
"Mbak, sampai saat ini Kak Hans masih sangat mencintaimu. Terimalah dia sebagai suamimu yang utuh, aku akan mengalah, demi Fattah mendapat keluarga yang lengkap".
Arindra tersenyum pada Syara, ia melihat Fattah yang sudah kenyang dan tertidur. Arindra melepaskan mulut kecil Fattah dan mencium keningnya, kemudian menidurkannya di kasur sebelum ia merapikan gamisnya.
Kemudian mengajak Syara dan duduk di sofa dekat jendela, memandang taman kecil di dekat jendela itu.
"Allahu Akbar, Kau memiliki jiwa yang begitu besar. Fattah sejak lahir, memiliki keluarga yang lengkap. Ada seorang Ayah yang hebat, dan ada seorang Bunda yang berhati mulia. Sejak lahir dia tidak kekurangan apapun Insyaa Allah".
"Tapi bagaimanapun, Kak Hans sangat mengharalkanmu kembali padanya"
"Maaf Ra, asal kau tau, aku datang bukan untuk mendengar kau mengalah untukku atau mengambil Hans dan Fattah darimu. Terlalu dini jika aku memutuskan untuk itu, aku butuh waktu untuk menerima Hans sebagai suamiku seutuhnya.
Saat ini fokusku hanya Fattah, aku ingin menebus waktu dengan bersamanya dan menemaninya tumbuh menjadi sosok pemuda yang taat dan tangguh bersamamu karena kau juga Bundanya.
Aku ingin memberikan keputusan yang terbaik agar tak menyakiti yang lainnya terutama dirimu. Keputusan yang kau ambil untuk mengalah, karena rasa bersalah bukan?. Jika benar, maka aku pun tidak menerima Hans dengan alasan yang sama".
"Aku rasa Mbak lebih berhak bersama Hans dan Fattah ketimbang diriku. Bersamaku pun Kak Hans lebih banyak memikirkanmu"
"Jika dia melakukan banyak hal untuk membuatmu jatuh cinta, maka takkan pernah mudah dia melepasmu dan aku tau saat ini kau berada di titik pasrah, dan sedang cemburu, aku sangat memakluminya"
Syara menatap Arindra seolah membenarkan apa yang barusan dikatakannya. Ia menghela nafas panjang dan berat.
"Santai saja, kita nikmati waktu kebersamaan kita saat ini. Aku sangat bersyukur waktu ini akhirnya tiba, merasakan indahnya duduk bersamamu, dan menunggui Fattah seperti ini. Mimpi yang pernah membuatku putus asa namun Allah kemudian mengabulkannya setelah perjalanan yang berliku"
"Lalu apa rencana Mbak ke depan?"
"Kau seorang dokter bukan?"
Syara menatap Arindra bingung, pertanyaannya dibalas pertanyaan lagi, lalu ia mengangguk.
"Apakah selama ini kau meninggalkan tugas mulia itu demi Fattah?"
"Aku tidak menyesal Mbak, aku bahagia akan kehadiran Fattah".
"Aku sangat terharu mendengarnya". Sesaat keheningan menyapa mereka.
"Maaf jika usulku menyinggungmu, tapi tak ada maksud sama sekali untuk membuatmu jauh dari Fattah". Ucap Arindra sangat berhati-hati.
"Maksud Mbak?", Syara mencoba menerka-nerka arah pembicaraan Arindra.
"Kembalilah ke profesimu, berusahalah memahami maksudku Ra. Sekali lagi selamanya kau tetap akan menjadi bundanya Fattah. Kita bersama-sama Insyaa Allah membesarkannya dengan kasih sayang, cinta dan perhatian yang besar.
Dokter adalah profesi yang sangat mulia, bahkan kau bertemu denganku pun karena profesimu bukan?. Jadi maksud Mbak, kembalilah menjadi seorang dokter yang banyak membantu orang lain.
Lewat tanganmu dan atas seijin Allah kau tolonglah orang-orang, selama kau berada pada jam kerja ijinkan Fattah bersamaku, jika kau sudah kembali maka Fattah bisa bersamamu.
Hans juga butuh dukunganmu saat ini. Untuk kembali mendirikan perusahaan, dan mengembalikan kejayaan Wijaya group.
Kalian juga butuh waktu berdua untuk bisa saling menguatkan cinga kalian. Mungkin mengambil waktu bulan madu saat ini, adalah waktu yang tepat, anggap saja ini adalah kesempatan kalian untuk berusaha memberikan adik untuk Fattah".
Ucap Arindra dan memandang wajah Syara yang tersenyum lebar.
"Saran Mbak cukup baik, tapi kurasa ini bukan waktu yang tepat untukku. Tapi yang tepat untuk Hans membuktikan cintanya padamu Mbak. Justru kalian yang butuh waktu bersama ketimbang diriku".
"Masya Allah, ternyata dibalik sikap kejam Tuan Wijaya, ia bisa memilih menantu terbaik untuk putranya. Dan ia tak salah memilih, andai ada sosok seperti dirimu kelak, maka aku takkan ragu menyandingkan Fattah dengannya".
Mereka tersenyum terkekeh bersama.
"Bulan madulah, nikmati waktu berdua dengan Hans. Aku berdoa setelah itu, kau membawa kabar baik untuk kami. Aku akan membicarakannya dengan Hans, dan aku yakin dia akan mengerti.
Fattah ijinkan dia bersamaku, tanpa perlu kalian khawatirkan. Kalian sudah memberikanku kebahagiaan dengan kesediaan kalian mempertemukanku dengan Fattah, sekarang saatnya kalian membahagiakan diri kalian berdua dengan berusaha memberikan Fattah adik"
Syara tersenyum dan memeluk Arindra, "terima kasih Mbak, terima kasih". Lirih Syara di sela pelukannya.
"Kalian berhak untuk itu, sekarang sudah siang aku lapar. Kita makan bersama ya, kemarin kau tak sempat makan. Sekarang kau harus makan denganku".
Syara melepas pelukannya dan melihat jam di tangannya.
"Apa sebaiknya kita menunggu waktu dzuhur dulu, hanya setengah jam lagi waktunya tiba".
"Baiklah, aku menyiapkan makanan dulu. Tunggulan di sini, jagaian Fattah. Anggaplah rumah sendiri atau jika kau ingin berbaring maka berbaringlah, mulai saat ini kau adalah adikku dan saudariku. Jadi pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu Insyaa Allah".
"Makasih Mbak".
"Aku keluar dulu ya".
Syara mengangguk dan mengantar Arindra melewati pintu kamarnya.
"Ya Allah sungguh aku merasa sangat bersalah, jika terus menyakiti hati wanita sebaik Mbak Arindra. Ya allah berilah petunjukmu, agar hatiku ikhlas menerima semua keputusan yang terbaik menurutMu".
Syara menghampiri Fattah yang masih tidur nyenyak di kasur, ia belai pipinya.
"Sungguh kau beruntung nak, lahir dari wanita yang begitu baik".
Syara mencium Fattah dan membaringkan tubuhnya di samping anaknya itu. Ia mengelus perutnya, berharap ada sosok yang hadir di sana. Lalu ia tersenyum saat ingat rencana Mbak Arindra yang memintanya bulan madu.
"Ahh rasanya selega ini ternyata setelah sekian lama berkutat pada keegoisan diri. Mengapa baru sekarang aku menyadarinya, Ya Allah betapa egoisnya aku dulu, sungguh tak sebanding dengan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini. Aku sungguh sangat menyesalinya ya Robbi".
Sedangkan di meja makan, Shania, Arindra dan Hana menyiapkan makan siang. Meletakkan semua makanan di teras belakang, mereka makan lesehan.
Aldo melihat Hans yang duduk sendirian termenung, lalu dia menghampiri sahabat sekaligus bossnya itu.
"G usah dilamunin bro, mereka g bakal berantem Insyaa Allah. G lihat dari tadi mereka adem ayem aja, bahkan Mbak Arindra tersenyum saat keluar kamar".
Hans melirik Aldo, dan menatap lurus ke depan. Hatinya gundah, ia takut kehilangan, kehilangan Arindra dan Syara secara bersamaan. Ia merasa takkan sanggup jika menghadapi fakta itu dalam waktu dekat.
Aldo menepuk pundak laki-laki di sebelahnya itu. "Saat ini yang harus loe lakuin adalah, menjadi suami yang adil dan belajar ilmu tentang poligami. Loe pelaku poligami, dan istri-istri loe sedikit banyak paham agama. Jadi loe sebagai laki berusaha gimana biar kata adil itu bisa dilakukan buat keduanya.
Dan loe harus belajar ikhlas, jika salah satu atau keduanya minta lepas dari loe. Tapi kalo gue yakin sih, Syara g akan minta loe pisah sama dia. Kalo Mbak Arindra loe harus berjuang dulu ngedapetin hatinya. Apalagi yang gue tau dari Shania, Kakaknya itu cinta sama Jack".
"Maksud loe, Arindra jatuh cinta sama Jack gitu?" Hans terkejut mendengar itu. Yang ia tahu, Jacklah yang jatuh cinta pada Arindra.
"Yang gue denger sih gitu, tapi nolak karena beda agama. Kalo g beda agama mungkin dia mudah tinggalin loe dan nikah sama Jack".
Hans mengusap wajahnya kasar, bayangan tak bersama dengan Arindra untuk ke dua kalinya membuat hatinya semakin gundah.
###############
Alhamdulillah Chapter 103 done
Like, vote, poin, komen, share and Follow Lesta Lestari selalu kunanti❤❤❤😍❤❤❤🤲🤲🤲
Seng wuakeh yoo 😁🤭🤭