
Hans dan Syara keluar setelah berganti pakaian menemui Abi, Umi Hasan, dan Hana yang sedang berbincang di ruang keluarga.
Mereka duduk berdampingan, dengan saling mengenggam tangan. Hana dan kedua orang tua Syara hanya tersenyum melihat pasangan suami istri itu.
"Sepertinya mulai sekarang, Hana bisa tenang melihat kakak seperti ini"
Hana melirik Kakaknya, yang dilirik senyum-senyum saja.
"Tenang saja Han, dia sudah jinak"
Syara menimpali ucapan Hana.
"Bagaimana selanjutnya rencana kalian Nak, tinggal disini ataukah kembali bersama suamimu?"
Abi Hasan melontarkan pertanyaan yang membuat Umi Hasan geleng-geleng kepala.
"Abi ini lho, kenapa menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya"
"Abi hanya memastikan umi, bagaimanapun Abi tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi"
Hans menghela nafas, dan melihat sekelilingnya.
"Hans tau Abi, jika Hans bukan laki-laki yang baik. Hans sadar selama ini banyak menyakiti Syara, beri Hans kesempatan Abi sekali lagi untuk berada di sampingnya. Berusaha membuat anak kesayangan Abi dan Umi bahagia. Hans tidak bisa berjanji, tapi Hans akan melakukan yang terbaik untuk itu"
"Kakak yakin, tidak akan ada Arindra-Arindra yang lain, atau Karina-Karina yang lain"
Syara menatap lekat suaminya itu, yang tersenyum mendengar perkataannya.
"Kau cemburu pada Karina?"
"Siapa yang tak cemburu Kak, jika diselingkuhi"
Ucapan Syara membuat Hana dan Hans tertawa, membuat Abi, Umi Hasan dan Syara menatap mereka dengan tatapan penuh tanya.
"Tenang aja Ra, Karina itu tak pernah lagi berhubungan dengan Kak Hans. Sejak putus, itu sudah lama sekali Ra"
Ucap Hana memegang tangan Syara.
"Tapi kata Aldo waktu itu..."
"Aldo hanya mencoba membuatmu cemburu sayang, Karina sudah tak berani mengangguku karena kau tau. Daddy begitu menyeramkan hingga membuatnya menyerah"
Ucap Hans, diangguki oleh Hana.
"Tenang saja"
Ucapnya lagi pada sahabatnya itu.
"Benarkah, jadi Aldo mengerjaiku selama ini"
"Benar"
Ucap Hans dan Hana hampir bersamaan.
"Ahhh benar-benar Aldo, mengapa sifatnya begitu mirip denganmu Han. Jail sekali"
Membuat semuanya tertawa melihat wajah cemberut Syara.
"Ya sudah, mari kita makan kalian pasti laparkan. Umi sudah masak yang banyak untuk kalian, ayo"
Semua pun makan siang, dan setelah itu Hana pamitan. Tak lupa, Syara dan Hans menitipkan Fattah pada Hana, diangguki Hana dengan senang. Sedangkan Hans kemudian mengikuti kegiatan Abi Hasan, di Pesantren.
"Kamu bahagia nak, kamu tak menyesal dengan Hans?"
Tanya Umi Hasan pada Syara yang berbaring di pangkuannya.
"Tidak Umi, Syara bahagia dengan Kak Hans. Di hati Ara saat ini, hanya ada Kak Hans seorang"
Umi Hasan membelai kepala Syara yang tertutupi jilbab itu.
"Bagaimana dengan Afdan, kau dulu meminta Umi agar ia menunggumu?"
Syara kaget, ia lupa pernah mengatakan itu pada Uminya saat hendak pergi ke rumah Hans.
"Maafkan Ara, Umi. Umi tau jawaban Ara kan"
Syara menatap Uminya dengan tatapan memohon.
"Umi mengerti sayang, jadi tidak akan marah jika Afdan Umi jodohkan dengan yang lain"
"Tidak Umi, lakukan saja. Syara merasa bersalah pada Afdan, dan Syara harap ia menemukan wanita yang baik kelak"
"Bagaimana jika Hana sayang, apakah kau setuju?"
"Hana?"
Umi mengangguk
"Tapi Syara tidak yakin akan Kak Hans dan kedua orang tuanya. Setahu Syara, Kak Hans sering mengatakan jika Hana akan dinikahkan dengan Aldo asistennya"
"Syara tidak tau Umi, selama ini Hana tak lagi banyak cerita mengenai ini. Tapi nanti Syara tanyakan dulu pada Kak Hans, kita lihat bagaimana responnya"
"Baiklah, ini sudah mau Ashar, yuk kita siap-siap. Mau sholat di masjid pesantren apa mau di rumah"
"Ke masjid aja Mi, dah kangen juga sholat bareng anak-anak"
Umi dan Syara akhirnya sholat di masjid pesantren. Banyak yang bahagia melihat kedatangan Syara, anak-anak perempuan bergerombol untuk salaman padanya. Syara selama ini meski jarang pulang, tapi memiliki tempat tersendiri di hati anak-anak.
Di sisi lain ada sosok laki-laki yang melihat itu, ia tersenyum laki-laki itu adalah Afdan.
Kumandang adzhan dilantunkan dengan merdu, suasana riuh berubah menjadi hening. Masing-masing insan mendengarkan dengan hidmat seruan Allah yang menggetarkan hati orang-orang beriman.
Satu persatu, mereka menunaikan sholat sunnah, sebelum sholat wajib ditunaikan. Tak ada lagi obrolan, hanya doa-doa dan lantunan ayat-ayat suci yang terdengar hingga kembali sunyi saat iqamah dan sholat mulai ditunaikan.
Syara dan Uminya bercengkrama dengan para musrifah di sana. Sedangkan Hans sedang serius berbicara dengan Afdan.
"Maafkan saya dulu pernah memukulmu"
Hans memulai pembicaraan dengan Afdan, setelah jabat tangan dan rangkulan persahabatan.
"Tak apa akhi, maafkan ana juga yang sudah emosi saat itu. Ana masih terbawa rasa kecewa yang besar. Tapi sekarang melihat kalian bahagia, ana senang Insyaa Allah Ana ikhlas sekarang"
"Benarkah, bukankah anda begitu mencintainya?"
Tanya Hans yang tak menyangka, dengan apa yang didengar. Afdan menepuk pundak Hans dan tersenyum.
"Ana hanya yakin akan ketentuan Sang Khaliq, yang tak pernah salah memberikan rejeki termasuk jodoh pada hamba-hambaNya. Allah tau yang terbaik untuk Syara, begitu juga ana"
"Sungguh perkataan anda membuat saya sangat terharu, saya merasa malu atas semua yang telah saya lakukan dulu"
"Yang penting saat ini, akhi menyadarinya dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu. Oh ya ana dengan kalian sudah memiliki seorang putra. Benarkah?"
Hans lagi-lagi terkejut mendengar Afdan tahu tentang Fattah.
"Iya, alhamdulillah, darimana anda tahu jika kami sudah memiliki anak?"
"Semua orang di sini bahagia, menyambut bayi Fattah yang lucu. Dia sangat menggemaskan. Ana hanya tidak menyangka, Allah menghadirkan buah hati diantara kalian sebagai penguat cinta"
"Sudah pernah bertemu dengan Fattah?"
"Apakah akhi tidak tahu jika Fattah pernah dibawa kesini?"
"Ohh mungkin saya lupa, maaf banyak pekerjaan akhir-akhir ini"
"Ana mengerti, seorang CEO perusahaan ternama di negeri ini pasti punya banyak pekerjaan. Umi dan Abi Hasan sangat bahagia, melihat cucu pertama mereka"
"Ahh ya, saya juga senang mendengarnya"
"Baiklah, kalau begitu ana permisi. Ada tugas yang harus ana selesaikan, assalamualaikum, sekali lagi ana ucapkan selamat berbahagia"
"Terima kasih, walaikumsalam warohmatullahu wabarokatuh"
Mereka berjabat tangan erat, hingga kemudian berpisah.
"Masih mau berkeliling pesantren dengan Abi?"
"Ehh Abi, iya Abi Hans mau"
"Ayok kalau begitu"
Abi dan Hans pun berjalan mengelilingi Pesantren yang cukup luas. Sedangkan Syara dan Umi setelah bercengkrama memutuskan pulang, melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Apakah kita akan memasak lagi Umi"
"Sepertinya masih banyak sayang, tinggal kita hangatkan saja. Mandilah, persiapkan saja dirimu untuk menyenangkan suamimu nak"
"Apaan sih Umi, bikin malu Syara aja"
"Umi juga pernah muda sayang"
"Maluu mi"
"Berikan haknya, jangan pernah ragu lagi. Jangan sampai ia mencari Arindra-arindra lagi ya"
"Iya Umi"
"Ya sudah, ayo kita beberes mumpung belum magrib, sebentar lagi Abi dan suamimu pulang"
"Iya Umi"
##############
Alhamdulillah chapter 52 done
❤❤❤❤❤❤❤