ARINDRA

ARINDRA
Chapter 113



Hans pagi-pagi sekali sudah kembali ke rumah, janji jalan-jalan dengan Arindra batal setelah mendapat kabar permintaan Daddynya. Ia duduk di meja makan, tanpa menikmati sarapannya.


"Ada apa Kak?". Tanya Syara yang melihat suaminya itu termenung.


"Daddy Ra, Daddy ingin Hana menikah sebelum eksekusi dilakukan, sedangkan waktunya sebentar lagi. Apa kau tau adakah seseorang laki-laki yang sedang dekat dengan Hana?".


"Setahu Syara tidak ada Kak, Syara nanti bicarakan sama Abi. Jika Kakak setuju dengan Afdan Insyaa Allah kemungkinan Hana dijodohkan dengan Afdan".


"Kakak setuju jika Hana dengan Afdan, Afdan sosok yang baik. Bagaimana anak Ayah di disini?". Hans mengelus perut Syara yang mulai membuncit.


"Alhamdulillah baik Ayah, Ayah yang kuat ya. Baby selalu merindukan Ayah".


Hans mencium perut Syara, menariknya dalam pelukan. "Terima kasih". Bisiknya.


"Sama-sama Kak". Syara melepaskan pelukan suaminya.


"Setelah dapat info dari Abi tolong hubungi ya, masalah Hana nti Kakak yang bicara".


"Iya Kak, salam buat Mbak Arindra dan tolong ini berikan pada baby Fattah, dia sudah pintar makannya".


"Baiklah, Insyaa Allah nanti kakak sampaikan. Kakak berangkat dulu ya".


Hans mencium kening istrinya itu "Assalamualaikum wr.wb".


"Walaikumsalam Wr. Wb".


Syara segera menghubungi Abinya untuk membicarakan soal perjodohan dengan Afdan.


##########


Sementara Hans dan Hana saat ini bertemu di rumah sakit. Hans menatap Hana yang juga menatapnya.


"Kenapa Kak?". Tanya Hana lalu duduk di hadapan Hans.


"Daddy memintamu menikah dalam minggu-minggu ini".


"Astaqfirullahaladzhim Kak, kenapa mendadak sekali. Memangnya ada apa, Hana mana ada calon Kak dalam waktu sedekat ini".


"Keputusan hasil sidang Daddy sudah keluar".


"Benarkah, lalu apa putusannya Kak?".


Hans menatap adiknya itu dengan cemas.


"Kak...". Hana memanggil Hans yang terdiam, Hans terlihat menarik nafas berat dan panjang.


"Daddy di hukum mati Hana".


Hana tercengang menatap tak percaya dengan berita yang baru didengarnya.


"Maaf jika Kakak baru memberitahukan ini padamu, kakak sudah mencoba berusaha untuk meringankan hukuman Daddy. Tapi hasilnya di luar kuasa Hana. Karena itulah Daddy memintamu menikah sebelum eksekusinya dilakukan. Itu sebagai permintaan terakhirnya".


"Ya Allah, cobaan apalagi yang berikan padaku". Hana menangis, ia sudah kehilangan Mommy sekarang ia juga sedang dihadapkan pada kematian orang yang ia sayangi.


"Jika kau punya teman dekat laki-laki, maka ajaklah dia menikah denganmu. Tapi jika tidak, Kakak akan menjodohkanmu dengan Afdan. Kakak sudah membicakan ini dengan Syara dan Mbak Arindra. Semua keputusan ada padamu, mau kau penuhi atau tidak permintaan Daddy, kau yang memutuskan".


"Kapan eksekusi dilakukan?".


"Minggu depan".


"Baiklah, Hana menerimanya".


"Alhamdulillah, semoga semua bisa berjalan lancar. Maafkan Kakak ya, gara-gara Kakak keluarga kita menjadi seperti ini".


"Sudahlah Kak, ini bagian takdir yang harus kita jalani. Hana hanya berusaha ikhlas untuk menerimanya".


"Terima kasih, sungguh Kakak beruntung memiliki adik sholehah sepertimu".


Hana mengangguk dan memeluk Hans.


"Ya sudah Kakak pergi dulu, ada beberapa hal yang harus Kakak urus".


"Sudah ke tempat Mbak Arindra?".


"Belum, tadi dari rumah langsung ke sini. Memperitahukan ini padamu agar kau punya waktu untuk berfikir".


"Kakak tidak ke sana, semalam sudah menginap di sana".


"Kakak pamit, Kakak tahu kau pribadi tegar, Kakak yakin adik kakak ini pribadi yang kuat".


"Aamiin Kak". Hana mencoba tersenyum meski air matanya masih mengalir. Hans tak tega melihat adiknya itu.


"Sudah pergilah Kak, Hana tidak apa-apa. Hana hanya masih tidak percaya, Daddy akan meninggalkan kita sebentar lagi".


Setelah mengucap salam, Hans pergi meninggalkan adiknya itu.


############


Shania terdiam, beberapa memory card sudah selesai ia tonton. Meski belum selesai semuanya karena cukup banyak. Ia memutuskan menemui Kakaknya itu. Setelah ijin dengan Aldo, Shania pergi ke kafe.


Sesampainya di kafe, ia melihat Kakaknya sedang memeriksa laporan keuangan Kafe.


Shania mengucapkan salam, dan memeluk kakaknya itu. Arindra tersenyum dan membalas pelukan adiknya.


"Fattah di mana Kak?".


"Fattah sedang bersama Sika, bagaimana bulan madunya, sukses?".


"Belum Kak..."


"La kok belum?".


"Soalnya aku lagi dapet, makanya aku ke sini. Aldo juga lagi sibuk sama Kak Hans, g tau sibuk apa katanya sih perusahaan. Tapi masak iya weekend juga kerja". Shania protes soalnya Aldo dan dia berniat jalan-jalan tapi ternyata gagal.


Arindra teringat perkataan Hans semalam.


"Biarkan suamimu bersama Hans, Hans sedang butuh seseorang untuk menguatkannya".


"La kan udah ada Kakak sama Kakak Syara, masa iya masih ganggu Aldo juga di hari libur".


"Aldo membantu mengurus beberapa hal Shania, Tuan Wijaya..."


"Kenapa dengan Tuan Wijaya?".


"Dia akan di eksekusi minggu depan".


"Astaqfirulllaladzhim, ini beneran?". Arindra mengangguk.


"Shania fikir hanya penjara seumur hidup".


"Suster Hani yang di penjara seumur hidup, dan masalahnya tidak selesai di situ. Tuan Wijaya meminta Hana menikah sebelum eksekusi dilakukan. Waktunya yang hanya hitungan hari, membuat Hans cukup kebingungan untuk mencari orang yang mau menikah dengan Hana".


"Wow, masih mau mati aja buat masalah, bersyukut Shania g punya ayah kayak dia. Kalo punya Ayah kayak dia bisa mati berdiri Shania".


"Astaqfirullahaldzhim, kok ngomongnya gitu. Kurang baik sayang, bagaimanapun dia sudah menyadari kesalahannya dan sudah meminta maaf pada semuanya".


"Ya karena bentar lagi menghadapi maut, makanya dia tobat. coba kalo dia masih berkuasa, mungkin g berubah. Oh ya, Kakak masih dendam sama Kak Hans, soalnya Shania denger semalem Kakak tidur sekamar sama Kak Hans".


"Kakak punya adik yang sholehah sekarang, jadi sudah pandai mengingatkan. Alhamdulillah dendam itu Insyaa Allah perlahan-lahan terhapus. Makasih ya sudah mengingatkan Kakak".


"Syukurlah, Shania kira masih. Soalnya Kak Hans, Shania rasa termasuk korban keserakahan Daddynya. Beruntungnya Tuan Wijaya, memiliki anak-anak yang tidak mengikuti sifatnya.


Mungkin jika tidak ada Kak Syara dan kejadian yang menimpa Kakak, Kak Hans mirip sama Tuan Wijaya. Soalnya dulu pas Shania di kerja jadi asisten Aldo, arrogant banget bawaannya".


"Kita bicarain yang lain aja ya".


"Kenapa g suka suaminya digosipin hehe".


"Lebih baik bicara yang bermanfaat, jika tidak bisa maka lebih baik diam".


"Hemmm bedalah jiwa ustadzah dari dulu g berubah-berubah, dikit-dikit ceramah, nasehat hehee".


Arindra jadi tersenyum mendengar perkataan Shania, ia mengelus kepala Shania yang tertutupi jilbab.


"Sudah istri, lebih banyak belajar ngomong yang baik, kalo nanti kebiasaan ngomong yang buruk kasihan anak-anak, dapet contoh yang kurang baik".


"Iya kakakku sayang hehehe"


Shania memeluk Arindra melepaskan rindu tiga hari tak bertemu dengan Kakaknya itu.


"Oh ya Kak, takut lupa Shania. Ini ada memory card, buka pas Kakak lagi santai. Semoga ini membantu Kakak lebih mengenal Kak Hans. Sebenarnya banyak tapi sementara ini dulu yang Shania kasih, soalnya yang lain belum selesai Shania tonton. Ingat dibukanya pas Kakak lagi senggang ya".


Shania menyerahkan tiga memory card ke Kakaknya itu, Arindra memandang Shania penuh tanya tapi Shania hanya tersenyum saja, sambil mengedipkan mata.


#############


Alhamdulillah chapter 113 done


Ayo dong guys


Vote, poin, like, komen, share and follow Lesta Lestarinya ....


Biar Author semangat upnya okeee 😆🤗😍❤❤❤❤