
Hans datang ke rumah aman dengan wajah kusut, dan sudah larut. Arindra yang tak bisa tidur, membuatnya bersandar di sisi kasur dengan membaca Al-qur'an. Hans masuk ke kamar Arindra tanpa bisa dicegah dan menutup pintu itu kembali.
"Keluar"
Ucap Arindra pada Hans yang baru datang, Hans tak peduli lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur, Arindra bangun hendak pergi.
"Daddy datang marah padaku, memukulku dan kami bertengkar. Aku melawan Daddy, karena Daddy sudah keterlaluan"
Arindra yang mendengar suara curhatan Hans itu merasa dejavu. Seolah ia pernah merasakan hal seperti ini, dan suara Hans sangat tidak asing di telinganya. Arindra pun duduk kembali di kasur dengan merentangkan kakinya, dan memejamkan mata.
"Kau tau Mbak, ini sangat berat untukku. Apakah aku akan menjadi anak durhaka jika melawan Daddy saat ini. Tapi aku tidak ingin Daddy terus menerus dibutakan oleh harta dan kekuasaan yang dimilikinya, sehingga ia berlaku kejam pada orang lain"
"Mengapa hatiku merasa jika suara Hans yang selama ini menemaniku. Kenapa sangat tidak asing terdengar. Mengapa aku membayangkan ia mencium kening dan perutku. Ahhh sadar Arindra, tujuanmu hanya anakmu, anakmu makanya itu kau masih mau didekatinya. Sadarlah, kau hanya memanfaatkan dia untuk mendapatkan Fattah, bukan yang lain jangan goyah Arindra. Jangan goyah"
Ucap Arindra dalam hati. Arindra melirik Hans, yang sesaat terdiam, terlihat memejamkan mata, dan Arindra juga melakukan hal yang sama.
"Mbak, apa yang harus aku lakukan, bagaimana jika Mommy membenciku, bagaimana reaksi Hana saat tahu Daddy seorang bajinga. Bagaimana jika Daddy di penjara, apakah dia akan tahan dengan tidur di lantai.
Usianya tak muda lagi, bahkan harusnya ia saat ini menikmati hasil jerih payahnya. Namun mengapa semakin ke sini Daddy semakin kejam. Terlalu banyak orang yang menjadi korban kekejamannya termasuk dirimu.
Aku takut, ia melakukan sesuatu padamu, pada anak kita, pada Syara. Kau tahu, Daddy akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Bahkan dia mengancam membunuhku dan dirimu Mbak. Sungguh aku takut Mbak, aku takut"
Ucap Hans dengan tangis, lalu memeluk perut Arindra dengan erat. Membenamkan kepalanya di perut Arindra dengan posisi berbaring. Arindra kaget, terbelalak atas tingkah Hans.
"Lepaskan, lepaskan Hans"
Ucap Arindra setengah membentak pada Hans, sambil berusaha bangun dari duduknya. Namun pelukan Hans yang erat membuatnya tak bisa lepas.
"Sebentar, sebentar saja Mbak. Sungguh aku merindukan saat-saat seperti ini. Saat aku bisa menumpahkan segala rasaku padamu meski kau tak ada respon darimu. Tapi setelah itu aku lega"
Arindra tak lagi memberontak, membiarkan Hans terus menangis di pangkuannya.
"Kau tau yang apa yang kurasakan saat ini. Aku ketakutan, aku ketakutan. Tidak hanya takut kehilangan dirimu untuk ke dua kalinya, tapi takut kehilangan orang-orang yang selama ini mencintaiku. Aku belum siap menerima konsekuansi seperti itu, ku mohon jangan mendiamkanku dan menjauhiku. Sungguh, apa yang saat ini kuhadapi begitu berat.
Mbak, maafkan aku jika begini. Sungguh aku lemah dan sangat lelah saat ini. Hanya kau, hanya kau yang sejak dulu membuatku tenang dan mendapatkan kekuatan kembali. Jika dirimu bahkan tak ingin menemuiku, seperti yang kau lakukan beberapa hari ini sungguh aku kehilangan kekuatanku untuk membuat Daddy sadar akan kesalahannya.
Mbak...."
Hans tak lagi bersuara, ia tertidur dengan sisa-sisa tangis di sudut matanya. Arindra menarik nafas panjang, ia terdiam cukup lama menatap Hans. Membiarkan Hans tertidur di pangkuannya.
"*Ya Allah perasaan apa yang ada di hatiku ini, saat melihat wajahnya aku merasa sakit karena perbuatannya. Namun saat mendengar suaranya, kenapa aku merasakan kerinduan yang tak tau sebabnya.
Benarkah dulu, ia yang selalu mengajak bicara padaku saat koma?, benarkah sosok ini. Sosok yang telah membuatku kehilangan banyak hal, waktuku, masa depanku, keluargaku bahkan Ayah dan Ibu. Ya Allah kenapa kepalaku sakit sekali saat ini*"
Arindra terbangun, meletakkan kepala Hans di kasur, ia membuka laci obatnya. Ia minum dua kapsul pil itu, ia menahan rasa sakit kepalanya yang luar biasa. Ia ingin menjerita saat ini, namun ia tahan sebisanya.
Arindra memegangi kepalanya, dan menidurkan di sofa. Cukup lama, hingga obat mulai bekerja mengurangi rasa sakit di kepalanya. Keringat dingin, membanjiri tubuhnya, sesaat ia diamkan dirinya hingga merasa mampu bangun dan kemudian menganti pakaian di kamar mandi karena basah oleh keringat.
Ia melihat Hans, jas, dasi bahkan sepatu masih melekat di tubuh Hans. Arindra kemudian mencopot sepasang sepatu itu, melepas dasi dan kemudian menyelimuti Hans.
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi, Arindra memutuskan keluar kamar. Namun Jack ternyata berdiri di sana, di depan pintunya. Arindra tak peduli, ia kemudian melangkah menuju ruang baca yang tak jauh di kamarnya.
Jack mengikutinya di belakang, dan ikut duduk di samping Arindra. Arindra mengambil buku, untuk menemaninya.
"Kau masih marah?"
Tanya Jack, Arindra masih diam.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu?"
Arindra menghela nafas, haruskah saat ini ia mengatakan alasan sesungguhnya ia menolak seorang Jack yang begitu mencintainya dan Arindra sebagai seorang wanita cukup tersanjung untuk itu.
"Aku tak pernah marah pada Kakak, maaf, aku hanya memberikan waktu pada Kakak dan diriku, untuk kembali fokus pada tujuan awal kita"
"Tapi sikapmu terus menjauhi dan mendiamkanku"
"Aku juga melakukan hal yang sama pada Hans, bukankah Kakak tau itu"
"Benarkah, tapi mengapa sekarang ia ada di kamarmu, bahkan kudengar ia menyentuhmu dengan mudah. Bukankah begitu?"
"Kami tak melakukan apa-apa di dalam kamar Kak, ia hanya datang curhat padaku, tidak lebih"
Hans terbangun, karena merasa panas. Ia tak terbiasa tidur dengan pakaian lengkap di tubuhnya. Ia melihat ada selimut menutupi tubuhnya, ia tersenyum. Saat ingin melepas dasi, ternyata dasinya sudah tak ada. Sepatu dan kaos kaki juga terlepas. Jelas senyumnya mengembang di bibirnya.
"Ternyata kau jinak-jinak merpati ya, gadis nakal hehee"
Ia mencari sosok Arindra tak menemukannya, kemudian ia keluar. Terdengar suara Arindra di ruang baca, pintu yang sedikit terbuka membuatnya dapat melihat Jack dan Arindra di sana. Ia ingin masuk, untuk membawa Arindra lagi ke kamar. Tapi diurungkannya, karena ingin mendengar percakapan mereka.
Sementara Jack dan Arindra tak mengetahui keberadaan Hans. Jack yang masih belum percaya jawaban Arindra, menahan rasa cemburu dan marah dalam dirinya. Ia takut menyakiti hati Arindra seperti tempo hari, sehingga Arindra menjaga jarak dengannya hingga beberapa hari. Membuat Jack merana, karena tak lagi bisa bersenda gurai seperti biasanya.
###########
Alhamdulillah chapter 83 done
Like, vote, komen, share, poin and Follow Lesta Lestari
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤