ARINDRA

ARINDRA
Chapter 104



Adzan dzuhur berkumandang, Hans dan Aldo pun bergegas ke masjid. Sedangkan para wanita berjama'ah di rumah.


Makan pun sudah siap di teras belakang, Syara, Hana dan Shania sudah duduk menanti kedatangan Hans dan Aldo. Sedangkan Arindra sedang menggendong Fattah yang sudah terbangun dari tidurnya. Memberi asi kembali pada anaknya itu. Setelah itu membawanya ke teras belakang berkumpul bersama.


"Fattah biar sama aku aja Mbak, Mbak makan aja"


"G pa-pa Ra, aku bisa makan sambil gendong Fattah kok".


"Letakkan aja Mbak di kereta bayinya, Insyaa Allah dia anteng, sebentar Hana ambilkan di mobil". Hanapun berlalu ke depan mengambil kereta bayi.


Aldo dan Hanspun sudah kembali dari masjid.


"Cari apa Hana?" Tanya Hans


"Ngambil keretanya Fattah Kak"


"Sini biar kakak yang bawa"


Hana mengangguk lalu membawa mainan yang ada di mobil dan masuk ke dalam, sedangkan Hans dan Aldo masuk bersamaan langsung ke teras belakang. Hans yang melihat Arindra menggendong Fattah pun meletakkan kereta bayi itu di dekatnya.


"Makasih Ayah". Ucap Arindra membuat hati Hans berbunga-bunga, senyum tak lepas dari bibirnya. Arindra meletakkan Fattah di keretanya dan memberi mainan. Ia mencium anaknya gemas.


"Sayang tenang di sini ya, kami semua mau makan. Dede kan sudah kenyang ya, oke baby anak sholeh".


Fattah tersenyum, Hans mengulurkan tangannya pada Arindra. Membuat yang lain menatap mereka berdua, sedangkan Syara tertunduk.


"Apa?" Tanya Arindra pura-pura tak tau maksud Hans.


"Salaman kan aku baru pulang dari masjid".


"Bundanya Fattah dulu sana, aku mau berduan aja ma Fattah, ya kan sayang".


Arindra menjawil pipi anaknya, tanpa memedulikan wajah Hans yang kesal.


Lalu dia duduk di samping Syara, Syara mengambil tangan Hans dan mencium punggung tangannya.


"Sabar bro, sabar". Bisik Aldo pada Hans.


"Udah yuk makan, kelamaan nih makananya dianggurin". Shania pun membagikan piring pada masing-masing orang.


Syara mengambilkan makanan untuk Hans, sedangkan Hans melirik Arindra yang asik bermain dengan anaknya.


"Oh ya Do, kapan ngelamar Shania?".


Tanya Arindra membuat Shania tersedak.


"Kak, kenapa jadi tiba-tiba ngomongin Shania sih?"


"Memangnya kenapa, mumpung semua kumpul jadi bisa denger komitmen kalian. Ini rambut juga masih aja berseliweran, aurat ini sayang". Ucap Arindra yang membuat Shania kesal.


"Heh, jiwa ustadzah keluar lagi nih. Topiknya g ganti-ganti lagi, itu mulu yang dibahas dari dulu".


"Do, emang kamu mau nanggung dosa istri gegara istrimu memperlihatkan auratnya terus?".


"G mau sih Mbak, pinginnya sih yang tertutup gitu". Aldo tersenyum melihat Shania yang kesal, sedangkan yang lain tersenyum.


"Ya udah, kalo Shania g mau nurut cari aja yang lain Do". Ucap Arindra yang meledek adeknya.


"Kakaak, mulai deh". Ucap Shania tak terima usul Arindra.


"Gimanapun dia kan cinta sama Aldo, masak disuruh cari lainnya sih". Gumam Shania.


"Siap Mbak, kalo dia bulan ini tetap g mau juga dinikahin, mending aku cari yang lain. Toh ada Hana yang masih jomblo". Ucap Aldo tanpa rasa bersalah, sedangkan Shania sudah menatapnya kesal.


"Kok aku jadi yang dibawa-bawa sih". Ucap Hana tak terima.


"Iyalah, orang kamu yang Jomblo saat ini, wajarlah kalo diledekin terus". Ucap Hans meledek adiknya.


"Gimana Shan, mau nikah g bulan ini sama Aldo. Dari pada Aldo jadi jodoh Hana gimana?". Arindra memanas-manasi Shania, sedangkan Hana hanya geleng-geleng kepala karena namanya diikutsertakan.


"Nasip Jomblo, abis deh di buli" . Pikir Hana.


"Ya udah oke, tapi beneran nikah jangan php".


Ucap Shania akhirnya menyerah.


Ucap mereka serempak sambil tertawa.


"Nah gitu dong, terus jilbabnya kapan?".


Tanya Arindra lagi.


"Kakak, satu-satu dong mintanya. Kan nikah sama Aldonya aja belum, kakak dah minta yang lain aja". Shania cemberut mendengar ucapan Kakaknya itu.


"Masa, sejak Kakak tinggal denganmu perasaan, kakak sering deh bahas ini dek".


"Iya-iya Kak, nanti kalo udah nikah ma Aldo, Shania pake jilbab puas?".


"Ohh, jadi takut suaminya masuk neraka, beruntung banget ya yang jadi suaminya. Berarti sayang banget dong sama Aldo, kalo sama orang tua sayang g?".


"Mulai deh Kak Tiara, ya orang tua mah tetap the best lah rasa sayangnya kak. G usah ditanya lagi".


"Yakin?". Tanya Arindra yang semakin gemas melihat adiknya cemberut.


"Pake ditanya lagi, ya jawabannya jelas iyalah".


"Kalo sayang, kenapa biarin auratnya terus dilihatin banyak orang. Kan dah tau kalau aurat anak perempuan itu jika tidak ditutupi jadi dosa orang tuanya dan bisa bawa mereka ke neraka. Kalo sama suami aja bisa peduli begitu, kenapa sama orang tua g?".


Deg...


Shania terdiam, Arindra mengusap pundak adiknya itu dengan tangan kirinya.


"Maafin Kakak, sebagai Kakak hanya mengingatkan".


"Shania Insyaa Allah akan berproses Kak, Aldo sama Shania akan sama-sama belajar dalami agama". Ucap Aldo melirik Shania.


"Iya, kasih Shania waktu dikit lagi Insyaa Allah Shania segera berhijab".


"Aamiin ya robbal alamin".


Mereka serempak mengaminkan perkataan Shania.


"Oh ya Hans..."


"Hans, Hans, sama suami bilang Hans. G sopan kakak ini?". Protes Shania pada Arindra. Arindra menjawil hidung adiknya itu dan tersenyum.


"Baiklah kakak shania". Ucap Arindra tertawa.


"Kak Hans..." Panggil Arindra lagi memanggil Hans yang sedang makan dengan lahap.


"Aku dah bilang sama Syara, tentang rencana bulan madu kalian dalam waktu dekat ini".


Hans menatap Arindra tak percaya apa yang didengarnya, Syara menatap Hans dengan pandangan menelisik. Sedangkan yang lain juga menatap Arindra dengan tatapan penuh tanya.


"Enggak dalam waktu dekat ini juga Mbak, lain kali belum tepat waktunya". Ucap Syara dengan menghela nafas panjang karena melihat Hans yang seolah tak suka dengan rencana bulan madu mereka.


"Justru sekarang waktu yang tepat, kalian kan belum pernah honeymoon. Jadi biarkan kalian nikmati waktu berdua dan aku juga menikmati waktu berdua dengan Fattah, syukur-syukur ada kabar baik setelahnya"


Arindra tersenyum santai, namun berbeda dengan Hans. Ia mengepalkan tangan marah, mengingat pembicaraannya dengan Aldo sebelumnya, jika Arindra mencintai Jack.


"Jadi begini caramu supaya lepas dariku, dan kemudian membawa Fattah lalu menikah dengan Jack". Ucap Hans kesal, menghentikan makannya lalu pergi ke depan.


"Duduk Ra, habiskan dulu makananmu, biar aku yang berbicara dengan Hans". Syara yang hendak bangkit mengejar Hans duduk kembali.


"Nikmati dulu makanan kita, biarkan Hans sendiri dulu untuk meredakan amarahnya, baru setelah itu nanti diajak bicara".


Arindra dengan santai berbicara pada mereka, dan menikmati makanannya. Syara sudah tak menikmati makanannya meski masih menyuapkan makanan ke mulutnya, Hana menatap Syara yang gelisah.


Ia menyesalkan sikap Kakaknya yang menunjukkan kecemburuan pada Arindra. Aldo merasa menyesal telah mengatakan pada Hans, jika Jack dan Arindra saling mencintai, sedangkan tatapan Shania sudah seperti mau membunuh padanya.


##############


Alhamdulillah chapter 104 done


Dang lupa


Voote, like, poin, Komen, share dan Follow Lesta Lestari ya guys...


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤😍❤❤❤😍