
"Aku tak percaya apa yang barusan kau katakan, dua orang anak manusia berlainan jenis ada di kamar. Mustahil jika tidak melakukan apa-apa"
Terang Jack, meski suaranya lembut namun menusuk bagi Arindra.
"Jikapun kami melakukan apa-apa, bukankah hal yang wajar karena kami suami istri"
"Arindra..."
Jack mengeram menahan geram mendengar Arindra berkata seperti itu. Hans yang di balik pintu tersenyum.
"Jadi kau mengakui si brengsek itu suamimu?"
Ucap Jack menahan rasa cemburunya, menekan suaranya agar tak lepas kendali. Arindra menoleh pada Jack.
"Kak, jujur aku sangat lelah menghadapi sikap kakak yang terus begini padaku. Kakak di pagi buta berada di depan kamarku, hanya untuk mengintrogasiku dengan hal semacam ini. Kak tolonglah, masih banyak hal penting yang bisa dibahas.
Jika Kakak mengharapkan balasan dari perasaan Kakak, sejak awal sudah kubilang, Kau Kakakku, selamanya akan seperti itu. Terima kasih atas cintamu yang luar biasa padaku, tapi aku hanya menganggapmu Kakak.
Jika aku saat ini membiarkan seorang Hansel Wijaya dekat denganku, karena aku ingin berjumpa dengan anakku. Aku ingin dia menyerahkan anakku dengan cara baik-baik.
Kau tau posisiku, anak itu diketahui luas sebagai putra pasangan Hans dan Syara. Bukan Hans dan Arindra, aku hanya menikah siri yang tak memiliki kekuatan hukum negara, selain itu satu-satunya saksi dalam pernikahanku yang ku ketahui adalah Aldo.
Jikapun mungkin ada Tuan Wijaya dan istrinya, apakah mereka mau bersaksi padaku, sedangkan Tuan Wijaya sendiri mengincar nyawaku.
Lalu apa yang harus kulakukan, merebut paksa anakku dari Syara, maka itu hanya akan membuatku di penjara. Mungkin ini bisa jadi pemberitaan, tapi kasus di pengadilan apakah aku bisa menang, tidak. Karena apa bahkan aku sendiri tak tau dan tak pernah merasakan pernikahan itu terjadi.
Tolong Kak, jika Kakak ingin membantuku, bantu Aku dalam memulihkan sepenuhnya kondisi kesehatanku seperti yang selama ini Kakak lakukan. Support Aku, untuk terus berjuang mendapatkan anakku Fattah yang bahkan wajahnya tak kuketahui.
Tolong Kak, jangan membebaniku dengan rasa cemburumu. Sungguh harus berulang kali aku bilang, jika hatiku saat ini hanya tertuju pada Fattah, tidak ada yang lain"
Arindra berbicara sesantai mungkin,tak mau meluapkan emosinya kembali, berusaha kembali fokus pada bukunya. Ingin sekali ia berada di kamar, untuk tidur. Ia lelah selalu saja berdebat dengan Jack, membahas masalah yang sama. Tapi Arindra tak mungkin tidur di kamar, ada Hans di sana, sedang di sini ada Jack yang membuatnya kesal tak bisa istirahat.
"Jika hatimu saat ini hanya tertuju pada Fattah, aku akan menerimanya. Tapi jika Kau menerima si brengsek itu, maka aku akan buat perhitungan padanya.
Dulu Aku pernah kehilangan orang yang kucintai karena Aku yang menyerah untuk mendapatkannya kembali. Tapi sekarang, Aku takkan pernah melakukan kesalahan untuk ke dua kalinya. Aku akan terus berada di sisimu, hingga membuatmu bisa menerima diriku"
"Bisakah Kakak tinggalkan aku, sungguh aku lelah Kak. Aku tidak bisa tidur malam ini. Tolong, aku ingin istirahat, bisakah Kakak keluar"
"Tapi..."
"Kak kumohon, dan satu lagi jangan sampai kita bicara dalam kondisi suasana seperti ini. Di pagi buta, tanpa seorang pun ada yang menemani atau melihat kita. Aku tidak ingin, ini akan menjadi fitnah untukku"
Jack masih ingin bicara, tapi diurungkannya. Ia sadar jika terlalu memaksakan kehendaknya saat ini akan berakibat dia dijauhi lagi oleh Arindra. Hans yang awalnya tersenyum, terdiam mendengar percakapan Jack dan Arindra.
Karena Ia fikir akan mudah mendapatkan hati Arindra, tapi nyatanya dia salah. Jack keluar dan melihat Hans yang berdiri di samping pintu.
"Jangan pernah coba-coba meraih Arindra dariku, maka aku takkan segan-segan untuk membuat perhitungan denganmu"
Lirih Jack pada Hans, sedangkan Hans hanya menanggapinya dengan tersenyum kecut.
###########
Aldo datang pagi hari untuk mengantarkan pakaian ganti bossnya itu, sedangkan Hans di kamar sudah bersiap. Arindra tak lagi memasuki kamar, ia berkutat dengan dapur mempersiapkan sarapan. Arindra bagai ibu bagi Alex cs, sedangkan bagi Jack Arindra adalah sosok istri idamannya. Meski di sana, ada art-art yang membantunya yang disiapkan Hans, tapi ia tetap turun tangan.
Semuanya sudah ada di meja makan, termasuk Hans dan Aldo. Hans berusaha duduk di samping Arindra, dan dia berhasil membuat Jack meliriknya tajam.
"Aku mau sarapan"
Ucapnya pada Arindra dengan menyodorkan piring kosong. Semua memperhatikan tingkah Hans, dan berfikir seolah seorang suami yang meminta dilayani istrinya, padahal Arindra tak mengakuinya. Arindra tak menggubrisnya, Ia melanjutkan sarapan.
"Ayolah, Aku lapar sejak kemarin telat makan, Benar kan Do"
"Ehh iya boss"
Aldo hanya nyegir dan menatap tajam pada bossnya.
"Dio, bukankah kau punya bukti dari tentang kejahatan Tuan Wijaya. Serahkan pada Tuan Hans, mulai saat ini dia akan membantu kita menyadarkan Ayahnya"
Ucap Arindra tanpa merasa menghiraukan permintaan Hans. Hans yang mendengar itu menatap Arindra.
Tanya Jack dengan nada tak suka.
"Dia sudah mengatakannya semalam, jika Ia akan berusaha membuat Tuan Wijaya menyadari kesalahannya" Terang Arindra.
"Semalam?, jadi Tuan Hans menginap di sini?"
Jenny terkejut mendengar itu, dia paling terakhir bangun, dengan Dio tentunya.
"Bahkan kami semalam tidur berdua"
Hans sengaja memancing kemarahan Jack, yang jelas menunjukkan rasa tak sukanya padanya.
"Kau fikir aku takut dengan ancamanmu dokter jelek. Huhh enak saja, akan kubuat kau merana, sampai kapanpun Arindra milikku. Rasakan ini karena Kau sudah membuatku kesal sejak semalam" Ucap Jack dalam hati.
Sedangkan semua mata tertuju pada Arindra, tatapan bertanya lebih tepatnya.
"Benarkah, Kak Arin melakukan itu?" Tanya Dio tak percaya mendengar ucapan Hans.
"Wah-wah ada yang patah hati ini"
Alex menimpali, namun terdiam saat lengannya disenggol Jenny yang sudah melihat tatapan marah Kakaknya.
"Bahkan semalam, ada yang kepo dengan berdiri menunggui di depan kamar kami" Hans menambahkan lagi, membuat Jack mengepalkan tangan.
"Emang enak gue kerjain, rasain berani-beraninya ngancem gue. Rasain balesan gue, marah-marahlah, ayo marah biar Arindra makin menjauhi loe hheee"
Hans tertawa dalam hatinya, dan bibirnya tersenyum sambil mengambil sarapan. Karena permintaannya tak digubris Arindra.
"Dio serahkan buktinya pada Tuan Hans, kita lihat apakah dia bisa dipercaya atau tidak. Jika dia bisa dipercaya maka kita akan mendukungnya, tapi jika tidak kita akan meninggalkannya. Dan kita bisa melanjutkan rencana kita tanpa Tuan Hans. Satu lagi, jangan terpengaruh ucapannya tentang hubunganku dengannya, Dia..."
Tunjuk Arindra pada Hans.
"Hanya ingin membuat team kita pecah dengan kebohongannya. Jadi tolong tetap fokus pada tujuan awal, jangan terpengaruh dengan provokasi-provokasi receh dan murahan seperti itu"
Hans menelan ludah kasar, hampir saja ia tersedak mendengar perkataan Arindra.
"Jika Anda ingin mengambil kepercayaanku, maka lakukan apa yang kukatakan tadi"
Arindra memberikan gelas minum pada Hans, membuat yang lain terpana akan ketegasannya. Jack akhirnya bisa tersenyum setelah mendengar perkataan Arindra, yang berhasil mengubah wajah Hans menjadi pias.
#############
Alhamdulillah chapter 84 done
Like, Vote, komen, share, poin and Follow Lesta Lestari ya guys.
Biar author tetep semangat upnya.
Semoga semakin suka karyaku dan setia. Terima kasihhhh
oh ya author minta team nih,
team Arindra and Hans
team Arindra and Jack
Arindra meninggal or
Syara yang meninggal
hehee komen sebanyak-banyaknya ya, buat team yang paling banyak akan sangat dipertimbangkan untuk bab akhir ceritanya. Meski author sudah menulis bab akhir dari kisah Arindra. Terima kasih supportnya, team terbanyak koment dipertimbangkan akan bisa mengubah jalannya cerita heheeπββ€π