ARINDRA

ARINDRA
Chapter 69



Arindra dan kawan-kawan saat ini sedang melihat respon masyarakat setelah vidio kontennya diunggah oleh Dio. Siapa sangka, jika konten yang mereka buat ternyata menjadi trending di soutube. Bahkan ada tagar #TemukanpembunuhDea menggema menjadi top news di uwiter.


Media infotainment yang sudah sejak kemarin memberitakan kematian dokter Dea pun banyak yang mengupas tentang isi konten si Petir alias Dio.


"Lihat, konten kalian menjadi trending"


Jenny yang semangat membawa laptopnya di tengah-tengah mereka. Ke empat lainnya melihat konten itu, dan Jenny membacakan komen-komen netizen.


"Ini bagus sekali kak, kau kini jadi terkenal hehee"


Alex tertawa, berbeda dengan Alex yang tertawa yang disambut tawa dan canda yang lainnya. Jack, melihat Arindra dengan sorot mata khawatir. Ia yakin, psikis Arindra belumlah begitu kuat. Belum dua bulan dia bangun dari koma, tapi dia memaksakan diri untuk menghadapi semuanya.


Jenny menceritakan jika Arindra masih sering bangun tengah malam dengan keringat dingin membasahi tubuhnya, saat ia teringat peristiwa yang terjadi pada Arindra membuat tubuh Arindra melemas, dan bergetar. Meski tak ada air mata lagi di sudut-sudut pipinya. Namun sorot mata ketakutan itu masih ada di sana.


"Lalu apa rencana kita selanjutnya Kak"


Tanya Jenny pada Arindra dan Jack. Arindra datang membawa buku sakunya.


"Aku menemukan cara selain yang sudah kita lakukan saat ini. Aku tidak tahu apakah ini efektif atau tidak, tapi kurasa jika berhasil ini cukup memberikan kerugian materil dan moril yang cukup besar untuk Wijaya Group"


Jawab Arindra dan kemudian membuka catatan di buku sakunya. Semua mata mengarah pada Arindra.


"Ini mengenai kerjasama perusahaan di projek Teluk Jakarta. Kita bisa menghentikan projek itu dengan cara mengangkat isu lingkungan, mengangkat dampak akibat pembangunan yang terjadi di Teluk Jakarta. Siapa yang paling dirugikan akibat pembangunan ini?"


Tanya Arindra pada ke empat orang di hadapannya.


"Nelayan"


Jawab ke empatnya kompak.


"Benar, bahkan ada isu jika pembangunan itu membuat nelayan kesulitan, selain dari hasil pendapatan nelayan yang berkurang drastis, kabarnya mereka juga di larang melaut pada sekitaran jarak 2 km dari area pembangunan. Ada para pasukan security perusahaan yang mengusir mereka, apakah benar Lex?"


"Aku sedikit mendengar isu ini, namun belum bisa memastikan kebenarannya karena tak melihat langsung. Nanti kucoba cek dan tanyakan pada Paman serta orang-orang kita di proyek"


Jawab Alex.


"Kau ingin mengangkat isu Amdal?"


Tanya Jack


"Benar kak"


"Tapi bukankah masalah amdal perusahaan sudah beres, sehingga pembangunan bisa dilakukan. Semua syarat dan ijin pembangunan sudah ada di tangan. Semua perijinan sudah lengkap Kak setau Alex. Jadi sepertinya akan sulit jika mengangkat tema ini"


"Tak semua perusahaan mengindahkan amdal Alex, banyak yang melanggar. Meski ijin dan lainnya sudah didapat tapi fakta di lapangan mengatakan hal yang berbeda. Asal kau tau, mengeluarkan perijinan untuk seorang pengusaha ternama yang dekat dengan pejabat itu mudah. Apalagi jika pengusaha itu terlibat dalam proses pilkadanya. Jelas akan ada politik balas budi bagi keduanya"


Ucap Arindra kembali menerangkan idenya.


"Oke, aku mengerti sampai di sini. Lalu jika nelayan melakukan protes, sejauh yang kakak dengar bukankah sering tidak berhasil di sini. Meski sudah ada jatuh korban, tapi banyak pihak-pihak berwenang tak mengindahkannya"


Jack seperti biasa melakukan analisa dalam berbicara.


"Itulah resiko yang harus kita hadapi Kak, dicatatanku semua perijinan ini deal saat pejabat lama. Sekarang bukankah pejabat baru yang menggantikannya?"


Arindra mencoba membuat mereka berfikir.


"Maksudmu pejabat setingkat provinsi begitu?"


"Iya Kak, bukankah ada pergantian pejabat maka akan ada pola penerapan kebijakan yang berbeda bukan. Jika pejabat sekarang peduli akan suara masyarakatnya maka ini akan menguntungkan kita. Apalagi jika isu ini sampai diangkat ke media nasional, maka isu ini akan menjadi topik yang hangat karena berurusan dengan penguasa dan pengusaha. Isu kaum marginal selalu menjadi topik bagus dalam sebuah berita Kak"


"Kakak ingin pejabat sekarang mencabut semua perijinan dalam projek itu. Alex rasa hanya pejabat bernyali tinggi yang mampu melakukan itu"


Jenny dan Dio hanya menjadi pendengar yang baik, mereka tak memahami bagaimana alur perusahaan.


"Benar Lex, tapi tidak ada salahnya kita mencoba toh takkan merugikan perusahaan kita. Kita tetap untung meski pembangunan dihentikan, karena sesuai perjanjian pembangunan yang sudah tahap 60 persen, maka dana dari pihak pertama atau pihak Wijaya group harus segera disetorkan apalagi jika penjualan property sudah mencapai angka sama seperti pembangunannya.


Artinya berhenti atau berlanjutnya projek Teluk Jakarta sudah tidak berpengaruh pada perusahaan Lex. Jika mereka tidak memberikan pencairan dananya, akibat protes nelayan yang kemudian membuat mereka tak melanjutkan pembangunan.


Maka kita bisa tuntut mereka ke pengadilan. Jika isu ini berkembang dan menjadi sorotan publik para penegak hukum, Kakak rasa tak berani main-main dalam membuat keputusan.


Kemungkian besar kita akan memenangkannya, selain ganti rugi, kita juga mendapatkan tambahan biaya pinalti yang jelas-jelas akan sangat merugikan mereka. Selain itu, para pembeli akan berfikir ulang jika isu ini terus digoreng di media massa.


Kau tau, para pembeli itu adalah orang kaya yang tak mau rugi jika kelak tinggal di sana, menjadi tidak tentram dan aman, selain untuk investasi. Jika ini terjadi kemungkinan besar, mereka membatalkan proses jual beli dan meminta uang mereka kembali. Jadi siapa yang rugi besar di sini?"


Semua menganguk-anggukkan kepala, tanda memahami apa yang dibicarakan Arindra.


"Jadi kau ingin ijin IMB yang tercabut?"


"Yup benar sekali Kak Jack, pejabat baru tak perlu banyak melakukan apa-apa. Jika dia berani, cukup hanya menarik ijin IMB maka secara otomatis pembangunan dihentikan. Jika tetap pengusaha melakukan pembangunan, ia akan menindak dengan menyegel bangunan tersebut.


Kita yang hanya pelaksana pembangunan projek tanpa terlibat sedikitpun masalah perijinan. Ibarat tukang, kita hanya kerja dengan Wijaya, lanjut tidak lanjut kita akan tetap dibayar atas pekerjaan kita.


Posisi inferior ini menyelamatkan kita atas tuduhan bermain melawan mereka. Bukan peusahaan Adam Vs Wijaya, tapi nelayan dan pejabat setempat, serta publik tentunya Vs Wijaya"


Arindra selesai menerangkan idenya, dan menatap keempatnya.


"Kau ingin kami melakukan apa kak?"


Dio bertanya karena belum mengerti arah pembicaraan itu.


"Kita tak perlu melakukan apa-apa, hanya kita butuh seseorang untuk menggerakkan tokoh pemerhati lingkungan yang berani melawan Wijaya group dan yang bisa menggerakkan nelayan untuk melakukan protes. Sehingga bisa didengar oleh pejabat sekarang"


Terang Arindra lagi.


"Rencana ini bisa menjadi senjata ampuh menghancurkan reputasi Wijaya Group. Setelah isu yang kita angkat kemarin, Kakak rasa ini akan menjadi pukulan telak untuk mereka jika rencana ini berhasil. Baiklah, kita akan membicarakan ini dengan Paman James, bagaimana keputusannya.


Bagaimanapun Paman yang selama ini mengelola perusahaan. Karena ini terkait dengan perusahaan maka wajib baginya terlibat. Aku akan menghubungi Paman James secepatnya"


Ucap Jack setuju akan rencana Arindra, dan lain mengikutinya saja.


"Baiklah, sekarang kita sedang menantikan respon keluarga Wijaya, saat melihat wajah Kak Arindra yang mereka anggap mati muncul kembali"


Ucap Alex dengan senyum devilnya, membuat yang lain ikut tersenyum tak sabar menanti reaksi dari Tuan Wijaya cs.


############


Alhamdulillah chapter 69 done


yulah guys tolongin author dengan votee yang banyak biar rangking novel kesayangan kalian bisa naik posisi satu hehee (Bolehlah author bermimpi juga 🤲🤲😆🤭)


Like, share, poin, koment yang banyak and Follow **Lesta Lestari.


Makin banyak jejak yang kalian tinggalkan semakin semangat author berkarya.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤**