
Hans sedang ada di kantor, ia masih berkutat dengan email-email perusahaan. Namun ada sebuah pesan di chat hape kecil lipatnya.
"Tuan, tolong lihat konten soutube si petir yang update kemarin"
Begitulah pesan yang terkirim. Segera ia mengambil hanphonenya dan membuka konten yang dimaksud. Hans berkerut melihat isi konten, sebelum sesaat kemudian di beberapa menit terakhir konten ia terkejut.
"Akhirnya aku menemukanmu"
Di sudut matanya ia mengeluarkan air mata, tapi bibirnya tertarik ke atas memberikan senyum.
"Terima kasih ya Robbi, Engkau Maha Kuasa dalam melakukan segala sesuatu. Terima kasih, Engkau kabulkan doa-doaku. Kau beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, memberi kesempatan untuk bertemu dengan istriku Arindra.
I love you Mbak, I love you istriku. Selamat datang kembali ke duniaku, bersama baby Fattah. Kita akan merangkai mahligai cinta yang akan terkenang indah selamanya. Tunggu aku, tunggu aku datang dan hadir kembali dalam hidupmu. Dan ijinkan aku berjuang untuk mendapatkan hatimu. I love you Mutiara Arisha, ibu dari anakku"
Hans mempause saat wajah Arindra yang tersorot jelas di kamera. Ia membelai pipi itu sambil tersenyum, kemudian ia arahkan bibirnya mencium kaca kamera hanphonenya. Seolah-olah dia sedang mencium Arindra. Orang yang selama ini Hans cari-cari, namun tanpa diduga muncul sendiri. Hans sangat bahagia, air mata dan senyuman datang secara bersamaan.
Aldo yang juga baru tahu konten itu terkejut, berita viral yang menyangkut-pautkan kematian dokter Dea dengan rumah sakit Wijaya membuatnya membuka dan mencari sumber berita.
Sama seperti yang lain, saat melihat wajah Arindra ia terkejut. Terlebih selama ini ia menyakini jika Arindra telah tiada dan menentang Hans yang selalu berusaha mencari informasi tentang kematian Arindra.
Ia masuk ruangan Hans, dilihat bossnya itu menangis namun terbit senyuman di bibirnya. Wajahnya terpancar kebahagiaan, meski ada air mata di pipinya. Aldo tahu, jika Hans pasti sudah melihat konten itu.
"Boss.."
Lirihnya, aldo menghela nafas tertunduk malu, menyesal atas apa yang dilakukannya dulu pada bossnya. Yang tak mempercayai ucapan bossnya itu, dan membiarkan Hans berjuang sendiri membuktikan ucapannya yang selalu menyakini Arindra masih hidup.
Hans melihat Aldo, ia tak menyeka air matanya. Ia ingin merasakan lebih lama kebahagiaan yang ada dalam hatinya.
"Sekarang loe tau, kalau gue benar"
Ucap Hans.
"Maaf, loe boleh pukul gue lagi sebagai tanda maaf gue. Gue tau gue salah g percaya dengan omongan loe"
"Buat apa gue mukul orang, sedang hati gue bahagia saat ini"
"Mulai detik ini, gue janji g bakal ngelawan loe lagi. G bakal sembunyiin apapun dari loe lagi, gue janji Hans"
Hans tersenyum melihat wajah tertunduk Aldo.
"Gue tau, loe ingin yang terbaik buat gue makanya loe lakuin itu ke gue. Tapi loe harus tau, gue punya insting yang g loe punya, meski kita sama-sama laki-laki"
"Maksud loe..."
"Gue punya insting suami, sedang loe insting jomblo. Jadi loe g pernah bisa tahu apa yang gue rasain saat yakin Arindra gue masih hidup"
"Loe maafin gue"
Hans mengangguk, Aldo tersenyum dan berlari memeluk sahabatnya itu. Sudah lama Hans dingin padanya, kini ia mendapatkan sahabatnya itu kembali hangat.
"Asal loe bantuin gue, buat naklukin hati Arindra"
"Gue pasti bantu, tenang aja heheee. Oh ya, gue mau bilang kalau gue g jomblo lagi"
"Maksud loe, loe macarin adik gue. Mana mungkin"
Ucap Hans tertawa meledek.
"Hana pacaran, mana mau dia. Dia mah maunya langsung taarufan, nikah deh. Sama kayak Syara diamah 11, 12 hehhee"
Hans tersenyum getir saat nama Syara disebut, ia tahu ia akan menyakiti wanita itu lagi.
"Maafkan Hans Abi, jika kali ini Hans lagi-lagi menyakiti hati Syara. Maafkan atas keegoisan Hans, Abi"
"Loe bingung?"
Hans tersenyum,
"Tenang Syara orang yang tau agama kok, meski berat ia pasti g nolak poligami. Meski gue g tau juga sih gimana sikapnya, saat tau Mbak Arindra masih hidup. Dilihat dari ceritanya Shania, yang gue tau Arindra atau Mutiara itu juga orang yang paham agama.
Jadi tinggal pinter-pinter loe aja ngomong dan adil kalau dua-duanya mau loe poligami"
"Shania, pacar loe?, kok bisa tau tentang Arindra?"
"Shania itu adik satu-satunya Arindra. Kamu tahu nama Shania itu Shania Arisha, sama kayak nama asli istri loe Mutiara Arisha. Mungkin dia juga terkejut kalau lihat konten itu, tapi saat ini yang dia tahu Kakaknya sudah meninggal dunia hampir setahun ini. Dia g tau kalau kakaknya ternyata masih hidup"
Hans tersenyum, mendengar penjelasan Aldo.
"Jadi sekarang dia pacar loe?"
Hans tertawa, tak menyangka jika ia sering bertemu dengan adik istrinya itu.
"Panggil Shania ke sini"
"Buat apa, jangan bilang loe mau bilang loe ini suami kakaknya dan kakaknya masih hidup dengan nama lain"
"Enggak, gue mau dekat sama adik ipar gue. Apa salah gue. Kalo loe g mau g pa-pa, gue bisa larang loe ketemu Shania. Inget dia adik ipar gue hehee"
"Beuh, gitu ya, yang sok jadi kakak ipar. Selama ini kemana kakak ipar?"
"Selama ini gue ada, ada di hati Arindra hehe"
"Sa ae lo, belum tentu Arindra mau sama loe, mengingat kelakuan bejat loe sama dia"
"Rese loe.."
Hans melempar pena ke arah Aldo disambut gelak tawa Aldo yang lari keluar ruangannya memanggil Shania. Tak lama, Shania masuk ditemani Aldo.
"Duduk Shan.."
Ujar Hans yang juga duduk di sofa mendekati Shania. Shania yang tak pernah lihat Hans tersenyum ramah melirik Aldo, yang dibalas kedipan mata dan senyum saja.
"Keluar sana loe Do"
Usir Hans pada Aldo yang baru akan duduk di sofa.
"Yah boss, gue kan mau denger juga apa yang loe bilang sama Shania, kepo gue"
"Udah sana, atau gue potong gaji loe"
"Ya Allah boss pelit amat jadi orang. Cepet tua loe marah-marah mulu"
Shania hanya tertunduk sambil menahan senyum melihat pertama kalinya keakraban boss dan kekasihnya itu. Aldo pun pergi meninggalkan ruangan Hans.
"Kamu Shania Arisha?"
"Benar Tuan, saya Shania"
"Panggil saya Kak Hans, jangan Tuan"
"Tapi Tuan, saya tidak enak karena saya hanya..."
"Panggil Kakak, atau saya pecat"
"Aduh kenapa jadi begini sih Si Tuan Muda, tadi sikapnya hangat kenapa jadi arogan lagi sih"
Tapi itu hanya gumaman Shania dalam hati.
"Kamu tau, kenapa kamu dipanggil di sini"
"Tidak tahu Tuan, eh Kak"
"Saya ingin kamu menemani saya menemui seseorang"
"Maksud Kakak, menemui siapa?"
"Kamu akan tau saat melihatnya, bagaimana kamu mau?"
"Baik Kak"
"Gimana-gimana gue g bisa nolak kali kak,loe bosnya. Mana berani gue nolak loe"
"Ya sudah, minta nomor sini, nanti saya hubungi kamu jika saatnya tiba. Dan kamu g boleh nolak apapun yang saya minta dari kamu ngerti"
"Mengerti kak"
"Kok gue takut ya, dia nyuruh manggil gue kakak maksudnya apa coba, g boleh nolak apapun yang dia minta hiii ngeri aja pak. Asal loe g minta aneh-aneh gue mah oke aja. Tapi kalo mintanya aneh, mending gue mundur kali"
Tapi semua itu hanya ucapan Shania dalam hatinya. Setelah mencatat nomor Shania, Hans meminta Shania untuk melanjutkan pejerjaannya. Sedangkan dia sedang menyusun rencana. Rencana apa ya kira-kira?.....😆
############
Alhamdulillah kelar ampe chapter 71.
BAHAGIANYA AUTHOR JIKA READERSNYA SETIA DAN NGASIH JEJAK YANG BANYAK 😆🤭❤❤❤❤❤❤😁😁😁😁😆😆😆😆😆