggotong Arindra masuk kamar.
"Jenny...Jenny bangun, cepat minggir"
Jenny yang masih mengantuk, terkejut melihat Arindra yang digotong.
"Kak Arindra kenapa?"
Tanya Jenny panik,
"Tenanglah, cepat periksa Jen"
Perintah Paman pada Jenny, Alex melihat Jenny sedang memeriksa Arindra.
"Dia pingsan"
Ucapnya kemudian, Jack yang khawatir tak memedulikan luka di tangannya, setelah mendengar Arindra hanya pingsan ia dan lainnya bernafas lega. Alex ingat jika Jack terluka,
"Kak, ayo aku periksa lukamu"
"Kak Jack kenapa?"
Jenny menghampiri Jack dan melihat darah di tangannya.
"Kenapa kakak berdarah seperti ini?"
"Nanti saja diceritakan, cepat obati saja lukaku" Ucap Jack duduk di sofa.
"Paman turun ke bawah dulu, ke petugas keamanan"
"Aku ikut paman"
"Tunggulan di sini Lex, paman khawatir akan ada sosok yang lain datang kemari"
"Baiklah Paman"
"Ada apa sebenarnya kak, kenapa Paman mencari petugas keamanan?"
"Ada penyusup masuk dan hendak menyelakai Arindra, beruntung Kakak terbangun segera. Sehingga orang itu gagal, namun kakak terluka saat menangkis serangan orang itu"
"Bagaimana bisa, apartemen ini bukankah salah satu apartemen mewah. Bagaimana begitu mudah penyusup masuk ke dalam apartemen kita?"
"Sudahlah yang penting kita semua selamat, Arindra cepatlah suruh bangun, aku takut ia koma kembali"
Alex sudah selesai membebat luka di tangan Jack, namun Arindra tak jua siuman.
"Apakah kita harus membawa ke rumah sakit?, ini sudah lima belas menit berlalu"
Alex terlihat khawatir,
Jenny yang sibuk mengangkat kedua kaki Arindra tinggi-tinggi, juga terlihat khawatir.
"Coba kendurkan pakaian dalamnya Jen"
Saran Jack, Alex mengambil alih memegang kedua kaki Arindra.
"Jangan lihat"
Jenny segera mengambil selimut untuk menutupi tubuh atas Arindra, dan melonggarkan b**nya.
"Bagaimana Jen?"
Tanya Jack tak sabar, melihat Arindra belum jua ada respon. Jack mencari sesuatu, ia menemukan botol kayu putih di atas meja.
"Coba berikan ini Jen, Alex coba angkat lebih tinggi lagi kakinya"
Jenny mengambilnya dan mengusapkan pada hidung Arindra.
"Kak, Kak..."
Jenny menepuk-nepuk pipi Arindra berulang-ulang.
"Kak...bangun kak, bangun"
Lagi Jenny mencobanya kembali, tapi belum jua ada respon.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang"
Ucap Jack akhirnya, Alex segera mencari kunci mobil dan keluar duluan menyiapkan mobil. Jenny menyiapkan kebutuhan yang lain, Jack tak peduli dengan sakit di tangannya membopong Arindra. Mereka segera berlari keluar.
"Paman akan menyusul"
Ucap Paman saat Arindra dimasukkan ke mobil, Alex melajukan mobil dengan kencang.
"Alex tenanglah, jangan membuat kita semua celaka"
Alex pun mengurangi kecepatannya. Tak lama mereka sampai di rumah sakit, segera Jenny mendaftarkan pasien dan Jack menemani Arindra masuk ke dalam ruang UGD. Dokter jaga segera menangani Arindra. Tak lama kemudian, Arindra terbangun namun terlihat lemah.
Lirihnya,
"Kau sudah bangun, syukurlah, kami sangat mengkhawatirkanmu"
"Kakak terluka"
"Tak apa, ini hanya luka kecil dan sudah diobati. Kau tenanglah, kami sedang mengusahakan ruang perawatan untukmu. Sekarang tidurlah, kakak tau kau sangat terkejut"
Arindra kemudian tertidur. Alex dan Jenny masuk menemui Jack.
"Bagaimana kak?"
"Sudah sadar, sekarang tertidur"
Suster sedang menyiapkan perawatan untuk Arindra, tak lama kemudian Arindra di bawa ke ruang perawatan karena kondisi tubuhnya lemah.
Alex, Jack dan Jenny duduk di sofa ruangan Arindra.
"Menurutmu, siapa pelakunya?"
Tanya Jack pada Alex.
"Aku tak tau kak, mungkin Wijaya, tapi jika benar ia yang memerintahkannya. Begitu cepat padahal baru sehari Kak Arindra berada di sini"
"Apakah kak Arindra kemarin mengirimkan paket makanan pada dr. Dea, sehingga mereka segera mengetahuinya?"
Tanya Jenny
"Iya, kak Arindra melakukan itu, kita tunggu saja bagaimana informasi dari paman"
Mereka bertiga berdiskusi, membuat kemungkinan-kemungkinan tentang peristiwa yang baru saja dialami. Di tengah mereka asih berdiskusi, Arindra terbangun dengan memegang kepala yang terasa sakit.
"Auhhhh"
Mereka bertiga kompak menengok pada Arindra dan bangkit mendekatinya.
"Obatnya Jen, apakah kau bawa?"
"Bawa Kak"
Jenny segera mengambil obat di dalam tasnya, Alex menyiapkan minum. Segera Jack mengambil minum dan obat diberikannya pada Arindra.
"Minumlah, ini meredakan sakitmu"
Arindra meminum obat itu, dan melihat tatapan khawatir ke tiga orang yang ada didepannya itu.
"Aku baik-baik saja, tenanglah"
Ucapnya
"Kau yakin?"
Ucap Jack yang tak melepaskan pandangannya pada Arindra.
"Aku yakin, dimana paman?"
"Paman sedang melaporkan kejadian semalam pada pihak keamanan apartemen, sebentar lagi akan kemari"
Jawab Alex
"Terima kasih kalian selalu menolongku di saat yang tepat. Aku tak menyangka hal seperti ini akan terjadi padaku"
"Mulai saat ini, aku akan menjadi pengawalmu. Dan aku akan menambahkan personil untuk perjagaanmu. Keselamatanmu saat ini adalah yang utama"
"Terima kasih kak Jack"
"Aku sudah menempatkan orang-orangku untuk berjaga di sekitar apartemen. Aku tak ingin hal ini terjadi lagi pada kakak. Sungguh kami semua menyanyangimu kak"
"Aku percaya pada kalian semua, terima kasih atas ketulusan kalian"
Tak lama paman Alex datang dengan membawa makanan untuk sarapan.
"Wah pamanku sangat pengertian sekali"
Ucap Alex yang langsung menyerbu makanan yang dibawa oleh Paman diikuti oleh Jenny.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik Paman, maafkan Arindra Paman yang selalu merepotkanmu"
"Sudahlah, kau keponakanku tentu saja aku tak keberatan selalu kau repotkan. Semua senang saling membantu, tenang saja"
"Bagaimana kondisinya paman, apakah pelaku tertangkap?"
Jack bertanya saat paman sudah duduk di sofa.
"Pelaku bisa melarikan diri, anehnya semua cctv pada saat itu mati. Jadi pelaku tak terekam sama sekali. Pihak keamanan pun tak menemukan pelaku, padahal jarak lari pelaku dan proses pelaporan tak lama. Yang paman herankan, paman menemukan smart card jatuh di lantai. Padahal kartu itu hanya dimiliki oleh Paman selaku pemilik dan Arindra yang paman berikan padanya. Sepertinya ada yang menduplikasi lagi kartu itu, sehingga mudah pelaku bisa masuk apartemen"
"Apakah kemungkinan ada orang dalam paman?"
Tanya Alex,
"Kemungkinan besar iya, apalagi apartemen yang kita tinggali adalah bagian property dari Wijaya group"
###############
Alhamdulillah chapter 58 done..
huylah...
di like
komen
vote
poin
share
follow lesta lestari...