
"Aku ingin menemui Suster Hani, bagaimana menurut Paman?"
Arindra bertanya pada Paman James, mereka sedang duduk dibangku taman.
"Untuk apa?"
"Aku ingin melihat reaksinya saat melihatku, bukankah menurut Alex dia adalah suster yang dulu ikut menangani operasiku. Dan aku ingin menyampaikan sesatu untuknya"
"Kau yakin bisa mempengaruhinya dengan mengubah diamnya menjadi bicara. Kau sangat tau, Suster Hani orang sangat setia pada Tuan Wijaya"
"Aku akan mengambil kemungkinan-kemungkinan meski kecil sekalipun tingkat keberhasilannya. Aku ingin segera bisa fokus untuk bertemu dengan putraku"
"Kau jangan gegabah, bagaimanapun Wijaya belumlah terlalu jatuh. Kekuasaannya masih cukup untuk berbuat banyak, keselamatanmu tetap jadi yang utama. Kau paham itu, bicarakan ini dengan Jack meskipun hubungan kalian akhir-akhir ini kurang baik.
Tapi bagaimanapun dia dokter yang sangat tau kondisi kesehatanmu. Dia sangat mengkhawatirkanmu, kulihat dia benar-benar mencintaimu. Sudah lama Paman tidak melihat sosok Jack seperti ini, dia tipe setia itu yang Paman tau jika menyangkut tentang wanita".
"Aku hanya ingin fokus pada tujuan awalku Paman, aku tidak ingin fokusku terbagi oleh hal-hal seperti ini"
"Paman sangat mengerti keadaanmu nak, tapi tak ada salahnya kau membahagiakan hatimu. Kau berhak mendapatkan kebahagiaan setelah apa yang kau lewati selama ini.
Kita memang perlu fokus, tapi ingat kebahagiaan diri kita juga harus diperhatikan. Biarlah hatimu yang menentukan, jangan paksa hati karena keadaan. Hatimu milikmu, biarlah hati menuntunmu menemukan rasamu sendiri"
"Iya Paman, terima kasih nasehatnya. Maafkan Arin Paman, jika masalah hati, saat ini Arin tidak berada pada titik di mana Arin harus memilih"
Paman James tersenyum mendengar ucapan Arindra. Sosok yang Paman James tak menyangka, bisa memiliki sikap di luar bayangannya. Arindra tak mengalah pada rasa sakit, tak jua tergoda dengan rayuan. Sosok Arindra begitu matang dan cerdas, dalam menentukan setiap langkah yang akan ditempuhnya.
"Jadi apakah kau punya senjata rahasia untuk membuat Suster Hani bicara"
"Iya Paman, seperti kita Suster Hani juga punya kelemahan. Aku akan memanfaatkan itu untuk membuat hatinya goyah. Berhasil atau belum berhasil, yang harus aku lakukan adalah mencoba dan terus mencoba, hingga tujuanku tercapai"
"Baiklah, apa senjata rahasianya setidaknya Paman bisa membantumu dalam menjalankan aksimu"
Arindra lalu menceritakan senjata rahasia yang dia maksud, beserta bukti-bukti yang kini sudah ada di tangannya.
"Baiklah jika begitu, tapi Paman minta kau tidak sendirian ke sana. Bawalah Jack untuk menemanimu, dari semua laki-laki yang ada di sini. Dia yang paling bisa diandalkan untuk menjagamu"
"Baiklah, tapi aku juga akan membawa serta Jenny. Bagaimanapun aku tidak ingin hanya berdua dengan Kak Jack"
"Iya lakukanlah, jangan lupa bawa pengawal. Paman akan bilang pada Tuan Hans mengenai rencanamu"
"Baiklah Paman, terima kasih. Aku pergi dulu untuk mempersiapkan segala sesuatunya"
"Hati-hati"
Arindra pergi meninggalkan Paman seorang diri di taman.
############
Arindra, Jack dan Jenny beserta empat pengawal bersiap pergi ke lapas. Dio dan Alex ditugaskan untuk kembali membuat konten tentang perkembangan kasus Suster Hani. Paman James sedang fokus pada proses penuntutan dana pada perusahaan Wijaya.
Karena Wijaya memaksanya untuk melanjutkan proyek Teluk Jakarta, meski pemerintah setempat sudah menghentikannya.
############
"Tuan wanita itu ke luar, hanya didampingi oleh empat pengawal dan dokter itu. Jadi bagaimana Tuan, apakah kami melakukan aksi hari ini ataukah nanti. Mengingat wanita itu juga selalu dijaga ketat oleh Tuan Muda"
"Biarkan dia jadi urusanku, ke mana dia pergi?"
"Kami sedang mengikutinya di belakang Tuan"
"Bagus, laporkan padaku saat kau tau kemana wanita itu pergi"
"Baik Tuan"
"Kau membuat anakku melawanku, kau akan kubuat lebih tersiksa karena sudah menganggu hubungan keluarga Wijaya"
Tak berselang lama, Tuan Wijaya mendapatkan informasi jika Arindra berada di lapas tempat Suster Hani ditahan.
"Saatnya permainan berakhir, wanita sialan"
Lalu ia menelpon seseorang, kemudian Tuan Wijaya menatap foto Arindra dan membakarnya.
##############
Sedangkan Arindra, Jack dan Jenny sudah berada di lapas. Arindra diminta mendaftarkan diri sebelum menemui tahanan. Maka Arindra mendaftarkan dirinya, setelah itu ia diminta menunggu di ruangan yang sudah disediakan, dan petugas melarang siapapun menemaninya.
Jack mencium aroma yang kurang baik dari gelagat Petugas. Ia meminta Arindra untuk bicara padanya sebelum Arindra mengikuti arahan dari petugas. Jack melihat keadaan sekitar, dia beberapa kali menemukan ada orang-orang yang mencurigakan di sekitar lapas.
"Kali ini kumohon, jangan keras kepala. Kita Pulang, dan pelajari peraturan yang benar dalam kunjungan ke lapas di sini seperti apa. Kita sama-sama buta akan aturan main di sini, aku akan segera menyiapkan pengacara. Jadi ku mohon ikutlah denganku, kita pulang dulu.
Sejak keluar dari rumah aman, kau tau kita sudah diikuti. Aku yakin, Wijaya sudah merencanakan sesuatu padamu di sini. Lihat, dengan mudahnya mereka kabulkan dirimu bertemu Suster Hani, tapi tak boleh ada yang ikut mendampingimu. Apakah kau yakin, akan dibawa bertemu dengan Suster Hani bukan yang lain?"
"Aku tau kekhawatiran Kakak, aku datang ke sini dengan penuh resiko. Maafkan aku jika aku tak mengikuti Kakak kali ini"
"Kau ingin mati konyol sebelum tujuanmu tercapai, lihat, lihat.."
Jack menunjuk orang-orang yang mencurigakan, yang memperhatikan mereka sejak tadi.
"Bahkan seorang OB pun, begitu memperhatikan dirimu. Tidakkah kau mencurigainya?"
"Mereka sedang melakukan tugasnya, dan Aku melakukan tugasku"
Arindra hendak melangkah pergi, tapi dihalangi oleh Jack.
"Dengarkan Aku ku mohon sekali ini saja. Aku tau kau berani, aku tau kau cerdas dan penuh perhitungan. Tapi perhitunganmu kali ini terlalu beresiko, tolonglah aku melakukan ini bukan hanya karena cinta, tapi ingat Kau belum bertemu anakmu. Maka kau butuh perhitungan yang matang"
Arindra terdiam, ia kembali melihat sekeliling keadaan lapas. Ada banyak orang yang langsung tertunduk saat arah pandangnya menatap mereka. Ia melihat Jenny yang sudah gusar, tatapan mata petugas pada Jenny terlihat lapar.
Arindra melihat pengawal, dan bicara padanya meminta pertimbangan dan pengetahuannya tentang lapas. Setelah itu ia mengerti, dan menuju Petugas.
"Silahkan ikut kami Nona Arindra"
Ucap Petugas itu menunjuk salah satu Petugas lain untuk mengantar Arindra.
"Ayo Nona, Saya antar ke ruangan tahanan tunggu"
Petugas satu lagi mempersilahkan Arindra untuk berjalan. Jack dan Jenny yang melihatnya cemas. Apalagi saat Arindra mulai melangkahkan kaki ke dalam membuatnya menelpon Paman James meminta bantuan.
"Kenapa dia ceroboh sekali"
Gerutu Jack, ia berusaha meminta Petugas untuk membiarkannya masuk, ia menunjukkan kartu dokter dan mengatakan riwayat kesehatan pasien yang selalu membutuhkan dirinya untuk disampingnya.
Namun permintaannya ditolak petugas, sedangkan Arindra sudah berjalan dengan seorang Petugas memasuki lorong-lorong yang berada di Lapas itu. Matanya terus memperhatikan kondisi sekitar, di mana lapas begitu sunyi.
###################
Alhamdulillah Chapter 85 done
Kuylah
Di
vote, like, komen, share, poin, follow Lesta Lestari.....yang buanyak ya hehee😆❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤