ARINDRA

ARINDRA
Chapter 70



Media-media infoinment dan sesama artis soutuber seperti sedang berlomba-lomba membahas berita yang dianggap eksklusif itu. Berita kematian dokter Dea yang seorang Direktur rumah sakit ternama dengan usia yang masih 35 tahun ditambah memiliki adik seorang soutuber terkenal menjadi daya tarik media untuk memberitakannya.


Tuan Wijaya yang belum mengetahui berita itu saat ini sedang berada di ruang kerja bersama Suster Hani.


"Kau tau, akibat kebodohanmu dia bahkan berani muncul di hadapanku saat ini"


Ujar Tuan Wijaya dengan wajah dinginnya, Suster Hani hanya tertunduk mendengar kemarahan Tuannya.


"Bukan tidak mungkin, wanita itu akan muncul di pemberitaan mengingat dia saat ini bersama soutuber terkenal. Dan mengapa kalian sampai tidak tahu, jika Dea memiliki adik seterkenal itu"


"Maaf Tuan, yang kami tau Dea adalah anak tunggal yang memiliki siapa-siapa. Karena selama ini ia menunjukkan sikap setia, siapa sangka jika ia berkhianat dengan Jhon"


"Kau berani membantahku hah"


Bentak Tuan Wijaya pada Suster Hani.


"Tidak Tuan"


"Dengar baik-baik, jika kasus ini berlanjut maka kau orang yang paling bertanggungjawab, jangan pernah libatkan aku dalam hal ini. Jika kau tak mengindahkan perintah ini, kau tau apa yang bisa kulakukan pada cucu kesayanganmu itu"


"Baik Tuan, saya mengerti"


"Pergilah"


Suster Hani pergi berpamitan pada Tuan Wijaya, dan Nyonya Diana yang ada di ruang santai.


"Nyonya-nyonya"


Seorang art menemui Nyonya Diana yang sedang bersantai di temani secangkir tehnya.


"Ada apa bi?"


"Ini Nyonya, dokter Dea"


"Kenapa dengan dokter Dea?"


"Ini Nyonya"


Bibi art memperlihatkan berita-berita infotainment dan beberapa chanel soutuber yang membahas kematian dokter Dea.


"Kenapa beritanya sampai heboh begini?"


"Nyonya tidak tahu, adiknya dokter Dea itu siapa?"


"Setahu saya Dea anak tunggal"


"Enggak Nyonya, dia punya adik yang terkenal jadi soutuber Nya. Nih postingan terbaru kemarin"


Nyonya Diana melihat postingan itu, hingga ia melihat sosok yang sangat dikenali wajahnya dalam vidio yang berdurasi satu jam itu.


"Tidak, tidak mungkin ini dia. Dia bukannya sudah mati"


Gumam Nyonya Wijaya dengan wajah paniknya.


"Papa-Papa"


Nyonya Wijaya berlari mencari suaminya, art itu hanya bingung melihat reaksi majikannya.


"Pa..."


Ucap Nyonya Wijaya terengah-engah.


"Ada apa Ma, kenapa lari-lari nanti jatuh"


Tuan Wijaya memegang lengan istrinya, dan berusaha menuntunnya di sofa, tapi ditahan olehnya.


"Pa...lihat ini, kenapa dia masih hidup. Bukankah kata Papa dia sudah meninggal, jadi yang dikubur itu mayat siapa Pa"


Wajah Nyonya Wijaya pucat, saat ini ia ingin menangis tapi tak tahu apa yang harus ia tangisi. Hingga tangis itu tertahan, memunculkan wajah gusar dan kepanikan.


"Siapa yang hidup Ma, jangan begini. Tenanglah"


"Dia Pa, dia Arindra"


Ucap Nyonya Diana yang akhirnya menjerit.


Deg


Tuan Wijaya meraih hanphone di tangan istrinya, melihat vidio terakhir yang dilihat istrinya.


"Shittt"


Tangan Wijaya mengepal, wajahnya mengeras tak percaya apa yang dikhawatirkannya terjadi begitu cepat.


"Brengsek, berani-beraninya dia muncul dan mengusik keluargaku. Kau takkan pernah lepas Arindra. Siapapun namamu itu, kupastikan lenyap karena telah berani mengusik Wijaya"


"Pa, Pa.."


Tangan Nyonya Wijaya mencoba menggapai lengan suaminya yang masih fokus melihat vidio konten si petir.


"Brukk"


Tubuh Nyonya Wijaya ambruk, membuat Tuan Wijaya sadar dari lamunan kemarahannya.


"Ma, Ma, bangun Ma, bibi, bibi..cepat ke sini"


Panggil Tuan Wijaya pada art, art itu segera berlari menghampiri Tuannya.


Art melihat Nyonya Wijaya yang sedang dipangku kepalanya oleh Wijaya.


"Cepat panggilkan satpam, dan hubungi dokter suruh segera ke sini"


Perintah Wijaya pada artnya itu, namun karena penasaran art itu kembali bertanya.


"Itu kenapa Nyonya Tuan?"


"Cepat panggilkan, jangan banyak bertanya"


Bentaknya, membuat art itu menjadi takut.


"Ma, bangun Ma. Jangan begini, jangan tinggalkan Papa. Ma, ma bangun, bangun.."


Tuan Wijaya menepuk-nepuk pipi istrinya itu, namun istrinya tak jua bangun. Ia mulai panik melihat istrinya tak bangun-bangun. Dua orang satpam masuk, mereka mengangkat tubuh Nyonya mereka dan membawanya ke dalam kamar.


Tuan Wijaya terus mencoba membangunkan istrinya dengan memanggil-manggil nama, isak tangis mulai terdengar dari suaranya. Sedangkan bibi art membantu memijat-mijat kaki majikannya itu.


Tak lama Hana datang dengan perlengkapan dokternya.


"Kenapa Mommy bisa pingsan Pa, bukankah tadi baik-baik saja"


Ujar Hana yang bertanya pada Daddynya, namun Tuan Wijaya yang masih kalut tak menjawab pertanyaan putrinya itu.


Hana memeriksa keadaan Mommynya.


"Suster, pasang infus"


Perintahnya pada suster yang menemaninya, ia melihat Mommy tubuhnya lemah sekali.


Pandangannya mengarah pada bibi art, bibi mengerti pandangan itu. Kemudian memperlihatkan berita-berita dan vidio konten Si petir.


Syok, itulah yang nampak di wajah seorang Hana. Ia tak mungkin lupa, wajah pasien yang siang malam ia jaga selama sembilan bulan.


"Ya Allah benarkah ini yang kulihat, Mbak Arindra masih hidup. Lalu apa yang harus aku lakukan Ya Robb, bersyukur atas kembalinya dia ataukah bersedih. Ya Allah dia benar-benar begitu mirip, adakah dua orang di dunia ini yang begitu mirip"


Bibi yang melihat Nona mudanya tertegun akan reaksi majikannya itu. Nyonya Diana pingsan, Tuan Wijaya menangis, Nona mudanya tubuhnya lemas, pucat, dengan wajah bingung dan terduduk di sofa.


"Apakah aku udah buat salah ya, kok bisa sampai begini sih, aduh bakal kena pecat kalo kayak gini ceritanya"


Gumam bibi dalam hati, suster yang dibawa Hana hanya diam, setelah menyelesaikan tugasnya dia mengikuti bibi yang ke luar kamar.


############


Di tempat lain Syara sedang bermain dengan baby Fattah, dan beberapa art serta suster menemaninya di taman belakang rumah.


"Non, ini berita dokter Dea jadi trending lho Non di soutube"


Ucap salah seseorang art.


"Iya non, bahkan udah ada tagar #Temukanpembunuhdea di uwiter dan jadi trending juga"


Ucap Suster baby Fattah menambahkan.


"Ya gimana g trending, orang dokter Dea ternyata punya adik seterkenal itu dan ganteng lagi. Sedih banget pas lihat vidio kontennya kemarin"


Ucap art lain berdrama


"Dokter Dea punya adik?"


Tanya Syara yang mulai tertarik, ia letakkan baby Fattah pada box bayi. Dan mengalihkan tatapannya pada para artnya itu.


"Iya non, nih orangnya lagi dibahas diinfotainment. Guanteng banget tau Non, katanya sih belum ada pacar, maulah aku jadi pacarnya"


"Huuuu"


Seru art pada art yang menjadi fans si petir, membuat Syara tersenyum melihat tingkah mereka.


"Itumah maunya kamu, yang ono kenal aja kagak. Mimpi aja"


"Biarinlah mimpi ya non, kan g pa-pa biar jadi penyemangat. Katanya kan mimpi bisa jadi kenyataan"


"Huh, halu aja kamu ini"


"Sudah, sini saya mau lihat berita, dan seganteng apa sih si Petir itu hingga kalian bahas sampe segitunya"


Syara mengambil hanphonenya, mencari apa yang menjadi gosip para asistennya itu karena berhubungan dengan dokter Dea.


"Tapi tau enggak non, dikonten itu kok ada yang mirip banget sama Non Arindra ya, setahu kita kan Non Arindra sudah meninggal. Kita juga ke makamnya kan waktu itu"


Deg


Wajah Syara berubah jadi tegang, ia memang belum melihat konten si petir. Ia baru melihat berita-berita infotainment yang membahas kematian dokter Dea yang kejam.


##################


Alhamdulillah chapter 70 done


yang suka, yang suka....


Kuylah di komen, vote, like, share and poin yang buanyak...


Follow ya **Lesta Lestari


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤**