
Malam semakin larut, Hans tak bisa memejamkan matanya. Panas ditubuhnya masih terasa, ia juga sangat lapar. Namun Hans terlalu malas untuk melangkah ke dapur, dipaksakannya obat demam yang ada di nakas. Ia melangkah sempoyongan, membuka pintu lalu melangkah ke pembaringan.
"Ra..Ra.."
Iya mencoba memanggil Syara yang terlelap, berulang kali namun Syara tak jua terbangun.
Hans menarik selimut itu, dan membaringkan tubuhnya di samping Syara. Tangan kanan digunakan untuk memeluk pinggang ramping istrinya itu.
Tubuhnya makin menggigil, ia makin mengeratkan pelukannya pada Syara.
"Euhh Allahu Akbar"
Syara terkejut dan berbalik melihat tubuh yang di dekatnya itu, ia hendak marah namun saat kulit tangannya menyentuh tangan Hans.
"Kak Hans bangun"
"Jangan usir Ra, aku sakit"
"Kakak beneran enggak minum obatnya tadi"
Syara mengecek kening Hans, dilihat tubuh itu menggigil.
"Aku dah minum barusan aja tadi"
"Kakak enggak makan?"
"Enggak selera"
Syara bangkit untuk mengambil air hangat dan kain, kembali mengompres Hans.
"Enggak usah dikompres Ra"
"Terus maunya diapain"
"Peluk aja, nti juga sembuh"
"Itu mah maunya Kakak, udah diem"
"Kamu cantik Ra, rambut kamu bagus"
"Masih menggigil juga sempet-sempetnya ngerayu, bawa istirahat. Udah tau badan enggak enak, keluar-keluar segala."
"Ra.."
"Hemm"
"Peluk aja daripada ngomel"
"Ogah"
"Dosa loe, nolak suami"
"Gini aja ngomongin dosa, kemarin-kemarin kemana"
Hans terbangun, ia menarik tubuh Syara dan langsung memeluknya erat.
"Ka, ini enggak bisa ngompres kalo kayak gini"
Syara merasakan hawa panas ditengkuk lehernya, tanpa terhalang karena ia tak memakai jilbabnya.
"Ya Allah, kenapa jantungku berdebar kencang begini. Apa aku salah minum obat tadi, kenapa aku senang Kak Hans memelukku begini" rintih Syara dalam hati.
"Kak, badan kakak panas banget. Aku kompres dulu ya"
"Peluk aja, Ra"
"Kakak berat, aku pegel"
"Ya udah baring"
"Kak, kenapa sih tiba-tiba kayak gini, kakak buat aku tambah bingung"
"Baring Ra"
"Iya baring"
Hans membaringkan tubuhya di kasur.
"Sini Ra"
Hans menarik tangannya Syara untuk segera berbaring.
"Aku mau ngompres kakak"
"Peluk aja Ra"
"Tapi kak.."
"Hanya peluk Ra, enggak lebih"
Hans menarik tubu Syara dan membaringkannya, kemudian tangannya memeluk erat tubuh kecil itu. Syara tak bisa lagi berkutik, deru nafas Hans begitu terasa di tengkuknya. Membuat bulu-bulu kuduknya berdisko ria. Akhirnya ia pasrah, mulai memejamkan mata. Perlahan namun pasti, keduanya terlelap.
######
Pagi hari, Syara terbangun namun tak ada lagi sosok Hans di sampingnya. Ia keluar mencari suaminya itu, berulang kali mengetuk pintu, namun tak ada suara. Akhirnya ia memberanikan diri masuk kamar.
"Aaaaaa"
"Kenapa berteriak, mengagetkan saja"
Hans berjalan santai ke arah lemari bajunya
"Itu-itu"
Syara menunjuk-nunjuk ke belakang karena ia tak ingin melihat tubuh suaminya yang hanya berbalut handuk kecil.
"Itu apa?"
Ucap Hans pura-pura tak mengerti, ia berjalan mendekati Syara yang membelakanginya dengan mengendap-endap.
"Pakai baju kakak"
"Memangnya kenapa kau istriku"
"Aaaa, kenapa belum pakai baju sih"
Syara menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya.
"Hahaa kau ini lucu sekali, belum pernah melihat laki-laki seperti ini apa hemm, mau merasakannya, nih silahkan pegang"
Hans mendekatkan tubuhnya, refleks Syara mundur dan terpentok di dinding dengan mata yang masih tertutup.
"Kak jangan begini"
Wajah tegang Syara sangat terlihat, ia terkurung di dinding dengan ke dua tangan Hans memegang erat pinggang dan tubuhnya menghimpit tubuh kecil Syara.
"Memangnya aku melakukan apa?"
"Aku mau sholat subuh"
"Aku tak melarangmu"
"Aku tak bisa keluar jika kakak begini"
Ucapnya masih memejamkan mata dan memalingkan wajahnya agar tidak mencium kulit dada suaminya.
"Beri aku pelukan hangat, baru aku akan melepaskanmu"
Bisik Hansdi telinga Syara sambil terus merapatkan tubuhnya. Ia tersenyum melihat wajah kaku istrinya itu, ketegangan jelas terpancar di tubuh mungil Syara.
"K-kak, a--ku mau sholat subuh"
Ucapnya gugup dengan tetap bertahan menutup mata, jelas ia merasakan suara degub jantung Hans yang begitu cepat ditelinganya.
"Silahkan"
"Le-paskan dulu"
"Tidak"
"Kak"
"Peluk dulu"
Syara kesal dan gugup, dengan cepat ia mengangkat kakinya dan menghentakkan kuat di punggung kaki Hans.
"Auuu, kau"
Hans melepaskan kungkungannya, dan memegang kakinya yang diinjak Syara.
"Maaf Kak, aku terpaksa"
Syara berlari ke luar dan segera mengunci pintu kamarnya. Ia menyandarkan diri di pintu kamar dengan memegang dadanya.
"Huh, untung saja. Kenapa jantungku berdebar kencang begini, apakah aku sakit?, ahhh takkan kubiarkan dia mendekatiku lagi. Sepertinya dia benar-benar sudah sembuh, kenapa tingkahnya aneh dari kemarin, huh terserahlah"
Syara bergumam dengan dirinya sendiri, dan kemudian melanjutkan aktifitas mandi pagi sebelum sholat subuh ditunaikan.
Di kamar sebelah, Hans juga sedang merasakan debaran jantungnya yang melaju kencang.
"Ahhh benar-benar sepertinya aku jatuh cinta lagi padanya. Mudah sekali dia membuatku bertekuk lutut. Lihat saja, kubuat kau tak berpaling lagi dariku. Akan kutempeli kau bagai lem hehehe. Lucu juga melihat wajahnya itu, tubuhnya benar-benar harum. Duh kenapa tiba-tiba tegang begini, Ya salam haruskan aku mandi lagi "
Hans benar-benar mandi kembali setelah tadi mandi, hawa panas yang menyelimuti tubuhnya harus segera dipadamkannya.
Pagi-pagi dah mandi dua kali aja ya Hans, kasihan banget sih😆😆
Syara setelah sholat subuh bergegas membuat sarapan, pagi ini ia ingin membuat sarapan sendiri. Tiba-tiba ia ingin membuat bubur kacang hijau, dicampur ketan hitam. Ia berkutat di dapur di bantu Mbok Nah.
Hans datang mencari Syara, dan melihat istrinya sedang di dapur. Mbok Nah melihat kedatangan Tuan Mudanya, ingin menyapa namun jari telunjuk Hans sudah menempel di bibirnya tanda meminta Mbok Nah untuk diam. Hans lalu menyuruh Mbok Nah untuk pergi lewat isyarat.
"Nona, Mbok mau ke pasar dulu. Kebetulan ada beberapa bahan yang harus dibeli, apa nona ada yang mau dititip"
"Lho ini masih terlalu pagi Mbok, apa pasar sudah buka jam segini"
Syara heran, karena tak biasanya Mbok Nah berbelanja pagi sekali. Apalagi saat ia melihat jam di tangannya masih pukul lima.
"Ini Jakarta Nona, banyak pasar yang sudah buka jam segini, saya permisi dulu Nona"
"Dengan siapa Mbok ke pasar?"
"Mang ujang nona"
"Oh baiklah, Fii amanilah Mbok"
"Iya Nona, saya pergi dulu"
Syara mengangguk, Mbok Nah melirik Hans, yang dilirik tersenyum dan mengcungkan jari jempolnya, Mbok Nah hanya tersenyum melihat tingkah Tuan mudanya itu.
Syara yang belum menyadari kedatangan Hans masih berkutat dengan kacang hijau yang masih direbusnya, ia juga sedang mengaduk-aduk santan di sebelah kompor satunya agar tidak mengental dan menjadi pecah-pecah.
#########
**Alhamdulillah Chapter 32 sudah done
Komenlah kuy yang team Syara ma Hans, kubuat kalian bahagia hehee
Team Arindra Hans sabar ya...😆😆
Ada waktunya
jangan lupa
di like
di vote
di koment
dipoin
di follow lesta- lestari
aku padamu readersku❤❤❤❤❤**