ARINDRA

ARINDRA
Chapter 41



Setelah proses pemindahan Arindra ke rumah sakit selesai. Aldo pergi ke Singapura untuk bertemu dengan perusahaan Adam. Sedang Hana, berkeliling ke beberapa negara untuk mengunjungi dokter ke beberapa rumah sakit yang menangani pasien koma hamil.


Syara dan Hans pun pergi ke Jepang, untuk urusan pekerjaan. Dan Honeymoon, tapi Hans tak mengatakannya pada Syara. Ia hanya ingin fokus segera menyelaikan pekerjaannya dan kembali mendampingi Arindra.


Di hatinya, ia sudah pasrah terhadap sikap Syara, dan sedang mempersiapkan hati jika kelak perpisahan itu terjadi. Sepanjang perjalanan, hati Hans tak tenang. Ia gundah, wajah Arindra selalu terbayang di fikirannya.


Syara melihat wajah gundah Hans, memegang erat jemari tangannya. Menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.


"Kak, masih marah karena semalam"


Tanyanya, melihat Hans yang bersikap dingin padanya sejak pagi.


"Jangan dibahas"


"Kak, sedikit lagi. Tolong beri aku waktu, sedikit lagi"


Hans tau, ia salah telah mendiamkan Syara. Melihat Syara yang seperti ini, membuatnya tak tega dan teringat janji yang pernah diucapkannya. Membuat ia menghela nafas berat.


"Ra, jika dihatimu masih terukir nama Afdan, jika memang ia yang benar ditakdirkan untukmu, jodoh dunia akhiratmu. Membuatmu bahagia kemudian maafkanlah kakak, jika kakak tak bisa menunaikan janji untuk membuatmu selalu bahagia di samping kakak. Kakak akan berusaha ikhlas melepasmu, bersabarlah hingga dua minggu ke depan, saat Mbak Arindra telah melahirkan. Tanpa kau minta, aku akan melepaskanmu sesuai janjiku dulu"


"Kak.."


Jerit Syara seketika menangis mendengar kata-kata suaminya. Hatinya tak lagi ada nama Afdan, Hatinya sudah dikuasai oleh seorang Hans, ia tak menginginkan perpisahan. Sangat ingin ia mengatakan itu, namun ia ingin Hans menjadi satu-satunya miliknya. Cinta Hans untuknya seutuhnya, bolehkah ia egois.


"Afdan laki-laki sempurna Ra, kakak akui itu. Ia memiliki kelebihan yang tak bisa kakak saingi. Ia laki-laki surga yang turun ke dunia, wajar jika sulit bagimu melupakannya. Apalagi rasa itu sudah tertanam bertahun-tahun lamanya. Apalah aku Ra, seorang laki-laki yang miskin lagi papa dalam agama. Wajar begitu sulit bagimu untuk menerimaku, meski setiap hari kita lewati dengan kebersamaan"


"Kak, jangan bicara seperti itu. Aku hanya belum siap kak. Ku mohon jangan membandingkan kau dengan Afdan, bagiku kau sempurna. Kau selalu membuat hari-hariku penuh bahagia. Tolong Kak, jangan begini"


Syara semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Hans. Ia tak rela, Hans membanding-bandingkan dirinya dengan Afdan. Bagaimanapun, Hans lelaki sempurna di hatinya kini. Hans tak lagi bersuara, ia memalingkan wajahnya melihat lewat jendela awan-awan yang menghiasi perjalanannya.


######


Di lain tempat, setelah kepergian anak-anak dan orang kepercayaaanya. Tuan Wijaya segera memerintahkan John untuk menyingkirkan orang-orang yang bertugas menjadi mata-mata Hans, dan mengawal Arindra.


Namun ia lupa, yang dihadapi tidak hanya seorang Hans. Ada sosok lain yang setiap saat mengawasi pergerakannya tanpa terbaca oleh Tuan Wijaya. Laki-laki itu kini juga bergerak, mempersiapkan segala seuatunya. Ia yakin, Wijaya akan melenyapkan Arindra dengan berbagai cara, meski wanita itu sudah tak berdaya.


Satu hari pasca kepergian Hans dan kawan-kawan, keberhasilan membungkam mulut dan melenyapkan orang-orang suruhan Hans. Tuan Wijaya memerintahkan dr Dea dan team, untuk melakukan operasi caesar Arindra.


"Tuan, Tuan yakin akan melakukan operasi hari ini"


"Lebih cepat lebih baik"


"Wanita itu sudah mulai bergerak Tuan, jika sabar menunggu besok ada kemungkinan wanita itu pulih dari komanya"


Lapor dr Dea pada Tuan Wijaya, namun berita itu tak membuat Wijaya bahagia.


"Lakukan saja sesuai rencana"


"Tapi Tuan, jika dibius dan memaksakan operasi maka keadaan pasien akan mengkhawatirkan, pasien sedang berusaha pulih Tuan. Ia sudah menggerakkan tangannya, perkembangannya juga sudah sangat baik. Ini keajaiban Tuan, setelah sekian lama ia koma. Tetap mengoperasinya bisa mengakibatkan kematiannya Tuan"


"Itu yang kumau, selamatkan saja cucuku"


Dengan dinginnya menatap tajam ke arah dr. Dea.


"Jika ia mati, takkan ada lagi masalah ke depannya. Jika belum mati juga, maka kau bertugas menjemput kematiannya"


"Tapi Tuan, tidak bisakah kita menunda besok atau lusa. Sungguh pasien ini berpengaruh pada sikap Tuan Muda dan dr Hana pada anda Tuan. Tuan sangat tau, mereka sangat menjaga pasien dengan sangat baik"


"Jangan pernah mengajariku, lakukan saja tugasmu. Aku bisa dengan mudah menghancurkanmu jika kau coba-coba bermain denganku"


"Tapi Tuan, saya tau banyak kesalahan yang telah saya perbuat. Tapi membunuh, sungguh tak pernah saya bayangkan"


"Tugasmu hanya mengeluarkan cucuku dikandunganmu, selebihnya jadi urusanku paham"


"Sa-sa..ya permi..si tuan"


Ucapnya gugup dan gemetaran, kemudian pergi ke ruangannya. Tubuhnya melemas, air matanya luruh. Ia memang sudah mengikuti Tuan Hans bertahun-tahun, ia juga tau dengan mudahnya Tuannya itu menghilangkan nyawa orang-orang bertentangan dengannya. Namun ia tidak pernah menyuruhnya menjadi pembunuh, tapi saat ini ia dihadapkan pada pilihan ia atau pasien itu yang mati.


"Tok-tok"


Suara ketukan pintu, mengagetkannya. Ia segera menghapus air matanya sebelum pintu itu ruangannya terbuka.


"Operasi akan segera dilaksanakan dokter"


Lapor seorang dokter muda padanya.


"Baiklah, ayo kita ke sana"


"Dokter, apakah dokter yakin akan melakukan operasi saat ini?"


Tanya dokter itu yang bernama Alex saat perjalanan menuju ruang operasi.


"Ya"


"Tapi dokter, pasien mulai sadar. Bahkan tadi tangannya sudah bergerak dan matanya mulai terbuka. Jika membiusnya akan berakibat fatal bagi pasien yang baru bangun dari koma"


"Berdoa saja yang terbaik"


"Tapi dokter, kita bisa kehilangan nyawa pasien"


Dr. Dea menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah dokter laki-laki itu.


"Kita hanya dokter, dokter tak memiliki banyak kekuasaan. Hanya uang, uang yang berkuasa, dan orang yang memiliki banyak uang itulah yang berkuasa. Jadi tolong, bantulah aku untuk menyelamatkan ke duanya, dan jangan bertanya lagi"


"Baiklah dokter, saya permisi ke toilet sebentar"


"Pergilah, jangan lama. Semakin lama, keadaan pasien akan semakin tersiksa"


"Baik dokter"


dr. Syara segera masuk ruangan operasi.


"Bius pasien"


Perintahnya dingin, Arindra yang telah mulai sadar, perlahanbmembuka matanya. Ia mendengar apa yang diperintahkan oleh suara yang ia yakini seorang wanita.


"Tapi dokter, pasien sepertinya membuka matanya dokter"


Suster Hani yang berada di sana, mengingatkan dr. Dea. Dr. Dea memeriksa Arindra, dan benar saja Arindra telah membuka matanya dan melihat ke arahnya.


"Lakukan saja"


Ucapnya dengan tetap melihat wajah pasien, Suster Hani, melakukan tugasnya dengan baik. Sebelum kesadaran pasien penuh, mata Arindra yang telah terbuka mulai tertutup kembali karena pengaruh obat bius.


Dilain tempat, seorang laki-laki sedang menelpon seseorang.


"Jalankan Plan B"


Perintahnya pada orang yang ditelponnya. Lalu ia bergegas pergi mengerjakan tugasnya.


########


Alhamdulillah chapter 41 done.


❤❤❤❤❤