
"Paman, bukankah paman menempatkan kamera tersembunyi di ruangan itu"
Alex ingat saat pertama kali datang bersama pamannya, Paman James meletakkan kamera itu di ruangan tengah apartemen.
"Ahh benar, kenapa paman jadi lupa, baiklah nanti kita cek setelah kita pulang"
"Bagaimana kalau kita pulang sekarang?"
Semua menengok pada sumber suara, terlihat Arindra menarik kedua sudut bibirnya dan mengacungkan ke dua jari tengahnya😁.
"Kau yakin mau pulang?"
Tanya Jack tanpa mengalihkan pandangan pada Arindra. Jenny yang selalu memperhatikan kakaknya itu setiap kali berbicara pada Arindra, melihat ada tatapan berbeda.
"Aku rasa, jika hanya lemas seperti ini bisa pulang, aku hanya tak nyaman rasanya berada di rumah sakit"
"Tidak hanya tubuhmu yang lemah saat ini, psikismu juga belum pulih. Tetaplah di sini, kami akan menjagamu"
Alex, Paman James dan Jenny saling lirik, seolah sorot mata mereka saling bertanya.
"Sejak kapan seorang Jack begitu peduli dengan wanita?"
Tapi pertanyaan itu masih tersimpan rapat di hati masing-masing.
"Jenny rasa, di rumah lebih baik kak. Bau rumah sakit, membuat kak Arindra bosan. Benar begitukan Paman, Alex"
"Paman terserah Jack, bagaimanapun Jack saat ini jadi dokter pribadi Arindra"
Ucap Paman James mencoba bijak.
"Kami semua dokter pribadi Kak Arindra paman, lihatlah kakakku ini. Di kelilingi dua dokter tampan, dan satu dokter cantik, beruntungnya dia"
Ucapan Alex dengan gaya polosnya membuat yang lain tertawa.
"Baiklah, kita kembali ke apatemen. Alex kau harus persiapkan penjagaan ekstra, aku tidak ingin hal seperti ini terulang lagi. Satu hal yang harus kau patuhi Arindra. Kau tidak boleh kemanapun tanpaku"
"Ehmmm ehmmmm"
"Kenapa Lex, kau sakit tenggorokan?"
Tanya Arindra khawatir.
"Tidak kak, hanya tenggorokanku sedikit kering" elaknya.
"Maafkan aku, jika langkahku menghubungi dokter Dea membuat masalah"
"Sudahlah lupakan, kita susun kembali strategi bagaimanapun Wijaya kemungkinan besar sudah mengetahui keberadaanmu"
Ucap Paman diangguki yang lain. Siang itu Arindra dibawa pulang, sampai di apartemen sudah terlihat beberapa bodyguard yang berdiri tegak di setiap sudut ruangan. Ada empat bodyguard di sana. Membuat kening Arindra berkerut.
"Kenapa kau tak menyukainya?
Tanya Jack memperhatikan raut wajah Arindra.
"Aku merasa seperti anak sultan dengan banyak bodyguard seperti ini"
Ucap Arindra sambil tertawa.
"Dua dariku, dua dari Alex. Itu saja belum cukup jika mengingat musuh kita adalah Wijaya. Sekarang masuklah ke kamar, kau harus istirahat. Jenny antar Kakakmu ke kamar?"
Lagi mereka bertiga saling lirik, membuat Jack bertanya.
"Kenapa dengan ekspresi kalian, adakah yang salah?"
"Oh tidak, tidak ada yang salah kak"
Jawab Jenny yang memegangi lengan Arindra.
"Aku disofa saja, aku juga ingin melihat rekamannya"
"Tapi, kau masih lemah, biarkan kami saja yang bekerja"
Ucap Jack yang sudah duduk di samping Arindra dengan lembut.
"Tidak Kak, aku lelah terus berbaring. Aku hanya ingin melihatnya, bagaimanapun aku ingin turut andil dalam menyelesaikan masalah ini"
"Tapi..."
"Sudahlah Jack, lagian kita hanya duduk dan menonton, tidak melakukan aktifitas berat"
Ucap Paman menengahi perdebatan dua insan yang sudah seperti pasangan itu. Membuat Alex dan Jenny tersenyum melihat wajah Jack yang kecewa perkataannya tak dituruti Arindra.
Vidio rekaman kejadian itu diputar, Jack memperhatikan vidio itu sambil melirik Arindra. Beberapa kali Arindra memejamkan mata, dan memegang kepalanya. Membuat Jack Khawatir.
"Sudah kukatakan jangan menontonnya, kau membuat kami khawatir"
Semua mata melihat pada Arindra, yang terlihat menahan sakit di kepalanya.
"Aku hanya sedikit sakit kak, sungguh aku bisa mengatasinya"
"Huh benar-benar kau sangat keras kepala"
Jack kesal dan bangun ke arah dapur. Ia mengambilkan minum dan beberapa buah-buahan.
Jack memberikan minum pada Arindra, Arindra patuh tak ingin membuat Jack kesal lagi padanya.
"Terima kasih kak"
Ucapnya kemudian
"Kakak tidak mengambilkan minum untuk kami"
Tanya Jenny dengan wajah sok polosnya diangguki yang lain. Arindra melirik Jack, yang dilirik santai saja dan kembali duduk di sampingnya.
"Ambil sendiri, kalian semua sehat. Manja sekali"
Kemudian disambut gelak tawa empat orang lainnya.
"Apakah kita akan lapor kepihak yang berwajib Paman?"
Tanya Jack kemudian setelah semua kembali fokus.
"Kita dipihak yang tak menguntungkan meski kita adalah korban"
"Maksud paman?"
Tanya Alex tak mengerti
"Jika kita melaporkan ke pihak berwajib, kemungkinan besar jika diproses hingga pengadilanpun kita akan kalah. Ini wilayah kekuasaan Wijaya, selain itu hanya mengandalkan rekaman ini bukti tak cukup kuat meski ada saksi dari Jack, paman dan Alex.
Pelaku jika tertangkappun kemungkinan sulit akan mengaku, kekuasaan uang begitu kuat di negeri ini. Ditambah kewenangan Wijaya, bisa jadi kita akan dituntut balik atas pelaporan pencemaran nama baik"
"Apa yang sebenarnya yang selalu dijaga oleh Tuan Wijaya Paman?"
Tanya Arindra
"Seorang pengusaha sangat mengutamakan reputasi. Jika reputasi hancur, maka yang lain akan mengikuti. Ditinggalkan para pemegang saham, investor dan lain-lainnya"
"Jika laporan kita tak bisa menggoyahkannya, bisakah kita menggoyahkan dengan cara lainnya?"
"Maksudmu?"
Yang lain serempak melihat ke Arindra.
"Menggunakan kekuatan media sosial, dan memancing musuh-musuh Wijaya untuk bersatu"
"Kau ingin kompers begitu"
Tanya Jack yang mulai mengerti arah pembicaraan Arindra.
"Kompres untuk apa, Kak Arindra tidak demam"
Ucap Jenny dengan polosnya, disambut helaan nafas dan tawa dari yang lain.
"Mengapa, apa pertanyaanku salah?"
Tanya Jenny lagi yang heran melihat tawa di wajah ke empat orang yang dihadapannya itu.
"Bukan kompres, tapi konferensi pers. Tapi bukan itu yang kumaksud. Melainkan kita memanfaatkan isu keamanan apartemen ini, berkolaborasi dengan seseorang yang memiliki chanel soutube, tentunya dia yang memiliki jumlah follower banyak yang kontennya banyak membahas rumah-rumah mewah, atau apartemem mewah begitu"
Ucap Arindra menerangkan.
"Itu ide bagus, tapi apakah ada orang yang mau berurusan dengan Wijaya, karena hal ini akan menjadi bumerang dalam karirnya"
Paman melihat ke empat orang di hadapannya itu dengan wajah serius.
"Selain itu bukankah akan ada pelaporan pencemaran nama baik juga paman?"
Tanya Jenny yang mulai mengerti arah pembicaraan.
"Benar, meski mungkin ada teror dan ancaman pelaporan. Tapi sebenarnya itu akan menjadi lebih menarik. Kita bisa angkat kasus ini ke media sosial untuk meraih simpati publik. Jika masyarakat mengetahui sepak terjang seorang Wijaya, maka kita sebagai korban akan menarik simpati itu. Jelas kasus ini jika tetap diproses dan Wijaya menang, akan menjadi bulan-bulanan medsos dan itu akan merusak reputasi Wijaya bukan"
"Kau yakin akan mampu menghadapinya, bagaimanapun kau akan menjadi tokoh utama dalam melawan Wijaya kali ini. Aku mengkhawatirkan kondisi psikismu"
Ucap Jack diamini yang lain.
"Cepat atau lambat aku pasti berhadapan dengan keluarga Wijaya. Meski aku tak tahu apa kesalahanku pada mereka. Tapi jika benar Wijaya ingin kematianku, maka aku tak menjadi pengecut dengan bersembunyi.
Cukup aku bersembunyi dalam koma selama ini, hingga aku bahkan tak mengetahui apa itu kehamilan, melahirkan dan terlebih putra yang kulahirkan. Aku siap menghadapi maut untuk kedua kalinya demi bertemu dengan orang yang telah kulahirkan"
################
Eng ing eng..
Alhamdulillah chapter 59 done
yuklah di like, di vote, komen, share, poin,
di follow Lesta Lestari.....
Karena buat nulis cerita butuh pulsa and tenaga heheee😁😁😁😁
Jangan lupa ya inga....inga ting❤❤❤❤❤❤❤