ARINDRA

ARINDRA
Chapter 38



Malam itu Hans sudah mempersiapkan semuanya. Berkali-kali gagal dalam memasak, pada akhirnya ia menyerah. Meminta pesanan makanan dari restoran miliknya.


Ia telah berkutat sejak dzuhur di taman dibantu oleh beberapa Art di rumah untuk menghias taman dan roftoop sesuai yang dia mau.


Syara dibawa Hana ke salon untuk perawatan. Hana saat diberi tahu oleh kakaknya, sangat bahagia. Jelas ia sangat mendukung apa yang akan dilakukan oleh Kakaknya itu.


Setelah ke salon, Hana membawa Syara belanja gamis yang cocok untuk makan malam.


"Buat apa Han, beli baju. Baju aku dah banyak banget"


"Udah enggak usah protes, yang pasti kamu harus tampil sangat cantik buat malam ini"


"Memangnya ada acara apa, ngapain juga harus tampil cantik, mending natural aja. Kamu tau hukum tabarruj Han"


Syara wanita sederhana, ia enggan bermewah-mewah karena ia sadar, mempercantik diri bukan di hadapan suami bukanlah hal yang baik menurut keyakinannya. Sehari-hari ia hanya tampil natural, hanya alas bedak saja yang menjadi riasan wajahnya. Namun tak mengurangi kadar kecantikan dirinya.


"Aku ngerti kok tenang aja"


"Nih udah nemu, cobain deh"


Syara meski menolak, ia tau sahabatnya itu takkan menyerah. Mereka berkeliling hingga sholat masjid di dekat rumah Hans.


"Kenapa tidak pulang aja sih, orang bentar lagi sampe rumah"


"Udah, kita di masjid ini sampai isya"


"Kenapa, lebih baik sholat di rumah kan, kita dah lama banget ninggalin Mbak Arindra. Aku juga dah lapar"


"Sabar aja, bis sholat isya kita langsung pulang kok"


"Aneh banget tingkahmu hari ini Han, kayak menyimpan sesuatu gitu"


"Hehee, biasa aja kok Kakak Ipar"


Setelah sholat Isya, Syara dan Hana bergegas pulang ke rumah. Hana sepanjang perjalanan hanya senyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi wajah sahabatnya itu yang akan diperlakukan romantis oleh Hans.


Sesampainya di rumah, Syara disambut dengan Hans yang memakai pakaian super rapi dan wangi.


"Tampan banget suamiku ini"


Ucapnya tertegun melihat ketampanan suaminya itu. Sama dengan Syara, Hans yang tak pernah melihat Syara berhias itu terpesona. Mereka saling mengangumi dalam diam saty sama lain.


"Ouhhh cantiknya"


Ucap Hans dalam hati


"emmm ehmmm"


Hana yang melihat itu mencoba mencairkan suasana. Terlihat ke duanya salah tingkah, membuat Hana tertawa.


"Udah tu Kak aja Kakak ipar makan, katanya dah laper banget itu, dari tadi ngerengek aja"


Syara yang tak terima mencubit ringan Hana.


"Jangan gitu, main cubitannya sama Kak Hans aja"


Ucapnya sambil menggoda.


"Ya udah, ayo Ra"


Ucap Hans gugup dan mengandeng tangan Syara menuju rooptop.


"Kak, kok enggak di ruang makan"


"Oh kita makan di luar"


"Kak, ini kapan masangnya"


Syara heran karena disepanjang jalan ia digandeng Hans, ia berjalan di atas karpet merah yang ditaburi bunga mawar, belum lagi ditangga dihias dengan bunga-bunga begitu indah menurutnya. Anggap beginilah hiasan tangganya ya guys 😆😆.



"Kamu suka?"


Tanya Hans menatap wajah istrinya itu.


"Suka, suka banget. Ngerasa spesial banget diginiin"


"Kamu memang spesial Ra, di hati aku"


Tangan Hans menggenggam erat jemari Syara. Dibalas senyum manis Syara yang terlihat malu-malu. Membuat Hans gemas melihatnya.


"Sampai di sini tutup matamu dulu yang indah ini ya"


"Kan belum sampe atas Ka, kenapa ditutup"


Syara hanya tersenyum, ia menurut. Ia memejamkan matanya, dituntun oleh Hans menuju Rooftop. Hana dan Aldo bertugas sebagai kameramen. Siap mendokumentasikan peristiwa langka menurut mereka.


"Sekarang buka mata cantikmu sayang"


Syara membuka matanya, ia sangat terkejut melihat apa yang dihadapannya. Ia menatap Hans seakan tak percaya. Wajahnya berseri-seri, senyum tak lepas dari bibirnya.



Anggaplah begini ya, suasana romantisnya 😁😆😆.


Hans maju dan menggenggam jemari Syara.


"Ra, aku tak pernah pandai berkata manis, aku jua tak pandai bicara romantis. Dulu kita memulainya dengan terpaksa, awal-awalpun aku tak memperlakukanmu dengan baik. Maaf untuk semua itu, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku bukan lelaki baik, laki-laki idamanmu. Namun aku akan berusaha membahagiakanmu selama kau setia di sisiku"


Hans mengambil bunga yang sudah dipersiapkannya.



"Bunga ini lambang perasaanku Ra, sungguh aku mencintaimu sejak dulu sebagai cinta pertamaku dan hingga kini kau membuatku jatuh cinta lagi. Anggaplah ini sebagai salah satu usahaku untuk mendapatkan hatimu"


Hans memberikan bunga itu pada Syara, Syara sudah meneteskan air mata bahagianya. Betapa ia tak membayangkan, akan mendapat kejutan dari laki-laki yang tak pernah dibayangkannya. Hans berlutut di hadapan Syara.


"Ra, dulu tak ada lamaran yang layak untukmu. Bahkan awal pernikahan kita dipenuhi oleh tangis mata kepedihan. Mulai hari ini, aku akan berusaha menghapus jejak pedih itu dengan air mata bahagia. Aku bukan lelaki terbaik untukmu, namun aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga kita"


Hans mengeluarkan cincin saku celananya.



"Ra, maukah kau memulai hidup denganku, menerima segala kekuranganku, menuntunku menjadi lebih baik dan menua bersamaku"


Syara yang berurai air mata bahagia mengangguk, tak sanggup lagi berkata-kata. Hans melihat Syara yang mengangguk, tersenyum bahagia, tak terasa air matanya juga menetes. Ia memasangkan cincin itu dijemari Syara, cincin pernikahan yang tak pernah ia pasangkan sebelumnya.


Ia mencium tangan itu, dan melihat istrinya. Syara memeluk Hans erat, menumpahkan rasa bahagia di dada bidang suaminya.


Semua yang melihat itu terharu, Hana dan Aldo yang mengabadikan momen itu juga turut mengeluarkan air mata tanpa mereka sadari.


"Kau beneran mau kan Ra, hidup bersamaku"


Tanya Hans lagi untuk menyakinkan hatinya lagi dalam kondisi masih pelukan.


"Iya Kak"


Hans senang, ia mencium kening istrinya, ke dua mata, turun ke pipi terhenti sesaat saat melihat bibir pink milik istrinya. Hans memiringkan wajah, berniat hendak mencium bibir istrinya itu yang sudah sejak tadi menggodanya. Namun...


"Woy di kamar kalo mau mesra-mesraan. Enggak liat jomblo banyak di sini. Bikin ngenes aja kalian ini berdua"


Aldo berteriak mengagalkan rencana Hans, membuat geram. Syara yang melihat arah suara dan banyak orang yang melihatnya tertunduk malu. Menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba bersemburat merah apalagi melihat wajah-wajah mereka yang tertawa melihat tingkahnya.


"Kak maluu"


Ia memukul pelan dada suaminya, membuat Hans tertawa.


"Kalian ini ganggu aja, udah pergi sono"


Usir Hans pada mereka, disambut gelak tawa melihat kemarahan Hans yang kali ini lucu menurut mereka. Beberapa kru rumah pun meninggalkan mereka, memberi waktu dan ruang pada majikannya untuk menikmati malam romantis bersama istrinya.


"Udah makan, keburu dingin itu makanan"


Aldo lagi-lagi berteriak, mengingatkan mereka.


"Itu bukan masakan Hans kalau loe mau tau Ra, boss masak gosong mulu akhirnya pesen di restoran juga hahaa"


Syara yang mendengar itu terkejut mendengar Hans masak. Hans yang ditatap garuk-garuk kepala yang tak gatal.


"Tadinya, berulang kali tapi gagal. Sampe dapur berantakan. Pinginnya bikir surprise yang sempurna, tapi belum bisa"


"Ini aja sudah sempurna kok Kak, aku seneng banget"


Ucap Syara yang kembali mengeratkan pelukannya.


"Makasih"


Ucapnya lagi


"Kakak Ipar kayaknya dah lupa tuh laparnya hahaa"


Teriak Hana, menyadarkan dua insan yang dimabuk asmara itu. Hana dan Aldo pun segera membereskan peralatannya, memberikan ruang pada pengantin baru yang tak lagi baru. 😁😁


##########


**Alhamdulillah chapter 38 done


Semoga suka, maaf kalo enggak romantis hehee**