ARINDRA

ARINDRA
Chapter 29



"Kenapa Mbok?"


Syara segera masuk mendengar teriakan Mbok Nah.


"Non, coba pegang badan tuan muda"


Ucap Mbok Nah, menunjuk Tuan Mudanya yang masih terbaring. Tak terusik dengan teriakan lantang Mbok Nah.


"Kayaknya Tuan Muda kena demam deh Non, badannya panas banget soalnya"


Ucap Mbok Nah, Syara pun memeriksa tubuh Hans. Hans terkena demam, suhu tubuhnya tinggi. Ia pun segera mengambil tindakan, ia meminta air panas pada Mbok Nah, dan kain.


Syara terus berusaha membangunkan Hans, nampak wajah khawatir terlihat.


"Kak bangun dulu kak, minum obatnya"


Ia mengambil minum di nakas, dan obat. Kemudian mendudukkan kepala Hans di pangkuannya.


"Kak, Kak bangun dulu. Kakak demam"


Hans yang terusik membuka matanya.


"Aku enggak apa-apa Ra, keluarlah"


Ucap Hans dengan nada lemah.


"Kak, aku mohon bangun, minum obat dulu jangan begini. Mbak Arindra masih butuh kakak, anak kakak butuh ayahnya"


Syara terus mencoba membuat Hans terjaga, akhirnya Hans mengangguk dan meminum obat yang diberikan Syara. Dan terlelap kembali, ia segera menyelimuti tubuh Hans. Mengompres keningnya dengan air hangat, dan memakaikan baju pada tubuh besar Hans.


"Mbok Syara minta tolong, tolong buatin bubur dan minuman jahe campur madu. Kalo sudah selesai bawa ke sini. Oh ya Mbak Tini dan Mbak Lala, tolong untuk mandikan Mbak Arindra dulu"


"Iya Non"


Mbok Nah undur diri menjalankan perintah nona mudanya itu. Memanggil dua Art lain untuk melaksanakan tugas. Syara masih sibuk dengan mengompres Hans, do'a-do'a juga ia lantunkan untuk kesembuhan suaminya itu.


Telpon Hans terus berdering, dengan terpaksa Syara mengangkat ponsel itu.


"Hallo Assalamualaikum"


"Ehh Syara ya"


"Maaf ini siapa?"


Syara menanyakan namanya karena langsung menganggkat tanpa melihat nama yang tertera di sana.


"Oh ini Aldo, mau tanya Boss kemana, tumben belum dateng ngantor"


"Kak Hans sedang sakit, terkena demam"


"Boss sakit, apakah perlu ke dokter. Biar saya ke sana"


"Jika sampai siang panasnya tidak turun, lebih baik di bawa ke rumah sakit. Lihat perkembangannya nanti"


"Oh baiklah, tolong titip dulu boss ya. Kabarin gue kalo ada apa-apa. Gue usahakan segera ke sana, makasih"


"Iya kak, Assalamualaikum"


Namun tak ada sahutan dari sebrang sana. Syara yang terus memantau kondisi Hans, dan mengobresnya tak beranjak dari kamar itu. Terlebih ia juga mengajari dua Art untuk proses memandikan hingga memberi pakaian Mbak Arindra.


Menjelang siang, suhu tubuh Hans berangsung normal. Mata Hans mulai terbuka dan melihat di sisinya. Tangan lembut Syara menyentuh keningnya.


"Alhamdulillah suhu badan kakak sudah normal"


"Makasih"


"Iya Kak, sekarang kakak makan dulu ya. Sebentar Ara ambilkan dulu di dapur"


Hans hanya mengangguk, tersenyum melihat Syara hingga menghilang di balik pintu. Tak lama Syara kembali dengan semangkuk bubur dan jahe hangat.


Ia menyusun bantal agar tegak, untuk senderan Hans agar bisa duduk dengan nyaman.


"Ayok Kak, duduk dulu. Aku suapin makannya"


Hans tak protes, saat Syara mencoba membantu mengangkat tubuh itu agar pas duduknya. Mata mereka saling bertemu, debaran di dada bertalu-talu di keduanya.


"Maaf"


Ucap Hans mengakhiri pandangan mata mereka. Syara mulai menyuapi Hans tanpa banyak bicara. Hans yang teringat akan kejadian semalam ingin bicara namun kemudian gagal.


"Hallo boss, bisa sakit juga loe"


Aldo masuk tanpa permisi ke kamar Hans, namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan bossnya sedang disuapi oleh Syara suatu pemandangan langka menurutnya.


"G usah, duduklah"


"Yakin enggak ganggu nih"


"Sebenarnya ganggu banget"


Batin Hans melototkan matanya pada asistennya itu. Aldo hanya cengegesan merasa tak bersalah dan duduk di ranjang kasur bossnya. Sedang Syara masih meneruskan menyuapi Hans tanpa merasa terganggu oleh kedatangan Aldo.


"Boss, sakit apa loe, pura-pura aja kali loe biar dapet perhatian Syara"


Ucapan Aldo membuat sepasang suami istri itu menatap tajam ke arahnya.


"Kompak banget tu mata melototnya, awas ntar jatoh enggak ada gantinya loe hehe plis boss"


"Bagaimana keadaan kantor?"


Hans mencoba mengalihkan pembicaraan, Syara telah selesai menyuapinya.


"Aman boss, oh ya Karina nyariin loe boss. Kangen katanya"


Aldo melirik Syara, berharap ada aura-aura kekesalan di wajahnya. Namun tak ada tanda-tanda harapannya muncul. Namun bukan Aldo namanya yang menyerah begitu saja.


"Enggak usah bahas karina"


"Alah boss Karina masih setia lho nunggu malah makin yahud aja tu cewek. Rajin banget buatin sarapan, makan siang and makan malam udah kayak bini aja"


Syara yang mendengar itu terasa sesak, ia tahan dan masih tetap di ruangan itu. Mengalihkan perhatian pada Arindra karena sedari pagi ia belum memeriksa pasiennya itu.


"Loe bisa diem enggak do"


Hans melempar bantal ke arah aldo namun di tepisnya.


"Loe mah boss, punya istri dua enak banget hodup loe tapi sayang. Dua istri nganggurin loe padahal loe tu ya banyak yang antri, ehh wajar sih akhirnya loe masih aja jalan ma Karina"


"Aldo bisa diem enggak sih loe, pulang aja sono. Gue juga diurusin istri di sini, jangan asal ngomong aja loe"


"Ya kali sakit aja boss diurus, pas sehat kemana?, loe mah asik-asik aja jalan ma Karina. Ya lumayanlah ya soalnya bini loe yang sehat, enggak meduliin loe sama sekali kan"


Syara yang mencoba untuk tak peduli akan ucapan aldo, akhirnya tak tahan juga. Ia pun keluar menuju kamarnya dan lagi-lagi menumpahkan tangisnya.


Hans yang melihat itu bangun, untuk memberi pelajaran pada Aldo. Namun Aldo dengan gesit sudah menjauh darinya.


"Sorry boss, gue cuma bantuin loe dan sekalian pingin tau tanggepan bini loe itu, pless g ada maksud lain. Selamat berjuang boss, loe sama dia berhak bahagia"


Aldo pun pergi meninggalkan bossnya itu, sedang Hans bingung. Apa yang harus dia lakukan. Berkali-kali Aldo mencoba menasehatinya, untuk membuka hati untuk Syara.


"Syara itu cantik boss, rugilah loe kalo sampe disamper orang, jangan sampe nyesel loe"


"Gue udah punya Mbak Arin, Do"


"Gue tau Boss, gue juga tau adanya keajaiban. Tapi mau sampai kapan boss nunggu keajaiban itu datang. Ini dah bulan ke lima boss, istri siri loe itu belum bangun juga. Loe tau harapannya tipis banget, ada istri sah loe, seantero negeri juga tau bini loe tu Syara bukan Arindra. Loe malah nyia-nyian gitu aja"


"Kalo Arindra bangun bagaimana?"


"Loe yakin bakal dapet maaf dari Arindra kalo dia bangun?"


Hans menggelengkan kepala,


"Ya udin dong, kalo loe sendiri enggak yakin dapet maaf berarti loe harus sadar ada orang yang harus loe bahagiain juga. Kalo gue ya ya boss, kalo udah dapet bini cantik, sholehah gitu ngapain sih dianggurin. Gue mah tiap malem gue kekepin boss hehee"


"Dasar otak loe aja pe*, kotor aja pikiran loe"


"Hehee namanya laki boss, normal lah"


Sehari-hari Aldo selalu mencekokinya tentang Syara.


"Memperbaiki hubungan dengan Syara dan memulai lagi dari awal, mungkinkah?"


Gumamnya dalam hati.


###########


***Alhamdulillah chapter 29 kelar euy.


Demi cintakuh padamu love


love


love


love ❤❤❤❤***