ARINDRA

ARINDRA
Chapter 106



Perjalanan waktu bergulir tanpa bisa di cegah, Hans dan Syara pergi sepekan untuk berbulan madu, sedangkan Arindra mengurusi Fattah.


"Kak..."


Shania muncul di kamarnya saat ia sedang menidurkan Fattah.


"Apa dek"


Arindra bangkit dan duduk di sofa mendekati adiknya itu.


"Kakak yakin g mau mundur dari pernikahan kakak dan Kak Hans?".


"Kenapa memangnya?"


"Shania g ikhlas aja kak, Kakak di poligami. Jelas-jelas ada Kak Jack, kalian juga saling mencintai kenapa sih malah masih aja mau terikat sama pernikahan konyol gini".


"G ada yang namanya pernikahan, itu pernikahan konyol. Pernikahan adalah pernikahan sakral dan suci".


"Okelah, tapi kenapa mau Kakak di poligami?"


"Karena sudah terlanjur ada pada kondisi ini, Kakak g bisa ngelak"


"Kenapa g minta cerai, toh kakak g mencintainya. Kakak juga nikah siri dan rahasia lagi. Rugi banyak kakak kalo tetap mempertahankan pernikahan sama Kak Hans".


"Kamu resah karena omongan tetangga?".


"Bukan cuma itu Kak, Shania g mau Kakak disakiti dan menyakiti. Coba lihat Kak Syara kemarin saat Kak Hans marah pada Kakak, Kak Syara tertunduk dan Shania tahu dia nangis.


Kakak tega nyakitin orang yang menurut Kakak baik. Udah deh Kak, cerai aja dan kita urus Fattah sama-sama".


"Kakak tau kekesalanmu dek, makasih perhatiannya. Tapi asal kamu tau, Kakak melakukan ini untuk Fattah. Kakak g bisa ambil Fattah gitu aja, Kakak ingin punya kekuatan hukum tetap, kakak ingin di akta lahir Fattah, ada nama Mbak di sana".


"Maksud Kakak, kakak nanti minta dinikahin resmi gitu sama Kak Hans. La itu mah makin susah nanti cerainya". Gerutu Shania yang tak mengerti jalan fikiran Kakaknya itu.


"Kakak tidak mendapatkan hak apapun pada Fattah di mata hukum negara Shania. Sebelum kakak memutuskan ini, kakak sudah konsultasi dulu dengan pengacara Paman James waktu itu.


Jika Kakak ingin memiliki Fattah seutuhnya dan memiliki kekuatan hukum negara, maka mau tidak mau Kakak harus melakukan itu".


"Jadi menurut Kakak setelah kakak nikah resmi dan dapat hak asuh penuh pada Fattah, Kakak akan minta cerai begitu?".


"Jika kamu jadi Kakak apa yang harus Kakak lakukan untuk mendapatkan Fattah tanpa melanggar hukum".


Shania terdiam, ia menatap Kakaknya penuh selidik.


"Kenapa kakak tidak meminta Fattah pada mereka, tanpa harus menikah?".


"Kau tau jawabannya Shania, Syara mungkin melepas Fattah tapi tidak dengan Hans".


"Tapi kelihatannya Kak Hans sangat mencintai Kakak?".


"Kau tidak tahu, selama ini Kakak menahan emosi dan amarah Kakak di depan Hans. Kau tahu, laki-laki itu yang memperkosa Kakak, laki-laki itu juga yang membuat Kakak koma. Laki-laki itu, yang membuat Kakak tidak merasakan hamil dan melahirkan.


Laki-laki itu juga Shania, yang membuat malam-malam kakak seperti mimpi buruk dan Kakak begitu ketergantungan dengan obat penenang. Ayah laki-laki itu yang mencoba membunuh Kakak, tak hanya sekali Shania tapi berulang kali.


Teror selalu Kakak terima, kebebasan Kakak direnggut, bahkan orang tua kita tiada karena mereka. Lalu kau fikir akan mudah bagi Kakak untuk melupakan kesakitan dan trauma yang Kakak alami selama ini. Tujuan Kakak hanya Fattah, hanya Fattah, dari awal tidak pernah berubah".


Mata Arindra menatap Shania penuh amarah, Shania yang tak pernah melihat Kakaknya seperti itu terkejut.


"Jadi sikap Kakak yang selama ini menerima mereka?".


"Kau tau alasannya, hanya strategi untuk mendapatkan Fattah. Kakak ingin Hans merasakan kehancuran, kehilangan sedalam-dalamnya.


Jika dia mencintai Kakak sungguh itu hal yang bagus, artinya ketika Kakak pergi. Akan ada luka yang dalam di hatinya, biar dia merasakan sakitnya kehilangan, hancur sehancur-hancurnya.


Kakak bukan malaikat yang selalu berbuat kebaikan, luka yang mereka torehkan terlalu dalam. Sulit bagi Kakak melupakannya dengan mudah.


Biarkan mereka bersenang-senang, atau bahkan jika Syara hamil. Maka Hans bisa mudah melupakan Fattah dan itu artinya Fattah bisa Kakak miliki seutuhnya".


"Shania tidak tau apa yang kakak rencanakan itu baik atau tidak, tapi jelas Shania ingatkan jangan sampai terjebak oleh permainan yang Kakak ciptakan sendiri.


Shania terkejut sikap kakak yang selama ini tenang ternyata menyimpan dendam sebesar ini. Shania sebagai adik hanya mengingatkan Kakak jika langkah Kakak akan menambah daftar luka termasuk luka Kakak yang mungkin semakin dalam.


Suasana kini sudah tenang, meski Shania juga benci apa yang mereka lakukan pada keluarga kita tapi seperti yang Kakak bilang. Jangan memperpanjang sumbu api, jika kecil saja bisa membakar. Dan jangan membuat banjir jika bisa menghadangnya.


Perbaiki niat Kakak sebelum terlambat, aku tidak ingin kehilangan Kakak untuk kedua kalinya. Cukup Ibu dan Ayah yang meninggalkan kita untuk selamanya. Jangan buat aku kehilangan satu orang lagi karena tindakan bodohmu".


Shania tak kalah geram mendengar ucapan kakaknya itu. Sungguh di luar nalarnya jika Kakaknya ternyata masih menyimpan dendam tersembunyi di balik wajah manisnya selama ini. Lalu dia meninggalkan Arindra yang tak kalah tajam menatapnya.


Setelah kepergian Shania, Arindra bergegas mencari obatnya, dan segera meminumnya.


############


Di tempat lain, Hans dan Syara sudah ada di kamar di mana mereka akan menghabiskan waktu dalam sepekan.


"Kak..."


Syara memanggil Hans yang sedang duduk di sisi ranjang dan fokus pada hanphonenya. Sejak keberangkatannya ia sangat ingin mendengar suara Arindra, lebih tepatnya berharap Arindra menelpon atau chat. Namun sesampainya di Villa, ia tak kunjung mendapatkan harapannya.


"Ada apa Ra?"


"Kakak senang dengan liburan kita?".


"Kenapa kau tanyakan, tentu saja kakak senang sayang". Hans mendekatkan diri pada Syara, meraih kepalanya dan menyandarkan di dadanya.


"Kenapa bertanya seperti itu?".


"Maaf jika Syara menyinggungmu Kak, hanya saja Syara ragu Kakak senang dengan liburan kita".


"Kenapa begitu?".


"Jika Kakak ingin bersama Mbak Arindra, Syara ikhlas Kak melepas Kakak".


"Kau minta cerai begitu?".


"Jika memang jalan terbaik untuk kita, agar tidak saling menyakiti".


Hans menatap Syara, "Kau mencintaiku kan?".


"Aku mencintaimu Kak".


"Jika kau mencintaiku, maka tetaplah bersamaku. Dan..."


"Dan apa kak?".


"Ijinkan aku berjuang untuk mendapatkan hati Arindra, bolehkah?".


Syara sudah menduga, jika hal ini akan terjadi. Kepergian bulan madu mereka bukan semata-mata keinginan Hans, tapi karena ada dorongan keinginan untuk memiliki Arindra di hati Hans. Syara mencoba untuk tidak menangis, menahan rasa sesak di dadanya.


"Aku mohon maaf atas perbuatanku saat berada di rumah Arindra, aku tak bisa menahan rasa cemburuku padanya saat kutahu dia dan Jack saling mencintai".


"Jika Kakak tidak bisa menahan rasa cemburu, bagaimana denganku. Aku juga tak bisa menahannya. Mbak Arindra belum merasakan cemburu padaku karena dia belum mencintaimu.


Lalu bagaimana jika dia sudah jatuh cinta padamu, akankah dia tak memiliki rasa cemburu?".


Hans menyandarkan kepalanya yang tiba-tiba berat. Ia menyadari apa yang dikatakan Syara itu benar.


"Sekarang aku mohon sama Kakak, kita nikmati bulan madu kita. Aku ingin mengandung buah hati kita, jika sudah ada janin di perutku, maka aku akan tenang".


"Maksudmu?".


"Aku ingin anak darimu, setelahnya ceraikan aku. Dan hiduplah bersama Mbak Arindra".


Wajah Hans menatap tak percaya pada Syara, di tengah keterkejutannya Syara meraih dagunya dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi laki-laki itu.


"Lakukanlah Kak, dan kabulkan permintaan terakhirku".


#############


Alhamdulillah chapter 106 done


Like, poin, vote, komen, share dan Follow Lesta Lestari ....dang lupo....😍😍😆😆😆❤❤❤❤❤❤❤