ARINDRA

ARINDRA
Chapter 82



Shania ingin mengajak kakaknya tinggal bersama, tapi dilarang oleh Jack the geng mengingat Wijaya masih mengincar mereka. Shania akhirnya mengalah, sering datang ke rumah aman demi bertemu sang Kakak, dan Shania mengundurkan diri dari perusahaan Jack.


Ia kini fokus mengelola kafe miliknya, demi selalu dekat dengan Arindra. Meski masih berpacaran dengan Aldo tapi Shania menolak jika diminta Hans membantunya lagi untuk dekat dengan Kakaknya.


Beberapa hari Hans dan Aldo juga tak muncul, namun kemudian terdengar kabar di media massa jika proyek Teluk Jakarta dihentikan akibat protes yang berkepanjangan dan diangkat menjadi tema diskusi oleh sebuah televisi swasta nasional. Apalagi setelah pejabat terkait mencabut IMB pembangunan properti, berakibat pembangunan dihentikan karena disegel pemerintah setempat.


"Lihat Kak, akhirnya rencana kita berhasil"


Dio yang selalu update tentang berita-berita memperlihatkan pada Arindra cs saat mereka sedang membahas rencana selanjutnya melawan Wijaya.


"Bagus, akhirnya perlahan namun pasti rencana kita menuai hasil"


Ucap Alex disambut senyum orang-orang yang ada di sana.


"Tak sia-sia kita, meski terkurung di apartemen dan di sini. Tapi kita masih bisa melawan Wijaya. Terima kasih Shania, sudah membantu kami" Ucap Jenny


"Aku akan bantu kalian, bagaimanapun kalian sudah membantu Kakakku" Ujar Shania tersenyum senang


"Ucapkan pada Zaki, rasa terima kasih kami atas bantuannya yang telah mengangkat isu Amdal naik ke permukaan dan menjadi pemberitaan" Ucap Paman James.


"Sama-sama Paman, Zaki mau melakukannya karena dia juga memiliki dendam pada Tuan Wijaya" Terang Shania


"Kenapa?" Tanya Arindra pada adiknya itu.


"Zaki dia adalah Kakak temanku, dia memiliki pacar bernama Karina yang ternyata Karina adalah mantan kekasih Kak Hans. Kak Hans yang kudengar dari Aldo sempat terpuruk setelah melakukan itu pada Kakak.


Ia mengurung diri di kamar, dan membuat Tuan Wijaya murka. Tuan Wijaya kemudian menyuruh orang-orangnya untuk..."


Shania melirik Arindra, sedangkan Arindra menatap penuh tanya.


"Untuk memerkosa Karina dan membuat Karina masuk rumah sakit jiwa"


"Sungguh kejam sekali Wijaya, tak hanya Kakakku yang dijadikan korban tapi ternyata banyak korban akibat sifat kejamnya itu"


Ujar Dio yang bergidik ngeri.


"Karena itulah tak banyak yang berani melawan Wijaya, hanya orang-orang yang berani saja yang mampu melakukannya. Seperti kita hehehe"


Ujar Alex disambut tawa yang lainnya.


"Kita tinggal menunggu kehancuran Wijaya, apa perlu kita serahkan bukti ini ke pihak berwajib, biar Wijaya segera masuk penjara"


Ucap Dio dengan semangat 45nya.


"Tunggu dulu, kita lihat dulu sejauh mana efek dari pemberhentian projek Teluk Jakarta ini pada perusahaan Wijaya. Meski Paman tahu mereka banyak mengalami kerugian materil, tapi kita tidak tahu tindakan Wijaya selanjutnya seperti apa" Terang Paman James.


Jack entah mengapa dia banyak diam, ia hanya tersenyum saat yang lain tersenyum. Matanya hanya menatap satu arah pada Arindra, yang benar-benar berusaha menghindarinya sejak kejadian itu.


"Arin..."


Panggil Jack setelah sekian lama diam, Arindra menoleh pada Jack.


Tanya Jack yang merasa takut kebersamaan dengan Arindra akan segera berakhir.


"Aku belum mencapai tujuanku Kak, ini juga masih terlalu awal meski rencana kita sudah berhasil. Hanya tinggal menunggu perkembangan kasusnya saja. Aku belum bertemu dengan anakku sampai saat ini"


Arindra tertunduk sedih, mengingat sudah cukup lama ia berada di Indonesia namun belum jua bertemu dengan Fattah, dan sampai kini mereka masih terkurung di rumah Hans.


"Bisakah aku tetap di sisimu, membantumu hingga kau bertemu dengan anakmu?"


Arindra menyandarkan tubuh dan kepalanya di sofa, kemudian memejamkan mata tanpa menjawab pertanyaan Jack. Melihat itu, Alex cs dan Shania hanya mengucapkan kata sabar pada Jack menghadapi sikap Arindra yang ternyata keras kepala.


##########


Wijaya menatap marah wajah putranya itu saat ini. Wijaya datang ke kantor Hans dan langsung memukul putra kesayangannya itu.


"Daddy selama ini sangat menyayangi kalian dengan mempertaruhkan segalanya. Tapi kau.." Tunjuk Wijaya pada Hans


"Menghancurkan keluargamu dengan tanganmu sendiri hah. Jika bukan karena kau putraku, sudah kuleyapkan kau dari dulu. Daddy beri kesempatan padamu untuk berubah kembali seperti Hans yang dulu, tindakanmu saat ini, Daddy anggap sebagai bentuk kelalaian saja. Tapi jika tidak, maka kau akan menanggung akibatnya, paham"


Bentak Tuan Wijaya pada Hans, Hans bangkit berdiri setelah menerima pukulan dan kemarahan Wijaya. Ia menatap wajah Daddynya itu tanpa rasa takut.


"Apa yang sudah Daddy lakukan di luar batas normal dan melanggar hukum. Sebagai anak, Hans hanya mengingatkan Daddy untuk tidak terus berada di jalan yang salah. Maaf jika cara Hans dalam mengingatkan Daddy dianggap salah. Yang Hans inginkan Daddy berubah dan kita bisa memulainya lagi dari awal"


"Bodoh, di saat semua orang mengharapkan posisi Daddy saat ini, anak Daddy sendiri menginginkan kebalikannya. Jangan harap Daddy mundur meski selangkah sekalipun, jika kau menghalangi Daddy maka kau akan bersiap kehilangan orang yang paling kau cintai. Dan kau tau, apa yang bisa Daddy lakukan pada wanita bodoh itu hah"


"Sedikit saja Daddy menyentuh Arindra, maka Daddy juga tau apa yang akan Hans lakukan pada perusahaan-perusahaan Daddy"


"Jangan pernah mengancam Daddy, karena ancamanmu sama sekali tidak berguna. Kau membuat Mommymu mengurung diri di kamar, jika terjadi apa-apa dengan Mommy dan perusahaan. Aku Wijaya takkan pernah segan-segan menumpasnya meski dia putraku sendiri"


"Sebegitu besar kesombongan, keserakahan yang Daddy miliki. Sebegitu besar Daddy mempertahankan nama baik, hingga Daddy hilang akal dengan menghalalkan segala cara, menghilangkan hati nurani dan rasa kemanusiaan"


"Kenapa, kau terkejut melihat Daddymu ternyata seorang ******** hah?"


"Hans hanya tidak menyangka Dad, Daddy yang dulu begitu Hans kagumi ternyata adalah seorang buaya ganas kelaparan, yang menyerang siapa saja demi mengenyangkan perutnya. Tidakkah Daddy merasa takut, meski sedikit saja terbersit di hati Daddy.


Ingat Allah Dad, Allah di atas segalanya, Allah yang Maha Kuasa. Kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki Daddy tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaan milik Allah. Sadarlah Dad, sebelum maut menjemput. Sadarlah, Hans dengan tangan terbuka mengandeng Daddy untuk kita sama-sama memulai dari awal dan memperbaiki semuanya"


"Persetan dengan itu, Daddy datang bukan untuk mendengar ceramahmu. Daddy datang untuk memperingatkanmu dan memerintahkan padamu, lanjutkan pembangunan projek Teluk Jakarta. Tak peduli itu dicabut ijinnya atau tidak. Lanjutkan, karena Daddy akan menyelesaikan dengan cara Daddy agar pembangunan itu terus berlanjut"


"Jangan lagi mengotori tangan Daddy dengan darah, jangan lagi tumpahkan darah orang-orang tak berdosa Dad. Allah akan murka, jika Daddy terus menerus seperti ini"


"Persetan dengan itu, bilang pada perusahaan Adam, lanjutkan pembangunan atau kematian"


Tuan Wijaya membanting pintu saat keluar, membuat Aldo dan Citra yang sejak tadi berdiri di dekat pintu terhenyak. Aldo masuk menemui bossnya itu, Hans terlihat sedang tertunduk dan menangis.


###########


Alhamdulillah chapter 82 done