
Waktu sudah menunjukkan pukul 08:30 pagi ketika Tarachandra tiba di rumah sakit tempat Amber dirawat. Dengan tergesa ia memasuki gedung yang didominasi warna putih itu. Berbekal informasi yang ia dapatkan dari resepsionis rumah sakit, tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan kamar rawat Amber.
Ia membuka pintu kamar tersebut dan menemukan Amber yang sedang terduduk di tempat tidurnya sambil disuapi oleh Gian yang ada di sampingnya. Ada rasa lega yang membuncah di hatinya melihat pemandangan tersebut. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh serasa sirna seketika.
Tarachandra berjalan ke arah Amber, lalu dipeluknya anak gadisnya itu. Ingin sekali ia mengeratkan pelukannya namun urung ia lakukan, takut menyakiti Amber. "Apa kabarmu pagi ini, Sayangnya Ayah?"
Senyum Amber yang merekah lebar sekali sudah cukup menjawab pertanyaan Tarachandra. Di saat yang sama, senyum itu juga membuat pemuda yang sedari tadi menyuapinya merasakan ketenangan yang luar biasa pula. "Laper, Yah. Makanan rumah sakit enggak enak, tapi kata Gian harus tetep makan biar enggak makin sakit dan bisa cepet pulang."
"Gitu kan ya, Om?" ujar Gian.
"Bener itu. Makin enggak mau makan makin lama di sini," kata Tarachandra.
"Kalian sekongkol ya?" sambil memicingkan matanya Amber pun bertanya.
"Buat rawat kamu kami berdua bisa sekongkol, Sayang," kata Tarachandra sembari mengajak Gian untuk tos. Tingkahnya tersebut sontak membuat Amber tergelak.
Hati Tarachandra sebenarnya nyeri melihat putrinya sakit. Namun ia tahu bahwa tak boleh memperlihatkan kesedihannya saat ini. Rasa gembira adalah penyembuhan penyakit, apapun itu.
"Mana yang masih sakit, Nak?" tanya Tarachandra.
"Yang luka-luka ini masih perih, Yah. Aku enggak tau ini kena apa aja," jawab Amber sambil menunjuk luka yang terlihat jelas di beberapa bagian tubuhnya, termasuk yang ada di pelipisnya. "Tapi yang kerasa banget punggungku, Yah. Kalau buat rebahan terus sakit."
"Kata dokter ada yang cedera enggak bagian punggung?" Tarachandra kembali bertanya.
Amber yang tak begitu paham pada hasil pemeriksaannya semalam menoleh kepada Gian seolah memintanya untuk menjelaskan kepada sang ayah.
"Kemaren udah CT scan kok, Om. Kata dokter Amber kita ini beruntung karena enggak ada cedera tulang atau yang lain. Cuma katanya memang ada memar yang agak besar. Jadi mungkin sakitnya karena itu," Gian pun menjelaskan.
"Ngomong-ngomong kamu ke sini sama siapa, Gian?" tanya Tarachandra.
"Sama Dhika semalem, Om. Cuma tadi pagi-pagi dia balik. Katanya ada janji sama temennya," jawab Gian sembari memberikan suapan terakhir pada Amber. Ia lalu dengan sigap mengambilkan air putih juga obat yang harus Amber minum.
"Dhika enggak usah suruh balik sini, Gian. Kasian. Jarak rumah ke sini kan lumayan jauh. Nanti kamu kalau butuh pergi-pergi bisa sama Pak No. Iya kan, Ayah?" ujar Amber.
"Iya. Gitu aja," jawab Tarachandra singkat. "Ayah mau ke kamar mandi bentar terus cari sarapan sama Pak No. Kasian Pak No belum makan. Gian udah sarapan belum? Mau Om cariin sekalian?"
"Eh! Enggak usah, Om. Tadi aku udah sarapan di kantin bawah." jawab Gian.
"Oh, okay."
***
Tanpa disangka, Amber mendapat kunjungan dari teman-temannya. Bukan hanya Charemon, Andre, Egidia, dan Bimo yang datang kala itu, beberapa panitia makrab juga datang menjenguknya, termasuk Arvin sang ketua.
"Amber! Lo udah segeran!" Charemon langsung menghambur memeluk sahabatnya dengan begitu erat.
"Nih, Dek. Gue bawain barang-barang lo," kata Egidia sambil meletakkan tas Amber di atas tempat tidur penunggu pasien.
"Makasih, Kak Egi."
Saat mereka semua sedang asyik mengobrol, Tarachandra tiba-tiba masuk ke dalam ruangan sambil menenteng beberapa makanan dan buah, "wah! Rame ini kayaknya."
Semua orang yang ada di ruangan tersebut sontak menoleh ke arah sumber suara itu. Teman dekat Amber yang tergabung dalam group chat SAVAM sudah tak kaget lagi melihat sosok ayah Amber. Namun, beda halnya dengan teman-teman lain, termasuk Andre. Mereka tercengang saat melihat sosok seorang pelukis kenamaan tanah air masuk ke ruang rawat Amber dengan begitu santainya.
Tarachandra melenggang mendekati Amber dan menaruh barang bawaannya di atas meja. "Temen kampus kamu, Nak?" tanyanya kepada putrinya.
"Iya, Yah," Amber menjawab dengan sedikit canggung. Ia melihat betul wajah terkejut tergambar jelas di wajah teman-temannya.
"Pak Tarachandra ayahnya Amber?" dengan canggung, salah seorang panitia makrab pun akhirnya bertanya. Ia dikalahkan oleh rasa penasarannya.
"Ahahahaha. Jangan panggil 'Pak' gitu ah. Panggil saja 'Om'. Kalian kan teman Amber," jawab Tarachandra. "Terima kasih ya, kalian sudah jenguk Amber."
Tarachandra bukanlah pelukis ternama yang suka mengekspos kehidupan pribadinya ke publik. Sangat wajar jika masih banyak orang yang sama sekali tidak mengetahui bahwa Amber adalah putri semata wayangnya.
"Pantes lo berbakat sekali dalam hal menggambar dan melukis, Amber. Rupanya gurunya maestro," ucap seorang panitia makrab yang lain.
"Eits! Jangan salah. Om enggak ngajarin banyak ke Amber. Om lebih suka dia belajar sendiri dan menemukan caranya sendiri. Bukannya setiap perupa harus seperti itu?" Tarachandra menjelaskan. Ia tahu benar bahwa putrinya tak ingin berada di bawah bayang-bayangnya.
"Wah! Keren lo, Amber," celetuk Andre. Selama ini ia memang mengagumi hasil karya Amber.
"O iya, Om. Kebetulan ada Om di sini. Sebenarnya ada hal penting yang ingin kami sampaikan, sehubungan dengan kecelakaan yang menimpa Amber semalam. Itu kalau Amber enggak keberatan," Arvin angkat bicara.
Melihat wajah Arvin, juga topik pembicaraannya, Tarachandra juga ingin tahu bagaimana bisa putrinya terjatuh hingga pingsan di lereng. Hanya saja, di satu sisi ia masih khawatir kalau-kalau Amber masih merasa trauma karena peristiwa itu. "Is it okay, Sayang?"
"It's okay, Yah."
"Tapi sebelumnya-" Arvin terdengar ragu untuk melanjutkan.
"Tapi apa, Bang?" tanya Amber.
"Mmm … Gue butuh lo cerita dulu apa yang sebenernya lo alami kemaren malem," Arvin meminta pada Amber. Wajahnya serius, penuh selidik.
"Jadi gini, Bang …" Amber pun mulai menceritakan semua yang ia alami malam itu kepada Arvin dan semua yang ada di ruangan itu. Penuturan Amber sungguh membuat semua orang terkejut, terutama Tarachandra dan Gian, yang tentunya mencintai Amber lebih dari yang lain. Mereka berdua tak bisa menerima begitu saja bahwa Amber ternyata tidak tanpa sengaja terjatuh namun didorong oleh seseorang.
"Okay, kalau gitu memang bener informasi yang udah kami dapetin," kata Arvin.
"Informasi apa, Bang?" Amber menjadi semakin penasaran begitupun dengan yang lain. Mereka menyimak penuturan Arvin dengan seksama.
"Kami udah tau siapa pelakunya," kata Arvin.