AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 103 - Pesta Ulang Tahun Gian (Bagian 2)



Ketika Gian dan Zefanya mulai hilang dari pandangannya. Amber masuk ke dalam bar yang sudah penuh dengan tamu undangan Gian. Mereka semua terlihat asyik bercengkrama satu sama lain. Beberapa nampak berjoget dengan lincahnya diiringi musik Dj Ali.


Untuk beberapa saat, Amber sungguh tak tahu harus berbuat apa. Ia juga kesulitan mencari Charemon dan yang lain yang seolah tenggelam dalam riuhnya suasana dan temaramnya cahaya. "Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" ia membatin sambil terus melihat ke arah tangga yang membawa Gian dan Zefanya naik ke lantai dua. "Apa yang sedang mereka lakukan?"


Tangan Amber gemetar karena gugup. Masih terbayang betapa moleknya tubuh Zefanya yang berbalut dress warna hitam itu. Jantung Amber berdegup kencang. Ia pun terduduk di sebuah bangku yang terletak tepat di area bartender. Kakinya terasa lemas.


"Apa kau baik-baik saja, Nona?" tanya seorang bartender yang sepertinya menyadari wajah Amber yang pasi.


"Ya," jawabnya dengan suara yang bergetar. "Bolehkah aku minum ini?" Amber menunjuk pada deretan es teh yang disajikan dengan cantiknya lengkap dengan sedotan dan potongan lemon di tiap gelasnya. Belum juga sang bartender menjawab, Amber sudah menenggak habis segelas es teh tersebut. Kekacauan di pikirannya sungguh membuatnya haus. Ia lalu mengambil segelas lagi namun meminumnya dengan menggunakan sedotan kali ini.


"Woa … take it easy, Young Lady. It's Long Island Iced Tea!" bartender itu memperingatkan. Ia sadar bahwa Amber sepertinya sudah salah mengira minuman beralkohol itu sebagai es teh biasa.


Ketika mendengar nama minuman itu Amber sontak menaruh gelas kedua yang masih ia pegang. Isinya tinggal setengahnya. "How can you serve something like this?" entah mengapa Amber malah melayangkan protes kepada sang bartender.


"Well, apa yang kamu harapkan? It's adult party, Sweety," jawab bartender itu sambil terkekeh melihat wajah Amber yang nampak menyesal sudah menghabiskan hampir dua gelas Long Island sekaligus. "Berhati-hatilah. Kau mungkin akan mabuk sebentar lagi."


"Oh tidak! Aku enggak boleh mabuk sekarang. Aku harus jauhkan Gian dari Zefanya!" batin Amber. Dengan langkah ragu ia mulai berjalan menuju ke anak tangga. Walau satu sisi hatinya ingin segera naik, sisi lainnya masih terus saja berpikir harus bagaimana. Ia tak siap jika ternyata nanti ia melihat apa yang tak ia harapkan.


Sementara itu di kejauhan, Dhika yang sedang bersama dengan Charemon, Egidia, juga Bimo tak sengaja melihat Amber yang berdiri mematung di depan tangga. "Kak Amber ngapain di sana?" Pertanyaan Dhika ini sontak membuat yang lain menengok ke arah Amber.


"Kita ke sana," kata Egidia yang merasakan keanehan karena Amber sendiri dan tak bersama Gian.


Amber akhirnya memutuskan untuk mulai menaiki anak tangga itu. Wajahnya mulai terasa panas. Ia takut akan tak sadarkan diri sebelum mengetahui apa yang sedang Gian lakukan bersama Zefanya di lantai atas tanpa seorang pun yang tahu.


Saat tiba ditengah-tengah, jantung Amber berdegup dengan kencang mendengar apa yang Zefanya katakan. Perlahan Amber semakin naik dan berusaha mengintip apa yang tengah terjadi.


"Aku udah kasih semua ke kamu, Gian. Bagaimana bisa kamu pergi begitu saja?!"


"Jangan jadikan itu sebagai senjata, Fanya. Apa jaminannya kalau kamu juga tidak tidur dengan lelaki lain selain aku?"


Fanya terdiam dan tak bisa menjawab apa yang Gian tanyakan.


"See? Kamu aja enggak bisa jawab kan?! Jadi stop pakai itu sebagai senjata untuk memintaku kembali sama kamu! Kamu harus terima kenyataan kalau aku udah punya seseorang yang bahkan kamu pun enggak akan bisa menggantikannya!"


Bukannya menanggapi Gian, Zefanya malah mendekat ke arah Gian sambil membuka kancing depan dressnya satu per satu. "Yakin kamu enggak kangen sama ini? Emang pacar kamu bisa kasih ini?"


"Jangan gila kamu, Zefanya!" teriak Gian sambil memalingkan wajahnya, tak ingin melihat apa yang seharusnya tak ia lihat.


"Siapa kamu?! Jangan ikut campur!" bentak Zefanya.


"Aku Amber! Pacar Gian!" suara terdengar aneh. Ia sepenuhnya sudah berada di bawah pengaruh alkohol sekarang.


"Oh! Jadi karena cewek model begini kamu nolak aku, Gian?" dengan nada mencibir karena merasa dirinya lebih baik Zefanya mencemooh Amber. Ia bahkan tak mengacuhkan keberadaan Amber di sana.


"Iya! Karena aku Gian udah enggak mau sama kamu sekarang! Bahkan sebelum ada aku pun Gian udah enggak mau sama kamu! Semua itu karena kebodohan kamu sendiri yang udah ninggalin cowok baik kayak Gian!"


Gian tak menyangka Amber bisa semarah ini. Ia mencoba membalikkan badannya lagi namun Amber menahannya.


"Berani-beraninya kamu ngatain aku bodoh! Kamu enggak tau aku anak siapa?" tanya Zefanya dengan geram.


"Emang enggak tau dan enggak mau tau! Apa urusannya ayah kamu dengan ini? Enggak ada!" suara Amber semakin keras melawan setiap ucapan yang keluar dari mulut Zefanya. Beruntung suara musik Dj Ali di bawah pun cukup keras sehingga keributan di atas tak sampai terdengar. "Mending kamu berhenti deketin Gian! Percuma!"


"Kamu yang harusnya sadar diri dan enggak deket-deket lagi sama Gian! Aku udah bareng dia selama lima tahun-"


Kata-kata Zefanya dipotong oleh Amber, "ya … ya … ya, lima tahun. Sampai akhirnya kamu selingkuh di belakang dia sama cowok lain kan?!"


"Kamu!" Zefanya mengeratkan rahangnya, kemudian bermaksud untuk menampar Amber.


Tangan Amber dengan gesit menangkap tangan Zefanya dan malah ialah yang kemudian menampar mantan kekasih Gian itu dengan keras. "Jangan berani-berani bilang apapun lagi tentangku! Tahu apa kamu?! Kamu yang harusnya tahu diri! Gian udah punya pacar! Aku, Amberley Senja, pacar Gian!"


Zefanya semakin merasa tak terima. Ia pun mencoba menampar Amber lagi. Namun, sebelum niatan buruknya tersampaikan, tangannya sudah terlebih dahulu diraih oleh Dhika yang kemudian menyeretnya turun.


"Lepasin! Urusanku sama cewek itu belum selesai!" Zefanya meronta sejadinya.


Dhika mengabaikannya dan terus saja menyeretnya hingga keluar dari bar. "Jangan dikira selama ini gue diem karena gue enggak berani ya, Fanya."


"Aku enggak ada urusan sama kamu ya, Dhika! Urusanku sama Gian dan cewek itu!" Zefanya mencoba kembali masuk namun dihalangi oleh Dhika.


"Lo liat ini baik-baik," Dhika memperlihatkan foto yang masih saja ia simpan di dalam ponselnya. "Gue punya bukti lo ciuman sama bule itu waktu kami pergi ke Paris. Kalau lo enggak mau foto ini sampe ke Om Tjokro dan media, sebaiknya lo berhenti ganggu Gian dan Kak Amber. Lo bisa ngebayangin kan gimana jadinya kalau Om Tjokro tau soal ini? Atau perlu sekalian gue tunjukin sama semua orang di sini?"


Ancaman Dhika kali ini benar-benar membuat Zefanya tak berkutik karena rasa ngerinya akan kemarahan sang ayah. Gadis itu kalah dan pergi meninggalkan bar itu, juga Gian dan kehidupannya.