
"Hans bangunlah, adzan subuh sudah berkumandang"
Arindra memanggil Hans, Hans mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia melihat sosok wanita yang dicintainya itu dihadapannya. Ia duduk dan memandangi wajah itu.
"Bersihkanlah tubuhmu, air hangat sudah kusiapkan, handuk juga sudah ada di sana"
Ucap Arindra yang duduk melihat Hans, mata sembab habis menangis semalam terlihat di sana.
"Apa masih ada waktu ke masjid?" Tanya Hans.
"Hujan sedang lebat di luar, sholatlah di rumah itu termasuk udzhur shar'i. Aku siapkan sajadah untukmu"
"Sholatlah bersamaku" Ucap Hans yang memegang tangan Arindra. Arindra tak menolak, mengingat apa diucapkan ayahnya di vidio yang ia lihat semalam.
Arindra tersenyum, ia mengangguk.
"Segeralah, adzan sudah selesai"
Hans senang, dia bangun dari kasur dan cup sebuah kecupan kilat diberikannya pada pipi Arindra. Lalu kemudian ia berlari ke kamar mandi.
"Aku tunggu di ruang mushola"
Ucap Arindra sebelum Hans masuk kamar mandi, diangguki oleh Hans dengan senyuman lebar.
Tak lama Hans sudah rapi dengan peci, baju koko dan sarungnya, yang dibawakan oleh Aldo semalam. Ia bergegas ke mushola dalam rumah, dan melihat Arindra sedang menunggunya sambil membaca Qur'an.
"Mana Shania?" Tanya Hans karena tak melihat Shania di sana.
"Lagi libur, sunnah lah dulu agar kau tetap menjadi orang paling kaya di bumi"
"Benarkah, hanya dengan sunnah qobliyah subuh aku jadi orang terkaya di muka bumi?"
Tanya Hans tak percaya karena dia sendiri sedang menuju dalam kebangkrutan. Meski masih berdiri beberapa rumah sakit yang bisa jadi sumber penghasilannya selain perusahaan.
"Nanti kita belajar bersama setelah kita sholat ya"
Ucap Arindra diangguki Hans. Hans melaksanakan apa yang diminta oleh Arindra kemudian mereka menunaikan sholat subuh jamaah berdua.
Hans menatap wanita di hadapannya itu yang masih khusyu berdoa, Ia menangis dalam diam, tak menyangka akan mengalami momen indah bersama Arindra. Ia menatap lekat wajah itu, ingin merengkuh dalam pelukannya namun ia tahan. Buru-buru ia hapus air matanya, saat melihat Arindra selesai, lalu ia menjulurkan tangannya pada Arindra.
"Apa?" Tanya Arindra yang pura-pura tak paham maksud Hans.
"Salaman, kan abis jamaah. Bukannya istri yang baik itu menuruti kata suaminya ya kan. Aku yakin Arindraku ini istri yang baik dan sholehah, jadi takkan menolak permintaan suaminya iya kan?"
Hans tersenyum dengan diselingi mata genitnya. Arindra melipat mukenanya dan menggantungkan di tempatnya.
"Sayang, salaman dosa loe nolak suami"
Hans berdiri di belakang Arindra, dengan kerlingan matanya.
"Kalau kamu g mau, aku minta hakku loe pagi ini. Pilih mana coba hemm hemm?"
Arindra memelototkan matanya, tapi Hans hanya tertawa. Tangannya meraih tangan Arindra lalu membawanya ke bibir Arindra. Membuat Arindra mendelik sepersekian detik sebelum kemudian kembali mendelik saat Hans mencium keningnya.
"Tersenyum, ini rejeki istri sholehah namanya, pagi-pagi gunakan energi positifnya dengan kebahagiaan. Agar harimu dijalani dengan senang dan riang dalam menjalankan segala aktifitasmu, gitu lo istriku yang sholehah"
Ucap Hans menarik hidung Arindra gemas dan kemudian menarik tangan Arindra menuju sofa.
"Hans, kenapa sih jadi jail dan pemaksa gini. Apa obatmu tidak dibawa hemm sehingga kau telat minum obat" Ucap Arindra kesal dengan kelakuan Hans yang sedari tadi menggodanya.
"Astaqfirullahalzhim, masa ngatain suami gitu sih. Udah sini deket biar anget, ini hujan lho. Shania aja masih tidur kayaknya, enakan kita juga tidur yuk di kamar"
"Hans..."
Arindra memukul lengan Hans dan kemudian pergi ke dapur. Membuat teh hangat untuknya dan Hans.
"Eh aku fikir kabur kemana, ternyata buat teh ya, baik banget sih istriku ini" Hans terus menggoda Arindra, meski wajah kesal itu yang terlihat di wajahnya.
"Menggemaskan sekali sih, jutek-jutek seger hehee. Meski banyak masalah tapi lihat begini aduhhh berasa ilang semua deh masalah heh"
Hans senyum-senyum sendiri melihat tingkah Arindra yang membuatnya makin penasaran.
"Hemm minggir, ini panas" Ucap Arindra membawa dua gelas teh ke sofa, dan meletakkannya di meja.
"Minumlah mumpung hangat" Ucapnya setelah meletakkan tehnya di meja.
"Terima kasih istriku, oh ya tadi mau bilang tentang keutamaan sholat qobliyah subuh. Ayo kita bahas itu saja, dari pada lihat bibirmu maju buat aku pengen aja"
Arindra melempar bantal sofa pada Hans, Shania yang melihat itu geleng-geleng kepala.
"Enggak sama adek, enggak sama suami hobi banget Kakak ini lembarin bantal sofa. Salahnya si bantal itu apaan coba"
Ucap Shania dengan santainya meminum teh Arindra tanpa permisi.
"Ehh itu teh Kakak, buat sendiri aja sana"
Arindra mencoba mengambil gelas tehnya dari Shania. Tapi Shania sigap bergeser ke sisi lainnya, dan meminumnya hingga tandas. Ia mendapat pelototan dari Arindra dan dibalas cengiran dan tanda piss.
"Minum ini, bareng suami biar romantis, satu gelas bersama. Buat hati para jomblo meronta-ronta hehee"
Hans melirik Shania, membuat Shania tersedak karena disindir Hans.
"Pelan-pelan Shan, kakak g minta lagi kok"
Ucap Arindra duduk kembali di sofa dan memakan roti biskuit di meja.
"Lagian yang jomblo siapa, orang Shania punya pacar kok wekk" Ucap Shania pada Hans.
"Ya kamu lah, kan masih pacaran belum halal. Jadi masih jomblo, belum berkekuatan hukum tetap baik agama maupun negara"
Ucap Hans tak mau kalah dari Shania.
"Kak, bahas yang lain aja noh. Kalah gue kalo ngomong ma mantan boss mah" Ucap Shania memakan biskuit juga.
"Oh iya lupa, tadi mau bahas apa yang"
Tanya Hans menatap Arindra yang fokus memakan biskuit.
"Ciee yang udah sayang-sayang manggilnya. Ampuh amat kak, baru dua malem seinget aku kakak tidur bareng ni ma mantan boss. Udah sayang-sayang aja. Udah juga hemm hemmnya?"
Ucap Shania meledek Arindra yang diledek santui aja makan biskuit. Hans tersenyum mendengar ledekan Shania, sedangkan Arindra kemudian bangkit mencari bukunya, dan membawanya ke sofa.
"Duh kayaknya jiwa ustadzah mau keluar nih, cabut ahhh" Shania bangkit dan hendak berjalan.
"Duduklah, kebiasaan kalo denger ilmu atau nasehat maunya langsung kabur aja"
Ucap Arindra dengan mendelik pada Shania dibalas kekehan tawa dari Hans. Shania melotot pada Hans dan duduk kembali.
"Niat Shania g mau ganggu keromantisan kalian di pagi buta" Ucap Shania yang masih mencoba menghindar.
"Lagian ini juga dah jam enam kali, bukan pagi buta lagi" Ucap Arindra membalas ucapan Shania.
"Ya sudah kapan kita bahasnya, soalnya Nia pagi ini mau ke kafe banyak bahan yang harus Nia order" Ucap Shania dengan tampang pura-pura kesalnya.
Arindra menarik nafas panjang, lalu membuka buku dan membacakan keutamaan sholat qobliyah subuh.
"Menurut buku ini, ada hadis dari ‘Aisyah ra dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua raka’at fajar (salat sunah qobliyah subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725).
Dalam lafazh lain, ‘Aisyah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbit fajar subuh,
لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا
“Dua raka’at shalat sunnah fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” (HR. Muslim no. 725).
Jari itulah keutamaannya, jadi setelah ini perlahan tapi pasti usahakan untuk sholat sunnah dulu sebelum sholat subuh"
"Baiklah ustadzhah"
Kekeh keduanya melihat Arindra yang menutup bukunya dan meletakkan kembali ke tempatnya.
#########
Alhamdulillah chapter 93 done
hadist mengenai keutamaan sholat subuh disadur dari web. *rumaysho.com.
Terima kasih
like, vote, komen,poin, share dan follow lesta lestari...trims semuanya ya ❤❤❤❤❤❤*