AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 99 - Dipermalukan



Adipramana tak lagi tercengang dengan penawaran yang baru saja diberikan oleh Tjokroatmodjo. Uang bukanlah hal yang sulit untuk didapatkan bagi pengusaha tua ini. Bahkan jika Adipramana memintanya untuk menaikkan penawarannya mungkin akan dengan mudah ia kabulkan. Jangankan satu, 10 mega konser saja nampaknya bisa ia biayai semudah ia menjentikkan jari untuk meminta asistennya mengurus semuanya.


"Hahaha … sunggguh menarik penawaranmu, Bung. Penyanyi manapun pasti akan tergiur. Kau tahu kan seberapa besar biaya untuk menyelenggarakan sebuah mega konser?" tanya Adipramana.


"Tentu aku tahu. Karena itulah aku menawarkan bantuan untukmu. Bagaimana? Kamu tertarik bukan?" Tjokroatmodjo mencoba meyakinkan Adipramana untuk menerima uluran tangannya.


"Kenapa kau sampai mau melakukan semua ini?"


"Kenapa kau masih saja bertanya? Bukankah sudah jelas bahwa aku adalah seorang ayah yang sangat mencintai putrinya?" Tjokroatmodjo membanggakan dirinya sendiri.


"Jadi Zefanya yang meminta padamu?"


"Ya, sebagai ayah yang baik aku hanya mencoba mengabulkan permintaannya," masih saja Tjokroatmodjo menyombongkan diri.


"Kalau begitu, sebelum aku memberikan tanggapan atas penawaranmu barusan, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan," pinta Adipramana.


Wajah Tjokroatmodjo sumringah. Ia berpikir bahwa Adipramana akan benar-benar menerima uang yang ia tawarkan dan membantu Zefanya untuk kembali menjadi kekasih Gian. "Ya, ya … Tanyakan saja."


"Berapa harga yang harus aku bayar untuk membeli Zefanya?"


Senyum lebar di wajah Tjokroatmodjo seketika hilang. Wajahnya merah padam karena amarah. "Apa maksudmu, Adipramana?! Jangan kurang ajar kalau bicara! Kamu pikir Zefanya wanita bayaran?!" suara lantang Tjokroatmodjo memenuhi seluruh ruang tamu kantor dan studio milik sang pemusik.


"Hahaha! Kenapa kau murka, Bung? Bukankah aku hanya melakukan hal yang sama dengan yang baru saja kau lakukan? Kau menawarkan sejumlah besar uang padaku dan meminta Gian sebagai gantinya? Bukankah itu sama saja kau membelinya?"


Pernyataan Adipramana sungguh menusuk hati dan juga harga diri Tjokroatmodjo. "Jangan samakan itu semua dengan niatanmu membeli Zefanya! Orang tua macam apa kau yang tertarik dengan gadis belia yang pernah dekat dengan anakmu sendiri?!"


"Tjokro … Tjokro … Apakah kemarahan mendadak membuatmu jadi bodoh? Aku sama sekali tak tertarik dengan anak kesayanganmu itu," ujar Adipramana. "Aku hanya ingin kau tahu bagaimana rasanya jika anak yang kau sayangi ditawar dengan uang."


"Ayolah! Kenapa kau tidak mencoba untuk realiatis saja? Akan butuh waktu lama bagimu mengumpulkan semua uang itu. Bisa jadi kau gagal mengadakan konser itu tahun depan hanya karena kau tak punya cukup uang!" dengan tak tahu malu Tjokroatmodjo masih saja membahas soal uang yang ia tawarkan. "Dan soal Gian, apa yang salah dengan dia bersama dengan Zefanya? Bukankah bagus? Toh sebelumnya mereka sudah bersama dalam waktu yang cukup lama. Tak mungkin rasa cinta Gian terhadap Zefanya pupus begitu saja!"


Seketika, sebuah senyuman sinis menghiasi wajah Adipramana. "Aku lebih memilih gagal konser daripada gagal menjadi ayah yang menjaga anak yang aku cintai dengan setiap tetes darah yang mengalir di dalam tubuhku. Dan soal Zefanya, aku pikir kau belum tahu apa yang sudah gadis itu lakukan sehingga Gian seketika memutuskan untuk tak lagi bersamanya."


"Apa maksudmu?!" Tjokroatmodjo memang tak mengetahui secara mendetail mengenai berakhirnya hubungan antara Gian dan putri semata wayangnya. Yang ia tahu, Zefanya bilang bahwa Gian tiba-tiba meninggalkannya.


"Jadi benar kau tidak tahu? Hahaha." Adipramana malah tergelak mengetahui bahwa Tjokroatmodjo sebenarnya buta akan masalah ini namun dengan setengah mati berusaha mengabulkan permintaan Zefanya.


"Jangan bercanda, Adi!" Tjokroatmodjo menjadi semakin geram setelah mendengar gelak tawa Adipramana.


"Zefanya sudah berkhianat. Dia bersama dengan lelaki lain saat Gian dan Dhika pergi diam-diam ke Paris untuk memberi kejutan pada putri kesayanganmu itu."


"Kau jangan mengada-ada, Adi!" Tjokroatmodjo setengah tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar.


Seketika Tjokroatmodjo teringat akan alasan perceraian Adipramana dengan mantan istrinya yang memang sudah bukan rahasia lagi. Ia tahu bahwa isu tentang perselingkuhan memanglah sesuatu yang serius bagi keluarga Adipramana. Tjokroatmodjo akhirnya hanya bisa diam tak bersuara.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, silahkan meninggalkan rumah ini. Masih banyak yang harus aku kerjakan." Adipramana melangkah masuk ke dalam tanpa menunggu Tjokroatmodjo pergi terlebih dahulu. Ia sudah tak sudi melihat wajah pria tua itu yang sudah dengan enaknya akan menukar Gian dengan uang.


Sejenak Tjokroatmodjo masih terdiam dalam duduknya. Ia kemudian berdiri, melangkah dengan gusar dan meninggalkan kediaman Adipramana.


***


Zefanya sedang bermalas-malasan di apartemennya ketika ia mendengar ponselnya berdering. Sekarang pukul 14.25 waktu Paris.


Dilihatnya layar ponselnya. Nama sang ayah yang terpampang di sana membuat senyumnya merekah. "Papi! Gimana? Udah ketemu sama Om Adi?" Zefanya bertanya tanpa menyapa ayahnya terlebih dahulu.


"Apa ada hal yang kamu sembunyikan dari Papi?" pria tua itu bertanya dengan suara yang terdengar lelah. Wajar saja, sekarang sudah pukul 20.25 waktu Indonesia dan ia baru saja tiba di rumah seusai kerja.


"Papi ngomong apaan sih? Fanya nanya bukannya dijawab!"


"Berani-beraninya kamu bohong sama Papi!" Tjokroatmodjo yang merasa kesal membentak Zefanya. Ia memang sangat menyayangi putrinya, namun ada kalanya ia marah. Kali ini, kemarahannya meluap dengan hebat. "Papi udah dipermalukan gara-gara kebohongan kamu!"


"Maksud Papi apa? Fanya enggak ngerti!"


"Kenapa kamu bilang kalau Gian yang tiba-tiba ninggalin kamu? Kenyataannya kamu yang ada main dengan lelaki lain kan?!" Tjokroatmodjo sungguh merasa geram.


"Tapi kan akhirnya sama aja, Pi! Gian emang ninggalin Fanya kan?!" Zefanya membantah dengan keras kepala.


"Terserah! Papi enggak mau ngurusin hal enggak penting kayak gini lagi!"


"Kalau bukan Papi yang bantuin siapa yang mau bantuin Fanya, Pi?" Zefanya mulai merengek, senjata yang selalu bisa meluluhkan hati Tjokroatmodjo. Sayangnya ia tak tahu bahwa ayahnya sedang sangat serius saat ini setelah dipermalukan oleh Adipramana yang di matanya tak lebih hebat darinya itu.


"Kalau kamu kasih mau deketin Gian kamu usaha sendiri! Papi udah enggak sudi berurusan sama Adipramana," jawab Tjokroatmodjo dengan ketus. "Kamu sudah berbuat, kamu harus berlajar bertanggungjawab! Enggak selamanya Papi bisa bantuin kamu!"


"Papi tega sama Fanya!" Zefanya merengek dan pura-pura menangis. "Fanya marah sama Papi! Fanya enggak akan mau pulang!"


"Sesuka hatimu saja, Fanya. Papi yakin marahmu ke Papi enggak akan lama. Kamu enggak bisa hidup tanpa uang yang Papi kasih. Lagian kalau kamu emang mau ngejar Gian kamu pasti akan pulang."


Merasa ketahuan membuat Zefanya semakin kesal lalu berkata, "Papi jahat!" Ia pun menutup teleponnya tanpa bermanis-manis pamit kepada Tjokroatmodjo seperti biasanya.


"Sial! Siaaal!" Zefanya berteriak-teriak tanpa memikirkan jika mungkin suaranya bisa didengar oleh orang lain. "Liat aja lo, Gian. Setelah gue kasih semua ke lo, jangan harap lo bisa bahagia sama cewek baru lo itu!"