
Setelah kepergian Hans, Aldo dan Paman James ke tempat kerjanya, Jenny menepuk pundak Arindra.
"Keren kak, tak kusangka kau begitu elegan membalas kata seorang Hans. Aku kaget saat melihatmu membuang cincin itu. Waahh keren sakali"
Ucap Jenny dengan tawa bahagianya dan merangkul Arindra.
"Apakah kau akan luluh pada Hans?"
Tanya Jack yang masih menyiratkan wajah cemburu. Alex, Dio saling lirik, Jenny secara perlahan mengendurkan rangkulannya. Menarik dua pria lainnya, untuk pergi menjauh. Arindra menarik nafas dalam, melihat Jack yang begitu kentara menunjukkan rasa ketidaksukaannya.
"Kita bereskan barang-barang kita dulu Kak, dan bersiap untuk sarapan, Aku sangat lapar Kak hehee"
Arindra menarik barang-barang miliknya, tapi ditahan oleh Jack.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku butuh jawabanmu sekarang"
Lagi Arindra menghela nafas, lalu ia tampilkan senyuman di bibirnya.
"Mari duduk di sofa, aku akan jawab apa yang ingin kau tanyakan"
Arindra duduk di sofa diikuti Jack, kini keduanya saling berhadapan.
"Apa yang sekarang yang kakak inginkan dariku?" Tanya Arindra
"Dirimu"
Arindra tau jika Hans menaruh perhatian lebih padanya, sorot mata, tingkah, gestur tubuh, sikap telah menunjukkan semuanya. Cepat atau lambat kata cinta akan terucap oleh Jack padanya.
"Huhhh"
Arindra membuang nafas, sebelum berbicara dengan Jack.
"Kakak tau tujuanku mengapa aku datang kemari?"
"Mencari identitasmu"
"Ini bukan cuma sekedar pencarian identitas kak, aku seorang ibu yang ingin tinggal bersama anak yang dilahirkannya. Jika aku tak memiliki seorang anak, aku bisa putuskan dengan cepat untuk tinggal di negaramu dan tetap menjadi Arindra Adam Smith jelas itu lebih menguntungkanku.
Jelas itu akan membahagiakanku, daripada kembali menanggung resiko besar, dengan menantang kematian. Kakak tahu bukan, betapa aku berusaha keras untuk sembuh dari trauma, dan motivasi terbesar itu adalah untuk melihat putraku tumbuh bersamaku.
Aku menyukai kakak, sama seperti Jenny dan Alex ataupun Dio. Kau kakakku, tetap selamanya menjadi kakakku. Tolong, simpan cintamu untuk wanitamu kelak. Hatiku saat ini sedang tidak tertuju pada laki-laki manapun kecuali putraku sendiri"
"Ijinkan aku mencobanya, ijinkan aku buktikan jika aku serius padamu"
"Kak, ijinkan aku juga, untuk tetap dijalurku. Dan tolong, jangan membebaniku dengan perhatian dan kasih sayang yang kakak berikan, dengan harapan aku bisa menjadi kekasih ataupun istrimu kelak. Tetaplah fokus pada tujuan kakak mencariku, kehancuran Wijaya, jangan jadi lemah hanya karena aku"
"Arindra..."
"Keputusanku tidak berubah kak, meski kakak memaksa sekalipun kehendak kakak"
"Apa kau melakukan ini, karena Hans mengatakan kau istrinya?"
Arindra melirik Jack, bingung bagaimana cara meyakinkan laki-laki di hadapannya ini jika ia sedang tidak ingin dengan siapapun saat ini.
Ahh cemburu menguras hati kata Vidi Aldiano mah 😁.
"Aku memang terkejut, mendengar ucapan Hans. Tapi kau fikir aku akan mudah percaya? , apa kakak akan mempercayai ucapan seseorang yang sudah merusak diri kakak sendiri, dan di saat yang sama kakak tak ingat apapun tentang diri kakak, bahkan hanya sebuah nama sekalipun"
"Aku cemburu Arindra, sangat cemburu melihatmu bersitatap dengannya"
"Jangan buat kecemburuan menutupi hati dan akal sehat. Kita takkan mati hanya karena rasa cemburu jika kita pandai mengendalikannya"
"Beri aku kesempatan untuk membuktikan jika cintaku besar untukmu Arindra"
"Beri aku juga kesempatakan kak, untuk diriku dan dirimu fokus pada tujuan awal kita dengan tidak ternodai oleh tujuan-tujuan yang muncul di tengah perjalanan"
"Beri aku setetes air di tengah dahaga cintaku Arindra"
"Beri aku kesejukan, bukan kegersangan yang membuatku hilang harapan. Aku tau kakak pasti paham maksudku. Aku bereskan barangku dulu ke kamar. Aku tak ingin mendengar lagi, drama seperti Kak, maaf"
Arindra meninggalkan Jack yang berdiri mematung, menatap sosok Arindra yang kian menjauh.
#############
Di lain tempat, Tuan Wijaya murka melihat berita-berita yang dimuat media massa. Membuat perusahaan Wijaya tersudut, karena diminta membantu oleh masyarakat menemukan pelaku teror dan pembunuhan dokter Dea.
Munculnya tagar yang menjadi trending di uwiter #TuntutWijayagroup membuatnya tak bisa mengabaikan berita ini begitu saja.
"Wanita itu makin berani menunjukkan dirinya, aku fikir diamnya mereka beberapa hari ini karena kalah, ternyata aku salah"
"drettt drettt"
"Tuan, maafkan kami mereka dibawa oleh Tuan Muda di rumah aman Tuan"
Sebuah vas bunga dibanting jatuh dan pecah. Kasihanlah vas bunga jadi sasaran mulu 😁 padahal g salah ya 😆.
"Hans, beraninya kau melawan Daddymu sendiri"
Geram Tuan Wijaya.
Beberapa email masuk, dibukanya sebuah email laporan penurunan harga saham Wijayagroup dibursa efek. Dan undangan rapat para pemegang saham yang meminta kehadiran Wijaya dan Hans selaku Komisaris dan CEO pemilik Perusahaan Wijaya group.
"Ini tak bisa main-main lagi"
Ucap Tuan Wijaya kemudian menelpon Suster Hani.
"Hani, lakukan tugasmu"
Ucapnya singkat dan hanya dijawab iya oleh Suster Hani.
###############
Arindra the geng sedang duduk di taman, pancaran kebahagian terlihat dari wajah Alex, Jenny dan Dio. Mereka bermain air dengan selang air, maklumlah hampir sebulan mereka terkurung dalam apartemen, meski tempat itu mewah namun kejenuhan pasti akan terasa.
Jack dan Arindra duduk bersebelahan di kursi namun terhalang meja di tengah-tengah. Mereka menikmati keceriaan orang-orang yang dianggap adik oleh mereka.
"Ayo Kak sini, sudah lama kita tidak sesenang ini"
Alex mengajak Jack dan Arindra, namun disambut dengan gelengan kepala.
"Kak, ini sangat menyegarkan dan menyenangkan, ayolah"
Jenny mencoba merayu kemudian ia berlari dan tertawa saat Dio menyerangnya dengan selang air lagi. Alex menyerang Dio, mereka saling serang dan tertawa bahagia bagai anak kecil yang menemukan mainan baru.
"Kalian benar-benar tak ingin merasakannya?"
Dio yang sudah basah kuyup menghampiri keduanya.
"Kami bukan bocah lagi Dio"
Ucap Arindra tersenyum
"Tapi ini menyenangkan Kak, sudah lama kita lupa caranya bersenang-senang, apakah nanti kita juga bisa keluar. Sungguh aku lupa rasanya makan lagi di sebuah restoran atau di rumah makan lesehan" Ujar Dio
"Kita bisa merasakannya segera Dio, tenanglah" Ucap Arindra
"Besok apakah bisa?"
"Ayo kita lakukan, besok kita bersenang-senang sepuasnya"
Ucap Arindra dengan wajah bersinar
"Benarkah, tapi bagaimana dengan keselamatan kita kak?"
Tanya Dio, Jack sudah melirik Arindra dan Arindra hanya membalas dengan senyuman.
"Ada yang tak kasat mata bisa melindungi kita Insyaa Allah"
"Apaan?"
"Allah, Allah yang akan menjaga hidup dan mati kita, jadi mari kita nikmati kebersamaan kita. Kau setuju"
"Aku setuju Kak, mari tunjukkan pada Wijaya kita bukan pengecut. Tapi Kakak tidak akan mundur kan dengan tujuan awal kita?"
"Selangkahpun kakak tidak akan mundur dari tujuan kita Dio, rencana yang sudah kita siapkan tetap akan kita jalankan"
"Tapi sepertinya Tuan Hans membantu kita Kak, dan maaf..."
Dio melirik Jack dan Jack pura-pura tak melihat, meski menajamkan telinganya.
"Sepertinya Tuan Hans mencintai Kakak, dan membantu kita melawan ayahnya sendiri"
Jack mengepalkan tangan mendengar perkataan Dio, Dio sadar ia membuat kesalahan dan melirik Jack dengan perasaan segan sekaligus takut.
"Ada dan tidaknya seorang Hans, rencana kita tetap berlanjut. Cinta atau apapun itu namanya, jangan lagi kau sebut. Fokus saja pada tujuan awal"
Tegas Arindra meski bicara lembut.
##############
Alhamdulillah sudah sampai di chapter 75
Doakan lah ya moga Novel ini kelar bulan ini, dan bisa fokus ke Novel yang lain. Sudah Menunggu "Catatan Seorang Istri" yang sudah lama tidak diberi sentuhan 😆😆😁😁😁😆😆