
"Kak, kak lihatlah"
Dio berlari ke kamar Arindra, beruntung Arindra sudah lengkap, tanpa permisi masuk kamar. Ingin rasanya Arindra memarahi Dio namun tak jadi melihat wajah Dio yang menangis senang dan menunjukkan sesuatu.
"Ada apa Dio?"
Ucap Arindra lembut
"Ini Kak, lihatlah.."
Arindra meraih hanphone Dio dan melihat berita di medsos.
"Akhirnya pembunuh Kak Dea di tangkap Kak, yang ternyata dia juga yang sudah meneror kita selama ini. Namanya Suster Hani Kak, dia merasa iri akan keberhasilan Kak Dea menjadi Direktur di usia masih cukup muda. Sedangkan dia hanya seorang Suster Kepala"
Ucap Dio disela tangis bahagai, Arindra mengeryit. Ia mencari-cari berita tentang bisnis, dan terpampang di sana harga saham wijaya group turun karena isu pembunuhan dan keamanan property milik mereka tertanggal kemarin. Dan harga saham Wijaya group menguat setelah ditemukannya pembunuh dokter cantik dan peneror soutuber ditemukan.
"Kita berhasil kak, kita berhasil"
Dio senang, Arindra tersenyum melihatnya.
"Alhamdulillah kakak juga senang Dio, Kakak bahagia mendengarnya. Jadi ayo kita bersiap-siap bukankah kita akan liburan hari ini"
"Oh iya Kak, aku mandi dulu dan memberitahukan pada yang lain, dan nanti kita mampir ke makam Kak Dea ya"
Arindra mengangguk, senyum tak lepas dari Dio, dia senang karena pembunuh kakaknya telah ditangkap. Sedangkan Arindra, melihat papan streaofom yang tertutup kain hitam dan ia isi dengan foto-foto orang-orang yang dekat dengan Wijaya, termasuk keluarga Wijaya.
Ia mencoret foto Suster Hani dalam daftar foto itu.
"Hari ini kau mengeluarkan orang kepercayaanmu untuk menutupi kesalahanmu. Kelak tak ada lagi orang yang sudi mengakui kesalahanmu. Aku tak perlu menggunakan cara tidak elegan sepertimu, membunuh dan meneror, cukup aku mainkan peranku hingga kau bisa mendapatkan lawan yang menyakitkan dirimu Wijaya"
Lalu ia tutup kembali papan itu dengan kainnya. Lalu berjalan ke luar menuju ruang untuk sarapan. Di sana sudah ada Alex, Jack, Jenny, Dio, Paman James, Hans, Aldo dan seorang wanita muda.
Saat Arindra turun dari tangga, mata mereka semua tertuju padanya. Ia duduk di samping Jenny, di tengah-tengah diapit oleh dua pria masing-masing di kanan dan kirinya.
"Shania sudah membuatkan sarapan kesukaanmu, sebentar aku ambilkan"
Ujar Hans mengambilkan piring dan mengambilkan sarapan untuk Arindra. Jack melihat sarapan yang dibawa Shania, semua yang Hans katakan itu benar. Makanan itu kesukaan Arindra.
"Darimana wanita itu tau, makanan kesukaan Arindra, ada hubungan apa antara Shania dan Arindra?" Ucap Jack dalam hatinya.
Arindra melihat makanan itu, ia melihat Shania yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tersenyum padanya.
"Dia tau semua makanan kesukaanku, siapa dia wajahnya tak asing untukku"
Arindra bermonolog dalam hatinya
"Makanlah, makanan ini semua spesial untukmu"
Hans memberikan piring yang sudah berisi makanan pada Arindra. Arindra tersenyum melihat porsi makanan yang begitu banyak dihidangkan untuknya oleh Hans. Jack jangan ditanya, wajahnya sudah mengeras melihat perlakuan Hans pada Arindra. Alex, Jenny, dan Dio hanya saling lirik dan tersenyum
"Cinta segitiga telah dimulai"
Begitu fikir mereka.
Sedangkan Paman James geleng-geleng kepala melihat Jack, Aldo hanya memperhatikan wajah kekasihnya yang telah mengeluarkan air mata disudut pipinya. Hans terduduk kembali setelah memberikan piring itu pada Arindra.
"Sudah ayo makan, kita nikmati makanan ini. Sungguh senang akhirnya kita bisa makan bersama lagi"
Ucap Paman James yang mencairkan suasana. Arindra menggeser piring makanan yang diberikan Hans padanya, diberikannya piring itu pada Jack.
"Kak Jack, kau tau porsiku kan. Ini takkan habis jika aku makan, ini untukmu spesial dari Tuan Hans"
"Biarkan aku mengambilkan sarapan untukmu"
Ucap Jack kemudian mengambil piring dan mengisi sesuai porsi Arindra. Balik Hans yang mengepalkan tangannya, di bawah meja. Cemburu, jelas suami mana yang tak cemburu istrinya dilayani pria lain 😆😁.
(Ini baru permulaan kata author mah hehee)
Jack kemudian memberikan itu pada Arindra.
"Terima kasih kak, kau yang terbaik"
Sambil melirik Hans yang wajahnya sudah menahan kesal. Arindra tersenyum dan berkata dalam hati.
"Kau kesal, ahaa aku senang sekali melihatnya. Apakah benar kau mencintaiku, ohh bagus sekali jika begitu, akan kubuat kau lebih kesal dari ini hehe"
"Kak Jack, bukankah hari ini kita akan jalan-jalan bersama, untuk merayakan tertangkapnya pembunuh Kakaknya Dio, kau sepakat?"
Ucap Arindra sambil menyuap makanannya,
Jack melihat Arindra tersenyum.
"Aku tak pernah menolak kemanapun, jika kau yang mengajakku pergi. Asal denganmu aku tak pernah ragu"
Jelas perkataan itu membuat Arindra the geng tersenyum ceria termasuk Paman James yang tak menyangka, jika Jack yang kaku yang ia kenal berubah begini.
"Uhhh romantis sekali pagi ini, tak kusangka Kakakku sudah punya seorang pengawal hati yang setia. Akhirnya Kak Jack si kaku tak lagi kaku hahaha"
Ucap Alex disertai senyuman yang lain, tapi tidak dengan Aldo yang melihat wajah mengeras meski bibir tersenyum yang diperlihatkan bossnya. Sedangkan Shania tersenyum saja meski pandangannya tak pernah lepas dari Arindra.
"Kak Tiara, aku merindukanmu, ingin kuberlari memelukmu saat ini, dan mengajakmu menemui ayah dan ibu. Mengatakan pada mereka jika kau masih hidup. Sayangnya mereka telah tiada saat ini kak, setelah mendengar kematianmu mereka syok, sakit dan meninggalkan kita selamanya"
Namun kata itu hanya ditahannya dalam hati, setelah semua yang dicerikan Aldo dan Hans padanya. Ia memahami kondisi kakaknya itu, Shania mengusap air mata di sudur mata dengan tisu yang diberikan Aldo yang selalu memperhatikannya sejak tadi.
"Iya sesuai rencana kita kemarin, dan aku juga ingin menemui makam kakak, dan mengatakan padanya jika orang yang membunuhnya sudah tertangkap"
Dio tersenyum senang, diangguki yang lain.
"Kalian boleh pergi dengan pengawalan pastinya, dan aku akan siapkan itu. Tapi Arindra tidak bisa keluar hari ini, karena ada seseorang yang sangat ingin menemuinya"
Semua mata menoleh ke arah sumber suara, Jack langsung meletakkan sendok makannya dan bersandar di kursi makan. Menatap Hans yang terlihat tenang, menyuapkan makanannya.
"Kau tak bisa mengatur Arindra, dia berhak pergi kemanapun dan dengan siapapun yang dia suka. Kau tak memiliki hak apapun untuk melarangnya"
Ucap Jack tegas dengan sorot mata tajam ke arah Hans. Hans menatap tajam kembali sorot mata itu, seolah menantang untuk menentukan siapa yang akan menang.
"Kau lupa statusku pada Arindra, bukankah sudah kukatakan kemarin Tuan Jack Milner. Aku suaminya, jadi aku berhak mengatur istriku"
"Asal anda tau Tuan Hansel Wijaya yang terhormat, Arindra dan aku memiliki hubungan spesial, apakah kau juga melupakan itu Tuan Hadinata Hansel Wijaya"
Arindra santai melihat keduanya, ia dengan santai menyantap sarapannya hingga habis. Sedangkan yang lain sudah berwajah tegang, melihat Hans dan Jack.
"Jika kalian masih ingin melanjutkan sarapan silahkan. Aku permisi karena sudah selesai"
Arindra bangun dari meja makan, membawa piring kotor ke dapur, dengan santai. Membuat orang yang disana terkejut melihat sikap santainya itu.
#############
Alhamdulillah chapter 78 done