
Dua pekan kemudian tepat di hari jum'at, sesuai permintaan Arindra, Hans kini telah bersiap-siap melakukan resepsi sekaligus pernikahan resmi dengan Arindra.
Arindra yang ditemani oleh Shania, Hana dan Syara, Umi Hasan, Umi Ami dan Jenny. Sedangkan para lelaki berada di depan, Aldo, Jack, Dio, Paman James, dan tak ketinggalan seorang Jack. Meski ada pancaran kesedihan di wajahnya, tapi ia ingin melihat wanita yang dicintainya itu bahagia.
Sebelum mengucap ulang akad Hans mengucap ulang akad di depan Penghulu, dan menjadi wali hakimnya adalah Abi Hasan.
Hans bersiap dengan bacaan surat Arrahman sebagai syarat mahar dari pernikahannya.
Hans berdebar-debar ia mengambil al qur'an dan membaca surat itu dimulai dengan taawudz.
(Anggap aja sampe ayat 78 ya guys, soalnya mau di upload lengkap g bisa-bisa di aplikasinya 🙏🙏".
Shadaqallahul ‘adziim".
Ucap Hans mengakhiri bacaan surat Ar-rahman. Air matanya tak bisa dibendung, lalu Abi Hasan mendekatinya, memegang pundaknya.
"Masya Allah, sungguh indah suaramu nak dalam melantunkan ayat suci Al-qur'an. Bergetar hati rasanya mengingat ayat demi ayat yang kau baca. Sekarang bersiaplah mengucapkan akadmu ya".
Hans mengangguk dan menghapus air matanya, semua yang menatapnya begitu haru. Lalu kemudian penghulu mengambil alih sebelum Abi Hasan. Tak lama setelah penghulu selesai Abi Hasan melihat Hans.
"Sudah siap Nak Hans".
"Insyaa Allah sudah siap Abi".
"Baiklah, jawab dengan tegas dan jelas dalam satu tarikan nafas.
Saudara Atau Ananda Hadinata Hansel Wijaya Bin Wijaya Putra Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Mutiara Arisha Binti Muhammad Rahma dengan maskawinnya berupa bacaan surat ar-rahman dan seperangkat perhiasan emas bernilai 50 gram, tunai.”
"Saya terima nikah dan kawinnya Mutiara Arisha Binti Muhammad Rahman dengan maskawinnya yang tersebut diatas tunai.”
"Bagaimana saksi, sah" Tanya penghulu pada para saksi di mana Dio dan Aldo yang menjadi saksi mereka.
"Sah"
"Sah"
"Alhamdulillahhirrobbil alamin". Lalu Penghulu membacakan doa-doa pernikahan.
Di tempat lain, Arindra menanggkupkan mengucap alhamdulillah saat kata sah diucapkan para saksi, lalu mengaminkan doa-doa yang diucapkan oleh Penghulu.
"Barokallah kak". Shania memeluk kakaknya itu dengan tangisan. "Shania tidak menyangka akhirnya datang hari ini juga pada Kakak. Shania berdoa semoga kakak selalu diliputi dengan kebahagian dan doa-doa terbaik Insyaa Allah Shania lantunkan untuk kakakku tersayang".
"Makasih adikku tersayang, terima kasih sudah menjadi adik yang baik. Kakak juga selalu mendoakan yang terbaik untukmu, dan segera diberi momongan. Titip Fattah selama Kakak pergi ya, maafkan atas segala kesalahan Kakak ya"
"Aamiin, siap Insyaa Allah kak, berikan adik yang banyak untuk Fattah". Shania tersenyum.
Arindra tersenyum, Syara mendekati Arindra.
"Barokallah ya Mbak, semoga pernikahan ini membawa keberkahan dan mengganjar kita dengan jannahnya".
"Aamiin ya robbal alamin, terima kasih Ra, sungguh Mbak bahagia mengenal sosok dirimu. Semoga lahirannya lancar, mohon maafkan Mbak ya dan tolong jaga dan didik Fattah ya selama Mbak pergi".
"Iya Mbak, Insyaa Allah. Aku adalah bundanya Fattah selamanya, meski nanti ada anak yang terlahir dari rahimku. Kasih sayangku pada Fattah, takkan berkurang Insyaa Allah".
"Alhamdulillah, terima kasih".
Arindra dan Hana saling menghampiri namun Shania meminta Kakaknya ke depan menemui Hans.
Hans tersenyum bahagia, melihat wajah cantik dan bersinarnya Arindra.
"Berikan maharnya Nak Hans". Ucap Abi yang menyadarkan Hans dari pesona Arindra. Arindra hanya tertunduk malu.
Hans menyerahkan mahar, dan berfoto, buku nikah sudah mereka dapatkan. Lalu Hans meletakkan semuanya di meja tempat akad tadi.
Hans memegang ubun-ubun istrinya itu, lalu membacakan doa.
اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِك مِنْ" شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتهَا عَلَيْهِ
Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan istriku dan kebaikan apa yang ia munculkan pada pernikahan. Dan aku berlindung padamu dari keburukan istriku dan keburukan apa yang ia munculkan pada perrnikahan.”
"Alhamdulillah kalian sudah sah sebagai saumi istri di mata negara hehe". Ucap Pak Penghulu. Lalu Hans menyalami tamunya yang mengucapkan selamat atas pernikahannya.
Sedangkan Arindra mendapat selamat dari Hana, Umi Hasan, dan Umi Ami serta Jenny dan tamu undangan yang lainnya. Semua tersenyum bahagia.
Usai itu, Hans mengajak Arindra melakukan sholat sunnah pengantin. Baru kemudian ke luar untuk mendengarkan nasehat pernikahan dari Abi Hasan. Tak ada musik yang mengiringi pernikahan mereka. Sejak awal hanya lantunan ayat-ayat suci yang dibunyikan sebelum akad dilakukan.
Pernikahanpun dilakukan di rumah yang Arindra tempati. Tamu undangan yang hadir hanya tamu undangan terdekat dan tidak mengundang banyak orang. Arindra dan Hans pun duduk terpisah, sehingga tamu laki-laki dan perempuan juga terpisah.
Arindra di apit oleh Shania dan Syara menemaninya duduk di pelaminan. Sedangkan Hans di apit Abi Hasan dan Aldo. Satu persatu tamu undangan menyalami pengantin. Dan kemudian segala aktifitas dihentikan saat mendekati waktu dzuhur.
Para kaum adam bersiap untuk menunaikan sholat jum'at di masjid terdekat. Sedangkan para wanita bersiap sholat di rumah.
Arindra mulai melepaskan gaun pengantin dan segala aksesorisnya bersiap untuk berwudhu. Jenny yang melihat itu mendatanginya.
"Kenapa kakak lepaskan, nanti dipakai dan di make up lagi lho, kan sayang Kak".
"Tak apa Jen, Kakak menunaikan hak Allah dulu. Masalah gaun dan make up masih bisa dipakai dan dipoles lagi. Tapi Hak Allah tak boleh dilalaikan, di mana Fattah".
"Ada di gendong Shania".
"Bisakah aku melihatnya, sebelum aku menunaikan sholat dzuhur".
"Bisa Kak bentar aku panggil Shanianya dulu".
Arindra mengangguk, selagi menunggu Fattah datang ia melanjutkan aktifitasnya, ia sudah selesai dan memakai mukena. Dia lihat Fattah yang tersenyum padanya.
"Bismillah anak ibu muachhh"
Arindra menciumi wajah anaknya dengan tangis di matanya, ia memeluk erat wajah tampan putranya itu.
"Sekarang kau senang sayang, Ayah dan Ibu bersatu. Jadilah anak sholeh Ayah, Ibu dan Bunda ya sayang, mau temani Ibu sholat hemm, ayo kita sholat bersama sayang".
Fattah tersenyum pada ibunya itu, lalu Arindra meletakkan Fattah pada kereta bayinya. Di dekatkan anaknya itu di sampingnya dan ia memulai sholatnya. Shania dan Jenny haru melihat Ibu dan anak itu.
Shania dan Jenny ke luar kamar, Shania bersiap untuk sholat sedangkan Jenny berkumpul bersama Paman James dan Alex, ya tinggal dua laki-laki itu yang ada di rumah ini karena mereka berbeda.
"Eeakk eakkkk".
Suara Fattah menangis dari kamar, semakin keras. Syara dan Hana masuk, mereka melihat Mbak Arindra masih dalam sujud di sholatnya. Hana menggendong Fattah untuk mendiamkannya dan membawanya keluar.
Tapi Syara masih menunggu Arindra, lama menunggu Syara menatap tubuh yang masih bersujud itu, lalu ia mendekatinya.
"Mbak...Mbak"
Penggilnya, tapi tak ada sahutan. Syara pun menggerakkan pelan tubuh Arindra, dan seketika tubuh Arindra terjatuh dari sujudnya. Syara terkejut dan memegang lengan memeriksa nadi, lalu ia memegang hidung Arindra memeriksa adakah tarikan nafas di sana.
Seketika tubuhnya ambruk dan ia menangis,
"Innalillahiwainnailahi rojiun". Di sela isak tangisnya.
##############
Alhamdulillah Chapter 122 done
Sesuai rencana awal author guys, maaf jika tidak berkenan di hati pembaca. Tokoh utamanya Arindra meninggal dunia 🙏🙏🙏🙏😭😭😭😭😭
Author sampai bergetar nulis chapter ini, nangis juga 😭😭
***Like vote komen poin
Share and Follow Lesta Lestari....
Mampir juga di karyaku ke dua..Cinta Dalam Gelap...
Eps. Arindra akan tutup tinggal 1 atau 2 chapter lagi untuk benar-benar end.
Author akan buat q n a buat kalian, akan author tulis di chapter akhir. jadi kalo ada pertanyaan2 silahkan ditanyakan via komen
ya dang lupa***...
web.Islam.com