ARINDRA

ARINDRA
Chaptee 35



Pukul delapan malam, Hans pulang ke rumah. Ia langsung mencari Syara, ia masuk ke dalam kamarnya dan melihat Syara yang sedang membaca qur'an.


"Hallo sayang, lihat apa yang aku bawa"


Hans memperlihatkan buah anggur yang beraneka jenis. Syara melihat apa yang ditunjukkan Hans, ia tertawa namun ditahan dan disembunyikan.


"Sejak kapan aku suka buah Anggur?"


Syara menjawab dengan datar dan hanya melihat sekilas Hans.


"Lho bukannya kamu suka anggur ya, ini lihat ada hitam, hijau dan ungu. Ini sudah aku cobain, enak banget deh"


Hans duduk di samping Syara, dan berusaha menyuapinya. Syara mengambil anggur yang di tangan Hans dan meletakkannya di meja.


"Kok ditaro, ini udah kulap pake tisu bersih. Ayo makan"


Hans lagi ingin menyuapi, namun Syara berdiri dan pergi meninggalkannya. Membuat Hans terbengong.


"Sial"


Ucapnya, ia melonggarkan dasi dan melepas jasnya. Ia melangkah menuju ranjang Arindra, ia mengecup kening Arindra dan tak lupa juga perutnya.


"Mbak lihatlah, aku kembali ditolak. Cepat bangunlah Mbak, agar Mbak bisa melihat, betapa aku seolah tak punya harga diri lagi di hadapan Syara. Ayo bangun Mbak, bencilah aku. Aku memang brengsek, apakah aku benar-benar tak pantas mendapatkan sosok seperti Syara. Jawab Mbak, jawab..."


Hans hanya bisa menumpahkan rasa di hatinya, meski ia tahu. Ia takkan mendapatkan respon dari lawan bicaranya.


Syara yang mendengar ucapan Hans terdiam.


"Maaf Kak, biarlah seperti ini agar kita tak semakin jauh terluka"


Gumamnya dalam hati lalu masuk ke kamarnya. Malam berjalan sesuai rencanaNYA, lewat pintu rahasia Hans masuk kamar di mana Syara tengah berbaring.


Ia menatap wajah Syara dalam keremangan ruangan kamar, membelai wajah wanita yang membuatnya patah hati. Lalu membaringkan dengan pelan tubuhnya di samping Syara, dengan tak lupa memeluk pinggangnya.


"Selamat tidur sayang, maaf aku terpaksa melakukan ini padamu"


Hans kemudian terlelap dalam tidur malam itu.


########


Seperti biasa Syara telah membuka mata dan melihat jam menunjukkan pukul empat pagi. Ia hendak bangun, namun pinggangnya terasa berat. Ia melihat ada tangan yang melingkar di perutnya, dan hembusan nafas teratur membuatnya terkejut.


"Aaaaa, kamu siapa"


Ia bangkit lalu memukulkan guling ke arah laki-laki itu yang wajahnya samar. Hans yang sama-sama terkejut kena pukulan guling daru Syara mencoba menghindar dan menghidupkan lampu.


"Apaan sih Ra, aku Hans suami kamu"


Syara yang melihat lampu sudah terang, melihat Hans dengan wajah mengantuk dan kembali membaringkan tubuhnya di kasur. Seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa kakak tidur di sini, Kak..Kak"


Syara mengoyang-goyangkan tubuh Hans, membuat Hans berbalik menatap wajah istrinya yang untuk kedua kali dilihat tak memakai jilbab.


"Ngantuk Ra"


"Kenapa kakak bisa tidur di sini sih, pintu kan sudah aku kunci semua"


Ucapnya kesal melihat Hans tak bereaksi hanya menatapnya tanpa kedip.


"Kak, aku tanya kenapa jadi gini sih"


"Aku suamimu Ra, salah kalau tidur sama istrinya sendiri?"


"Ya bukannya gitu, perjanjiannya kan enggak gini Kak"


"Mandi aja kali Ra, apa perlu aku mandiin?"


"Kak, bisa enggak sih serius"


"Aku serius, apalagi soal mandiin kamu. Yakin banget"


"Kak..., kakak sadar enggak sih apa yang sedang kakak lakukan"


"Sadar Ra, harus berapa kali kakak bilang. I love you Aulia Syara Syabila, istriku dan cinta pertamaku"


"Keluar Kak, beneran Syara mau mandi nih"


Syara menarik-narik tangan Hans, meski ia tahu akan percuma tapi setidaknya ia akan berusaha mengusir laki-laki yang santai itu di ranjangnya.


Hans yang ditarik-tarik tangannya malah menarik Syara hingga terjatuh di kasur. Ia kemudian menindih tubuh mungil itu.


"Jika aku mau Ra, aku bisa saja memaksamu untuk memberikan hakku sebagai suamimu. Namun aku sudah berjanji padamu untuk membuatmu jatuh cinta, jadi biarkan saja aku lakukan dengan caraku. Nikmati saja apapun yang kulakukan padamu, aku takkan melewati batasku meski aku sangat ingin. Tapi aku tak ingin menyesal seperti penyesalanku pada Mbak Arindra. Aku mencintaimu tulus Ra, dari dulu hingga sekarang. Meski kau sudah membuatku patah hati"


Hans bangkit dengan kesal akibat penolakan Syara yang belum menerimanya. Ia marah dan keluar kamar dengan membanting pintu penghubung di antara kamar mereka yang terlihat seperti lemari. Membuat Syara kembali terkejut.


"Pantas saja dia begitu mudah masuk, ternyata. Kenapa aku tidak menyadarinya?"


Tepuk Syara ke jidatnya. Ia bergegas mandi, wudhu dan menunaikan sholat tahajud. Selesai itu ia melangkah melewati pintu rahasia, dan melihat punggung suaminya sedang berdiri di atas sajadah membuatnya tertegun.


Ia mengambil Alqur'an dan membacanya dalam diam. Menunggu suami selesai bercengkrama dengan Tuhannya.


Hans yang tidak menyadari, adanya Syara di belakang fokus pada do'a-do'a yang hendak dilantunkan.


"*Ya Allah bagi-Mu-lah segala puji, Engkaulah yang mengurus langit dan bumi serta semua makhluk yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau Raja langit dan bumi beserta semua makhluk yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi beserta semua makluk yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau Maha benar, janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, ucapan-Mu adalah benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, para nabi adalah benar dan Nabi Muhammad Saw adalah benar serta hari kiamat adalah benar.


Ya Allah hanya kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku kembali (bertaubat), kepada-Mu aku mengadu, dan kepada-Mu aku meminta keputusan, maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang kemudian serta apa yang kusembunyikan dan yang kulakukan dengan terang-terangan dan apa yang lebih Engkau ketahui dariku, Engkau yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada Tuhan selain Engkau, dan tiada daya (unutk menghindar dari kemaksiatan) dan tiada kekuatan (untuk melakukan ibadah) kecuali dengan pertolonganMu Allah*.


*Ya allah Engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati, maka tetapkan hidayah keimanan pada hamba dan istri-istri hamba agar selalu taat padaMu, cintailah kami karena kami tau Engkau Pencinta tertinggi. Ketuklah hati-hati kami dalam ketaatan padaMu, bukalah hati-hati istri hamba agar bisa menerima hambaMu ini, hamba sadar Ya Robb perbuatan hamba adalah dosa besar, namun hamba yakin Engkaulah Maha Pemaaf bagi hambaMu yang mau bertaubat.


Bukalah hati Syara Ya Robb jika benar ia diperuntukkan untuk hamba, namun jika memang dia bukan yang terbaik bagi hamba menurutMu maka jadikan cinta dalam hati hamba ini padam. Dan ijinkan hamba agar ikhlas melepasnya, sungguh tiada yang mampu menggerakkan hati seorang hamba melainkan Engkau.


Dengan ijinMu jualah hamba meminta di penghujung malamMu ini berikanlah jalan terbaik untuk Mbak Arindra, jika kesembuhannya memberikan manfaat untuk agamanya maka berilah kesembuhan padanya, angkatlah segala penyakitnya. Sadarkanlah ia dari komanya, tumbuh dan sehatkanlah anak hamba dalam kandungannya. Sungguh hamba sangat menyesali apa yang telah hamba lakukan padanya.


Dan hamba tidak ingin menyakiti hati ke dua istri hamba, sungguh hamba berusaha menanam cinta untuk keduanya dan membuatnya bahagia sesuai kemampuan hambaMu yang lemah ini Robb.


Hamba mohon berilah petunjukMu, tuntunlah langlah kami, tegapkan hati-hati kami agar selalu dalam keimanan. Beri jalan yang terbaik untuk hamba memutuskan, baik untuk Syara ataupun Mbak Arindra.


Ya Robbku, tiada daya dan kekuatan selain darimu kumohon kabulkanlah doa-doaku, alfatihah*"


Hans membaca surat Alfatihah dengan deraian air mata, Syara yang mendengar lantunan doa-doa suaminya tak tahan lagi menahan air yang menghujani pipinya. Selesai membaca alfatihah, Syara berlari memeluk suaminya dari belakang dan menangis dipunggung suaminya itu.


Hans terdiam, ia tak berbalik, tangannya memegang erat tangan Syara yang melingkar di dadanya. Mereka larut dengan perasaan masing-masing dikeheningan penghujung malam.


##########


😭😭😭😭😭😭


Syedih aku nulisnya....


kok bisa begini sih jadinya aku terhuraaa


Heheee


Alhamdulillah chapter 35 done


semangatlah memperbaiki diri, semangat mendekatkan diri pada Sang Khaliq.


Allahu Akbar Allah Maha besar.