
Hana melihat Hans, terduduk di samping ranjang Mbak Arindra, memegang erat tangannya dan mengusap-usap perutnya, bercerita tentang perkembangan janin di perut istrinya yang koma, tentang pernikahannya dengan Syara yang telah sudah terlewati sepekan yang lalu.
Aktifitas itu Hans lakukan setiap malam setelah pulang kerja, tidur di kamar yang sama di ranjang berbeda, Arindra sudah tidak lagi di rawat di rumah sakit setelah satu hari pernikahan Hans dan Syara dilangsungkan. Tinggal terpisah dengan ke dua orang tua mereka, membuat Hana lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Hans kakaknya.
"Kak"
Hana memegang pundak kakaknya itu, dan duduk di sampingnya.
"Kak"
Lagi-lagi Hana memanggil Hans, namun tetap diam.
"Kak, mau sampai kapan seperti ini, kakak tidak hanya punya Mbak Arindra tapi kakak juga punya Syara"
"Jangan bahas lagi Hana, kakak tidak ingin mendengarnya"
"Kak, bagaimanapun Syara sekarang istri kakak, sudah seminggu kak dia di sana. Ayok kita jemput kak"
"Han, dia masih butuh waktu biarkan saja. Kakak tidak masalah jika dia tak kembali"
"Astaqfirullahaladzhim kak, kenapa kakak begini. Meskipun di hati kakak dan Syara tak ada saling cinta, bahkan pernikahan ini terpaksa tetap saja kak, kalian ini suami istri cobalah saling membuka hati. Pernikahan bukan permainan kak"
"Jika pernikahan bukan permainan tapi mengapa Syara pergi, padahal ia paham bahwa dia berstatus istri"
"Kak, Syara butuh waktu tapi bukan berarti kakak membiarkan keadaan terus begini, kalian butuh tinggal bersama untuk saling mengenal, ingat kak kehamilan Mbak Arindra memasuki usia 1 bulan. Jika Kakak tidak cepat membawa Kak Syara kemari, rencana Daddy tidak akan berjalan"
"Maksudmu apa Hana?"
"Apakah kakak tidak mengerti, bukankah Daddy meminta kakak menikahi Syara untuk menutup aib anak yang dikandung Mbak Arindra, sehingga tetap bisa diakui sebagai bagian keluarga Wijaya. Kalau kakak membiarkan Syara tidak tinggal bersama kakak, lalu bagaimana nasib anak ini setelah dilahirkan?"
"Dia tetap anakku Han, meski Daddy tak mengakuinya"
"Dia juga tetap keponakanku kak dan aku mau mengurusnya, tapi dia butuh orang tua yang lengkap kak, butuh Syara. Mbak Arindra kakak tau sendiri keadaannya, kita tidak tau sampai kapan Mbak Arindra seperti ini"
"Mengapa tidak kau saja yang menjemputnya?"
"Aku ingin melakukannya kak, tapi panggilanku tak dijawab, chat juga tak dibalas dia masih kecewa padaku, dan aku saat ini tak bisa memaksanya"
"Lalu apa maumu"
"Ayo kita ke rumahnya Kak, kita bicara di sana. Bagaimanapun Syara pasti akan mau dia paham hukum wanita yang sudah bersuami..."
"Jika dia paham tak semestinya bertindak seperti ini"
"Dia butuh waktu kak, sama seperti kakak"
"Sudahlah Han, ini sudah malam. Kakak lelah ingin istirahat"
"Pokoknya Hana tak mau tau, besok kakak ikut Hana ke rumah Abi kita jemput Kak Syara, dr Dea sudah Hana hubungi buat menjaga Mbak Arindra"
"Jangan memaksaku Han, kau tau aku tak mau"
"Jangan keras kepala kak, nanti kakak menyesal"
"Terserah, keluar"
"Iya-iya tapi jangan dorong-dorong gini dong, Hana bisa keluar sendiri"
"Kamu berisik, cepat keluar"
"Kakak..."
Hana kesal, melihat kakaknya yang mengusirnya dari kamar perawatan Mbak Arindra. Dan langsung menutup dan mengunci pintu saat Hana sudah di luar.
####
Keesokan paginya Hana sudah bersiap menunggu Hans di meja makan, bagaimanapun ia bertekad menyatukan Hans dan Syara sebagai suami istri yang utuh seperti impiannya. Ia ingin lewat Syara kakaknya berubah, menjadi laki-laki sholeh serta bisa membawa perubahan di keluarganya.
Hana sudah memulai sarapannya saat melihat Hans turun dengan stelan pakaian kerjanya.
"Kak, kenapa menggunakan pakain kerja sih. Hari ini kita ke rumah Syara kak"
"Kau saja yang kesana"
Ucap Hans cuek dan memakan sarapannya.
"Kak, harus berapa kali Hana bilang, Kakak itu butuh Syara, anak yang dikandungan Mbak Arindra butuh Syara. Bukankah kakak selalu berjanji akan melakukan yang terbaik buat Mbak Arindra dan anak kalian. Kenapa kakak jadi egois begini"
"Anakku tak butuh Syara, aku bisa membesarkannya sendiri"
"Kak, anak itu butuh status..."
"Kau harus peduli Hans, karena ini menyangkut cucuku"
Mommy yang tiba-tiba datang, lalu duduk di meja makan menghadap Hans.
"Dengar Hans, cucuku harus lahir lengkap dengan adanya ke dua orang tua di sampingnya. Mommy tidak ingin cucu Mommy menjadi anak yatim. Paham Hans"
"Tapi Mommy, Hans tidak bisa. Banyak pekerjaan yang harus Hans lakukan"
"Tidak ada tapi-tapi bawa pulang Syara hari ini juga, jika tidak mau paksa dia..."
"Mom, Syara pasti mau Mom tanpa perlu dipaksa"
Ucap Hana kesal mendengar ucapan Mommynya yang meminta Hans memaksa Syara.
"Bagus kalo dia tak perlu dipaksa, tapi yang jelas hari ini Mom ingin Syara ada di rumah ini, jika tidak Mom dan Daddy yang akan bertindak"
"Tidak perlu Mom, Hans dan Hana akan ke sana"
Hans tau bagaimana sifat ke dua orangtuanya ini, selalu memaksa dan tak bisa dibantah. Apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan keinginan, Hans tidak ingin masalah jadi bertambah rumit.
"Bagus, kalo begitu berangkatlah hari ini"
"Hans ke kantor dulu, ada beberapa hal yang harus Hans selesaikan, baru setelah itu Hans menjemput Syara"
"Berangkat sekarang, atau Mommy yang akan berangkat saat ini juga"
"Sudahlah kak, masalah kerjaan biarkan Kak Aldo yang menghandlenya. Ayok berangkat"
Ucap Hana sambil menarik lengan kakaknya, Hans tak bisa lagi menghindar. Ia pun melangkah mengikuti adiknya itu.
"Kami berangkat dulu Mom"
Hana mencium punggung tangam mommy dan mencium ke dua pipinya di depan pintu rumah. Sedangkan Hans tak peduli, ia melangkahkan kaki menuju mobil.
"Hati-hati di jalan sayang"
Ucap Mommy dan melambaikan tangan saat kendaraan sudah mulai melaju meninggalkan area rumah megah Hans.
"Kak, ingat ya jangan terbawa emosi, sebisa mungkin bujuk Syara dengan cara yang lembut, enggak boleh kasar. Syara begitu anti pada pria kasar"
Hana berusaha memberi nasehat pada Hans, meski Hans seolah tak mendengarkan dan fokus pada kemudinya.
"Kak, kita nanti berhenti mencari makanan kesukaan Syara ya, sekalian beli bunga buat Syara"
Hans masih diam, ia masih berkutat dengan fikirannya sendiri. Beberapa hari ini Karina datang ke kantornya, memintanya kembali. Bagaimanapun di hati Hans masih tersimpan nama Karina, terlepas dari pengkhiatanan yang sudah dia lakukan.
"Auuuu, kenapa kamu cubit kakak Hana"
"Abisnya kakak di ajak ngomong diam aja, Hana kesel"
"Kamu ngomong apa memangnya"
"Tuh kan enggak dengerin"
"Ya udah jangan juga dimajuin itu bibir, tinggal ngomong lagi aja apa susahnya sih"
"Kenapa kakak yang jadi kesel, harusnya Hana yang kesel, aneh"
"Kamu maunya apa?"
"Beli makanan kesukaan Syara dan bunga buat Syara"
"Terserah, kamu yang beli sendiri"
"Oke enggak masalah tapi duitnya dari kakak ya..heheee"
"Dasar adik matre"
"Idih apa salahnya matre ma kakak sendiri, situ aja yang enggak peka"
"Bawel amat ini mulut, sudah beli di mana"
"Oh itu kak, di perempatan jalan itu ada toko-toko oleh-oleh dan bunga"
Hans melihat tempat yang ditunjuk Hana, tak lama kemudian ia menghentikan mobilnya. Tiga puluh menit Hana selesai berbelanja, sedang Hans berada di mobil tak mau keluar.
Setelah itu mereka pun melajukan kembali mobil menuju rumah Syara.