ARINDRA

ARINDRA
Chapter 47



"Prang"


Hans membanting vas bunga yang ada di depannya.


"Brengsek kalian"


Hans bangkit dari kamar, pergi ke rumah orang tuanya. Tiga hari ini sejak kematian Arindra, Hans tak mengurusi perusahaan. Ia fokus pada penyelidikan tentang istrinya itu. Hasil yang ia dapatkan, membuat ia sangat kecewa, sesak, marah, kesal kini menguasai hatinya. Mobil yang dikendarainya melaju dengan kencang, yang ada di fikirannya saat ini adalah bertemu ke dua orang tuanya.


"Brakkk"


Sesampainya di sana, tanpa salam ia menendang pintu rumah, membuat semua orang yang sedang duduk santai di ruang tengah terkejut. Ada Hana, Tuan Wijaya, Nyonya Diana, tentunya Syara dan Fattah yang memang menginap untuk persiapan pemberian nama anggota baru mereka sekaligus aqiqah.


"Apa-apaan kakak ini, seperti tidak diajarkan sopan santun saja?"


Hana geram melihat tingkah kakaknya, Hans dengan sorot mata sangat tajam menahan amarah meraih kerah Tuan Wijaya.


"Bukk"


Satu pukulan tepat mengenai sasaran, membuat wanita yang ada di sana menjerit.


Tuan Wijaya terhuyung jatuh mengenai sofa, Hans kembali hendak melayangkan pukulannya.


"Pukul aku kak, pukul jika itu membuat kakak puas"


Hana maju melindungi Daddynya, begitu juga Nyonya Diana. Ia memeluk suaminya, Syara pergi untuk menyerahkan Fattah pada baby sister meminta untuk di bawa pergi sementara. Kemudian dia kembali ke ruangan itu.


"Minggir"


Ucap Hans yang menahan pukulannya pada Tuan Wijaya, karena tiba-tiba Hana berada di depannya.


"Tidak"


Ucap Hana dengan tegas,


"Minggir, kau tidak tau siapa yang kau bela Hana, dia itu pembunuh. Pembunuh Hana ingat"


Hana tak bergeming, ia tetap berdiri tegak di hadapan Hans.


"Meskipun dia pembunuh, dia tetap Daddyku, Daddy kakak juga. Layakkah Kakak melakukan hal seperti itu hah"


"Dia sudah sangat kelewat batas Hana, tidakkah kau mengerti"


Hans mencoba memberi pengertian pada Hana, meskipun nada suaranya masih menujukkan kemarahan. Betapa Daddy mereka bukanlah sosok baik yang selama ini dikenalnya.


"Bahkan, Nabi Ibrahim saja tetap berbuat baik pada ayahnya meski ayahnya menjadi penentang utama dakwahnya. Tidakkah itu lebih mengerikan, bahkan ia menyerahkan Anaknya pada Namruz untuk dibunuh. Tapi apa yang dilakukan Nabi Ibrahim, ia tetap berbuat baik, mendakwahinya meskipun tak berhasil"


"Aku bukan Nabi"


Hans mulai melunak, Ia tau adiknya sangat menyanyangi ke dua orang tuanya itu. Ia tak kalah tegas, keras kepala darinya.


"Kita memang hidup tidak di jaman Nabi, tadi kisah teladannya bisa kita ikuti"


Hana meraih ke dua tangan kakaknya, membawa ke sofa. Syara menyerahkan air minum pada Hana, lalu memberikannya pada Hans yang sudah mulai tenang. Sedangkan Tuan Wijaya, diobati oleh Nyonya Diana, dibawa ke kamar mereka.


"Sekarang jelaskan pada Hana, kenapa kakak seperti ini"


"Arindra dibunuh"


"Lanjutkan Kak agar aku mengerti cerita lengkapnya"


"Arindra sebelum operasi dia sudah sadar, ia sudah membuka mata, tangannya pun sudah bergerak Han"


"Allahu Akbar, benarkah itu"


"Iya, kakak menyelidikinya selama tiga hari ini. Dan fakta itu yang kakak dapatkan. Yang membuat Kakak pada Daddy, mengapa ia meminta operasi dilakukan padahal jadwalnya sudah ditetapkan dua minggu kemudian bukan. Bahkan ia belum sempat berkata apa-apa saat matanya terbuka namun dipaksa ditutup kembali karena dibius Hana"


Hans tak kuasa lagi membayangkan kesakitan yang dirasakan Arindra saat itu. Hans menangis tersedu, menyesali dirinya yang tak bisa menjaga Arindra dengan baik.


Hana dan Syara syok mendengarnya, mereka saling bertatapan. Tak menyangka, jika Daddynya sengaja melakukan operasi yang jelas membahayakan nyawa pasien.


"Kau tau, harusnya Arindra masih hidup. Harusnya dia ada di sini sekarang. Harusnya dia bahagia, melihat anak kami. Harusnya kakak bisa meminta maaf padanya secara langsung, tapi apa, tapi apa Han. Daddy menghilangkan kesempatan itu, Daddy sengaja ingin Arindra mati Han, begitu bodoh mengapa Kakak begitu bodoh..."


Hans memukul-mukul kepalanya, Hana yang juga ikut menangis berusaha menghentikan tindakan Hans yang menyakiti dirinya sendiri.


"Kak hentikan, jangan begini, Kak..."


Hans pingsan, membuat dua orang itu terkejut.


"Ra, tolong panggilkan satpam"


Syara berlari ke depan sambil menghapus air matanya. Kemudian kembali dengan dua orang satpam, supir dan tukang kebun. Mereka membawa Hans, ke kamar untuk dibaringkan. Hana segera memeriksa keadaan Kakaknya itu, sedangkan Syara tetap berada di sampingnya.


"Aku ngerti Ra"


Syara bangkit menelpon Suster Hani, memintanya membawa peralatan yang dibutuhkan untuk perawatan Hans.


"Aku akan ganti pakaiannya dulu Han, dan membersihkannya, tolong bantu aku melepas pakaian di tubuhnya"


Hana mengangguk, wajah kusut Hans sangat terlihat, mata pandanya tak bisa ditutupi. Satu persatu pakaian itu lepas dari tubuh Hans.


Hana melihat Syara yang begitu cekatan, mengambil air bersih dan handuk kecil. Kemudian ia membersihkan tubuh Hans, dengan baik. Hana tau, Syara menahan kesedihannya melihat suaminya memikirkan wanita lain.


Hana sangat tau, Syara yang sudah mencintai kakaknya itu selalu menahan diri untuk tak disentuh Hans karena rasa tidak ingin berbagi miliknya dengan orang lain. Namun ia tetap menjalankan kewajibannya yang lain dengan sangat baik.


"Tolong Han, bantu aku memakaikan pakaiannya kembali"


"Iya Ra"


Mereka kemudian memakaikan pakaian pada tubuh Hans kembali, tak lama kemudian Suster Hani datang. Hana segera memasang selang infus pada pergelangan tangan Hans yang masih tidak sadarkan diri.


"Suster Hani, terima kasih"


Ucap Syara


"Kalau tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya permisi dokter"


"Hati-hati Suster"


Ucap Hana sedangkan Syara hanya mengangguk melihat kepergian Suster Hani.


"Aku mau ke dapur dulu Ra buatin bubur, kamu tolong tunggu di sini dulu ya"


"Iya Han"


Hana pergi ke dapur, Syara melihat wajah Hans dan membelai ke dua pipinya. Ia menangis melihat keadaan suaminya itu.


"Begitu berartikah dia untukmu Kak, sehingga membuatmu jadi begini. Bahkan kau melupakan aku dan Fattah, tak memberi kabar sama sekali. Sebenarnya, dihatimu Mbak Arindra itu orang yang kau cintai ataukah hanya rasa bersalah saja yang begitu besar dihatimu Kak"


Syara mencium ke dua pipi dan memeluk suami yang dirindukannya itu, tiga hari tanpa pertemuan dan mendengar suaranya membuat rasa rindunya membuncah dalam dada.


"Arindra...Arindra...maafkan aku...maaf"


Syara bangkit, dadanya makin sakit. Ini untuk ke dua kalinya, Hans menyebut nama Arindra dalam ketidaksadarannya. Syara semakin ragu dalam dirinya akan cinta Hans untuknya.


"Kak, kakak..."


Syara mencoba membangunkan Hans, tak lama kemudian Hans sadar.


"Arindra..."


Ucapnya dengan suara lemah memegang tangan Syara, yang Syara lakukan hanya mencoba tersenyum meski saat ini ia ingin berteriak.


"Ini Syara kak, bukan Mbak Arindra"


Ucapnya lembut di telinga Hans, menekan segala rasa di hatinya.


"Arindra masih hidup Ra, tadi dia datang. Dia datang, ia sangat cantik ra. Dia gendong Fattah sambil senyum"


Syara mengusap kepala Hans, ia cium kening suaminya.


"Kak, aku merindukanmu"


"Aku rindu Arindra Ra, aku rindu"


Ucap Hans lemah dan kembali memejamkan mata. Syara segera bangkit dan memeriksa, ia lega. Karena Hans bukan pingsan kembali, namun tertidur.


#########


Alhamdulillah chapter 47 done


kuylah di komen


di like


di vote


di follow


salam cinta buat pembaca setia...


❤❤❤❤