ARINDRA

ARINDRA
Chapter 26



"Mbak, maaf ya kemarin aku tak sempat berbicara denganmu. Mbak, lucu ya kemarin aku berantem dengan orang yang dulu akan menikah dengan Syara. Mbak masih ingat Syara kan, dia istri keduaku Mbak, madumu. Sekarang dia tinggal bersama kita, tapi tenang saja, aku dan dia di kamar yang berbeda. Aku tetap berada di kamar ini bersamamu, Mbak maaf ini kulakukan demi kebaikan anak kita. Kuat-kuatlah Mbak, bangunlah segera agar kita bisa merawat anak kita bersama.


Kau pasti akan menertawakanku, lihatlah wajah tampanku kini berubah alien kata Hana, aku pun mengeluarkan darah dan sempat pingsan. Tahukah Mbak, aku pantas mendapatkan ini, aku sangat pantas. Mbak Bangun, Mbak harus menghukumku. Orang brengsek yang telah menyakiti banyak orang.


Mbak, kau harus bangun agar aku bisa memiliki pilihan dan tidak semakin menyakiti banyak orang terutama Syara. Hiks....hikss...


Bangunlah Mbak, bangun agar aku tau bagaimana aku bisa menebus kesalahanku padamu"


Hans menangis tersedu di hadapan Arindra yang masih setia dalam tidur panjangnya. Ia tertunduk memeluk tubuh lemah istrinya itu, menumpahkan air mata yang berusaha ia tahan namun tak mampu.


Syara yang hendak memeriksa Arindra terdiam, hatinya turut sedih melihat kondisi Hans. Yang ia fahami, sosok Hans rapuh saat ini.


"Ya Allah, apakah aku begitu kejam padanya, padahal ia sudah menunjukkan penyesalan yang sangat dalam. Haruskah aku masih berpusara pada rasa tidak suka akibat perbuatannya di masa lalu. Bukankah Engkau Maha Pemaaf ya Robb, lalu haruskah aku membuka hatiku padanya sedang di sisi lain, aku mengharapkan orang lain, Ya Allah mohon ampuni hambaMu ini"


Ucap Syara dalam hati, ia mengusap air mata yang menetes di pipinya. Lalu kemudian memberanikan diri untuk mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu.


"Tok-tok, boleh aku masuk Kak"


Hans yang terkejut segera mengusap air matanya.


"Masuklah"


Ucapnya tanpa menoleh ke sumber suara.


"Aku mau memeriksa Mbak Arindra, sekaligus membersihkannya"


Syara yang tertunduk saat berbicara dengan Hans, sedang Hans memunggunginya.


"Lakukanlah, aku ke luar dulu, jangan lupa panggil suster Hani untuk membantumu"


"Iya Kak"


Hans kemudian keluar menuju ruang kerjanya, setelah membasuh wajah untuk menghilangkan jejak tangisnya.


"Hallo"


"Hallo Bos, bagaimana gue jemput apa bawa mobil sendiri"


"Enggak usah, gue enggak ke kantor. Kalau ada berkas penting yang butuh gue periksa seperti biasa loe kirim ke email aja. Kalo perlu Ttd gue loe ke sini aja"


"Kenapa boss, bulan madu loe ma Syara?"


"Bukan urusan loe do, handle semua kerjaan gue hari ini. Besok gue ngantor"


"Percuma loe punya dua bibi kagak ada yang bisa di pake"


Kekeh Aldo di sebrang telpon.


"Diem loe, gue potong gaji baru tau rasa loe"


"Ahh ancemannya itu mulu, loe mah boss, o ya apa perlu gue siapin acara buat honeymoon loe Boss, biar enggak marah-marah mulu loe"


"Karina apa kemarin masih ke kantor?"


"Kenapa loe nanyain dia, jangan bilang loe mau Cilabeka"


"Bahasa apaan tuh"


"Cinta lama belum kelar boss hahaa, boss jangan rakus dua istri loe mau taro mana, masih mikir mau selingkuh aja loe, cantikan Syara kemana-mana kali dibanding mantan pea loe itu"


"Bawel banget loe kayak emak-emak nawar sayuran di pasar"


"Emang loe dah pernah lihat bos hahaaa"


"Gue nikahin juga loe sama Hana, biar punya lawan bawel"


"Boleh boss, kalo bisa hari ini aja gue siap lahir batin nikahin adek loe itu"


"Dasar som***, udah gue mau sarapan. Lapar gue denger ocehan loe"


Hans langsung menutup telponnya namun tak lama kemudian suara telponnya berdering kembali.


"Karina, mau apa lagi dia"


Gumam Hans


"Hemm"


"Sayang, aku ke kantor ya hari ini"


"Gue enggak ngantor"


"Kamu sakit yang, aku ke rumah ya"


"Enggak perlu"


"Di rumah gue ada dua dokter, adik gue dan istri gue. Siapa tau loe lupa"


"Sayang, beri aku kesempatan. Aku janji yang, bakalan setia sama kamu"


"Gue kasih loe kesempatan"


"Benarkah, makasih sayang aku tau kamu masih cinta sama aku kan"


"Gue kasih loe kesempatan buat ngejauh dari gue, bukan balik ke gue ngerti. Dan JANGAN PERNAH DATENG ATAU TEMUI GUE, gara-gara loe hidup gue kacau. NGERTI"


Hans membanting ponselnya, beruntung ponsel itu jatuhnya di sofa jadi enggak retak deh 😆😆. Hans duduk memeriksa email, ia mulai fokus berkutat dengan pekerjaan yang ia tinggalkan kemarin.


Syara dan Suster Hani yang sudah selesai membersihkan tubuh dan memeriksa Arindra, segera membereskan peralatan mereka.


"Sus, bukannya tadi dr. Hana ke sini ya"


"Iya dok, tapi sudah pulang sepertinya, setelah mengobati Tuan Muda Hans"


"Makasih Sus"


"Saya permisi dok, kalo ada apa-apa panggil saya di kamar ujung dok"


Syara mengangguk dan tersenyum pada Suster paruh baya itu. Suster kepercayaan keluarga Wijaya yang sudah lama mengabdi.


Syara memperhatikan ruangan itu, ia menuju jendela kamar dan menyibakkan horden dan membuka jendela kamar yang masih tertutup rapat. Udara pagi masuk cukup menyegarkan, ia memperhatikan sekeliling ruangan.


Ruangan yang luas, terdapat sofa lengkap dengan mejanya, tempa tidur ukuran sedang, lemari, deretan lemari pakaian tertata rapi di sana. Semua bernuansa hitam putih, ia berjalan ke arah nakas di samping ranjang, sebuah foto wanita cantik dipeluk erat oleh Hans.


"Kenapa aku tak suka melihatnya"


Gumamnya memperhatikan dua wajah yang terpampang di foto, menampakkan rona wajah ceria.


"Apakah ini kekasihnya?, apakah mereka masih ada hubungan, apakah mereka masih saling bertemu?"


Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Ahh kenapa aku peduli, toh aku dan dia sama-sama tak saling menyukai"


Ia kemudian meletakkan lagi foto itu di tempatnya, dan menepis semua pertanyaan-pertanyaan yang sempat hadir di fikirannya.


Ia kemudian ke bawah berniat untuk membantu memasak di dapur, namun ternyata semua sudah beres dan sudah terhidang di meja makan. Hans pun ada di sana, sedang menikmati sarapannya. Ia kemudian ingin berbalik ke kamar, sebelum panggilan itu menghentikan langkahnya.


"Tak perlu menghindar, duduklah sarapan bersamaku"


Hans bersuara tanpa mengalihkan pandangannya yang fokus pada makanan di atas piringnya.


"Kakak bicara padaku?"


Ucap Syara untuk menyakinkan diri, jika Hans benar-benar mengajaknya sarapan bersama.


"Siapa lagi, apakah ada orang selain dirimu"


Lagi-lagi bicara tanpa menoleh.


"Bailklah"


Syara pun duduk di ujung meja, cukup jauh jarak ke duanya. Ia pun mulai mengambil lauk pauk yang diinginkan. Dirasa cukup ia mulai makan tak lupa dengan berucap doa.


######


Alhamdulillah **chapter 26 selesai


yuk biar author semangat hehe kasih


masukan


saran


or kritik ya


like


vote


komen


follow lesta lestari


ditunggu jua.


❤😍😍😆😆**