ARINDRA

ARINDRA
Chapter 95



Hans meraih tangan Arindra saat mereka berada di depan rumah Hans. Ya, hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Arindra untuk bertemu putranya, setelah pembicaraan panjang akhirnya Hans menyetujui permintaaanya.


Jack tersenyum kecut melihat pemandangan itu, Jenny menepuk pundak kakaknya agar tenang. Mereka masuk rumah besar milik Hans, di mana Syara, Hana, Fattah tinggal disusul Mommy Diana akhirnya bersedia setelah Wijaya menjadi buronan.


Hans sengaja tak mengabari orang-orang rumah perihal kedatangan Arindra. Ucapan salam Hans disambut dengan keterkejutan Syara saat melihat Arindra di hadapannya.


"Mbak Arindra..." Gumam Syara di tengah keterkejutannya.


"Assalamualaikum dokter" Ucap Arindra sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya. Syara masih terdiam di tempat tanpa bergerak, membuat Hans menyentuh tangan Syara, membuat Syara kembali pada kesadarannya.


"Walaikumsalam" Ucap Syara gugup lalu memandang Hans, seolah menatap tak percaya apa yang dilakukan suaminya itu.


Jack melihat sesosok bayangan mencurigakan di balik kaca samping. Ia kemudian berjalan mendekati Arindra, membuat Hans menatap tak suka.


"Duduklah"


Ucap Hans meminta tamunya duduk di sofa ruang tamu, Jack, Jenny dan Arindra pun duduk.


"Di mana Fattah?" Tanya Hans pada Syara, namun kemudian wanita itu berlari masuk ke dalam dengan air mata.


Hans mengikuti Syara, dan melihat Syara menggambil Fattah dalam gendongan Hana. Membuat Hana dan Mommy Diana terkejut.


"Ada apa Hans" Tanya Mommy Diana


"Arindra ada di depan"


Ucap Hans yang membuat Mommy Diana dan Hana terkejut.


"Hans ke atas dulu Mom, menemui Syara"


Hans melangkahkan kaki ke atas menyusul Syara yang membawa Fattah ke kamar mereka.


Sementara Mommy Diana dan Hana, ke depan ruang tamu menemui Arindra.


"Dorr"


"Awas"


Jack mendorong tubuh Arindra hingga jatuh ke sofa.


"Kak Jack..."


Arindra terkejut melihat darah mulai keluar dari tubuh Jack, Jenny menjerit. Mommy Diana dan Hana terkejut melihat Tuan Wijaya masih menodongkan pistolnya ke arah Arindra.


"Wanita sialan" Teriak Wijaya melepas tembakan ke arah Arindra untuk ke dua kalinya.


"Maaa..."


Teriak Wijaya ke tubuh istrinya, ia menangis saat mengetahui tembakan itu mengenai tubuh Mommy Diana yang menutupi tubuh Arindra.


"Mommy..."


Hana berlari merengkuh Mommynya yang sudah berlumuran darah, mencoba menahan darah yang mengalir dari dada. Hans yang mendengar suara tembakan, ia turun dan terkejut, beberapa pengawal juga sudah masuk juga tak kalah terkejut.


"Cepat tangkap Tuan Wijaya"


Ucap Hans pada pengawalnya, Tuan Hans pun ditangkap dan diikat tangannya, sedangkan yang lain menelpon polisi.


"Cepat siapkan mobil"


Perintah salah satu pengawal, Hans berhambur memeluk Mommynya dan menangis.


Jenny dan Arindra juga menangis, melihat Jack, Wijaya duduk lemas di lantai. Tak menyangka istri yang dicintainya rela mengorbankan dirinya demi wanita yang dibencinya. Syara turun setelah menyerahkan Fattah ke baby sister. Ia syock melihat apa yang terjadi, tubuhnya lunglai jatuh ke lantai.


"Momny..." Ucap Syara, Hans menangkap Syara yang kemudian pingsan.


Tak lama pihak ke polisian datang dan membawa Wijaya ke kantor polisi. Sedangkan Jack ditemani Arindra dan Jenny ke rumah sakit, di sepanjang jalan ke duanya menangis.


Hans dan Hana menemani Mommynya, sedangkan Syara diurus oleh para art.


Arindra terduduk lemas di bangku, ruang tunggu operasi, padangannya kosong. Jenny masih menangis di peluk oleh Alex yang mengepalkan tangan di sela pelukannya, menahan kemarahan pada Wijaya.


"Dio, tolong suruh orang untuk mengambilkan pakaian ganti untuk Jenny dan Arindra" Ucap Paman James yang duduk di samping Arindra.


"Arindra, tenangkan dirimu"


"Kak Jack paman, Kak Jack" Ucap Arindra kembali menangis terisak.


"Paman mengerti, bersabarlah Jack tak selemah ini, dia pasti bangun" Ucap Paman menghibur Arindra.


Setelah itu tak ada lagi suara, semuanya berwajah khawatir, menunggu dokter yang sedang melakukan operasi pada Jack.


"Kakak"


Shania memeluk Arindra.


"Kak Jack Shan" Arindra memeluk Shania dengan erat, tangisnya terdengar pilu.


"Sungguh Kakak akan sangat menyesal jika terjadi apa-apa dengan Kak Jack"


"Tenanglah Kak, Insyaa Allah Kak Jack baik-baik saja, tenanglah" Ucap Shania sambil mengusap-usap punggung Arindra. Cukup lama mereka menunggu operasi Jack.


"Kak gantilah bajumu dulu, aku juga ganti baju" Ucap Shania yang melihat baju Kakaknya yang banyak darah, Arindra mengangguk dan mengikuti Shania, Jennypun menyusul ditemani Alex.


Operasi selesai dilaksanakan, Jack masih pingsan akibat obat bius.


#############


Sedangkan situasi duka sedang menyelimuti keluarga Wijaya, Nyonya Diana meninggal dunia. Hans dan Hana terpukul akan kejadian yang menimpa orang tua mereka. Tak ada satupun suara keluar dari mereka, meski banyak wartawan bertanya tentang kebenaran peristiwa yang terjadi.


Spekulasi dugaan pembunugan Wijaya pada istrinya beredar luas tapa bisa dibendung. Aldo semakin sibuk menangani kasus-kasus yang datang di perusahaan. Pemakaman Nyonya Wijaya dilaksanakan, Hans melihat Daddynya datang dengan baju tahanan dan tangisan pilu.


Hans mengepalkan tangan, wajahnya mengeras. Ia hendak menghajar Daddynya, namun ditahan oleh Aldo.


"Tahan emosi loe, banyak wartawan dan orang-orang di sini" Ujar Aldo.


"Ma..ma...maafkan papa ma, maafkan papa"


Tangis Wijaya di makan istrinya itu. Hana menangis, antara benci dan rasa sayang melihat keadaan Daddynya itu.


Ia tahu, Daddynya itu sangat menyayangi Mommynya. Melihat keadaan Daddynya, ia yakin Daddy sangat terpukul telah kehilangan istrinya itu, Syara memeluk Hana untuk menguatkan sahabat sekaligus adik ipar itu.


"Maa...Maa..bangun Ma, jangan tinggalkan Papa. Papa nanti sama siapa jika Mama ninggalin Papa. Ma...bangun, Ma...bangun Ma"


Ucap Wijaya di makam istrinya itu, ia memeluk makam istrinya dengan tangisan yang membuat pilu orang yang mendengarnya.


"Ma...kita kan janji mau hidup bersama cucu-cucu kita, lihat Fattah juga sudah begitu lucu. Bangun Ma, Fattah rindu omanya, dia pingin dipeluk Mama"


Hana semakin terisak mendengar rintihan Daddynya, Hans yang semula marah tertunduk melihat keadaan Daddynya. Air matanya pun luruh, tak kuasa ia bendung. Rasa penyesalan datang, membuat dadanya sesak.


Bagaimanapun, Wijaya adalah Daddy yang sangat dicintainya. Kemarahan yang membara padam seketika melihat keadaan Daddynya yang meratapi kematian Mommynya.


"Maa...Hana juga belum menikah, kita belum mengendong cucu dari Hana. Ayo bangun Ma, bangun...bukankah Mama berjanji akan menemani Hana naik ke pelaminan. Ma...banguuunnnn"


Teriak Wijaya dengan tangisan, ia memukul kepalanya sendiri berulang-ulang. Membuat Hana melepaskan pelukannya pada Syara dan memeluk Daddynya.


"Dad..."


Liriknya namun Wijaya masih memukul-mukul kepalanya. Membuat Hana terdorong dan jatuh terduduk. Anggota kepolisian akhirnya membawa Wijaya kembali.


"Daddy..." Lirih Hana saat melihat Daddynya yang meronta-ronta dibawa oleh pihak berwajib.


#############


Alhamdulillah chapter 95 done