
Gian membunyikan klakson mobilnya dua kali, supaya gerbang rumah sang ayah dibukakan dan ia bisa masuk. Tak lama kemudian, muncullah Tisna, salah satu asisten yang bekerja di rumah yang memadukan gaya klasik Eropa dan Jawa itu.
Setelah memarkirkan mobilnya, Gian pun bertanya kepada Tisna, "Ayah di rumah nggak, Kang?"
"Tuan ada kok, Den. Baru ngurusin rekaman kayaknya" jawab Tisna yang memang tak begitu paham akan aktifitas permusikan tuannya di rumah itu. Ia kemudian membiarkan Gian berjalan duluan untuk masuk ke dalam.
Gian pun lalu mencari ayahnya, yang ternyata sedang menggarap proses editing lagu bersama dengan beberapa orang yang tergabung di dalam tim manajemennya. Ya, kediaman Adipramana bukanlah sekedar rumah tinggal saja, melainkan juga studio dan kantor utama dari sebuah perusahaan label musik yang sudah ia dirikan sejak lama.
"Hey, jagoan. Tumben ke sini malem-malem?" tanya Adipramana yang langsung berdiri menghampiri Gian lalu memberinya pelukan singkat yang disambut dengan hangat oleh Gian.
Walau sudah tinggal di rumahnya sendiri sejak ia mulai berkuliah, tak berarti bahwa kedekatan Gian dengan ayahnya memudar. Mereka sangatlah dekat satu sama lain. Apalagi, Gian juga menganggap sang ayah sebagai guru yang sudah mendidiknya hingga kini ia sangat dikenal sebagai seorang penyanyi berbakat,bukan hanya sekedar sebagai putra sulung Adipramana.
Kedekatan di antara keduanya bahkan semakin lekat lagi ketika Gian merasa senasib dengan sang ayah. Mereka sama-sama dikhianati oleh wanita yang pernah sangat mereka cintai.
"Aku nginep ya, Yah?" Gian meminta ijin pada ayahnya yang kini menghentikan sebentar kegiatan editingnya.
"Boleh. Dhika nggak ikut?" Adipramana menanyakan keberadaan anak bungsunya.
"Dia di rumah, Yah. Tadi aku abis ada kegiatan terus langsung ke sini. Dhika aku suruh nyusul mager katanya," jelas Gian.
"Aku mandi terus tidur ya, Yah. Capek," Gian mohon pamit untuk menuju ke kamarnya di lantai dua, yang selalu dijaga bersih dan rapi kalau-kalau Gian datang untuk menginap seperti sekarang ini.
"Gih sana," jawab Adipramana.
"Eh tapi kamu udah makan belom? Ayah pesenin makanan kalau belum," sambungnya.
"Nggak usah, Yah. Aku udah makan tadi," jawab Gian.
"Tidur dulu gue ya, Bro. Dilanjut ngeditnya," Gian menyempatkan diri untuk menyapa orang yang tergabung dalam tim produksi musik sang ayah, yang sebenarnya juga sangat ia kenal karena mereka jugalah yang selalu membantu Adipramana menggarap proses rekaman, editing, bahkan pembuatan video klip Gian selama ini.
"Siap, Bro," jawab beberapa pria muda itu.
Begitulah kira-kira aktivitas sehari-hari di kediaman Adipramana yang tak pernah jauh dari hal-hal yang berbau musik. Selain karena ingin belajar hidup mandiri sejak awal seperti yang sudah diajarkan oleh ayahnya, kesibukan di rumah ini jugalah yang akhirnya membuat Gian memutuskan untuk tinggal di rumahnya sendiri.
***
Gian sudah bangun dan mandi sejak pagi. Ia sebenarnya tak tahu pasti jam berapa Tarachandra dan Amber akan tiba di rumahnya. Sempat ia ingin menanyakan hal tersebut kepada Amber namun ia urungkan karena ia tak ingin Amber berpikir bahwa ia sangat menunggu kedatangannya.
Ia keluar kamar dan menemukan ayahnya sedang menikmati sarapan di ruang makan. Menu pagi ini adalah nasi uduk dengan berbagai lauk pendampingnya, seperti ayam kampung, tempe, dan tahu goreng. Ada juga sambal khas yang tak pernah absen jika nasi uduk dihidangkan.
Adipramana memang lebih menyukai hidangan tradisional semacam ini. Wajar saja jika Gian dan Dhika pun juga mempunyai kesukaan yang sama.
"Sini sarapan," ajak Adipramana.
Gian pun lalu menghampiri ayahnya lalu duduk dan mulai sarapan.
"Tadi ayah telpon Dhika tapi nggak diangkat. Kayaknya dia masih molor," kata Adipramana yang memang selalu berbicara dengan santai kepada anak-anaknya.
"Tadinya mau ayah suruh ke sini. Nanti siang Om Tara mau main," jelas Adipramana.
"Iya, aku tau Om Tara mau ke sini, Yah. Kemaren aku ketemu di pameran lukisan," Gian sedikit bercerita.
"Lho, tumbenan kamu ke pameran lukisan?" Adipramana heran akan pengakuan putranya, karena yang ia tahu Gian memang sangat jarang pergi ke pameran lukisan.
"Nemenin temen kampus sekalian hunting, Yah. Eh, ternyata temenku itu anaknya Om Tara," Gian mencoba menjelaskan.
"Hahaha," Adipramana tergelak.
"Maksud kamu Amber?" Jadi selama ini kamu nggak tau kalau dia anaknya Om Tara?" lanjutnya.
"Iya. Dia nggak pernah berkoar sama siapa-siapa soal ayahnya, jadi ya mana aku tau. Ayah kenal sama Amber?" Gian jadi penasaran kenapa ayahnya bisa menyebut nama Amber.
"Nggak kenal. Cuma kan dulu pas Om Tara ke sini soal istrinya itu Om Tara pernah sedikit cerita soal anaknya. Ayah cuma inget aja," jelas Adipramana.
Gian jadi teringat usianya masih 11 tahun waktu Tarachandra datang saat itu. Ia hanya menyapa sebentar lalu masuk ke dalam. Ia kurang paham akan apa yang sedang Tarachandra bicarakan dengan ayahnya, hanya saja, wajah mereka tampak sangat serius. Setelah Tarachandra pulang barulah Adipramana bercerita kepada anak dan istrinya tentang apa yang terjadi.
"Tapi bukannya Amber lebih muda dari kamu ya? Berarti nggak seangkatan dong?" tanya Adipramana.
"Iya, nggak seangkatan. Dia baru aja masuk," Gian pun menjelaskan.
"Terus, kok kamu bisa kenal sampe pergi bareng ke pameran gitu? Adipramana terus saja bertanya. Memang begitu ia jika sudah penasaran pada hal-hal yang terjadi pada anak-anaknya.
" Panjang ceritanya pokoknya," begitu saja jawaban Gian.
"Ehem," Adipramana sengaja berdehem.
"Fanya apa kabar?" tanya Adipramana yang mengira Gian masih berpacaran dengan Zefanya.
"Tauk," Gian menjawab dengan malas.
Hal itu tentu saja membuat Adipramana bingung. Yang ia tahu, cukup lama Gian menjalin kasih dengan Zefanya. Ia bahkan mengetahui bahwa salah satu alasan Gian cepat-cepat membeli rumahnya sendiri saat ia sudah mampu adalah supaya kelak ia bisa meninggalinya bersama Zefanya.
"Putus?" tanya Adipramana lagi.
"Iya, udah 6 bulan lebih, Yah. Dia punya pacar baru di Paris," Gian akhirnya mulai mau terbuka bercerita kepada sang ayah.
Memori di kepala Adipramana seolah terputar kembali. Ia ingat betul bagaimana Gian sangat marah saat tahu bahwa perceraian dengan Wulan, ibu Gian, adalah karena Wulan mempunyai pria idaman lain. Wanita itu bahkan hingga tega meninggalkan anak-anaknya agar bisa tinggal di luar negeri bersama pria lain yang nampaknya kini sudah manjadi suami sahnya. Entah bagaimana kabar ibu Gian sekarang, tak ada satu pun dari mereka yang tahu karena sudah putus komunikasi sejak lama.
Masih ada rasa sakit jika Adipramana mengingat hal ini kembali. Hanya saja, ia tak mau terus berlarut-larut dalam rasa sedihnya.
Adipramana adalah seorang pria dengan harga diri yang tinggi. Ia tak akan pernah mengijinkan satu orang pun tahu bahwa ia juga manusia biasa yang bisa terpuruk.
Di depan kedua anak lelakinya pun ia selalu terlihat kuat dan tegar. Lelaki harus kuat apapun yang terjadi. Itulah yang selalu ia ajarkan kepada Gian dan Dhika, dengan harapan kelak mereka bisa menjadi pria yang tangguh.