
Arindra berdiri di dekat jendela kamar, menikmati pemandangan hujan di luar sana.
Hans datang dan memeluk Arindra dari belakang.
"Jangan minta dilepaskan, kau tahu aku takkan melepaskannya" Ucap Hans, Arindrapun diam tak memberontak.
"Kau habis telpon siapa malam-malam begini?" Tanya Hans yang menempelkan dagunya di pundak Arindra.
"Kak Jack" Hans membalik tubuh Arindra hingga berhadapan.
"Kenapa dia?" Tanya Hans tanpa mepaskan tangannya di lengan Arindra.
"Aku khawatir padanya dan Jenny"
"Kau mengkhawatirkan laki-laki lain di depan suamimu, apa aku tidak salah dengar"
Arindra melepaskan tangan Hans, dan duduk di bangku.
"Hans..."
"Iya"
Hans mendekati Arindra dan menatap wajahnya.
"Aku lelah, aku sangat lelah" Ucap Arindra dengan tertunduk.
"Apa yang membuatmu lelah, katakan padaku. Aku janji akan selalu membuatmu bahagia"
"Aku lelah karenamu, keluargamu. Aku datang ke sini dengan niat baik. Ingin bertemu dengan dokter Dea untuk tau kebenarannya. Dan berharap setelah itu aku bisa menemuimu dan Syara dengan cara yang baik, meminta Fattah dari kalian, dan aku janji akan pergi jauh dan takkan menganggu keluarga kalian"
"Arindra..."
"Hans, sudah terlalu banyak hal dalam tiga bulan ini aku di sini yang aku alami. Kematian orang-orang yang tidak berdosa yang berusaha membantuku, itu jadi beban untukku. Belum lagi ancaman, teror pembunuhan yang terus menerus mengintaiku, dan kau harus berhadapan dengan ayahmu. Aku tidak ingin menjadi penyebab dari semua ini, aku akan pergi Hans. Tapi tolong berikan Fattah padaku, aku hanya ingin aman, hidup damai, sederhana seperti warga yang lainnya. Menikmati hidup bersama teman, keluarga, tanpa menghadapi situasi seperti ini. Tolong Hans, aku hanya ingin Fattah, bukan dirimu ataupun hartamu"
Arindra menangis, Hans memeluk tubuh itu.
"Kamu jahat Hans, kamu jahat. Kenapa kau buat hidupku seperti ini. Apa salahku padamu, terlebih keluargamu. Bukankah aku korban, dan aku tidak menuntut apa-apa darimu. Biarkan aku pergi bersama Fattah, biarkan hidup kami tenang. Kau juga bisa bahagia kembali bersama keluargamu, tidak bermusuhan dengan Ayahmu. Ku mohon Hans, ku mohon"
Arindra menumpahkan tangis di pundak Hans. Ia tak lagi bisa menahan perasaan yang ada di hatinya. Hujan menjadi saksi, betapa ia sedih dan lelah atas peristiwa yang di alami. Cukup lama, tangisan itu mulai reda. Hans menghapus air mata di kedua pipi Arindra, ia mencium keningnya.
"Aku tahu ini berat untukmu, tapi jangan pernah menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi. Kau jangan pernah juga berfikir untuk tinggal hanya dengan Fattah, karena kita akan hidup bersama. Aku takkan pernah melepaskanmu apapun keadaannya. Itu janjiku pada Ayahmu, saat di pernikahan kita"
"Kau hanya mempersulit dirimu sendiri Hans, kau juga akan menyakiti banyak orang. Kau fikir banyak wanita yang mau di madu, tidak Hans, tudak Syara, tidak juga aku. Kau mencintai Syara bukan, jika kau mencintainya maka cintai dia dengan benar. Jangan menyakitinya dengan menghadirkan aku di tengah-tengah kalian. Aku tidak mencintaimu, tidak juga mengharapkanmu hidup bersamaku. Aku hanya seorang Ibu, yang menginginkan hidup bersama putranya yang tak pernah dilihatnya. Sungguh, apa kau memahami posisiku. Jangan bersikap seolah-olah kau mencintaiku, mengerjarku dan melindungiku dari Ayahmu. Berhentilah, dan berikan Fattah padaku agar kita semua merasakan ketenangan"
"Arindra..."
"Hans, kau memperkosaku, menambrakku, aku koma lalu hamil. Aku melahirkan seorang anak, bahkan aku tak merasakan bagaimana hami dan melahirkan. Tapi mengapa aku yang menjadi tersangka. Mengapa Aku yang seolah-olah bersalah di sini, menjadi buronan dan tak bebas kemana-mana"
"Arindra maafkan aku, maafkan aku ku mohon. Aku memperbaiki semuanya, aku janji padamu"
"Hans, apakah kau mencintaiku?"
"Kau mencintaimu keluargamu juga bukan, termasuk Ayahmu?"
Hans kembali mengangguk "Aku mencintai dan menyayangi kalian semua"
"Jika kau benar mencintaiku, aku minta baik-baik padamu. Serahkan Fattah padaku, dan hidup bahagia bersama keluargamu. Kau tidak bisa serakah dengan menginginkan semuanya. Hadirku hanya akan menyakiti dan menghancurkan keluargamu, hadirku hanya aib di mata kalian. Jadi ku mohon dengan sangat jika-jika benar Kau mencintaiku, ijinkan aku bahagia dan hidup bersama Fattah. Aku takkan pernah melarangmu untuk bertemu Fattah, begitu dengan Syara. Aku janji jika kau penuhi permintaanku"
Hans tertunduk, ia tak mampu membantah ucapan Arindra karena ia tahu ucapan itu benar adanya. Tapi di sisi lain ia tak ingin berpisah dari Arindra dan Fattah.
"Tidak bisakah sekali ini aku egois, aku ingin memilikimu dan Fattah, hidup bersama sampai menua, bisakah?"
Arindra menatap Hans, ia meletakkan telapak tangan di dada Hans.
"Tanyakan di sini, jika keputusanmu banyak mengorbankan orang lain dan bahkan menghilangkan nyawa. Akankah kau masih tetap akan egois?. Tak semua yang kita inginkan bisa kita miliki, tak semua yang kita cintai bisa juga balik mencintai. Semua ada kadarnya, semua ada porsinya. Kau dan Syara saling mencintai, ku yakin Syara wanita baik-baik. Meski aku tak mengenalnya, belum pernah bertemu dengannya. Aku yakin dia wanita yang sangat pantas untukmu. Tetapkanlah hatimu padanya, dan ceraikan aku"
Arindra menarik tangannya dari genggaman Hans, ia berdiri sebelum melangkah pergi hendak meninggalkan Hans.
"Fikirkanlah, dan kabulkanlah permintaan sederhana dari wanita yang sudah kau jadikan seorang ibu ini"
Arindra melangkah ke arah pintu, tapi pintunya terkunci.
"Kuncinya ada padaku, jika kau ingin keluar ambilah di kantong celanaku"
Ucap Hans tersenyum, membuat wajah Arindra kesal. Arindra menghampiri kembali Hans yang berjalan ke arah kasur.
"Berikan dan jangan kekanak-kanakan. Aku ingin tidur bersama Shania, tolonglah"
"Aku tidak kekanak-kanakan, tidur bersama istri sendiri apakah salah"
"Hans..."
"Tidurlah, ini sudah sangat larut. Dan jangan harap aku sukarela menyerahkan kunci kamar padamu, tidurlah aku takkan mengganggumu"
Hans menepuk-nepuk kasur di sampingnya, Arindra mengambil handphonenya membuat Hans bangkit dan mengambil handphone itu.
"Berikan Hans..." Ucap Arindra yang berusaha mengambil handphonenya dari Hans.
"Tidak akan kuberikan, kau akan menelpon siapa larut malam begini. Tidak sopan tau, membangunkan orang yang sedang menikmati waktu tidurnya"
"Hans, berikan jangan membuatku semakin membencimu Hans"
Deg...Hans terdiam, Arindra langsung mengambil handphonenya dan menghubungi Shania berharap ada kunci cadangan untuk membuka pintu. Namun berkali-kali ia menelpon, Shania tak juga menjawab.
"Sudah kubilang yang kau hubungi pasti sudah tertidur. Tidurlah, aku janji kita hanya tidur, aku tak ingin membuatmu makin membenciku, maka jangan khwatir aku takkan melakukan itu dan takkan lagi memaksamu seperti dulu. Kau harus istirahat setelah melewati peritiwa berat hari ini"
Arindra menyerah, akhirnya ia membaringkan tubuhnya di samping Hans dengan guling sebagai pembatas antara mereka.
##########
Alhamdulillah chapter 89 done