
Syara yang mendengar perkataan artnya berubah tegang.
"Tolong sus, jaga baby fattah dulu"
Ucap Syara yang melangkah ke kamar meraih hanphonenya. Sedang para art saling bertanya lewat wajah mereka akan sikap Nona Mudanya.
Di kamar, Syara melihat vidio soutube si petir. Diperhatikan dengan benar semua isi konten itu, sebelum kemudian dia syok melihat wajah familiar itu sedang berbicara. Hanphonenya terjatuh, tanpa ia sadari.
"Tidak-tidak mungkin"
Ia geleng-geleng kepala, seakan ingin menolak fakta apa yang dilihatnya barusan.
"Tidak mungkin itu Mbak Arindra, itu pasti salah. Dia Arindra Adam Smith, bukan Syabila Arindra"
Syara mengigit-gigit bibirnya, menangkupkan kedua tangan memeluk erat dua lututnya. Berulang-ulang kali ia menggeleng, melihat lagi vidio itu, menggeleng lagi dan kemudian membuang hanphonenya begitu saja di lantai.
"Tidak, tidak tidak. Itu bukan Mbak Arindra. Dia sudah meninggal. Ya Allah, kenapa...kenapa...., dia sudah meninggal kan Ya Robb, tapi kenapa dia mirip sekali. Aku tidak mau kehilangan suamiku Robb, tidak mau...aku juga sangat menyayangi baby fattah seperti anak kandungku sendiri. Tolong Robb, jika ini mimpi bangunkan aku dari kenyataan ini, jika ini nyata aku harus bagaimana..."
Syara menangis terisak yang tertahan, ia menutup ke dua mulutnya agar tangisan itu tak terdengar.
"Aku tidak ingin jadi madunya ya Robb, aku tidak mau, kenapa saat-saat bahagia sekarang ini kau hadirkan orang yang begitu mirip. Kau tahu Robb, Kau sangat tau. Betapa aku mencintai Hans suamiku, mencintai baby Fattah. Tidak ya Robb, jangan ambil mereka dariku, aku tidak ingin berpisah dari mereka. Tolong Ya Robb, apa salahku jika aku hanya ingin memiliki suamiku seutuhnya"
Syara cukup lama berdiam diri di kamar dalam tangis dan ratapan kegelisahan hatinya. Sampai Hana datang mengetuk pintu kamarnya. Hana masuk, dan ia melihat Syara sedang menangis, dan hanphone yang pecah di lantai. Ia tertunduk, mengerti jika Syara sudah mengetahui tentang berita itu.
"Ra..."
Lirihnya, ia bingung harus bicara apa pada sahabat sekaligus kakak iparnya itu. Hana sendiri masih syok dengan apa yang terjadi. Setelah mommy siuman dan Daddy tenang. Hana segera menemui Syara, meski hatinya juga gundah. Berharap sahabatnya itu belum melihat vidio, namun saat melihat Syara yang sudah terisak, dan terlihat bingung, dengan hanphone yang sudah terburai. Hana menyakini Syara sudah melihat vidio itu.
Syara melihat sahabatnya kemudian berlari memeluknya.
"Han, kamu pasti udah lihat kan. Itu bukan Mbak Arindra kan Han, itu pasti bukan kan?"
Tanya Syara pada Hana, masih berharap jika yang dilihatnya bukan seorang Arindra.
"Aku g tau Ra, aku juga syok sama sepertimu saat melihat vidio itu. Mommy bahkan pingsan, dan Daddy menangis saat melihat Mom seperti itu"
"Tapi Han, Mbak Arindra udah meninggal Han. Kita bahkan beberapa kali ke makamnya. Tolong bilang sama aku Han, kalau wanita di vidio itu bukan Mbak Arindra. Tolong bilang Han, tolong"
Hana kelu melihat frustasinya seorang Syara. Tak pernah ia melihat Syara yang begitu sedih setelah pernikahannya batal dengan Afdan dulu. Meski ia tahu Syara sering menangis, saat melihat Kak Hans mengajak berbicara Mbak Arindra dan menciumi wanita itu tapi tidak sampai sehisteris ini.
Kesedihan dan ketakutan mendalam sangat terlihat di tubuh mungil Syara, ia tau Syara rapuh dan kehilangan rasa percaya dirinya.
"Aku g bisa Ra, maaf. Hati kecilku berkata jika itu benar Mbak Arindra. Maaf, selama ini sama sepertimu yang aku tahu Mbak Arindra sudah meninggal, meski berulangkali Kak Hans bilang jika Mbak Arindra belum meninggal. Tapi aku tak pernah percaya Ra, saat melihatnya aku baru tahu, jika apa yang dikatakan Kak Hans itu benar. Keyakinannya tentang masih hidupnya Mbak Arindra benar"
"Enggak Han, enggak mungkin. Dia sudah meninggal Han, sudah meninggal"
"Aku tahu Ra, ini berat buat kamu. Tapi kamu harus menerima fakta jika Mbak Arindra masih hidup. Kita saat ini tidak tau kondisinya, apakah dia membuat identitas baru hanya untuk membuatnya tak mudah dicari. Tapi yang jelas kamu harus terima jika itu Mbak Arindra"
"Enggak Han, aku enggak mau. Aku enggak mau di madu Han, enggak mau"
Syara menjerit tak mau mendengar apa-apa lagi dari Hana. ke dua tangannya menutupi ke dua telinganya.
"Ra, ...Jangan begini. Kita harus bersyukur karena Mbak Arindra masih hidup. Ini bukti kekuasaan Allah Ra..istiqfar Ra, istiqfar"
Hana meraih ke dua tangan Syara dan memegangnya erat.
"Aku sayang baby Fattah Ra, aku sangat mencintai Kak Hans. Aku enggak mau berbagi kak Hans dengan Mbak Arindra, juga baby Fattah. Baby Fattah anak aku Han, anak aku"
"Istiqfar Ra, istiqfar. Ingat Ra, meski nikah siri Mbak Arindra tetaplah istri Kak Hans. Kedudukannya sama kamu, kamu faham ilmunya Ra, kamu sangat mengerti itu. Jangan mengedepankan egomu, kau bisa kehilangan semuanya jika begini"
"Aku harus gimana Han, aku enggak rela, aku enggak rela baby Fattah dan kak Hans diambil Mbak Arindra, sungguh aku enggak rela Han"
"Rela tidak rela, jika waktunya sudah tiba, kau harus ikhlas. Kak Hans, baby Fattah bukan milikmu seorang. Ada seorang ibu di sana yang berjuang hidup dalam koma juga berhak tau, berhak menyayangi baby Fattah sama sepertimu. Ra, jangan buat ini jadi seolah kau paling menderita.
Aku tahu kamu juga korban dalam hal ini, tapi kau lebih tau bagaimana Mbak Arindra keadaannya saat dibawa ke rumah sakit, ia koma, hamil dan melahirkan. Bahkan dia seorang ibu, yang mungkin tak merasakan nikmatnya hamil dan melahirkan, tapi dia harus menerima fakta jika dia ada anak yang lahir dalam rahimnya.
Ra, aku sahabatmu, juga adik iparmu. Tapi aku harus adil melihat semuanya, Mbak Arindra juga istri Kak Hans, artinya juga saat ini dia Kakak iparku. Jika dilihat keadaanya, dia jauh menderita daripada dirimu. Saat sakitnya ia yang kita ketahui bahkan tak pernah dijenguk keluarganya.
Dia harus berjuang sendiri tanpa kasih sayang orang-orang yang selama ini dekat dengannya. Kita, kita yang menjaganya siang malam tak cukup dan tak bisa mengganti rasa bagaimana berbedanya dijaga dengan keluarga dan bukan kelaurga.
Aku enggak mau egosi Ra, meski keyakinanku kecil Mbak Arindra bisa menerima Kak Hans kembali. Tapi tak menutup kemungkinan itu terjadi, apalagi begitu kuatnya keyakinan Kak Hans di saat banyak orang menentang, dia maju dan terus mencari bukti-bukti jika Mbak Arindra masih hidup.
Kak Hans, seperti itu bukan hanya karena rasa bersalah yang besar di hatinya, tapi juga ada cinta yang tak kalah besar telah tumbuh meski Kak Hans hanya mampu bermonolog sendiri saat komanya Mbak Arindra.
Tolong Ra, ikhlas.. Ikhlas biar kamu tenang. Memang tak mudah, untuk sabar dan ikhlas tapi itu adalah pilihan terbaik yang harus kita ambil agar ketenangan menyapa diri kita. Bawalah sholat Ra, adukan semuanya pada Allah, minta yang terbaik. Allah tak mungkin salah dalam memberi keputusan"
Syara hanya terdiam dalam isak tangisnya, dia tidak tahu apakah ia bisa melakukan seperti saran sahabatnya.
################
Alhamdulillah chapter 71 done
like,komet, vote, share poin and Follow **Lesta Lestari....
Authormah tak lelah buat ngingetin itu heheeee❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤😆😆😆😆😆
pis mah ya heheer**