
Di ruang kerja Tuan Wijaya, Wijaya menghubungi seseorang.
"Hallo Tuan"
Suara seorang laki-laki di sebrang telpon.
"Bagaimana bisa wanita itu belum mati hah, bahkan dia berani muncul di hadapanku?"
Geramnya pada laki-laki lawan bicaranya.
"Maafkan kami Tuan, sejak peristiwa malam itu yang dilakukan anak buah Nyonya Hani. Wanita itu dijaga dengan ketat Tuan, ia tak tidak pernah keluar sejak peristiwa itu kecuali pada saat pemakaman tadi. Kami tak berani bertindak, karena terlalu banyak kamera di sana selain bodyguardnya juga bertambah tiga kali lipat.
Saat ini mereka bahkan meletakkan kamera di sudut ruangan apartemen dan menempatkan empat orang bodyguard. Bahkan ada tiga laki-laki selain bodyguard di sana"
"Brengsek"
Umpat Tuan Wijaya kesal mendengar laporan anak buahnya.
"Jika aku menyuruh menyerbu, maka itu akan merusak namaku. Mereka tinggal di gedung milikku, jika tidak menyerbu ahh, mereka akan semakin menjadi"
Wijaya mondar-mandir, baru kali ini seorang Wijaya terlihat gelisah. Biasanya ia selalu terlihat tenang dan berwibawa, hanya karena seorang Arindra membuat ketenangannya sedikit menghilang.
"Hans, temui Daddy di rumah"
Ucap Tuan Wijaya menelpon Hans.
"Baik Dad"
Hans yang ada di rumah, berpamitan pada Syara.
"Ada apa kak?"
Melihat Hans yang sudah rapi dan memegang kunci mobil.
"Aku ke rumah Daddy dulu, tadi Daddy telpon memintaku ke sana"
"Ada apa, apakah terjadi sesuatu dengan mereka?"
Tanya Syara yang terlihat khawatir.
"Tidak, mungkin ada yang dibicarakan mengenai perjodohan Hana"
"Bolehkah aku ikut?"
"Aku tidak menginap, kau sudah lelah dari pemakaman. Besok saja jika ingin menemui Hana atau Mommy ya, sekalian ajak baby Fattah"
"Baiklah, janji tidak menginap kan"
"Iya aku janji"
Syara tersenyum dan memeluk Hans, ia mencium tangan suaminya, dibalas dengan sebuah kecupan singkat di kening Syara.
"Kakak berangkat dulu ya, Assalamualaikum"
"Walaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, fii amanillah kak"
Hans mengangguk dan segera memasuki mobil, menuju rumah kediaman orang tuanya.
Sesampainya di sana, ia tak melihat Mommynya dan langsung menuju ruang kerja Daddynya.
"Dad"
Ucap Hans setelah membuka pintu ruang kerja Tuan Wijaya
"Duduklah"
Perintahnya, Hans duduk di sofa sedangkan Tuan Wijaya berdiri membelakangi, ia sedang melihat foto keluarganya yang tersenyum bahagia.
"Lihat, bagaimana Mommy dan Hana begitu bahagia di foto ini"
Ucap Wijaya tanpa berbalik melihat putranya.
"Bertahun-tahun Daddy berusaha keras agar membuat keluarga kita selalu bahagia. Agar senyum itu masih berada di tempatnya dan tak pernah menghilang"
"Aku tak mengerti apa maksud Daddy, tho the point saja Dad. Hans tau, Daddy sedang menyimpan banyak rahasia"
Tuan Wijaya menghela nafas berat. Ia tatap putra satu-satunya ini, yang selalu bersitegang dengannya semenjak kehadiran sosok Arindra dalam kehidupan keluarga mereka.
"Sampai di titik ini, menjadi pengusaha sukses, bahkan orang-orang akan bergetar saat nama Wijaya disebut. Kau tau, banyak luka yang Daddy alami, dan semua itu adalah pengorbanan yang setimpal jika mengingat kita sampai dititik ini"
Hans berkata dengan wajah dinginnya, Tuan Wijaya wajahnya mulai mengeras mendengar ucapan putranya.
"Jangan menuduh tanpa bukti, jika orang lain yang mengatakan ini. Daddy takkan memberi ampun padanya"
"Membunuhnya, sungguh Daddy begitu mudah menghilangkan nyawa orang lain. Seolah nyawa itu tak berharga sama sekali"
"Kau...sudah banyak berubah. Kau bukan Hans yang Daddy kenal"
"Hans yang dulu, anak penurut dan menuruti semua yang Daddy ucapkan. Dan bodohnya Hans yang dulu begitu mengagumi sosok itu"
"Hans..."
"Jika Daddy meminta Hans datang hanya untuk mengikuti kembali semua keinginan Daddy, maka Hans katakan tidak saat ini juga. Termasuk Daddy yang selalu berusaha menghentikan Hans dalam mengungkap kematian Arindra. Hans tau Arindra masih hidup, Hans yakin itu"
"Bodoh, tidak cukupkah tes DNA itu membuktikan jika Arindra sudah mati. Mengapa kau begitu terobsesi pada sosok Arindra yang bahkan tidak kau kenal"
"Ya Hans memang tidak mengenalnya Dad, karena Daddy yang menghilangkan kesempatan itu. Tahukah Daddy, gara-gara Hans, orang sebaik Arindra harus kehilangan ke dua orang tuanya. Gara-gara Hans, Arindra berpisah dan bahkan mungkin tak mengenali keluarganya.
Gara-gara Hans, Arindra tak merasakan hamil dan melahirkan anaknya, bahkan ia juga tak mengenali putranya sendiri. Bahkan Daddy masih saja berambisi untuk membunuhnya, tidakkah itu belum cukup?"
Hans mengusap air mata di pipinya, geram melihat Daddynya yang begitu tenang atas semua kesalahan yang sudah dilakukannya.
"Jika Daddy meminta Hans seperti dulu, maaf. Hans takkan melakukannya lagi, termasuk jika Daddy meminta menghentikan kerjasama dengan perusahaan Adam dan menghancurkan mereka"
"Tidakkah kau sadar Hans, kau sedang mengiring keluargamu menuju kehancuran. Kau membangkitkan perusahaan musuhmu, yang selalu mengincar kehancuranmu"
"Jika memang kehancuran itu bisa menghentikan semua kejahatan Daddy maka Hans akan membiarkannya. Hans tak bisa, berdiri di atas mayat-mayat tak berdosa. Dan hentikan usaha Daddy untuk membunuh Arindra. Jika Daddy masih saja melakukannya, Hans tak segan berlawanan dengan Daddy"
"Hans..."
Hans melangkah keluar ruang kerja, dilihat Hana yang menatapnya dengan wajah dingin.
"Jadi kakak masih menuduh Daddy melakukan hal-hal keji?"
Tanya Hana menghentikan langkah Hans.
"Kau fikir Daddymu selama ini orang baik?"
"Mungkin Daddy memang bukan orang baik. Tapi Hana yakin, Daddy tak akan melakukan hal-hal keji hanya untuk menggapai kesuksesannya"
"Meski kau sudah 25 tahun, tapi tentang kehidupan seorang Wijaya kau masih sangat polos"
"Jangan hanya obsesi kakak pada Mbak Arindra, membutakan mata hati Kakak untuk melihat kebenaran"
Hans berbalik melihat adiknya itu
"Ini bukan tentang Arindra, Hanaira. Ini tentang kejahatan yang dilakukan seorang Wijaya. Dan Arindra adalah satu korban dari kejahatan itu"
"Jangan mentang-mentang Hana tak mengurus perusahaan, dan hanya tau rumah sakit. Kakak dengan mudah mengelabui Hana. Lihat ini..."
Hana memberikan sebuah dokumen tes DNA mayat wanita yang diduga Arindra.
"Hanya karena rasa penyesalan kakak yang begitu besar pada Mbak Arindra. Kakak sampai tak menerima fakta jika Mbak Arindra sudah meninggal dunia. Saking tak percayanya, kakak melakukan tes DNA pada mayat yang jelas-jelas itu Mbak Arindra. Lihat, lihat dengan benar..."
Hana menunjukkan hasil tes DNA jika mayat wanita itu hasilnya cocok dengan baby Fattah.
"Ini adalah bukti Mbak Arindra sudah tiada, masihkan kakak akan terus menyangkal jika Mbak Arindra masih hidup. Di mana hati nurani kakak, jika Syara melihat ini. Suaminya ternyata masih tergila-gila pada orang yang sudah meninggal dunia. Kakak fikir, Syara tidak sakit hati jika melihat ini semua hah"
Hans menyadari kemarahan Hana, jadi dia hanya diam dan menerima kemarahan itu. Karena ia tahu Hana tak mengetahui sama sekali kejahatan Daddy dan tentang Arindra.
"Apakah kakak ingin, Syara meninggalkan Kakak untuk ke dua kalinya. Ingat, Kakak yang mengemis cinta dari Syara, hingga Syara akhirnya mencintai kakak. Ia rela, melepas laki-laki yang dicintainya meski awalnya dipaksa menikah dengan manusia arogan seperti kakak.
Demi Kakak, ia menyerahkan seluruh hatinya, bahkan mengurus dan menyayangi baby Fattah dengan sangat baik. Masihkah Kakak tega membuat hatinya hancur. Hentikan berharap, hentikan Kakak bermimpi jika Mbak Arindra masih hidup.
Sudah cukup tanggungjawab Kakak selama ini, sekarang saatnya bahagiakan Syara, jika tidak Hana tidak segan-segan membenci Kakak"
Hana pergi meninggalkan Hans yang termangu, mendapatkan kemarahan darinya. Apa yang ia lakukan, Hana berharap Kakaknya sadar jika ada wanita yang telah mencintai di sisinya dengan sangat baik. Hana ingin Hans menjadi sosok yang bersyukur, akan hadirnya seorang Syara yang banyak mengubah Hans menjadi lebih baik.
################
Alhamdulillah chapter 66 done
Vote, komen, like, poin, Follow Lesta Lestari ya....dang lupa
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤