ARINDRA

ARINDRA
Chapter 34



Syara dan Hans sedang menikmati sarapan bubur bersama.


"Ra"


"Hemm"


"Enak buburnya, nanti siang boleh request enggak?"


"Apa?"


"Buatin makan siang dan anter ke kantor ya"


"Bukannya sudah ada Karina yang setia bawain makan siang, dan makan malamnya. Kenapa harus aku?"


"Kan kamu yang istriku Ra, kenapa harus aku makan masakan wanita lain jika masakan istriku aja seenak ini heheee"


"Enggak janji"


Syara yang masih kesal, menjawab dengan datar.


"Ayolah Ra, nanti aku bawakan sesuatu yang kamu sukai"


"Emang kakak tau apa yang aku sukai?"


"Taulah, gampil itumah"


"Sok tau"


Syara yang sudah selesai sarapan, meletakkan mangkuk buburnya ke dapur. Meninggalkan Hans yang masih memakan buburnya dengan lahap.


"Ya Allah, berilah hambaMu ini kesabaran yang banyak. Menghadapi istriku yang sangat kucintai ini"


Doa Hans dalam hati melihat Syara yang menjawabnya masih dengan nada ketus.


Selesai sarapan, Hans bergegas ganti baju dengan kemeja kerja dan jas. Berulang kali ia membolak-balikkan baju yang ingin dipakai, pada akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada kemeja abu-abu dipadankan dipadankan dengan jas hitam dan celana hitamnya. Warna favorite sama seperti ruangan kamarnya ini.


Ia menatap wajah dan tampilannya di cermin.


"Aku setampan ini mengapa Syara belum tertarik padaku. Haruskah aku, jadi sosok Afdan sok alim itu dulu baru dia mencintaiku. Ahh kenapa harus aku menjadi seperti dirinya, aku saja sudah sangat tampan. Dasar wanita aneh"


Gerutu Hans yang masih mengingat Syara, yang masih menolaknya. Hans menghampiri Arindra, ia kecup kening dan perutnya seperti biasa sebelum ia berangkat ke kantor.


"Mbak, aku berangkat dulu ya. Jaga anak kita baik-baik di dalam sana. Berjuanglah Mbak, agar segera bangun. Aku akan janjikan kebahagiaan untukmu jika kau bangun. Aku akan belajar mencintaimu Mbak, seperti aku yang sudah jatuh cinta pada Syara"


Hans lalu keluar kamarnya, tak disangka Syara berada di depan pintu kamar.


"Aku berangkat dulu ya sayang"


"Hemm"


Melihat Syara yang menundukkan kepala dan tak mau melihatnya, membuat Hans hanya menghela nafas, Ia yang berdandan cukup lama agar dilihat Syara, merasa kecewa. Ia mengusap lembut kepala Syara, lalu pergi.


Syara menunduk mengusap air matanya yang sejak tadi ditahan. Bagaimanapun ia cemburu melihat suaminya menyentuh wanita lain, meski wanita itu istrinya yang terbaring koma.


"Ya Allah, Mbak Arindra masih terbaring koma seperti ini saja sudah buat dadaku sesak. Apalagi kelak jika ia bangun, dan memintaku pergi dari Kak Hans. Apakah aku sanggup jika saat itu tiba" Ucap Syara dalam hatinya.


"Dokter"


Suster Hani yang sudah siap seperti biasa menyapa Syara yang tertunduk dan terlihat menangis.


"Oh ya, ayok kita masuk"


Syara berbalik dan agar tak dilihat Suster Hani dan segera menghapus air matanya, segera melangkah masuk untuk membersihkan Arindra.


Sedang Hans diperjalanan, memikirkan cara bagaimana membuat Syara jatuh cinta. Ia membuka go**le, dan menemukan banyak artikel yang dicarinya.


Ia baca satu-satu artikel itu, ia mengambil buku untuk catatan kecilnya. Lalu ia menulis itu dibuku tersebut.


Cara membuat Syara jatuh cinta


"Ahh judulnya tidak pas"


Ia coret lagi tulisan dikertas itu. Lalu menuliskan lagi idenya.


Planning Syara biar suka suaminya


"Ah masak gini sih, jelek banget"


Lagi-lagi ia mencoret kalimat yang dituliskannya.


Langkah Menaklukkan Hati Syara


"Hemm agaknya bagus, tapi..."


Lagi dicoret kalimat itu, dan ia garuk-garuk kepala membuat Aldo sang asisten bingung melihat tingkah bossnya itu.


"Kenapa loe boss, dari tadi pusing sendiri kayaknya"


"Boss, loe ngapain aneh banget gue liatin dari tadi"


Lagi Aldo mencoba mencari tau apa yang dilakukan bossnya itu.


"Lagi buat misi supaya Syara jatuh cinta ma gue"


Jawabnya datar, seketika membuat Aldo tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


"Ngapain loe ngetawain gue, ada yang salah"


Hans memajang wajah kesal ditertawakan oleh Aldo. Aldo yang melihat bossnya kesal langsung terdiam, takut potong gaji, rugi mbet.


"Lagian aneh loe boss, loe kan dah pernah pacaran ma Karina, tujuh tahun lagi. Masak ia gitu aja loe harus buat misi"


"Karina beda ma Syara Do, loe tau Karina yang ngejar-ngejar gue, sekarang kan gue yang ngejar-ngejar Syara"


"Dasar o**, loe inget aja gimana sampe loe nerima Karina. Apa aja yang buat loe akhirnya nerima dia"


"Pletak"


"Auuh boss sakit nih kepala, ini bukan bola yang seenak loe tendang, bukan juga samsak yang seenak loe bisa ninju, bukan pula boneka yang seenak loe bisa pukul. Ini kepala gue boss, kalo oleng nih pala rugi loe"


"Sekali lagi loe ngomong gue gibeg loe. Gue lagi konsentrasi nih"


Hans kesal lalu menendang kursi mobil yang diduduki Aldo. Membuat Aldo terhuyung ke depan mengendalikan kemudinya.


"Boss, kalo mau mati jangan ngajak-ngajak dong"


Aldo juga turut kesal mendapat perlakuan bossnya itu.


"Diem loe"


"Oke gue diem, awas loe minta pertolongan gue"


"Oh jadi loe dah bosan gitu ceritanya, ya udah gampang mulai besok loe dah enggak usah masuk kerja lagi"


Hans melihat wajah panik Aldo, lalu tersenyum sinis.


"Ehhh bukan gitu boss, sorry-sorry jangan pecat gue boss. Kalo bukan sama loe, gue ma siapa. Tolong deh boss"


"*Salah ngomong gue, dah tau punya boss macan, masih buat mainan lagi enggak mood diajak becanda, rusak dah cerita mau godain"


Batin Aldo dalam hati*


"Bagus kalo loe sadar diri, makanya jadi orang jangan banyak omong"


Hans kembali konsentrasi pada rencananya.


Mission imposible Syara


"Nah ini baru pas, huh buat judul aja susah begini. Semangat Hans semangat, demi istri dan cinta pertamamu"


Aldo yang dibalik kemudi hanya tertawa diam-diam melihat tingkah lucu bossnya itu.


"Do, ini di artikel beri perhatian-perhatian kecil, contohnya apa Do"


"Tadi katanya suruh diem Boss"


"Sekarang loe gue suruh ngomong, apa saran loe"


"Perhatian kecil ya boss, buatin dia susu kali boss kan menyentuh tuh. Terus masakin dia juga gitu"


"****** loe gue kerjain, masak loe pikir mudah" Aldo bersorak dalam hatinya.


"Masak, gue enggak bisa masak. Loe lagi enggak ngerjain gue kan Do"


"Mana berani boss, lagian ya boss masak dibuatin susu doang. Sesekali sama makanan yang dibuat boss sendiri kan menyentuh tuh. Klepek-klepek deh Syara nanti lihatnya. Siapa tau dapet bonus cium boss, pipikan lumayan"


Mata Hans berbinar mendengar apa yang diucapkan Aldo. Ia membayangkan Syara tersenyum bahagia melihat ia membawa makanan, minuman. Membayangkan Syara memeluk dan menciumnya membuat wajahnya bersemu merah.


Sedang Aldo yang melihat ekpresi bossnya tertawa-tawa dalam hati.


"Duh pinter doang ngurus perusahaan, urusan cinta kalah telak hahaaaa"


Aldo membayangkan Syara yang muntah memakan makanan masakan Hans membuat ia bergidik.


#############


Alhamdulillah chapter 34 done


divote divotee


di like hehee aku sayang kalian ❤❤❤❤