ARINDRA

ARINDRA
Chapter 112



"Fattah sudah tidur?".


Arindra melihat Hans yang sedang menimang Fattah.


"Iya, tapi belum pulas".


"Sini gantian biar aku yang menimangnya".


"Tak apa, sudah lama aku tak melakukan seperti ini padanya, jika kau lelah istirahatlah".


"Apa kau tidak pulang?".


"Tidak, Aku sudah bilang pada Syara menginap di sini. Dia juga sedang ada jadwal di rumah sakit, jadi menginap di sana. Kau tidak keberatan kan?".


"Oh tidak, tisurlah di kamar Shania, aku akan membereskannya".


"Bisakah kita tidur bertiga, aku janji tak akan macam-macam. Bukankah dulu juga pernah tidur bersama".


Arindra terdiam, sorot matanya mengatakan kata maaf. "Aku tidur di sofa, apalagi besok weekend, jadi aku ingin mengajakmu jalan-jalan bersama".


"Kau sudah bilang pada Syara?".


"Sudah, dan dia ingin ikut tapi jadwalnya sedang sibuk-sibuknya. Apalagi Hana sekarang yang mengantikan alm. dokter Dea, dan sedikit banyak dia membantu Hana dalam memanagemen rumah sakit".


"Dia masih hamil muda, ingatlah usahakan untuk tidak terlalu lelah".


"Iya, aku akan ingat itu, terima kasih. Aku menidurkan Fattah dulu".


Arindra tersenyum dan mengikuti Hans yang membawa Fattah ke kamarnya. Hans begitu hati-hati menidurkan Fattah, lalu kemudian ia mencium anaknya dan menyelimutinya.


Arindra memperhatikan Hans, lalu iya mencium Fattah dan membaringkan tubuhnya di samping anaknya itu. Hans tersenyum melihat pemandangan itu, mereka saling tatap sebelum akhirnya Hans bangkit menuju sofa.


Hans menyingkap hordeng jendela, hujan turun dengan cukup deras. Arindra mengambil selimut dan memberikannya pada Hans.


"Duduklah dulu, temani aku". Pinta Hans dan mengambil selimut dari Arindra. Arindra menurut, duduk di pinggiran sofa, melihat itu Hans membaringkan kepalanya di paha Arindra.


"Sebentar saja seperti ini". Ucapnya, Arindra tak bisa menolak jika sudah seperti ini.


"Kau sedang bermanja atau sedang menghadapi masalah. Pekerjaanmu lancar?".


"Daddy..."


Hans menenggelamkan wajahnya di perut Arindra. Terdengar isak tangis, untuk kesekian kalinya Arindra melihat laki-laki ini menangis di pangkuannya.


"Daddy minggu depan di hukum mati".


"Innalillahi wainnailahi rojiun, kau becanda kan?". Arindra terhenyak mendapat kabar itu, sungguh ia tak lagi mengikuti perkembangan sidang baik Tuan Wijaya maupun Suster Hani.


Hans menggeleng, "Apakah Hana sudah tahu?". Lagi-lagi Hans menggeleng.


Hans yang meminta Syara menemani Hana, agar Hana tak membaca surat kabar baik online atau media masa. Hans dan Syara hanya belum siap, untuk mengatakannya pada Hana.


"Bagaimana dengan suster Hani?"


"Dia dihukum seumur hidup"


Arindra mengusap kepala Hans, sedang Hans masih terisak dalam tangisnya.


"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu, sebuah kalimat penguat dikala datangnya sebuah musibah adalah mengucap laa haula walaa kuwwata illaa billahil ‘aliyyul ‘adziim, tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung.


Saat ini, aku hanya bisa berkata sabar, sabar dalam banyak hal termasuk menerima qoda dan qadarnya. Aku tak membenci Ayahmu, aku memaafkannya".


"Nabi Muhammad SAW. bersabda dalam sebuag hadist, yang diriwayatkan oleh imam Abu Nu’aim dari Sayyidah ‘Aisyah R.A.


Jika kesabaran itu adalah seorang laki-laki, maka sungguh ia adalah laki-laki yang mulia.


Nabi Muhamad SAW juga bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan mencobanya dengan cobaan yang tidak ada penawarnya, jika ia sabar maka Dia akan memilihnya, dan jika ia ridha, maka Allah akan memilihnya (sangat mencintainya).


Kau tahu banyak sekali hadist atau riwayat tentang sabar. Apa kau mau mendengarnya?".


Hans mengangguk, dan menggenggam jemari Arindra, ia tahu Hans butuh seseorang untuk memberi dorongan kekuatan padanya. Sejahat-jahatnya orang tua atau anak ikatan darah takkan pernah dipisahkan.


"Dengarlah, semoga ini bisa membuatmu semakin kuat. Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan imam At-Thabarani dari sahabat Ibnu ‘Umar R.A


Nabi Muhammad SAW. bersabda, “Tidak ada seorang hamba yang meneguk satu tegukan (menerima musibah) yang lebih utama di sisi Allah dari pada satu tegukan yang berat yang ditahan untuk mencari ridha Allah ta’ala.”


Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sabar itu termasuk dari wasiat-wasiat Allah di bumiNya, siapa yang menjaganya maka ia akan selamat, dan siapa yang menyia-nyiakannya maka ia akan hancur.”


Nabi Muhammad SAW juga bersabda,


“Allah telah memberikan wahyu kepada Musa bin ‘Imran a.s., Wahai Musa, siapa yang tidak ridha dengan keputusan-Ku, tidak sabar dengan ujian-Ku, dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Ku, maka hendaklah ia keluar dari di antara bumiku dan langiku, dan hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku untuknya.”


Nabi Muhammad SAW . bersabda,


“Sabar ketika musibah (diganjar) dengan sembilan ratus derajat.”


Nabi Muhammad SAW . bersabda, “Sabar sesaat itu lebih baik dari pada dunia dan


seisinya.”


Nabi Muhammad SAW . bersabda, “Sabar itu ada empat macam, sabar atas hal-hal yang wajib, sabar atas musibah, sabar atas gunjingan manusia, dan sabar atas kefakiran. Sabar atas hal-hal yang diwajibkan itu taufiq, sabar atas musibah itu berpahala, sabar atas gunjingan manusia itu  (tanda) dicintai (Allah), dan sabar atas kefakiran itu ridhanya Allah.”


Nabi Muhammad SAW . bersabda, “Jika musibah menimpa pada seorang hamba di badannya atau anaknya, lalu ia menghadapinya dengan kesabaran yang baik maka Allah di hari Kiamat Allah malu menaikkan timbangan untuknya atau memberikan padanya buku catatan.”


Keutamaan sabar dijelaskan oleh imam As-Suyuthi dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadist.


Meski beberapa hadist di atas belum ditemukan sanad dan perawinya, seperti halnya penjelasan imam An-Nawawi Al-Batani saat mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya, tapi kata-kata yang terkandung cukup untuk membuat kita mengerti tentang nikmatnya orang yang bersabar".


Hans terbangun, dan berdiri dekat jendela. Ia menghapus air matanya dengan tangannya sendiri.


"Aku bukanlah orang yang sabar, bahkan aku cenderung emosional. Jika sabar bisa kubeli untuk menghadapi kenyataan ini, maka aku akan membeli sabar itu tak peduli berapapun harganya. Sayangnya tak ada yang menjual sabar".


Hans tertunduk, "Mommy meninggalkanku akibat dari perbuatan burukku di masa lalu, lalu Daddy melakukan banyak hal untuk menutupi aib putranya. Sungguh dada ini serasa sesak dan ingin meledak, jika bisa mengulang waktu aku ingin memperbaikinya.


Dan melihat Daddy dan Mommy, menikmati masa tua mereka bersama anak cucu yang selama ini mereka harapkan".


Arindra menarik Hans dalam pelukannya, Hans semakin terisak. "Aku menyesal, sungguh sangat menyesal".


"Penyesalan memang selalu datang diakhir, tapi ketahuilah pahala besar selalu menantimu jika kau memperbaiki setiap kesalahanmu dan sabar dalam setiap hal yang kau lalui.


Aku memberimu kesempatan, karena Allah Maha Pemaaf, dan kau layak mendapatkan kesempatan itu karena kau menunjukkan penyesalanmu tidak hanya lewat kata tapi juga perbuatanmu.


Begitu juga Daddymu, sebelum putus nyawa dalam raga, ia masih punya kesempatan untuk bertaubat dan sabar serta ikhlas menerima semuanya. Insyaa Allah, Allah bukakan pintu maaf dan surga menantinya. Aaminn".


###############


Alhamdulillah chapter 112 done


Informasi tentang hadist-hadist sabar bisa kalian buka di web. www.saintif.com


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤