AMBERLEY

AMBERLEY
Episode 46 - Kediaman Tarachandra



Pintu gerbang kediaman Tarachandra dibukakan oleh Pak No. Setelah mengetahui bahwa Gian adalah seseorang yang ayahnya kenal, ada sebuah benteng yang seolah melunak dalam diri Amber dan itu membuatnya lebih nyaman berinteraksi dengan Gian.


Sudah menjelang sore ketika Amber dan Gian sampai di rumah. Setelah mobil terparkir, mereka berdua pun turun, di sambut oleh Tarachandra yang langsung menuju ke depan saat mendengar suara mobil Gian datang tadi.


"Kok udah pulang huntingnya?" tanya Tarachandra sambil melemparkan senyum kepada kedua anak muda itu.


"Nggak bisa lama huntingnya yah. Gian dikejar-kejar sama ibu-ibu di pasar tadi," Amber terkekeh saat bercerita sambil melepas sepatunya. Sementara Gian hanya bisa diam sambil menahan malu.


"Wah, susah ya, Nak kalau jalan sama penyanyi terkenal gini?" goda Tarachandra.


Amber hanya melirik Gian sambil tersenyum.


"Om bisa aja," Gian menimpali.


"Yuk masuk dulu. Nak Gian mampir dulu, kan?" Tarachandra memberikan sambutan hangat atas kedatangan Gian.


"Dengan senang hati, Om."


Entah mengapa, Gian merasa sudah mendapatkan lampu hijau dari Tarachandra sejak awal. Tentu saja, ia sangat bersyukur karena baginya jika ia dekat dengan seorang gadis ia juga harus dekat dengan keluarganya. Bukan karena alasan ingin buru-buru memikirkan jenjang selanjutnya, tapi supaya kedekatannya dengan sang gadis pun bisa lebih nyaman tanpa ada perasaan was-was.


Setelah mengetahui bahwa Amber adalah putri tunggal dari Tarachandra pun Gian semakin merasa nyaman. Tarachandra adalah seseorang yang sudah cukup lama ia kenal, walau memang ia tak pernah berbincang secara intens.


Ini juga merupakan kali pertama Gian datang berkunjung ke rumah Tarachandra. Yang membuat hatinya senang adalah karena sang pemilik rumah malah mengajaknya untuk masuk ke ruang tengah yang berdekatan dengan meja makan, bukan di ruang tamu. Itu membuat Gian merasa lebih diterima lagi.


"Gian kalau mau cuci muka dulu biar seger bisa pakai kamar mandi tamu, di situ," jelas Tarachandra.


"Iya gih. Aku juga mau mandi dulu sebentar nggak papa ya?" Amber pun menimpali.


"Atau Gian mau mandi juga? Biar disiapin handuk sama Bik Nem nanti," Tarachandra menawarkan.


"Eh, nggak usah, Om. Aku cuci muka aja," karena sungkan Gian pun menolak, lalu beranjak menuju ke kamar mandi tamu.


Amber pun juga bergegas ke kamarnya untuk meletakkan tas dan juga barang bawaannya. Setelahnya ia mandi supaya kembali merasa segar setelah tadi sempat berkeringat saat berlarian menghindari penggemar Gian.


Setelah membasuh mukanya, Gian pun kembali ke ruang tengah. Di sana sudah tersedia teh hangat dan beberapa jenis kue.


"Duduk sini, Gian," kembali Tarachandra mempersilahkan Gian untuk duduk di ruang tengah bersamanya.


"Iya, Om," jawab Gian.


"Ayo diminum tehnya, mumpung masih hangat. Itu kuenya juga dimakan," Tarachandra mempersilahkan Gian untuk meminum tehnya.


"Makasih, Om," Gian menjawab lalu menyeruput teh hangat yang sudah dibuatkan oleh Bik Nem.


"Kamu ternyata satu kampus sama Amber ya, Gian? Satu prodi juga atau nggak?" Tarachandra bertanya.


"Nggak satu prodi, Om. Gian ambil desain komunikasi visual," terang Gian sambil mencomot kue brownie.


"Lho, kok kamu nggak masuk ke seni musik aja?" Tarachandra yang penasaran lalu bertanya, berbarengan dengan Amber yang keluar dari kamarnya.


"Kalau mau belajar segala hal tentang musik aku bisa belajar sama Ayah, Om. Bukannya mau sombong tapi kualitas ayah sebagai pemusik dan produser memang patut diacungi jempol," jelas Gian.


"Benar juga," Tarachandra berkomentar singkat.


"Ah … sebenarnya bukan cuma soal ketertarikan di dunia desain kok, Om. Dulu aku punya mimpi mau bikin clothing line sendiri, cuma nggak tertarik kalau harus ambil jurusan fashion," Gian kembali menjelaskan.


"Sekarang mimpinya agak meredup, walau aku masih tetap tertarik dan semangat menjalani kuliah di jurusan diskom, Om. Udah terlanjur suka sama dunia itu," Gian mengatakan ini sambil sedikit tertawa.


Jawabannya ini didengar pula oleh Amber yang sudah duduk di sebelahnya. Bau harum menyeruak saat ia datang. Ia sudah berganti dengan pakaian yang lebih nyaman, sebuah kaos putih polos dan celana pendek berwarna cokelat. Ia lalu mencomot dan memakan brownie yang disajikan di sana. Perutnya sudah mulai lapar.


"Nggak papa, Gian. Selama kamu masih tertarik dan jiwa kamu masih ada di sana, lanjutkan. Kamu itu masih muda, masih banyak yang bisa diraih untuk menambah ilmu pengetahuan kamu, walau sudah jelas bakat kamu di bidang musik juga nggak boleh diremehkan," dengan serius, Tarachandra menjawab.


"Iya, Om," Gian tersenyum mendengar jawaban panjang Tarachandra.


"Ayah, Amber laper. Bik Nem tadi masak nggak?" tanya Amber yang tak puas hanya mengganjal perutnya dengan sepotong kue brownie.


"Masak kok, Sayang. Sana minta Bik Nem siapkan makan. Gian makan sama-sama sekalian ya? Jangan buru-buru pulang," ajak Tarachandra.


"Boleh, Om," dengan orang yang sudah dikenal, Gian pun tak merasa sungkan.


Amber lalu mencari Bik Nem lalu membantunya menyiapkan jamuan di meja makan. Hal ini tertangkap oleh mata Gian. Biasanya tuan rumah hanya menyuruh-nyuruh saja, tapi ini tidak. Amber bahkan terlihat bisa bercanda dengan Bik Nem.


"Siapa yang sangka kalau gadis ini anak seorang pelukis kawakan bernama besar seperti Om Tara," gumam Gian dalam hati.


Setelah semua makanan sudah tertata di atas meja, Amber pun mengajak Gian dan Tarachandra untuk makan bersama.


Suasana makan kali ini kembali terasa berbeda. Obrolan hangat menyelip di antara suara sendok dan garpu yang pelan beradu dengan piring. Sesekali, bahkan ada tawa kecil ikut muncul di tengahnya.


Selesai makan, Gian ingin ikut memberesi meja makan bersama Amber namun Amber mencegahnya, "nggak usah. Temenin Ayah aja tuh."


Gian pun akhirnya kembali duduk di sofa tengah. Saat itu, Tarachandra sudah menyalakan televisi supaya tidak terlalu sepi.


Tak lama kemudian Amber pun ikut duduk di sana, bersebelahan dengan Gian. Mereka bertiga lalu melanjutkan obrolan sambil menonton berita di TV. Hingga tak terasa langit sudah berubah gelap.


Mungkin karena sudah lama sekali tak bertemu, Gian dan Tarachandra larut dalam perbincangan yang terasa sangat asyik bagi keduanya. Mereka sampai tak sadar kalau Amber sudah tertidur meringkuk dengan kepalanya bersandar di lengan kursi yang empuk, dialasi dengan bantal kecil yang memang sudah biasanya ada di sana.


" Kecapekan kayanya, Gian. Semalem dia lembur nyelesain tugas katanya," Tarachandra berbicara dengan suara yang kini ia pelankan.


Gian pun begitu juga, "tadi aku ajak lari-larian juga di pasar, Om."


Keduanya terkekeh pelan jika mengingat kembali peristiwa yang dialami Gian dan Amber tadi siang di pasar.


"Kalau gitu aku mau pamit aja, Om. Udah malem juga," Gian berdiri dari duduknya, lalu bersalaman dengan Tarachandra.


"Iya, nanti Om pamitin sama Amber, dia biar tidur aja," Tarachandra lalu ikut bangkit dan mengantar Gian ke depan.


Setelah Gian masuk ke mobil dan hendak menyalakan mobilnya, Tarachandra berkata, "Oh iya, Gian. Tadi Om sudah telpon ayah kamu. Besok rencana Om akan ke rumahnya. Mungkin akan ajak Amber juga."


"Okay, Om. Kalau gitu aku pamit ya, Om," Gian pun lalu pergi meninggalkan rumah Tarachandra.


Belum begitu jauh dari sana, ia menelepon Dhika.


"Dhik, gue malem ini nginep di rumah ayah. Kalau nggak mau sendirian di rumah lo nyusul ya."