ARINDRA

ARINDRA
Chapter 60



Semua mata memandang Arindra yang memancarkan wajah semangat dan tak menunjukkan rasa takut.


"Baiklah, kalo begitu ini menjadi bagian rencana awal kita menghadapi Wijaya. Aku akan mencari sosok yang akan berkolaborasi dengan Kakak"


Ucap Alex yang menyetujui rencana Arindra.


"Paman, apakah ini baik menurut paman?"


Jack yang masih khawatir, meminta pendapat Paman James.


"Dari semua rencana yang sudah kita susun sejauh ini. Rencana Arindra adalah rencana yang paling mungkin untuk bisa mendapatkan hasil. Meski mungkin tak banyak memberi efek kejut, tapi ini akan menjadi awal pengingat bahwa ada banyak orang-orang seperti kita yang tak lelah mencoba menghadapi kekuasaan Wijaya"


"Bagaimana nantinya dengan kerjasama perusahaan Paman, apakah akan berdampak?"


Jack yang berpengalaman dalam menangani sebuah perusahaan, bertanya pada Paman James.


"Kita sudah hampir menyelesaikan pembangunan hingga 60%, artinya jika itu sudah dilaksanakan maka sesuai perjanjian tertulis mereka tak bisa membatalkan kerjasama, karena semua beban kerugian materil dan non materil akan menjadi tanggungjawab perusahaan Wijaya. Jelas ini akan merugikan perusahaan dengan jumlah nominal yang tidak sedikit"


"Berapa persen dan waktu yang dibutuhkan jika harus masuk tahap pembangunan 60% Paman?"


Tanya Alex yang memahami posisi perusahaannya yang jauh di bawah perusahaan Wijaya Group.


"Satu minggu, untuk 10 % menyelesaikan pembangunan menuju 60 %"


"Kurasa waktu ini cukup untuk mencari sosok yang diminta Kak Arindra, sekaligus mempersiapkan kondisi psikis dan fisiknya. Kita akan bagi tugas kalau begitu. Bagaimana menurut Paman dan Kak Jack"


"Baiklah, Kakak akan bersama Arindra untuk terus memantau kondisinya sekaligus menjaga keamanan sekaligus mempersiapkan skrip untuk pembahasan konten. Alex membantu paman menjalankan perusahaan di sini, karena tak mungkin Paman akan meninggalkan perusahaan yang ada di sana selama berbulan-bulan. Jenny kau bertugas dibantu Alex mencari soutuber itu. Dan kita akan saling berkoordinasi satu sama lain, bagaimana?"


"Mengapa tidak aku saja yang menjaga Kakak, kau mengambil keuntungan bukan?"


Tanya Alex dengan gaya sedikit meledek, dibalas tatapan tajam seorang Jack. Membuat Paman dan Jenny tertawa.


"Maksudmu keuntungan apa Lex?"


Tanya Arindra yang tak mengerti arah pembicaraan dua pria itu.


"Ahh tidak kak, aku hanya sedang bercanda. Kurasa aroma cinta sedang menguar di ruangan ini"


Ucap Alex sembari terkekeh, diikuti senyum Jenny dan Paman. Jack yang tahu dirinya menjadi sasaran, melempar bantal sofa pada Alex.


"Kalian kenapa?"


Tanya Arindra yang juga tersenyum melihat tingkah mereka, ia melirik Jack bertanya lewat matanya.


"Tidak apa-apa, dia hanya sedang bahagia karena selama ini sudah jarang berduaan dengan Jenny"


Kilah Jack dengan wajah sok coolnya.


"Ketika fakta jadi tak nyata, beginilah akhirnya"


Jenny ikut menimpali dan kemudian berlari ke arah Alex menuju dapur.


Kita tinggalkan dulu Arindra the geng guys. Kita alihkan pada scane yang lain ya 😁😁😁


"Tuan, sepertinya tuan muda mencoba tes DNA wanita itu, saya melihat beberapa orang suruhan Tuan Muda membongkar makam Arindra tadi pagi, dan Tuan Muda juga sedang mencari informasi wanita yang ditemuinya di kafe"


"Anak itu"


Geram Tuan Wijaya saat mendengar laporan anak buahnya.


"Kau tau apa yang harus kau lakukan pada tes DNA itu bukan, dan laporan apa yang harus kau berikan pada Hans tentang wanita itu"


"Saya tahu Tuan, tapi saya butuh sampel asli untuk menyamakannya"


"Kau hubungi nomor ini, untuk masalah sampel"


"Baik Tuan"


Tuan Wijaya menutup telponnya, ia melihat wajah Suster Hani yang tertunduk.


"Kau gagal?"


Tanya Tuan Wijaya dengan wajah dinginnya.


"Maafkan saya Tuan"


"Kau tahu resiko jika gagal melaksanakan tugas"


"Aku memaafkanmu kali ini, tapi jika gagal bukan hanya nyawamu yang kau pertaruhkan di sini"


"Saya mengerti Tuan, bagaimana dengan Jhon dan Dea Tuan"


"Kau belum membunuhnya?"


"Belum Tuan"


"Sudah berapa lama kau bekerja denganku, mengapa hal seperti ini saja masih kau tanyakan. Tak ada ampun bagi pengkhianat untuk seorang Wijaya"


Bentak Tuan Wijaya pada Suster Hani, membuat Suster Hani gugup.


"Ba-baik Tuan, maafkan saya, saya permisi"


Suster Hani segera keluar dari gedung rahasia milik Wijaya. Ia menelpon seseorang,


"Bunuh pelaku yang telah gagal menjalankan tugas"


"Baik Nyonya"


Jawab seseorang di sebrang sana. Suster Hani membawa mobil menuju gudang tempat dimana dokter Dea dan Jhon berada. Sesampainya di sana, ia melihat dua mantan rekan kerjanya itu dalam kondisi mengenaskan. Tubuh dokter Dea dan Jhon dipenuhi luka, bukan hanya luka pukulan namun beberapa luka tembak di kaki dan tangan.


"Kau akan mendapatkan karmamu"


Lirih dokter Dea melihat Suster Hani dengan samar.


"Kalian bodoh, mempertaruhnya kemewahan yang kalian dapat hanya demi gadis bodoh yang tak tau apa-apa"


Suster Hani selanjutnya melirik ke arah anak buah yang dulu merupakan anak buah Jhon. Mereka mengerti apa yang diperintahkan majikan baru mereka itu.


"Dor...dor"


Dua tembakan telah menghilangkan nyawa Jhon dan dokter Dea.


"Buang ke laut"


Ucap Suster Hani kemudian keluar gedung tua itu menuju rumah sakit.


###############


Hans sedang duduk di meja kerjanya, ia sudah menerima fax tentang sosok wanita yang ditemuinya di kafe.


"Arindra Adam Smith, usia 35 thn, tinggal selama ini di Amerika, dan baru kembali ke singapura beberapa bulan yang lalu sebelum datang ke Indonesia. Tujuan datang untuk mengelola perusahaan Adam yang di Indonesia"


Hanya itu informasi yang diberikan oleh orang yang diperintahkannya. Hans menatap foto dan kemudian memutar vidio itu berulang-ulang.


"*Arindra, a*pakah kau menjadi sosok yang baru, menjadi sosok Arindra adam smith ataukah sebenarnya kau bukan Arindraku. Ya Robbku, mengapa hatiku bimbang begini di saat Syara dan aku sudah memiliki kehidupan yang bahagia saat ini. Jika dia bukan Arindraku, apakah Engkau sengaja munculkan dia di hadapanku untuk aku selalu mengenangnya"


Hans menyandarkan tubuhnya pada kursi, memejamkan mata berharap ia mendapatkan jawaban atas pertanyaan di hatinya. Sampai ketukan pintu tak membuatnya membuka mata.


Aldo masuk melihat bossnya sedang memejamkan mata, ia tahu Hans sedang banyak fikiran jika ia terlihat seperti itu.


"Boss, ini laporan keuangan untuk proses pencairan pembangunan property Teluk Jakarta"


Aldo menyerahkan dokumen pada Hans di meja kerjanya. Dan sebuah pesan tertulis di kertas oleh Aldo. Ia membaca tulisan itu, sedang Aldo memperhatikannya.


"Shitt, pantas saja semua pergerakan kita terbaca oleh Daddy"


Hans meremas kertas itu dengan wajah marah, namun bersuara lirih


"Maaf, aku juga baru mengetahuinya kemarin. Tak hanya milikmu, hanphoneku juga di retas, bahkan ada kamera tersembunyi di ruangan ini dan ruanganku"


Ucap Aldo bersuara tak kalah lirih dari Hans.


Hans tau, semua itu ulah Daddynya. Membuat ia semakin curiga pada Daddynya itu. Apalagi sejak ia tak pernah melihat lagi Jhon, si tangan kanan dan Dokter Dea yang biasanya selalu ada saja alasan untuk bertemu Daddynya. Hatinya mengatakan jika Arindra Adam Smith adalah Arindranya.


###############


Alhamdulillah chapter 60 done.


Huffp Tak menyangka penulis bisa sampai tahap chapter 60. Doakan semua reader agar author tetap semangat upnya. Dan jangan lupa tinggalkan jejak ya love you semuaa


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤