
"Bagaimana Mbak Arindra, apakah ada perubahan?, kandungannya bagaimana?"
Tanya Hans sambil menikmati sarapan paginya.
"Keadaannya masih sama, kandungannya Alhamdulillah baik-baik saja kak"
Tak ada lagi suara di antara mereka berdua, sesekali Syara melirik ke arah Hans. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun ia ragu untuk menyapaikannya.
"Kak"
Pada akhirnya ia memberanikan diri memanggil suaminya itu.
"Hemm"
"Bisakah kita berteman?"
Hans menghentikan suapannya dan melihat ke arah Syara dengan sorot mata tajam, Syara yang biasanya tertunduk berusaha menatap mata Hans.
"Pertemanan seperti apa yang kamu maksud"
Hans menyilangkan ke dua tangannya di dada, masih dengan sorot mata tajamnya.
"Kita bisa berteman, kakak bisa berbagi dan bercerita apapun padaku"
Suara Syara bergetar, menandakan ia cukup ragu mengatakan itu. Ia saat ini hanya berharap bisa membalas jasa Hans di masa lalu.
"Tidak perlu"
"Kenapa?"
"Aku takut, jatuh cinta padamu dan tak sanggup melepaskanmu kelak"
"Kak Hans"
"Fokus saja pada tugasmu, bukankah kau juga tak ingin bersamaku. Jangan membuat celah sedikitpun, jika kau tak mau ada yang terluka kembali"
Hans berlalu meninggalkan Syara yang terdiam di meja makan. Ia ke kamar dan berganti baju, kemudian turun pergi meninggalkan rumah.
"Apa yang kakak katakan benar, tapi mengapa ada dorongan di hatiku untuk jauh mengenalmu. Apakah aku salah Kak?"
Gumam hati Syara, yang kemudian tak melanjutkan sarapannya.
Di tempat lain, Hans pergi ke sebuah pantai. Ia ingin menenangkan diri saat ini. Ia melihat-lihat galeri foto, tampak wajah cantik dengan senyuman manis terhias di sana.
Seorang gadis berseragam putih abu-abu yang diambilnya beberapa tahun lalu. Foto-foto itu masih tersimpan rapi di galerinya, ia tersenyum melihat pose-pose lucu gadis cantik berkaca mata itu.
Namun kemudian kenangan pahit itu hadir, saat ia mengungkapkan perasaannya. Ditolak mentah-mentah dengan gadis ingusan yang membuatnya kehilangan harga diri. Rusak sudah cerita indah yang ingin ia rangkai bersama, di tengah keterpurukannya Karina datang membawa sejuta kata-kata yang mampu membuatnya bangkit.
Karina, dengan segala upayanya mampu mengalihkan dari rasa sakit hati dalam diri seorang Hans. Hingga ia kemudian memutuskan untuk menikahi wanita itu, namun naas saat akan melangsungkan lamaran romantis yang sudah ia persiapkan.
Ia dihadapkan pada kenyataan Karina sedang bercumbu dengan laki-laki lain, Zaki yang juga sosok sahabat dekatnya. Sakit hati kembali menyeruak dalam dadanya, hingga ia hilang kontrol dan melakukan perbuatan yang ia sesali saat ini.
Cukup lama ia berdiam diri memandang lautan, beberapa puntung ro*** pun sudah berserakan. Deburan ombak dan hembusan angin pantai, membuatnya dihinggapi rasa kantuk. Hans kemudian memutuskan untuk ke mobil dan menidurkan tubuhnya.
#####
Di lain tempat, Hana datang lagi ke rumah Hans, setelah ke rumah sakit mengantarkan dr Dea. Ia ingin berbaikan dengan sahabatnya terbaiknya itu. Sesampainya di sana, ia melihat Syara yang sedang di taman membaca sebuah buku.
"Assalamualaikum kakak ipar?"
Syara menoleh ke sumber suara, dilihat Hana tersenyum manis dan datang langsung memeluknya dari samping.
"Walaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh"
"Kangen tau Ra"
Ucap Hana dengan nada manjanya itu.
"Duduklah Han"
Hana duduk di samping, menatap Syara yang kembali fokus ke bukunya.
"Masih marah sama aku Ra?"
Hana mengoyangkan tangan Syara, Syara tak bergeming dengan wajah memelas Hana.
"Ra, aku harus ngapain biar kamu maafin aku, aku tau aku salah Ra, aku minta maaf tulus tulus banget pake ikhlas malah. Udah ya marahannya, kamu enggak kasihan sama aku"
Hana memasang wajah memelas yang dipaksakan, sehingga membuat siapapun ingin tertawa melihat wajahnya. Termasuk Syara yang tertawa dalam hatinya, menahannya agar tidak nampak di permukaan wajah cantiknya.
"Ra...Ra..."
Kini Hana merajuk, mengoyang-goyangkan tangannya persis seperti anak-anak yang meminta jajan.
"Ayo dong, rugi loh kalo kamu kehilangan sahabat cantik, baik, pinter dan suka membantu kayak aku ini. Bener deh rugi banget mbet. Coba kamu fikir deh, kamu g ada temen yang jailin kamu lagi, g bawelin kamu lagi, enggak ada yang nemenin kamu ini itu, rugikan ...rugi bangetlah..., makanya udahan ya marahannya nanti aku beliin permen lolipop yang bentul love-love gitu heheee"
Syara yang menahan tawanya akhirnya tak kuasa juga.
"Pukk"
Syara memukul tangan Syara menggunakan buku yang masih menarik-narik tangannya itu meskipun sudah beberapa kali ia tepiskan sambil tertawa.
"Aduk kenapa tanganku dipukul, ini suami istri seneng banget nganiaya adeknya huh, tadi pagi suaminya, sekarang istrinya. Pantes kalian itu jodoh, sama-sama suka...."
"Iihh beneran ini suami istri, main kabur aja udah kayak ikan ketemu air langsung cus aja meluncur renang"
Gerutu Hana yang mengejar Syara yang sedang menaiki tangga.
"Ra, maaf deh kalo salah ngomong lagi"
Ucap Hana yang sudah mensejajari langkahnya.
"Enggak usah di bahas lagi Han, temani aja ke kamar Mbak Arindra. Kita ngobrol di sana, sekalian nungguin"
"Kamu beneran dah marah lagi"
Syara mengangguk
"Asiiik berarti aku bisa manggil kamu kakak ipar dong mulai sekarang?"
"Hanaaa"
Mata Syara melotot tajam menatap Hana yang cengengesan seolah tak bersalah.
"Pliesss deh kakak ipar"
Hana mengacungan dua jari berbentuk huruf V dengan senyumnya.
"Udah jangan marah, ntar cepet tua lho. Aku kan belum dikasih keponakan, masak dah tua aja hehee"
"Hanaaaa"
Syara semakin kesal melihat tingkah Hana yang makin meledeknya. Hana seolah tak peduli, ia menarik lengan Syara menuju kamar Mbak Arindra yang otomatis memasuki kamar Hans.
"Gimana keadaannya hari ini Kak"
Tanya Hana melihat keadaan Mbak Arindra, dan mengecek infus makanan yang sebentar lagi habis.
"Kak?"
Syara yang heran, dengan ucapan Hana barusan.
"Iya Kakak Syara, yang cantik and sholehah, kamu kakakku sekarang. Mulai hari ini, aku memanggilmu Kakak"
"Yang biasa aja Han, enggak enak dengernya"
"Go boleh, harus dibiasain oke. Lagian nih aku masih punya mimpi punya keponakan-keponakan cantik dari kak Hans dan Kakak. Lucu-lucu kali ya"
"Jangan kebanyakan ngayal, ntar jatoh enggak enak"
"Ihh siapa yang ngayal, kalian udah sah suami istri tinggal cetak gol aja"
"Emangnya bola ditendang gol"
"La iya, Kak Hans juga harus cepet buat gol biar cepet cetaknya. Tapi gawangnya di buka dong, jangan ditutup aja, kan enggak enak ada bola enggak ada gawang"
"Makin aneh aja kamu ini ngomong Han, sana kamu nikah aja ma Aldo"
"Lho, kok aku sih jadinya"
"La kamukan yang jomblo sekarang"
"Ya Allah, kasihani baim Ya Allah"
Syara melempar bantal sofa ke arah Hana.
"Lebay deh"
Dibalas tawa oleh Hana dan memeluk kakak iparnya lagi.
"Makasih ya, udah maafin aku"
Ucap Hana dengan tulus.
ππππ
########
***Alhamdulillah done 27 duh enggak nyangka dah sampe sini aja.
kuylah
di baca
di like
di komen
di vote
si poin
and di follow lesta lestari
love muahchhhπβ€β€ππ€²***