ARINDRA

ARINDRA
Chapter 119



Sepekan berlalu sejak kematian Wijaya, hubungan Hans dan Arindra juga semakin hangat. Arindra tak lagi menolak jika disentuh oleh Hans, bahkan Arindra juga cenderung bermanja padanya saat ini meski Arindra belum menyerahkan raganya sepenuhnya.


Pada akhirnya pergiliran waktu pada dua istri Hans dilakukan. Karena sepekan kemarin Hans sudah bersama Syara, maka pekan ini Hans bersama Arindra.


Selama sepekan Arindra menonton dan mendengarkan vidio dari memory card yang diberikan Shania, masih tersisa dua memory card dari sembilan yang belum ia lihat. Arindra benar-benar menikmati momen-momen yang ada di vidio itu.


Malam ini Hans menginap di rumahnya, saat ini Arindra sedang ada di kamar sambil mendengarkan lanjutan vidio-vidio itu lewat hanphonenya.


Fattah sudah bersama Sika karena dia tahu Hans akan datang malam ini. Headshet terpasang di telinganya, matanya terpejam, tubuhnya ia sandarkan di tengah kasur.


Hans datang dengan mengetuk pintu dan salam berulang-ulang namun tak ada jawaban. Akhirnya ia masuk dan mengetahui penyebab Arindra tak mendengar ketukan pintu dan salamnya.


Ia melangkah mendekati kasur dan duduk di samping Arindra, mengambil salah satu headshet di telinga istrinya dan dipasangkan di telinganya. Gerakannya yang cepat, membuat Arindra membuka mata dan melihat headshet sudah berpindah tangan.


"Jadi ini yang membuat istriku tak mendengar ketukan pintu dan menjawabku hemm".


"Hehehe maaf, aku terlalu fokus mendengarkan kau bicara di vidio itu". Arindra tersenyum manis, ia meraih tangan Hans dan mencium punggungnya itu.


Hans mencium kening istrinya dengan mengucap bismillah, lalu mengambil hanphone dan headshet itu dari tangan Arindra.


"Kau tak perlu mendengarkan itu lagi, karena setiap hari aku akan bicara langsung padamu seperti dulu. Jika dulu kau tak meresponku dan aku tetap bahagia, dan sekarang aku lebih bahagia karena kau telah meresponku".


"Tetap saja, aku ingin melihat dan mendengarnya. Apalagi itu adalah episode-episode terakhir dalam vidio-vidio ini".


Hans menatap Arindra tanpa kedip, dan menyatukan jemari mereka.


"Itu bukan episode terakhir, justru itu adalah awalan dari episode-episode indah yang akan kita jalani ke depannya".


"Hehe kau benar-benar pandai memanfaatkan kelemahan wanita". Hans bergeser dan menyenderkan tubuhnya, meraih kepala Arindra dan disandarkan di pundaknya.


"Emang apa kelemahan seorang wanita, bukankah kau wanita kuat hemm".


"Sekuat-kuatnya wanita jika terus dikejar dan diberi kata-kata yang menyentuh, maka hatinya akan tergerak. Karena wanita lebih menggunakan rasa daripada akalnya.


Kelemahan wanita terletak pada indra pendengarannya, makanya jika kau terus sirami hatinya dengan kata-kata rayuan dengan mudah banyak wanita takluk pada mahluk bernama pria.


Sedangkan pria kelemahannya ada pada ***********, karena nafsunya lebih besar dari akalnya jika tidak mampu mengendalikannya".


"Jadi kau sekarang luluh padaku, dan sudah mencintaiku humaira?". Hans meraih wajah Arindra dan mereka saling tatap. Hembusan nafas masing-masing terasa di indra perasa.


"Sedikit banyak ia, meski aku belum bisa bilang aku mencintaimu. Bukankah kau pernah bilang akan melamarku dan menikahiku secara layak. Sungguh aku menunggu momen itu".


"Benarkah, aku akan melakukan persiapan segera kalo begitu. Aku akan buat lebih meriah dari pernikahanku sebelumnya, itu janjiku".


"Tidak, aku tak ingin meriah, aku ingin sederhana tapi berkesan. Aku tau, kau memiliki beribu cara untuk melakukan permintaanku".


"Baiklah, aku akan lakukan sesuai permintaanmu. Lalu bolehkan sekarang aku meminta hadiahku?".


"Hemm hadiah apa?".


"Bismillah..."


Hans tak lagi bisa menunda ingin menyecap bibir mungil Arindra yang menari-nari di depannya sejak tadi. Namun gerakannya kalah cepat, dengan Arindra yang meraih bantal dan membawanya ke wajah Hans.


Jadilah Hans mencium bantal membuat Arindra tertawa.


"Kau nakal sekali ya..."


Hans memeluk Arindra erat dari belakang saat Arindra hendak turun dari kasur. Lalu mendudukkannya kembali, ia pun meletakkan kepalanya di paha istrinya itu.


"Udah tadi kan pulang dulu, sekalian ngambil baju ganti buat seminggu ke depan di sini".


"Bagaimana reaksi Syara, saat tahu dirimu menginap selama seminggu di sini?".


"Dia cemburu, tapi tak mencegahku seperti dulu. Iya masih sama menangis, saat aku tinggalkan, tapi kemudian ia menyuruhku untuk menemuimu, meski air matanya keluar tapi ia juga tersenyum dan berkata ia senang akhirnya dirimu bisa menerimaku".


"Suatu sikap yang wajar, karena dia sangat mencintaimu. Lalu Hana dan Jack?".


"Hana masih di rumah menemani Syara, tapi Jack sejak hari pemakaman Daddy ia tidak pernah muncul. Aku tak tau ia di mana, karena aku tak menghubunginya. Apakah masih ada rasa di hatimu untuknya?".


"Masih..."


"Apa?".


"Hehee rasa sebagai seorang kakak, bukan kekasih ataupun seorang yang mencintainya".


"Terima kasih, aku lega mendengarnya. Bagaimanapun aku khawatir, ia kembali dan mengatakan untuk merebutmu dariku".


"Tenanglah, seperti dirimu yang tak lelah untuk mendapatkan hatiku. Maka aku juga takkan lelah untuk belajar mencintaimu".


"Uwhhh romantisnya humairaku ini, kau tau jejak langkahku semakin ringan saat kau memintaku untuk datang dan menginap. Senyum tak lepas dari bibirku, sebagai pancaran dari hatiku yanh sedang bahagia.


Sungguh momen-momen yang dulu kubayangkan satu persatu menjadi kenyataan. Tidur berdua di kasur yang sama, saling menatap dengan tatapan cinta.


Bangun bersama menikmati syahdunya ibadah malam. Melihatmu menyiapkan kebutuhanku, sarapanku dan mencium keningmu di pagi dan malam hari.


Saling mengucapkan kata-kata cinta, adalah momen indah yang selalu kubayangkan. Jika dulu kehadiranmu meskipun koma, membuat hatiku berbunga, apalagi saat ini tak hanya bunga-bunga yang tumbuh di hatiku. Tapi juga, tumbuh merona di wajahku tanpa diminta, tanpa mampu ku tolak".


"Hehee, kau benar-benar perayu ulung Hansel Wijaya, tapi aku menyukainya. Jika dulu aku menutup mata saat bertemu denganmu, karena wajahmu yang mengingatkanku pada peristiwa itu.


Tapi di sisi lain saat aku memejamkan mata, aku merasa mengenal dan merindukan suaramu. Namun semua rasa itu selalu kutepis, bagiku dulu kau adalah seseorang yang kubenci.


Sehingga aku menekan kuat kerinduan akan suaramu. Perhatian, kasih sayang, cinta dan tak pantang menyerah dari seorang Jack akhirnya membuka rongga-rongga di hatiku, dan pada akhirnya aku katakan dulu aku mencintainya".


"Dulu kau merindukan suaraku?"


"Iya, kau ingat saat pertemuan kita pertama kalinya di apartemen. Aku yang pura-pura gila, tapi kemudian terdiam saat kau memeluk dan berkata-kata lembut sambil menangis.


Aku tak tau tiba-tiba tubuhku membeku begitu saja, suaramu begitu ku kenal namun saat melihat wajahmu aku menepisnya. Tapi sekarang aku tau, mengapa dulu aku sering merindukan suaramu, karena ternyata kaulah yang menemani hariku dalam koma.


Perlakuanmu yang ditunjukkan di vidio-vidio itu membuatku sadar, jika selama ini ada orang yang sangat aku rindukan begitu kuat yaitu dirimu habibiku".


############


Alhamdulillah chapter 119 done


Yuk dikepoin karya terbaruku


Cinta Dalam Gelap


Mulai hari ini siap untuk memenuhi pustaka baca kalian.


Mainkan jari jemari kalian untuk meninggalkan jejak pada setiap bab yang dibaca...salam hangat dan cinta, salam semangat untuk terus berkarya...


❤❤❤❤❤❤❤