
Acara makan siang pun selesai, Hana, Aldo, Shania membereskan makanan, dan membersihkan peralatanya. Syara mengedong Fattah, Arindra berjalan mendekati Hans yang duduk termenung di sana.
"Minumlah, kau belum minum setelah makan". Arindra meletakkan gelas air putih di meja lalu duduk di samping Hans.
"Kenapa marah, apa karena aku mengusulkan bulan madu kau dan Syara?". Tanyanya lembut dan santai. Hans diam, sedang menekan rasa cemburunya.
"Hei, apa kau akan bersikap terus seperti ini dengan mengedepankan rasa cemburumu?".
Arindra menatap Hans, namun Hans membuang pandangannya ke arah lain. Arindra tertawa melihat Hans melakukan itu.
"Kau lucu saat marah, tapi maaf karena aku takkan merayumu untuk membuat amarahmu reda. Kau yang harus menguasai amarahmu, bukan amarah yang menguasaimu. Jika kau masih marah, berbaringlah, masih marah lagi berwudhulah. Aku akan bicara padamu jika sudah tak marah".
Ucap Arindra berdiri dan hendak meninggalkan Hans.
"Arindra, maafkan aku, duduklah".
Arindra berbalik, tersenyum lalu duduk kembali.
"Bicaralah, apa yang salah dari perkataanku tadi?". Arindra duduk dengan santai menyandarkan kepalanya, bahkan sesekali ia memejamkan matanya.
"Kau mencintai Jack?". Tanya Hans ragu-ragu.
"Kenapa?". Masih dengan sikap santainya.
"Jawab saja, kau mencintainya?".
Hans agak kesal pertanyaannya di jawab pertanyaan kembali.
"Apakah dengan mengetahuinya sikapmu akan berubah padaku dan statusku berubah?".
"Jawab saja, tak perlu berbelit-belit apalagi mengalihkan pertanyaan dengan pertanyaan lain". Hans sudah bernada geram, ia mengepalkan tangannya kesal.
"Ya aku mencintainya".
Wajah Hans mengeras, ia membuang pandangannya ke arah lain, Arindra melihat itu.
"Selama kau belum menjatuhkan talaq padaku, aku masih istrimu. Meski belum bisa melayani sepenuhnya sebagai seorang istri".
"Kenapa, karena Jack".
"Bukan, tapi karena dirimu yang membuatku mengambil sikap itu".
Hans seketika menoleh, tatapan mereka bertemu. Tatapan tenang di sorot mata Arindra, berbalas tatapan penuh tanya pada sorot mata seorang Hans.
"Lihatlah dirimu sekarang, kau begitu emosional. Seseorang yang memiliki dua istri meski di awal kau tak menginginkannya tapi fakta berkata berbeda.
Setidaknya kau belajar mengendalikan emosimu. Apalagi di depan Syara, tanpa kau sadari dia terluka melihatmu seperti berbicara dan bersikap seperti tadi".
"Apakah salah jika seorang suami cemburu pada istrinya, bukankah cemburu adalah tanda ketulusan. Begitukan yang pernah kau ucapkan dulu?".
"Benar, cemburu adalah tanda ketulusan hati seseorang. Tapi kau tau cemburu yang tak bisa dikendalikan bisa menuju kebinasaan".
Hans terdiam, menarik nafas panjang dan menyadari, berbicara dengan Arindra butuh argumen kuat untuk bisa membantahnya.
"Kau tahu aku mencintaimu, aku sangat tidak rela hatimu dimiliki oleh Jack".
"Maka buatlah hatiku dimiliki olehmu, tapi dengan syarat kau harus minta maaf pada Syara dan meminta ijinnya atas keinginanmu itu. Dan belajarlah mengendalikan emosimu, bersikaplah tenang. Jika aku mencintaimu seperti Syara saat ini mencintaimu, sungguh aku sangat terluka saat mendengar perkataanmu itu".
"Maksudmu, kau memberi kesempatan untuk membuatmu jadi milikku?". Tanya Hans tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Iya, tapi kau harus penuhi syaratku. Jika Syara mengijinkannya, maka aku akan berusaha membuka hatiku untukmu".
"Benarkah, kau sedang tidak bercanda?".
Hans senang mendengar apa yang dikatakan Arindra, secercah harapan muncul di hatinya.
"Tidak, maka dari itu setujuilah usulku agar kalian menikmati bulan madu kalian. Sebelum kau sibuk dengan urusan perusahaan yang baru kau mulai. Biarkan aku, bersama Fattah menikmati waktu berdua dengannya".
"Baiklah, aku terima usulmu". Hans tersenyum memandang Arindra, dibalas senyuman manis menurut Hans oleh wanita yang dicintainya itu.
"Lebih cepat lebih baik, habiskanlah waktu sepekan untuk bulan madu bersamanya. Dan aku harap kau, kalian pulang membawa kabar baik, adik untuk Fattah".
"Kau berjanji tidak akan berhubungan dengan laki-laki manapun selama aku pergi dengan Syara dan meminta ijinnya".
Arindra tersenyum akan keposesifan Hans padanya.
"Selama aku menjadi istrimu, aku takkan melakukan itu kecuali..."
"Kecuali apa...". Potong Hans.
Kekehan Arindra membuat Hans tertawa.
"Aku takkan pernah menceraikanmu, hanya maut yang memisahkan kita".
"Aku gombalanmu, meski saat ini belum membuatku merona".
"Aku akan membuatmu merona dengan semua usahaku".
"Lakukanlah dan buktikan, aku akan menikmati masa-masa dirimu mengejarku. Seperti yang kau lakukan pada Syara, sehingga membuatnya jatuh cinta padamu?".
"Kenapa kau memberi kesempatakan untukku, sedangkan di hatimu sudah ada nama Jack?".
"Kau penasaran?".
"Ya, aku sangat penasaran. Jikapun kau memaksa diriku untuk menceraikanmu maka aku hanya bisa pasrah karena ku tahu terlalu banyak kesalahan yang telah aku dan keluargaku lakukan padamu. Jadi sesungguhnya aku malu, mengharapkanmu".
"Benarkah kau akan melepaskanku jika aku memaksa?".
"Sekarang tidak, karena kau sudah memberi kesempatan padaku maka aku akan manfaatkan itu".
"Baiklah, berarti aku harus memaksamu agar menyerah hehe".
"Apa kau bilang hemm".
Hans hendak menarik Arindra ke pelukannya, namun ditahan oleh tangan Arindra.
"Aku memberi kesempatan untukmu, bukan bebas menyentuhku. Kau belum membuktikan apapun padaku".
"Benarkah, tapi kau memberiku kesempatan berarti aku layak untuk mendapatkanmu".
"Tergantung, tergantung usaha dan kerja kerasmu. Baru bisa kunilai layak atau tidak?".
"Hei, kau sudah memberiku kesempatan, jadi tak bisa kau tarik lagi".
"Aku memberi kesempatan, karena mendengar apa yang dikatakan Syara padaku. Jika bukan karena Syara, sungguh aku akan minta cerai padamu. Maka berterima kasihlah padanya, dan buatlah dia bahagia".
"Benarkah"
"Daddy tak salah memilihkan istri untukmu. Itu karunia Allah yang tak boleh kau sia-siakan".
"Terima kasih, terima kasih"
Hans dan Arindra pun saling melempar senyum, Hans yang berbunga-bunga pun salah tingkah dengan tatapan Arindra yang menatapnya tanpa kedip. Arindra hanya geleng-geleng kepala melihat laki-laki di depannya yang tersipu malu.
"Ayo kumpul lagi di depan, dan minta maaflah pada Bundanya Fattah".
Hans mengangguk dan mengikuti langkah Arindra yang kembali berkumpul dengan lainnya. Aldo, Hana, Syara dan Shania melihat dengan penuh selidik saat Hans muncul dengan wajah cerianya. Hans duduk di samping Syara dan menggendong Fattah.
"Di kasih apa sama Mbak Arin, sampe muka memerah gitu?". Goda Aldo pada Hans. Hans yang digoda, menunjukkan wajah datarnya.
"G usah digoda Do, ntar ngambek lagi".
Ucap Arindra disambut tawa yang lainnya.
"Istri mah boleh dua loe, masih aja gedein ngambek hahaa".
Shania mencubit lengan Aldo "Duh sakit yang, becanda doang". Aldo mengusap-usap lengannya yang dicubit cukup kuat oleh Shania.
"Jadi kapan orang tuamu datang ke sini Do?". Arindra menatap Shania dan Aldo, yang ditatap lirik-lirikan.
"Kenapa bahas kita lagi sih Kak, bahas Kak Hana aja tuh cariin jodoh buat dia".
Ucap Shania membuat Hana menatapnya tak suka.
"Kok jadi aku yang kena lagi sih, ya udah Kak Aldo, nikahin aku aja boleh deh kalo gitu".
Hana akhirnya meledek Shania.
"Boleh Han, kalo gitu gue g kalah sama loe Hans, biisa bini dua juga". Namun Aldo yang tersenyum ceria itu mendapat lembaran bantal sofa dari Hana dan Shania, dengan tatapan horor masing-masing tentunya. Membuat yang lain tertawa melihat tingkah Aldo, Shania dan Hana.
#############
Alhamdulillah chapter 105 done
seperti biasa
Poin, vote, like, koment, share, Follow Lesta Lestari ya guys Inga....inga..🤗🤗😍😍😍