ARINDRA

ARINDRA
Chapter 123



Tiga hari setelah pemakaman Arindra, Hans duduk di kamar yang di tempatinya bersama Arindra. Ia hanya selalu duduk termenung, dan melihat foto-foto dan vidio pernikahan. Air mata menetes tak bisa dicegah, ia dekap erat foto pengantinnya bersama Arindra.


"Ya Allah beginikah rencanaMu, cara kematian yang indah, saat kau panggil Humairaku kembali ke sisiMu. Sungguh, Engkau buat hatiku berbunga-bunga namun seketika itu jua Engkau tarik kembali dan mengubahnya menjadi duka.


Sungguh sebegitu tidak layakkah hambaMu ini untuk mendampinginya hiks, hikss. Tak pernah terbayang jika Engkau hanya memberiku waktu yang cukup sebentar untuk bersamanya".


Syara yang masih tinggal di rumah Arindra, melihat untuk ke dua kakinya suaminya terpukul atas kematian Arindra. Syara menangis, dan memeluk suaminya. Hans menatap Syara dan kembali menumpahkan air matanya.


"Kak..."


Syara membelai wajah suaminya, menghapus airmatanya.


"Bersabar dan tegarlah, kita semua mencintai Mbak Arindra. Kita semua merasakan kehilangan, kita semua bersedih. Kehilangan di saat suasana bahagia, dari tangis haru bahagia, berubah jadi tangis duka. Maafkan Syara, yang tak akan pernah bisa menjadi istri sebaik Mbak Arindra hiks...hiks..."


"Arindra adalah Arindra, kau adalah kau. Kalian berbeda, dan Aku bahagia memiliki kalian berdua. Kau mengajarkanku menjadi pria yang mengenal agamaNya. Kau sabar mengajari diriku, dan selalu meluruskanku jika aku salah.


Kau mendidikku suami yang baik, sedangkan Arindra menguatkan kebaikan-kebaikan yang telah kau tanam. Kalian sama-sama wanita mulia di hatiku, maafkan aku jika aku masih bersedih dan merasa kehilangannya".


"Tidak apa-apa Kak, Syara mengerti dan memahaminya".


Hans memeluk Syara dengan begitu erat, ia merasa takut kembali kehilangan wanita yang dicintainya.


"Kak, Allah selalu punya cara untuk menjaga hambaNya yang sholihah. Dengan caraNya, Ia menunjukkan kuasaNya lewat Mbak Arindra.


Betapa Allah sangat menyayangi Mbak Arindra sehingga Allah mengambilnya kembali dengan cara yang begitu indah. Ketulusan hatinya yang memaafkan semua kesalahan kita, menggetarkan jiwa, kita semua.


Perjuangannya yang tak kenal takut dan lelah dengan cara yang benar memberikan pelajaran untuk kita bahwa di sosok yang patut dijadikan teladan.


Ia berjuang dalam koma, hamil dan melahirkan. Allah tunjukkan kuasaNya, lewat Mbak Arinda, di dalam dirinya yang koma ia hadirkan sosok janin tumbuh hingga lahir ke dunia.


Sebagai pengingat untuk kita, sosoknya pernah ada dan hadir dalam diri Fattah. Insyaa Allah Fattah akan mewarisi sifat Ibunya yang mulia.


Mbak Arindra kemudian terbangun dan tersadar, dan tahu apa tujuannya terbangun. Ia meruntuhkan kesombongan, keangkuhan, hawa nafsu keserakahan, dengan caranya yang tak melanggar syariat dan hukum negara.


Lagi, Allah tunjukkan kuasanya, meski nyawa selalu mengincarnya tapi Allah tetap memberi perlindungan padanya. Betapa Allah Maha Mengetahui, bahwa ada rencana indah yang disiapkan untuk Mbak Arinda.


Hadirnya di tengah-tengah kita, untuk mengatakan pada kita bahwa Allah Maha Segalanya, pemilik rencana terbaik yang tak bisa dilawan oleh manusia".


Ketukan pintu terdengar, Shani menampakkan diri dan melihat pasutri itu.


"Kak, Shania tidak tahu apa isinya, tapi sebelum pernikahan di gelar. Mbak Arindra menitipkan ini padaku, tertulis untuk kalian berdua".


Shania memberikan sebuah kotak kecil itu pada Syara.


"Shania tahu kita semua bersedih kehilangan Kak Tiara, tapi sebaiknya kita tak perlu larut dalam kesedihan ini. Bukankah setiap yang bernyawa akan mati, tiga hari kemarin tanpa di duga Allah mengambil kakakku.


Meski aku bersedih, tapi di sisi lain aku bahagia. Ia kembali dengan cara yang banyak diimpikan orang-orang sholih. Insyaa Allah, Kak Tiara ditempatkan di surga. Karena cara kematiaannya Insyaa Allah khusnul khotimah. Shania permisi dulu".


Syara dan mengangguk, dan Shania tersenyum meski matanya berkaca-kaca, lalu keluar dari kamar almarhum kakaknya. Hans membuka kotak itu, sebuah buku saku dan pena, ada di sana.


Perlahan dengan tangan gemetar, ia membuka buku saku itu. Hans dan Syara mulai membaca apa yang tertulis di sana.


"Malam ini entah mengapa, ada rasa kuat yang mendorongku untuk menulis. Dorongan kuat untuk menuliskan pesan untuk suamiku dan Syara.


Suamiku, mohon maafkan aku jika selama menjadi istrimu aku tak menunaikan hakmu. Semua rasa mencoba aku tahan untuk bisa memberikannya padamu. Tapi setiap kali aku ingin mencobanya, ...maaf rasa kesakitan di malam itu selalu terbayang dan terulang. Aku selalu mencoba melawannya, tapi maaf aku tak mampu.


Suamiku...Hadinata Hansel Wijaya


Sungguh aku mencintaimu, aku beruntung memiliki dirimu. Hadirmu memberiku kebahagiaan tak terkira, Fattah yang lucu dan menggemaskan.


Suamiku...


Suamiku, Habibiku


Entah aku tak tahu mengapa aku menuliskan kata seperti ini. Rasanya aku ingin menitipkan dirimu dan Fattah pada Syara. Kau dan aku sungguh beruntung karena hadirnya Syara di tengah-tengah kita. Wanita yang sholehah Insyaa Allah yang menguatkan dan mendidik anak kita menjadi pribadi taqwa.


Mengenalkan ia pada Tuhannya, mendidiknya dengan penuh kesantunan dan kelembutan. Ayahmu seperti yang kubilang, ia tak salah memilihkanmu seorang istri.


Jagalah ia suamiku..


Tumbuhkanlah selalu cinta di hati kalian, ikatlah dengan erat apalagi sebentar lagi buah hati kalian yang cantik akan hadir di dunia ini.


Tak perlu terlalu bersedih jika kelak aku meninggalkanmu terlebih dahulu, ingatlah sejatinya hamba yang bernyawa bukan milik dirinya ataupun orang-orang di sekitarnya.


Raga dan nyawa kita hanya milikNya, jika sewaktu-waktu Allah mengambilnya maka siap-tidak siap kita harus merelakannya.


Laksana tukang parkir yang dititipi kendaraan, ia menjaga dengan baik agar kendaran tak hilang, lalu kemudian sang pemilik mengambilnya maka diapun tersenyum dan memberikannya.


Maka tersenyumlah seperti tukang parkir yang amanah menjaga dari pemilik aslinya. Begitu juga denganku, denganmu dan dengan yang lainnya. Tetaplah tersenyum jika kelak diantara kita di ambil oleh Allah kembali.


Syara...


Bunda Fattah yang cantik dan sholehah. Maafkan aku yang mungkin tak bisa penuhi keinginanmu mendidik Fattah secara bersama-sama. Maafkan aku, aku percaya padamu yang akan mampu membimbing Fattah dengan sangat baik.


Lihatlah bagaimana dengan caramu kau mampu mendorong seorang Hansel berubah. Aku tersenyum dan tak menyangka ternyata dia yang telah ku kenal adalah sosok yang sangat baik.


Terlepas dari apa yang dia lakukan padaku di masa lalu. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian, untuk kekuatan cinta kalian. Bagiku kau tak hanya sekedar seorang mad'u, tapi lebih dari itu. Seorang yang selalu belajar untuk lebih baik, dan menerima segala sesuatunya dengan ikhlas.


Terima kasih, terima kasih karena kalian aku merasakan kehangatan cinta, kasih sayang, kepedulian dan tentunya ikatan abadi karena iman.


Syara dan Hans tertunduk setelah membaca tulisan Arindra.


"Hidup tak pernah sejalan sesuai keinginan, tapi hidup akan tetap berjalan sesuai dengan rencanaNya. Tetaplah teguh berjalan di atas jalanNYA".


End.


###############


Alhamdulillah chapter akhir dari kisah Arindra done.


Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya pada para readers jika dalam tulisan-tulisan author ada yang menyinggung dan sebagainya.


Dan Alhamdulillah pada Allah Yang Maha Kuasa karya perdana author sudah selesai.


Semoga hadirnya Novel Arindra menambah manfaat, dan bisa mengambil pelajaran untuk kehidupan sehari-hari.


Like...vote...komen...poin and Share...


selalu author nantikan.


Follow Lesta Lestari atau Ig adzkhiya_rahma


ketemu lagi kita di karya ke dua "***Cinta Dalam Gelap".


Terima kasih all readers atas dukungannya selama ini.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤***