
Jack sudah dibawa ke ruang perawatan, ia pun sudah sadar. Paman James, Dio, Alex, Jenny, Shania dan Arindra pun masuk.
"Kak..."
Jenny memeluk Kakaknya itu, Jack membalas pelukan Jenny dan mengelus kepalanya.
"Kakak tidak apa-apa Jen, hanya luka kecil" Ucap Jack menenangkan adiknya itu.
"Luka kena peluru dibilang kecil" Kesal Jenny memukul ringan pundak Jack.
"Hei, pukulanmu akan membuat lukanya makin lebar" Ucap Jack sambil tersenyum melihat adiknya yang cemberut.
"Lebay" Ucap Jenny
"Kakak yakin tidak apa-apa?" Tanya Alex ingin memastikan.
"Kakak tidak apa-apa, tenang saja"
"Syukurlah, jika tidak apa-apa. Paman khawatir ada yang pingsan jika kau kenapa-napa Jack" Ucap Paman James melirik Arindra, Arindra tersenyum menatap Jack, pandangan ke duanya bertemu. Membuat yang lain tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Bahkan Kak Arindra terus menangis sebelum mendengar Kakak sadar, lihatlah matanya bengkak gara-gara menangisi Kakak". Dio berkata sambil terkekeh.
"Sepertinya ada dua sejoli yang ingin mengungkapkan rasa nih, mending kita keluar aja yuk daripada jadi obat nyamuk "
Ucap Shania yang membuat Arindra menoleh padanya.
"Shan..." Ucap Arindra
"Ngaku aja Kak, daripada mendem. Dah sana tungguin pangerannya, bela-belain tuh taruhan nyawa demi Kakak. Masa dilihatin doang sih hehe. Shania makan dulu ya, laper soalnya lihat pasangan malu-malu meong"
Shania tertawa, meski Arindra memelototinya, membuat suasana makin hangat dengan tawa mereka.
"Ouhhh aku tak menyangka jika Kak Jack akhirnya berhasil". Ucap Jenny mengedipkan matanya pada Jack.
"Ayo kita keluar, cari makan" Ujar Paman James diikuti lainnya.
"Kami keluar dulu kak" Pamit lainnya pada Arindra dan Jack.
"Selamat ya kakak ipar" Bisik Jenny ke telinga Arindra, membuat Arindra wajahnya memerah sebelum kemudian melangkah keluar ruang rawat Jack. Setelah mereka keluar suasana menjadi canggung antara Jack dan Arindra.
"Tak usah dihiraukan ucapan mereka, mereka sangat senang bercanda". Ucap Jack memecah kegugupan mereka.
"Kak, Aku tak tau harus berkata apa selain ucapan terima kasih yang begitu besar pada Kakak" Ucap Arindra dengan mata berkaca-kaca.
"Bukankah Kakak sudah bilang, Aku akan selalu berusaha melindungimu meski nyawaku jadi taruhannya"
Arindra tertunduk, menahan tangisnya.
"Maafkan Arindra Kak, yang selalu menyusahkan Kakak" Lirih Arindra namun masih terdengar Jack.
"Aku senang kau menyusahkanku, Aku sangat beruntung kau tidak apa-apa. Jika sampai terjadi apa-apa padamu, aku pasti akan menyesal seumur hidupku"
Ucap Jack tanpa mengalihkan pandangannya pada Arindra.
"Apa yang harus kulakukan untuk membalas semua perlakuan Kakak padaku?"
"Suapi aku, maukah?"
Arindra mengangguk dan tersenyum pada Jack. Lalu mengambil makanan yang disediakan rumah sakit dan memulai menyuapi Jack.
"Tundukkan pandangan Kakak, sungguh aku malu jika kakak memandangku seperti itu"
Arindra tertunduk dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Maaf, tapi sungguh aku bahagia bisa melihatmu kembali"
"Kak..."
Arindra terdiam tak meneruskan kata-katanya, hatinya bimbang. Perjuangan Jack yang merelakan nyawanya demi dirinya membuat hatinya makin bergetar.
"Apa yang harus kulakukan Ya Robb, aku mencintai laki-laki ini dan dia sudah membuktikan cintanya yang begitu besar padaku. Apa yang harus aku lakukan, aku dilema Ya Robb, aku wanita bersuami dan seorang Ibu"
Arindra meletakkan makanan Jack, dan menangkup wajah dengan ke dua tangannya. Jack melihat ada kebimbangan dalam diri Arindra.
"Aku memang sangat mengharapkanmu menjadi pendamping hidupku. Tapi aku takkan memaksakan kehendakku lagi. Aku tau, Fattah adalah prioritasmu"
"Aku menyesal telah melangkah sejauh ini. Jika aku tau terlalu banyak orang yang menjadi korban maka aku akan membatalkan niatku menemui Fattah" Ucap Arindra dengan suara parau.
"Arindra..." Jack terkejut dengan ucapan Arindra yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Dengarkan Kakak, yang menjadi tujuanmu adalah Fattah. Apa yang terjadi dalam perjalananmu anggap saja seperti kerikil tajam, yang bisa melukaimu dalam mencapai tujuanmu. Sedikit lagi, sedikit lagi kau mencapai tujuanmu, Kau tidak boleh menyerah begitu saja. Mana Arindra, adik Kakak yang penuh percaya diri dan kuat hemm"
"Arindra takut Kak, Arindra kehilangan orang-orang yang menyayangi Arindra begitu juga sebaliknya. Arindra sudah tak punya siapa-siapa lagi Kak, hanya Shania, Kakak beserta lainnya.
Begitu sedikit orang yang Arindra kenal, jika salah satu kembali tiada karena Arindra. Jelas membuat Arindra merasa sangat bersalah dan akan menyesali seumur hidup Arindra Kak"
Arindra kembali menangis, ingin sekali ia merengkuh tubuh Arindra tapi sekali lagi ia harus menahannya.
"Arindra, Kakak tau kekhawatiranmu. Tapi kami senang berjuang bersamamu. Lihat Kakak tidak apa-apa, hanya sedikit luka di punggung tak masalah bagi seorang laki-laki. Lihat Kakak..."
Arindra melihat Jack sambil menghapus air matanya.
"Fattah adalah hakmu, Kau ibunya. Jangan menjadi lemah hanya karena luka yang kau dapat dari perjuanganmu, jadilah lebih kuat, karena luka itu akan menjadi bukti betapa kau bukan orang yang mudah menyerah dengan keadaan apapun yang menimpamu.
Jika kau menyerah untuk mendapatkan Fattah, sebagai Kakak. Aku sangat menyesal mengorbankan nyawaku hanya untuk pejuang cengeng yang berhenti di tengah jalan karena tak tahan melihat keadaan sekelilingnya.
Jangan menjadi pengecut jika kau sudah melangkah, jangan pernah mundur jika kau sudah maju kecuali untuk mengatur kembali strategimu. Untuk mencapai tujuan, dibutuhkan mental baja dan tekad kuat.
Kau boleh menangis tapi bukan untuk melemahkanmu, kau bisa terluka tapi bukan untuk membuatmu berbalik ke belakang, semua itu perlu kita lewati agar apa yang menjadi mimpi berhasil pada akhirnya.
Ingat, selangkah lagi, selangkah lagi kau dapatkan mimpimu. Ini hanya bagian cerita yang kelak akan menjadi kisahmu. Fattah akan sangat bangga mempunyai Ibu seperti dirimu"
"Dan aku juga sangat bahagia, jika kau menjadi pendamping hidupku"
Tapi kalimat terakhir itu hanya ucapan Jack di dalam hatinya, takkan lagi ia ucapkan setelah terakhir kali mendengar alasan penolakan Arindra padanya.
Arindra menatap Jack "Makasih kak, selalu mengingatkanku. Sungguh aku sangat beruntung dan bersyukur mengenal kalian. Tanpa kalian, aku takkan bisa melangkah sejauh ini"
"Tanpamu, kami juga tak bisa membuat Wijaya hancur sehancur-hancurnya"
Keduanya tertawa. "Kau tau, Kau adalah senjata utama kami. Maafkan kami yang memanfaatkanmu, tapi seiring kebersamaan kita. Aku sungguh sangat bangga dan bahagia bisa mengenalmu Mutiara Arisha"
Ucap Jack, yang tak melepaskan pandangannya pada Arindra. Membuat Arindra kembali tertunduk malu, dan wajahnya memerah.
"ekhem..ekhemm"
Deheman Alex dan kawan-kawan menyadarkan ke duanya.
"Duh, segitu merah tuh wajah. Pake blush on segala hehee" Ledek Shania
"Kayaknya kita bakalah jadi iparan deh Shan"
Ujar Jenny kembali meledek Arindra dan Jack, membuat yang disana tergelak melihat Arindra yang menutupi wajah dengan ke dua tangan dan Jack hanya tersenyum-senyum saja.
############
Alhamdulillah done chapter 95
Like, voote, poin, komen, share, Follow Lesta Lestari
❤❤❤❤❤❤❤❤