ARINDRA

ARINDRA
Chapter 11



"Sekali lagi ana ulangi dengan mengucap bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīm, dan memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada khalayak terutama keluarga Afdan dan Afdan sendiri tentunya. Ana mewakili putri ana yang bernama Aulia Syara Hanifa tidak bisa menerima lamaran ini dan pernikahan antara keduanya tidak bisa dilanjutkan"


Abi Hasan tertunduk, airmatanya pun berlinang. Semua mata tertuju pada Abi Hasan, yang kini terdiam.


"Tapi kenapa Abi, bukankah pembicaraan tempo hari Abi Hasan dan keluarga menerima Afdan. Dan bukankah Abi sendiri yang mentaarufkan Afdan dengan Syara. Kenapa jadi seperti ini, apakah ada yang salah dengan Afdan sehingga Abi Hasan berubah fikiran?"


Ucap pria paruh baya yang tadi menyampaikan lamaran itu, dengan geram dan menahan rasa malu. Wajah kecewanya tak bisa ia tutupi, sorot matanya nanar melihat Abi Hasan yang tertunduk dan menangis.


"Mohon maafkan Ana akhi, ini bukan salah Afdan. Murni kesalahan ana, semalam ana sudah menerima lamaran dari laki-laki lain dan dalam minggu ini Syara juga akan menikah dengan laki-laki itu"


Abi Hasan berbicara sambil tertunduk,


"Sungguh kejam apa yang akhi lakukan pada keluaga ana. Sungguh ana tak akan melupakan peristiwa memalukan ini. Kenapa tidak antum katakan tadi pagi, sehingga keluarga kami tidak menerima rasa malu sebesar ini"


"Maafkan ana Abi Afdan, sungguh ini di luar kuasa ana. Mohon maafkan ana dan keluarga, ana tak sampai hati menyampaikan berita ini tadi pagi, ana fikir ana bisa menolak lamaran laki-laki itu namun ternyata ana tak bisa. Mohon maaf, mohon maaf sekali lagi"


"Siapa laki-laki itu Abi, sehingga Abi tak mampu menolaknya?"


Afdan di tengah rasa kecewa dan malunya masih mampu bertanya dengan lembut pada Abi Hasan.


"Maafkan Abi Nak, Abi tak bisa mengatakannya sekarang, jika saatnya tiba Afdan akan tau dengan siapa Syara menikah, Abi hanya mampu mendoakan yang terbaik bagimu nak"


Meski tak puas akan jawaban Abi Hasan, namun Afdan dan keluarga akhirnya memohon diri untuk kembali pulang dengan rasa malu dan kekecewaan yang dalam.


Sementara di rumah Abi Hasan, para kerabat yang berkumpul ingin menanyakan apa yang terjadi sesungguhnya akhirnya membubarkan diri. Abi Hasan setelah mengantar kepergian keluarga Afdan langsung memasuki kamar dan mengunci diri di dalam. Umi Hasan juga tak banyak bersuara, ia hanya mampu menjawab berbagai pertanyaan kerabatnya dengan gelengan kepala.


Mengantar mereka, saat berpamitan pulang. Malu, sungguh Umi Hasan juga malu akan tingkah suaminya yang secara tiba-tiba menolak lamaran lelaki yang sangat ingin dijadikan menantunya itu.


Syara yang masih Syok dan tak tau apa-apa akhirnya juga berdiam diri di kamar. Air matanya mengalir deras, bagaimanapun Afdan adalah sosok yang pas baginya. Dan ia dalam diam sudah menaruh rasa pada Afdan semenjak lama. Sosok Afdan yang cerdas, tegas membuatnya kagum, dan asa itu semakin besar saat Abinya menawarkan proses taaruf dengan Afdan padanya.


Sungguh, pada akhirnya ia menaruh harapan besar itu saat taaruf pun lancar tanpa kendala meski hanya sebulan prosesnya. Namun bagai godam raksasa yang menghantamnya, justru saat momen khitbah yang ditunggunya Abinya memberi tangisan luka pada dirinya.


Hana datang setelah dzuhur ke rumah Syara, ia melihat suasana sudah sepi hanya ada beberapa orang yang sedang membereskan peralatan bekas acara.


"Apa acaranya sudah selesai ya kak?"


Hana datang bersama Hans kakaknya, karena ia juga penasaran sosok laki-laki seperti apa yang melamar sahabat adiknya itu sampai-sampai adiknya dia bukan laki-laki tipe Syara. Ia hanya merasa cukup direndahkan oleh gadis cupu itu menurutnya.


Bagaimanapun seorang Hansel banyak diburu wanita, tapi ia tidak pernah memabfaatkan itu memilih setia dengan Karina kekasihnya. Namun naas, kesetiaan yang sudah bertahun-tahun dia bangun dihancurkan begitu saja oleh sang kekasih yang memilih berkhianat darinya.


Hans mengangkat bahu tanda tak tahu menjawab pertanyaan Hana. Hana menghampiri dua orang perempuan di depannya, ia melihat Umi Hasan menangis didampingi oleh Umi Ami.


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh Umi"


"Walaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, Hana sama siapa dateng"


Umi Ami yang menjawab salam Hana, sedang Umi Hasan dengan cepat segera menghapus air matanya.


"Hana sama Kak Hans mi, Umi apa kabar?"


Hana menyalimi ke duanya, disambut pelukan hangat dari keduanya.


"Alhamdulillah sayang, kami semua baik. Mana kakakmu"


"Ada di depan mi, lagi duduk. Enggak mau masuk, mau istirahat dan ngerokok dulu katanya"


"Oh ya udah, udah makan?"


"Tadi udah mi sewaktu mau berangkat kesini"


"Ya kan tadi sekarang makan dulu sana, ajak kakakmu"


Hana mencoba bertanya pada Umi Hasan yang sedari tadi diam dan tertunduk, tak biasanya seperti itu. Ia biasanya datang dengan sambutan ramah, hangat dan senyum. Tapi kini meski ia masih disambut hangat tak ada senyuman di wajahnya, dan suara ramah itupun menghilang.


"Ada apa sebenarnya?, apa acaranya batal?"


Guman Hana dalam hati, namun segera ia tepiskan prasangka itu. Bagaimanapun ia selalu berharap yang terbaik bagi sahabatnya itu.


"Syara di kamarnya sayang"


Lagi-lagi Umi Ami yang menjawabnya.


"Apa boleh Hana menemui Syara umi?"


Umi Ami melirik Umi Hasan dan dijawab anggukan olehnya. Meski banyak pertanyaan muncul dalam benaknya, Hana tak berani menanyakannya terlebih pada dua orang yang sangat dihormatinya itu.


"Assalamualaikum Ra, kamu di dalam?"


Syara yang mendengar suara sahabat baiknya itu bergegas bangun membukakan pintu kamarnya. Terlihat sosok Hana yang berdiri mematung melihatnya sedikit berantakan dan tangisan yang belum terhenti.


Syara memeluk sahabatnya itu, dan menumpahkan air matanya yang sudah sejak tadi menguar di kedua pipinya. Hana yang diperlakukan seperti itu kemudian membawa masuk Syara dan mendudukkannya di atas kasur.


Ia menatap sahabatnya itu, sorot mata yang biasanya selalu terlihat binar bahagia kini hanya terpancar kesedihan. Raut wajah ceria kini tak tampak lagi ada, yang Hana tangkap adalah kepedihan.


Hana menghapus air mata sahabatnya itu, ia tak ingin bertanya mengapa atau kenapa. Ia sengaja membiarkan Syara menumpahkan emosinya lewat air mata. Ia menunggu Syara yang bicara, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa salah aku Han sehingga aku mendapatkan hal yang menyakitkan ini"


Hana hanya diam dan menatap, menunggu kata-kata selanjutnya dari Syara.


"Abi tau Han, kalau aku sudah menyukai Afdan sejak lama, dan Abipun memberi harapan agar aku bisa bersanding dengan orang yang aku cintai, tapi Han...."


Syara makin terisak, melihat Syara seperti itu Hana mulai berfikir apakah Daddynya.


"Aaahh mana mungkin"


Jerit hati Hana, sungguh ia tak tega melihat sahabatnya seperti ini. Baginya keluarga Syara adalah keluarga ke dua baginya, dan ia tak rela melihat mereka tersakiti apalagi oleh keluarganya sendiri. Keluarga Abi Hasan adalah keluarga yang sangat baik menurutnya. Sebuah keluarga yang menjadi panutan dalam contoh penerapan keluarga islami.


###########


**Alhamdulillah chapter 11 done


duh sedih aku jadinya...


Ternyata Syara udah jatuh cinta sama Afdan dah lama, apa Afdan tau ya kalo Syara sangat menyukainya?


Udah ketebak dong laki-laki yang mau dinikahkan sama Syara ini siapa???


makin seru kan gan


yuk ah langsung cus aja ke chapter selanjutnya tapi....


sebelum up


tinggalkan jejak dulu ya


vote like comen poin and follow ya


selamat membaca next chapter selanjutnya


❤❤❤❤❤❤**